Diambil dari fatwa Abu Hintai Al-Airaa
kamilah yang paling benar,
menumbuhkan rambut dagu di sepanjang kafir yang terkapar
bongkahan neraka terukir gersang
angkatlah senjata walau telah usang
lawan mereka yang coba menentang
terus kutuk tiada kata patah arang
kepada kau, kawan, di dunia kau bisa berkoar-koar!
teruslah memuja penuh hingar bingar,
tak perlu pedulikan perutmu yang lapar!
dan kepada kau, lawan, di neraka kau akan dibakar!
diamlah dan hentikan tatapan nanar,
wahai kafir-kafir laknat lagi cemar!
mengapa kami bisa berkata lantang?
karena rambut dagu kamilah yang paling panjang,
kemudian kami dijanjikan surga di awal petang!
mengapa kami wajib dikenang?
karena kami mengikuti perintah untuk perang,
melawan kafir-kafir nista serta jalang!
sekali lagi kami yang paling benar!
dua kali lagi kami yang paling benar!
tiga kali lagi kami yang paling benar!
hingga tujuh puluh ribu bidadari menyambut dengan gairah terbakar
untuk para kafir,
hentikan menulis satir
penyeru kebatilan telah berakhir!
apa kau budak zaman mutakhir,
terus berani mempertanyakan kami yang ahli zikir?
untuk para kafir,
janganlah kau terus berpikir,
atau menuduh kami telah memelintir!
sudahlah mengoceh berbau anyir,
tuk pertanyakan seruan kami yang tidak fakir!
“terkutuklah engkau!” kami katakan demikian
“anjing kafir!” lanjut kami penuh kebanggaan
“terpangganglah di neraka!” balas kami atas perlawanan
karena kamilah yang paling benar,
terus bakar sampai ihwal kafir hancur tersebar
Juni 3, 2007 at 4:34 pm
papi-papi… -_-;;
emang bagus banget
kamilah yang paling benar
berhubung saya pendukung hal gini gak bisa menentang ~(-_-~)(~-_-)~
good job papi, buat lagi
Juni 3, 2007 at 5:47 pm
mmmm….
tajam sekali..
wakakakak47x…
i love that poem!!
karena kami™ yang™ paling™ benar™,
berarti selain™ kami™ itu™ salah™!!
kafi*!! anji**!!
Juni 3, 2007 at 5:55 pm
Jenius…
*two thumbs up*
Juni 3, 2007 at 5:58 pm
Wah, benar-benar menusuk ^^;
Contohnya memang banyak sih..
Bagus
Juni 3, 2007 at 7:11 pm
**pingsan**
kk hebat amat…
aku aduin ke galeri nasional indonesia aahhh!
Juni 3, 2007 at 7:41 pm
Ma ga ngerti puisi nih,, Ma udah kasi saran2nya kan,,
tapi,, bisa juga bikin yang kaya gini,, keren,,!
sering sering aja,, biar banyak yang berasa!!!!!!
btw, banyak fansnya nih,,
Juni 3, 2007 at 7:43 pm
damn! it’s so hot here…
Juni 3, 2007 at 8:04 pm
Manthaabb…
Juni 3, 2007 at 8:38 pm
guys….
kalo lo kejar setoran kayak gini, ntar kualitas satir bakal menurun lo…
Juni 3, 2007 at 8:44 pm
hahahaha,, kualitas dan kuantitas kan ga harus berbanding terbalik,,
bang kunderep dan yang lain bantuin juga yuk,,
Juni 3, 2007 at 9:55 pm
kalimatnya cukup lumayan. tapi aku sependapat sama yang diatas (dan yang kumaksud “diatas” itu bukan Tuhan.. memangnya Tuhan di atas?).
Kalo kesannya ngejar setoran, kualitas bisa turun memang.
Ada banyak cara buat nampar2 muka mereka dengan kenyataan. Mungkin yang bagus ya, menyodorkan fakta tentang sikondom *WARNING! INI SINGKATAN DARI SITUASI-KONDISI-DOMESTIK* saat ini. Kasus penembakan anak-anak oleh marinir baru-baru ini, misalnya. Mana itu dari kalangan ahli surga dan ahli zikir yang protes, apalagi sampe bawa-bawa parang dan golok? Yang ada cari muka kayak FBR ke gubernur DKI, cuma karena penggerebakan dua orang detektif negeri kangguru. MANA??! MANA DARI FRONT PEMBELA ISLAM atau gerombolan sejenisnya yang protes masalah keadilan seperti kasus Meruya, perampokan tanah petani atas nama hukum, penembakan atas nama bela diri para loreng?!!
Itu bagus buat disodorkan ke wajah jenggotan mereka. Biar jangan cuma ngoceh arab-palestina-israel belaka pake kutipan-kutipan hadist, tapi diam macam monyet kena terasi kalo berhadapan dengan penguasa zalim di negeri sendiri
)
Juni 3, 2007 at 10:57 pm
Iya yah.. kabar FPI bagaimana yah?
Udah lama neh…
yang sering kedengaran malah ormas2 Betawi.
Juni 4, 2007 at 1:07 am
hahaha,si master unjuk gigi, eh unjuk posting statire ding.
go on Gun, ntar tak traktir udang galah di Citra Niaga *bayar sendiri*
Juni 4, 2007 at 2:19 am
harusnya pake te-em “Kamilah™ Yang Paling Benar™!!!”
Juni 4, 2007 at 2:43 am
@kunderemp
udah lama juga ya gak dengar kabar FPI? Mereka keabisan funding mungkin, atau… gabung sama FBR buat rame2 dukung-dukungan calon gubernur DKI Jakarta biar bekingan mantap jadinya nanti.
Jujur saja, 1/2 kalimat ini buruk sangka, setengah lagi saya katakan analisa, kalo meliat gimana melempemnya mereka berhadapan dgn kepentingan politik kelas pemerintah
)
ormas2 Betawi itu saya liatnya kok setali tiga uang dengan FPI? Arabisme dengan nama Habib-habiban dan sayyid-sayyidan itu masi kentara
)
Kadang2 pengen juga lagi liat itu congor2 Habib-habib muka unta nongol dan tuding sana-sini di layar kaca. Dari masalah bini tetuanya ditipu dalam kasus valas sampe membela selebriti norak macam Cut Memey dulu itu. Apalagi pada masturbasi dengan funding ya, jadi diam begini sekarang ini? Atau tiarap karena namanya busuk paska bentrok sama PAPERNAS *yg katanya komunis itu* beberapa waktu yang lalu??
Kumpul dana yuk, buat sumbang itu fakir-fakir miskin berjubah, biar semangat lagi demo di jalanan. Saya punya cepek rupiah ini, ada yang mau nambah?
*ketawa guling2*
Juni 4, 2007 at 9:58 am
Wah kerenn!!! Dua jempol buat Abu Hintai Al-Airaa…
Masih kurang jempolnya?
Gue tambahin dua jempol kaki sekalian …
Juni 4, 2007 at 10:15 am
simple… tajam… tegas… dan gak berbelit-belit…
manusia hanya menjalankan, bukan memaksakan…
Juni 4, 2007 at 11:46 am
Ga jelas,
Bikin gerah, namun tidak terarah.
Lebih terasa ngawur, ketimbang jujur.
Hanya pedas, namun kurang cerdas.
Hanya lontaran dari khayalan,
Cerita basi tanpa referensi.
Kemana sikap kritis sekaligus cerdas itu..???
Apakah ini yang namanya satir, tiada lebih dari teriakan dungu lagi nyinyir
Berkacalah
Berkacalah
Berkacalah
Yang terakhir . Jujurlah!
Juni 4, 2007 at 11:51 am
“hingga tujuh puluh ribu bidadari menyambut dengan gairah terbakar”
Hua hahahaha…. Ini kata kuncinya kekekeke….
bisa2nya si master nambahin kata2 “gairah terbakar”
Juni 4, 2007 at 12:44 pm
T.O.P ….
@bang alex,
moga-moga org-org yg bersangkutan mau introspeksi … what a nice point of view …
Juni 4, 2007 at 12:45 pm
@ Mr Voldemort
Puisinya ga jelas ya?? hmm.,, beda selera kali mas,, namanya juga orang mau nulis,,
Jangan jangan,, tersindir ya mas,, makanya bikin puisi tandingan yang,, -ah, Ma ga mau nilai puisinya,, itu hak mas berkomentar dan berpuisi-
skalian nanya dong,, emang yang jujur itu yang kaya gimana sih??
makasih
Juni 4, 2007 at 1:15 pm
benar-benar sesuatu yang doktrin….
aneh..bimbang say dibuatnya.
tidak bisa komentar yang lebih lagi,saya bingung
Juni 4, 2007 at 1:18 pm
@Ma
No problem with the poem and it’s style.
Kindly read my comment twice, and you’ll find my point (unless you’re not lucky or doesn’t have time to think twice)
Keep smart!
Juni 4, 2007 at 1:22 pm
Oo iya tambahan boewat Ma,
Jujur itu sederhananya gini :
1. Tidak menyembunyikan kebenaran.
2. Tidak menambah/mengurangi/mengubah fakta.
3. Tidak mengkaburkan realita.
4. Tidak mencampurbaurkan fakta dan khayalan.
Ada definisi lain untuk melengkapi?
U are U!
Juni 4, 2007 at 1:59 pm
@ Mr Voldemort
Maap Ma pake bahasa Indonesia,, ga bisa bahasa inggris,, harap maklum,,
Emang poin lain selain nganggep puisi itu ga cerdas dan hanya teriakan tanpa referensi itu apa?? -emang itu puisinya mr Voldemort profound gitu??
-
Sip,, makasih udah di-definisiin,, dan yang dibilang puisinya ini ga jujur darimananya??
Makasih saran buat mikir dua kali-nya,, mungkin Ma emang kurang beruntung, ga ngerti maksud tersirat yang amat mendalam dari Mr Voldemort,,
Juni 4, 2007 at 2:06 pm
NN: Apa visi dan misi dari omaigat.wordpress.com??
NJ 8: Menyebarkan wadehelisme
NJ 9: Diskusi tanpa OOT-isme …
NJ 1: Visinya melawan faham “pokoknya kami yang paling benar” sampai ke akar-akarnya. Misinya mengungkap kebusukan2 faham tersebut dan mengungkap ketidak-masuk-akal-an faham mereka
1.oot-tisme itu apa seh??? 2.jelas2 anda pakai nama wadehel 3.bagaimana cara memenuhi misi itu? cukupkah dengan bahasa satir dan sarkas?
lamtas yang bemar itu yang bagaimana?
Juni 4, 2007 at 2:10 pm
eh iya, kemarin pas kasih komen dimana gitu, ada yang nanya: takut di lacak ya? gimana ya, wong aku cara buat blog aja gak tahu…
ekh, gue ngerti paham wadehel itu:
“What the Hell!!!” persetan loe!!!!!!
Juni 4, 2007 at 2:14 pm
Hmm…
1. Suatu diskusi yang lebih berat ke ’sumbangan komentar’ daripada pemecahan masalah.
2. Seperti ‘paham lain’ layaknya Platonisme atau Marxisme, Wadehel pada Wadehelisme hanyalah asas saja… Tidak mesti serupa.
3. Tiap penulis bekerja dengan idealisme dan caranya masing-masing…
Satirisme sendiri adalah medium yang kebetulan mungkin seragam.
Juni 4, 2007 at 2:50 pm
wah, ada unsur bokepnya nih…
ati2 loh, entar takutnya di blok blognya…
just kidding
heheheheh….
Juni 4, 2007 at 3:48 pm
owww kamilah yang paling benar…? Tidakkk omaigat… yang lain salah dong…hiks… neraka jahanam menunggu..
(
Oww sapa yang bikin puisi neh, tajam dan menusuk, akupun ga berani aah merasa paling benar, makhluk apalah kita ini cuman ciptaan kok gaya2an paling benar… otak juga terbatas dan pelupa…
Terimakasih sudah memngingatkan….
Juni 4, 2007 at 3:50 pm
iheieiehieie… saya dikatakan ABANG…
jadi malu….
umur saya masih muda lho… baru 23 taon *diskon 2 taon*
Juni 4, 2007 at 4:25 pm
@ orang biasa
Kelihatannya ini berhubungan dengan materi press conference. Untuk seterusnya, komentar/pertanyaan diletakkan di post yang bersangkutan, atau di bagian “kritik dan saran”.
1.
Definisi OOT-isme itu kira2 berkomentar/memberikan tanggapan yang nggak nyambung dengan materi post. E.g. mengiklankan blog sendiri yang bahasannya tidak berhubungan, tebar smiley saja, atau sekadar rebutan posisi (”pertamax!!”, “keduax!!”, dll.)
Agar komen Anda nggak dianggap OOT, salah satunya dengan memberikan komentar yg bersesuaian/mengandung diskusi. Topik di luar itu bisa disampaikan di “kritik dan saran”.
2.
Nama wadehel itu nggak kami bawa-bawa, selain sekadar menunjukkan bahwa kami meneruskan semangat beliau. Kontra ulama busuk, mutilator ayat, intoleransi beragama, dll. Konsep sme-nya udah dijelaskan oleh Geddoe de La Rocha di atas.
3.
Cara memenuhi misi? Ada banyak jalan, satir dan sarkas cuma salah dua aja kok. Kalau kontributornya mau serius ya serius… kalau mau satir ya satir aja. Yang penting adalah semangat yang udah dijelaskan di butir (2) di atas.
Juni 4, 2007 at 5:17 pm
Puisi Sarkasme yang bagus, empat jempol…
Tambahan, BTW kata Ketua PBNU nech “… diantara mereka yang ‘garis keras’ ini ada yang punya kegemaran mengambilalih masjid dan mushola yang didirikan warga NU. Istilahnya, mereka tidak bisa membangun masjid sendiri, bisanya cuma merebut masjid milik orang lain. Ingin enaknya sendiri”.
Tak percaya?? Baca di http://www.nu.or.id/page.php?lang=id&menu=news_view&news_id=9367
Hhhhhhh…. aku ya ikut geram….
Juni 4, 2007 at 5:20 pm
@Ma
, malu ah sama yang punya fatawa.
btw saya jadi GR masa komen sedikit be rizma (eh be-rima) itu juga dibilang puisi
“dan yang dibilang puisinya ini ga jujur darimananya??”
coba aja dicek dari definisi saya point 1,2,3,4. Saya juga nggak bilang semua nggak jujur lho. Maksud saya “Jujurlah!” itu adalah ajakan untuk introspeksi diri sendiri. gitu Ma.
oo ya, jangan dibiasain melihat yang bukan “x” sebagi anti “x”.
dunia ini terlalu indah kalau hanya dilihat secara biner (hitam-putih, 0-1,benar-salah,pendukung-penentang). Masih banyak ruang dalam spektrum 7 warna. OK.
~U are U!~
Juni 4, 2007 at 5:28 pm
@ Mr Voldemort
Hahahahaha,, mirip ama omongannya bang Fertob tuh,,
abis ada tulisan “Lebih terasa ngawur, ketimbang jujur” bukannya artinya ada yang Mr Voldemort anggep ga jujur?? CMIIW -atau cuma untuk membuat sajak jadi lebih be-rima??-
Makasih berat buat nasihatnya,,
Ma selama ini berusaha buat nganggep sesuatu dari berbagai sudut pandang,, kecuali kalo dalam keadaan yang menjurus
eh iya,, kan Mr Voldemort udah baik banget sama Ma ngasih banyak saran saran bermanfaat, Ma balikin satu kebaikan mr Voldemort juga deh,,
bahkan dengan hewan pun, kalo bisa jangan anggap diri kita lebih mulia,, dan memulai dengan merendahkannya,,
Makasih
Juni 4, 2007 at 5:51 pm
@Ma
Makasih ma, kata sakti yang dikutip itu memang wangsitnya bang ferthob. Kalo ada yang bagus kenapa tidak ditiru (eh diteladani ;p).
OK soal kata “Lebih terasa ngawur, ketimbang jujur”
Saya perjelas dech, itu dalam arti yang sebenar-benarnya. saya tidak akan berdetail-detail ria menjelaskan, ntar malah jadi seurieus euy.
Yang jelas, ketika kita tidak sedang emosi dan tidak sedang berpihak, kita akan melihat dengan terang mana kejujuran dan mana kengawuran.
~Cool, Calm, Confident~ (iklan rokok lagi
)
==========================================================
“Even though a speech be a thousand (of words) but made up of senseless words,One word of sense is better,
Which if a man hears, he becomes quiet” – (Dhammapada VIII: 100 by V. Fausböll) -
May the light of wisdom shine in your life!!
Juni 4, 2007 at 6:06 pm
@ Mr Voldemort
Oooh,,, gitu ya,, jadi komen perdana mas itu -yang dari tadi kita bahas dan jadi berbalas balasan surat cinta- seandainya aja ya?? bukan bilang kalo puisi itu ga jujur?? hehehe,, bagus deh,,
masalahnya menurut Ma berpihak itu gapapa,, -eh salah ya?- selama tetep mau denger saran yang lain,,
Siip,, siipp,, ngerti ngerti,, Ma kira komen itu ngarah ke puisinya,, masalahnya kalo iya,, Ma bingung aja, abis ga dijelasin di bagian mananya,, -emang Ma suka bingung sih ya-
Btw, Ma mendukung kampanye anti rokok lho,,
Ma ga punya kalimat bagus dan ga ngerti bahasa inggris nih,, gapapa ya?
Juni 4, 2007 at 8:49 pm
[OOT sedikit nggak apa-apa kan? Sedikit aja, yang dibawahnya balas komentar entar…]
@ Puzzle Pieces:
Ahem… Putriku yang manis…
Di sini kok panggil papi?
Bisa-bisa orang mengira ayahmu ini bukan 18 tahun, lho.
Ya sudah…
@ calonorangtenarsedunia:
Sudah™ pasti™ kebenaran™ milik kami™!
@ joestch:
Lha? kata beberapa orang kan tempat ini adalah ‘neraka sesat’?
@ Geddoe de la Rocha:
Yang nge-post entry ini kan anda, meski saya yang nulis puisinya.
Jadi… Kok dikomen?
*ngakak*
Ah, nggak apa-apa, nggak dosa kok, nggak dosa…
Terima kasih, Tuanku.
@ kunderemp an-Narkaulipsiy:
Ada “lo” yang pertama dan “lo” yang kedua. Artinya jadi rancu, saya susah nangkapnya. ^^;
Maaf, maaf… Maklum otak anak kecil usia 18 13™ tahun. _ _ V
Memang sih, rencananya para koki akan membuat semacam interval antar entry. Sebenarnya yang ini akan diterbitkan tanggal 4 Juni, namun namanya juga manusiawi, ‘miskomunikesien’, jadinya terilis tanggal 3 Juni deh. Tapi biarlah, biar kali ini jadi pelajaran agar nanti ada interval yang cukup lama dan pas antar posting. Terima kasih, perhatian anda sungguh berarti.
@ alex:
Nah, saya merasa senang ada orang semacam anda yang peduli. Kami para koki di sini akan terus berusaha menulis (melanjutkan perjuangan.red), baik itu yang mainstream atau bukan mainstream. Mengapa begitu? Karena jika kami terus menyodorkan mainstream, itu tak baik juga. Perlu ada keseimbangan.
Terima kasih, pendapat anda sungguh membangun!
@ kunderemp an-Narkaulipsiy:
Tumben ya nggak bikin heboh. Padahal di negri sendiri banyak masalah.
@ cakmoki:
Makan-makan™!
@ cK:
Nggak usah lah cici…
Biar adem ayem aja nggak usah rebutan te-em.
@ alex:
Nah ini dia, mereka hanya mementingkan kepentingan golongan saja…
…padahal ajaran agama tidak begitu, bukan?
@ Suluh:
Eheheee… Nama alias saya disebut.
…saya jadi malu karenanya.
Tengkyu lah, Tuanku!
@ Aroe:
Menjalankan apa, Tuanku?
Kalau menjalankan perintah nggak jelas sambil membebek buta gimana?
@ He Who Must Not Be Named:
Sastrawan memang kebanyakan berkhayal…
Mereka meresapi sebuah sudut pandang yang bukan kepunyaan mereka…
Namun sudut pandang itu tidak semu adanya!
Apakah harus disajikan tafsir kah?
Saya jelas-jelas tidak pernah menyajikan tafsir dalam puisi saya…
Tanya kenapa? Karena saya ingin pembaca dapat merasuki puisi saya dengan pola pikirnya masing-masing yang sudah barang tentu berbeda satu sama lain. Lagipula saya tak ingin memaksakan tafsir puisi tokh? Pendapat dan pandangan orang boleh berbeda, kaerna itulah hakikatnya manusia. Asal jangan memaksakan pendapat dan pandangan saja, bukan?
…ah, satu catatan. Tadi saya menggunakan kata ’sastrawan’, namun saya bukanlah sastrawan. Hanya seorang anak kecil. _ _ V
@ CY:
Bisa-bisanya…
Yang pasti, jangan panggil ‘Master’ ah, cukup nama saya saja: ‘Gun’ atau ‘Li’.
@ Ma!!!:
Ah, anda tahu saja.
Sastrawan mengeksprsikan diri dengan kebebasan.
Seniman mengekspresikan diri dengan kebebasan.
Dan berpendapat juga dengan kebebasan.
(ah, saya bukan sastrawan ataupun seniman)
@ He Who Must Not Be Named:
Mengapa harus menjawab dengan Bahasa Inggris?
Masih banyak saudara-saudara kita yang belum mengerti bahasa bule itu. (mungkin saya termasuk ya?)
not lucky itu artinya nggak beruntung ya?
Nasib baik, nasib buruk, sial, beruntung… Nggak bisa dinilai deh, bingung saya.
*lirik-lirik entry di blog*
@ He Who Must Not Be Named:
Ahem… Mengapa waktu saya meng-klik URL pada nama anda, malah tidak nyambung ya? ERROR katanya. Saya jadi bimbang… Kok anda seperti menyembunyikan sesuatu ya?
Apa kebenaran di sini disembunyikan? Lalu yang ditanya ini adalah kebenaran milik siapa?
Apa fakta di sini diubah?
Apa realita di sini dikaburkan?
Apa fakta dan khayalan di sini dicampurbaurkan? Yang mana fakta? Yang mana khayalan? Biasanya sih pasangan fakta pada sebuah tulian adalah opini. Jadi: fakta dan opini. Kenapa opini nggak disinggung?
Mohon dijawab beserta contoh, agar tempat ini bersifat transparan, nggak terkesan tertutup gitu.
Terima kasih atas masukannya yang sangat berarti.
@ Jabizri:
Di mana ya…?
@ Evy:
Omaigat!
Eh, kalo nggak salah ada yang bilang harom kalau bilang Omaigat nih… Bisa diganyang.
Sebenarnya si penulis juga bukan yang paling benar, lho. Memangnya kebenaran milik siapa sih?
@ He Who Must Not Be Named:
Ahem, gara-gara ‘miskomunikesien’ antara penulis sama editor, jadi bingung deh. Harusnya nggak ada tulisan fatwa, tapi biarin aja. Kalau di-edit nggak enak ntar.
@ He Who Must Not Be Named:
*ngelirik sebuah entry*
Juni 4, 2007 at 9:02 pm
[...] melihat peluru-peluru maut yang melesat dari bedil kopral, kapten, atau sersan diatas saya yang menembus dagu sang penjajah moral. Mempelajari di dalam kehampaan pikiran sendiri, dan terkadang terpana dengan [...]
Juni 4, 2007 at 10:07 pm
“kamilah yang paling benar” atau tepatnya “sayalah yang paling benar”
ya wajar … kalau sudah tahu yang “tidak benar” jadinya kan belajar toh, ujung-ujungnya nanti juga merasa paling benar to ??
tidakkah kita begitu ??
jadi … ?? sebenarnya yang nggak boleh itu apa ??
Juni 4, 2007 at 11:30 pm
Buat Abu Hintai Al Airaa…
Happy Vesakh day ajah…
rupanya vesakh membawa semangat tersendiri ya?
Juni 5, 2007 at 12:49 am
watonist:::
tentu boleh aja. boleh sekali kok…asal disimpen dalam hati. jgn sampe kebenaran yang kita agung2kan malah melukai orang lain yang menyimpan kebenaran dalam versi berbeda di hatinya.
tentunya nggak bijak kan, kalo kita mengutuk orang lain di depan umum sebagai orang yang sesat hanya karena apa yang diyakininya berbeda dengan yang kita yakini?
celakanya hanya kaulah yang benar2 aku tunggu…
aeh, celakanya, sindrom suka menghujat dan menyalahkan keyakinan orang lain – penganjingan, pengkafiran, penghalalan darah, dsb – itulah yang belakangan ini kerap terjadi, seperti yang dibahas di tulisan di atas
Juni 5, 2007 at 7:17 am
Shan In,, banyak gitu balesannya,, dibilangin dicicil ga mau sih,,
@ Joe
top abis!!
sayangnya defini ga bijak itu suka terpuntir dengan pikiran ‘harus menyebarluaskan’ dan mentok mentoknya,, balik lagi,,
Mari kita hujat semua yang beda dan ga mau ngikut,,
Juni 5, 2007 at 8:51 am
@joesatch
secara garis besar, saya setuju dengan komentar kamu
terkait juga dengan tanggapan untuk artikel,
saya sendiri lebih menyukai sebuah proses pembelajaran yang menghadirkan sebuah cermin lebih dari memaksakan sebuah doktrin.
alasannya sederhana, doktrin lebih terasa sebagai melihat sesuatu berdasar sudut pandang kita (pembuat opini) jadi hanya bisa dipakai oleh pihak yang berlawanan dengan sudut pandang kita, sedangkan cermin bisa dipakai siapa saja termasuk kita sendiri sebagai pencetus opini.
Juni 5, 2007 at 9:14 am
@ watonis
hmm,, iya juga ya,,
Ma setuju kalimat terakhirnya sih,,
Siip!! -lha?-
Juni 5, 2007 at 9:18 am
gue setuju sama pembuat puisi.
Orang-orang kafir musti kita bantai semuanya. Amerika dan Yahudi harus dihapuskan dari peta dunia.
hidup Irak! hidup Palestina!
Juni 5, 2007 at 10:38 am
@Master Li
“Ahem… Mengapa waktu saya meng-klik URL pada nama anda, malah tidak nyambung ya? ERROR katanya. Saya jadi bimbang… Kok anda seperti menyembunyikan sesuatu ya?”
Hahaha, yang penting saya tidak menyembunyikan kebenaran (jangan dipersoalkan pula versi siapanya
). Coba klik lagi dech.
“mengapa kami bisa berkata lantang?
karena rambut dagu kamilah yang paling panjang,”
Coba perhatikan dua kalimat diatas, dua-duanya kalimat fakta, namun ketika disatukan tafsirannya adalah kalimat kedua menyebabkan kalimat pertama. “karena berjenggot, maka boleh berkata lantang”
Nah ini yang jadi khayal.
Tapi ya gpp, Anda dalam dunia Anda Sendiri. Anda bebas bermimpi.
Bukan begitu?
Oya, sekalian nanya nih. Apa makna kebebasan bagi Anda?
Makasih klo mau menjawab.
@Watonist
“saya sendiri lebih menyukai sebuah proses pembelajaran yang menghadirkan sebuah cermin lebih dari memaksakan sebuah doktrin”
Hehehe, ternyata kita satu agama ;p
*bikin partai*
Iya, klo doktrin itu malah berasa kaya di faithfreedom aja. ga mutu.
Juni 5, 2007 at 4:14 pm
@ He Who Must Not Be Named
URL-nya Master Li betul kok. Mungkin koneksinya mas yang agak bermasalah, soalnya (AFAIK) dari dulu sampai sekarang URL-nya beliau memang begitu.
Bisa diklik di sini, sih.
http://coretangunawan.wordpress.com/
URL itu sama dengan di avatarnya, lho.
Juni 5, 2007 at 4:58 pm
Wah ini Mas Sorakun salah tafsir
)
Maksudnya itu URL saya yg dibilang ERROR sama Master Li.
Oya, sekalian pemberitahuan mulai sekarang saya nggak menampilkan URL wadeheaven.wordpress.com lagi (boleh kan anonim tulen, itu HAM lho
~Buktikan Merahmu~ –> ini ciri saya, signaturenya selalu iklan rokok
Juni 5, 2007 at 5:07 pm
@ He Who Must Not Be Named
Hoalah… pake blockquote dong mas… ^^;;
Iya, boleh kok. Kita lagi nggodok policy omaigat sekarang, termasuk buat kebebasan pake nickname anonim.
Mungkin 2-3 hari lagi policy-nya jadi dan kami upload ke sini. Jadi, gak usah khawatir soal itu.
Juni 5, 2007 at 7:49 pm
@Alex
hmm….kalo begini cara anda mengungkapkan pendapat dan ketidaksukaan, ya anda sama saja dengan mereka..
bedanya anda tidak pake nama arab2an. tapi kan kasarnya sama. menyerang secara fisik-nya sama. emosi tanpa toleransi-nya kan sama.
Juni 6, 2007 at 3:01 pm
@calonorangtenarsedunia
Anda benar. Aku ndak ngelak kalo dikatakan aku kasar dalam hal ini. Sudah cukup lama saya jadi orang santun utk coba toleransi dengan mereka. Tapi ketika mereka sudah menyusup ke sendi-sendi hidup dan halal-menghalalkan darah, saya mesti menjadi salah satu orang yang berada di barisan “kasar”.
Dalam artian, saya termasuk dalam orang yang bilang, “lawan api dengan api dan biarkan semua rata jadi tanah.” Namun, saya tahu dan yakin ada yang lain yang mencoba cara lebih lunak.
Jangan bicara TOLERANSI dengan orang yang sudah mengharamkan TOLERANSI. Karena dalam hal itu aku beda dengan mereka. Mereka tidak toleransi dengan orang lain secara keseluruhan. Tapi aku masih…
Juni 6, 2007 at 3:19 pm
@calonorangtenarsedunia
Tambahan lagi… ini utk sekedar perbandingan cerita…
Saya pernah dengar tentang sejumlah orang yang bersyukur atas tsunami di Aceh dulu. Sampai membuat kenduri syukuran di beberapa wilayah di luar Aceh. Mereka puas, katanya, dengan “kutukan” yang datang saat itu.
“Biar orang aceh tahu diri! Biar orang aceh merasakan seperti apa sakit kehilangan semua!”, demikian kata mereka.
Bukan sekali dua kali saya dengar cerita ini. Bahkan di minggu-minggu awal musibah, saya pernah ketemu dengan orang yang puas wajahnya.
Tapi apa saya marah? Tidak. Saya malah senyum dan ketawa. Kenapa? Karena saya mengerti latar belakang kekecewaan mereka, kemarahan mereka. Meski saya tidak mengalami hal yang sama, namun saya tahu benar apa yang pernah menimpa mereka di tanah saya.
Mereka itu orang yang menjadi korban konflik di Aceh. Para transmigran yang diusir dan hartanya dirampasi, bahkan keluarganya dibunuh. Tak pernah jelas siapa dalang di balik layar kasus-kasus demikian. Namun, emosi mereka membuat mereka menyamaratakan semua orang Aceh.
*Hingga kemudian waktu mereka sadar bahwa kerabatnya juga ada yang mati dalam musibah saat itu… di situ saya dengar banyak yang menyesal dengan kutukannya*
Dalam perbandingannya, saya lebih bisa memahami isi kepala dan perasaan orang-orang begini daripada segerombolan orang yang bawa-bawa agama untuk menghalalkan kematian orang lain. Untuk membuat kerusuhan atas nama surga dan ayat dan hadis dan tokoh agamawannya.
Terkadang, kawan, ada batasnya dimana kita menahan diri dan mencoba bicara baik-baik. Saya menulis dengan kasar di sini, dengan harapan ada yang baca dan bertanya pada diri sendiri *tentu saja yang dari kalangan yang saya maksud itu*, “Apa yang membuat orang ini, mereka ini, yang bahkan seagama dengan kita, membenci kita?”
Ketika kata tidak sanggup menampari wajah, gunakan tangan. Karena saya tidak mau berada dalam posisi selemah-lemahnya iman dengan hanya berdoa dan mengharap mereka sadar.
Juni 6, 2007 at 3:34 pm
Seorang pejalan mencapai tujuannya
dan melihat ternyata ada banyak jalan
yang menuju ke tempat tersebut
lalu dia kembali
dan memberikan apa
yang di saksikannya
kepada para pe jalan
yang sedang di persimpangan
bahwa ternyata ada banyak jalan
yang menuju tujuan mereka.
Tapi mereka malah curiga,
kamu siapa sih, mau menyesatkan ya?
Dan mereka tetap sibuk mereka-reka
jalan mana yang akan di tempuh selanjutnya
Dan kepada para pejalan
yang baru mau berjalan
yang sedang ribut memilih jalan
saling mengklaim jalannya yang benar
tapi tampaknya mereka tidak mendengarnya
dan terus meributkan jalan mana yang benar
dan saking sibuknya menentukan jalan
mereka malah tidak pernah berjalan.
Ah, seandainya mereka
mau sedikit mendengar
dari seorang pejalan yang
sudah sampai di tujuan.
Juni 6, 2007 at 3:35 pm
oh iya, kelupaan anggaplah agama or paham itu sebagai jalan menuju yang satu, jadi sebenarnya siapa yang paling benar?
Juni 8, 2007 at 5:47 pm
@Alex
Mungkin maksud “calonorangtenarsedunia” kalo yg sudah “terkontaminasi” sudah tidak bisa kita selamatkan, tapi gimana mau selamatkan yg belum “terkontaminasi” kalau sikap dan gaya bicara kita mirip2 dgn mereka.
Nanti kesannya kan kita seperti sales dari showroom A dan mereka sales dari showroom B.
Juni 9, 2007 at 9:37 pm
@CY
Terima Kasih..
CY menangkap maksud saya dengan sangat baik, mungkin emang komen saya kurang jelas jadi Bung Alex ga paham. Maap ya, Bung..Salah saya tuh..hehehe47x…
Maksud saya memang begitu. Kalo mau menyelamatkan yang blm ‘kritis’, sebaiknya kita bisa lebih sabar dan tidak bar2. Paling tidak, untuk menunjukkan pada mereka bahwa kesantunan bahasa dan prilaku mampu memberikan dampak pemahaman yang lebih baik. dan bahwa teriak2 membawa nama agama saja ternyata tidak menyelesaikan masalah. apalagi kalau ternyata pas dihadapkan pada beberapa masalah, lantas teriakannya keok.
Juni 16, 2007 at 1:09 am
[...] kandung. Namun sayang seribu sayang karena para penganut ke dua agama ini sama-sama mengklaim mereka yang paling benar. Sehingga merasa sah-sah aja untuk memerangi satu sama lain, wong sama-sama merasa membela Tuhan [...]
Juni 16, 2007 at 1:42 am
kebenaran milik Tuhan, Kita ga tau Tuhan itu apa? Bagaimana? siapa? dimana? besar? kecil?…Bla-bla…Kita cukup yakin dengan hati kita Tuhan itu ada sebagai sang Khaliq.Kebenaran bukan milik siapa2, kebenaran cuma bisa kita yakini dengan hati nurani”anugerah tuhan yang paling berharga”[nyolong dikit
gapa-pa yakh:)]kebenaran ga perlu diperebutkan,wajib bagi kita menyebarkan kebenaran tapi tak perlu memaksakan kebenaran!!
“Ga Da Maksud sok menggurui + mengajari temen-temen
Maap…Maap…Maap…Maap
Juni 17, 2007 at 3:46 pm
[...] ulama yang membimbing umat Islam dalam mencapai surga. Bukan, bukan yang suka berteriak bahwa mereka yang paling benar tentunya. Walaupun berpakaian sama-sama hitam seperti gambaran Grim Reaper pada umumnya, tapi hitam [...]
Juni 18, 2007 at 10:08 am
jagalah hati, jangan kau kotori. terlalu banyak protes dan menggerutu, takut hepatitis loh. apalagi fasciola hepaticanya banyak……
yah yah….. tanggapannya bagus.
bagi saya: “faham dan keyakinan mu untuk mu. faham dan agama ku untuk ku”.
masalah beres.
Juni 19, 2007 at 6:24 pm
@ shinobigatakutmati
btw, Hepatitis bukan gara gara Fasciola hepatica, tapi dari Virus,,
OOT, sori!!
Ma setuju kalo kita ga boleh menggerutu berlebihan,, tapi protes dikit dikit gapapa kan,, biar saling ngingetin,,
Juni 25, 2007 at 7:25 am
[...] pemeluk agama lain. Sehingga kadang muncul sikap arogan dan kalap, lalu dengan lantangnya berseru kamilah yang paling benar. Tuhan sendiri pun menurut saya tidak menginginkan manusia merukunkan diri dan kelompoknya dengan [...]
Juli 12, 2007 at 11:12 pm
buat yang merasa paling benar, itu kan menurut anda…
beda itu indah, tau nggak kenapa kita diciptakan berbeda-beda?
salah satu jawabanya adalah agar kita bisa dibedakan, coba saja kalau semua orang sama, lalu bagaimana kita membedakan istri kita dengan istri orang lain?
Juli 20, 2007 at 1:17 am
yo’i boleh deh…
mudah²an direnungin ma yg merasa…
Agustus 11, 2007 at 12:53 pm
Ha ha ha
keren keren keren
wah ok banget
gila tuh kena kena kena terus
Jeniuuuuuuuuuus
Ajarin dong buatnya
Agustus 11, 2007 at 2:57 pm
duh.. duh.. duh.. maksudnya apa?
gak ngerti saya..
Desember 25, 2007 at 9:50 pm
[...] Yang mana lagi? Loe jelas liat lah… Barbar banget sih mereka. Mereka kira agama mereka aja yang paling bener [...]
Mei 19, 2008 at 11:26 pm
[...] ‘berbau negara’ tanpa melihat kesalahan aktor lain. Seakan tidak mau peduli — pokoknya™ ini pasti salah [...]
Desember 15, 2008 at 11:16 am
[...] Yang mana lagi? Loe jelas liat lah… Barbar banget sih mereka. Mereka kira agama mereka aja yang paling bener [...]