Sebuah fatwa yang (silakan cari jawabannya) dari seorang Abu Berry Al-Matisyahiddy.
————————————
Apakah kalian mengikuti salah satu agama yang tidak suka dengan kekerasan ? Tidak suka dengan kebathilan namun mengajarkan gaya Mahatma Gandhi, yaitu melawan tanpa kekerasan ?
Apakah anda adalah pengikut agama yang taat kepada Tuhannya, melaksanakan kewajibannya dan menghindari setiap larangannya ? Lagi, anda tidak suka dengan kekerasan…?
Apakah anda lebih suka untuk menjauhi setiap kehidupan duniawi dan lebih suka mengurus ke-rohani-awan anda ? Namun anda tidak suka mendakwahi orang ? Malas mengajak orang lain ke jalan yang anda yakini benar…?
Maka anda tidak perlu masuk ke dalam topik ini.
Saya yakin bahwa anda adalah pengikut yang tidak mau cari masalah dengan si tukang masalah. Saya terlebih mengira – ngira kalau anda lebih suka mengambil keseluruhan dakwah dari para ulama, termasuk yang diragukan tujuannya.
Lalu seperti apakah kebiasaan pengikut agama jaman sekarang…?
1. Suka Perang, mengabaikan Tuhan dengan gelar “Maha Pemaaf”
Parang dan golok sudah berada di genggaman tangan. Begitu mereka menginjakkan kaki di tempat maksiat tersebut, mereka langsung menghajar habis – habisan bin membabi buta, tanpa ampun ke semua properti pemilik. Kebiasaan pemeluk agama jaman sekarang ? Sabetan golok menuju leher umat lain ? Rentetan peluru kepada pemuka sesat ? Atau sekedar hujatan kepada kaum kafir dan para pendukung kristenisasi ?
Lupakan permasalahan Hak kita, tak peduli apakah kita diperbolehkan oleh Tuhan untuk melakukan hal tersebut. Mungkin kita dapat menganggap apabila Tuhan sudah merestui / meridhoi apa yang kita perbuat. Atau, anggap saja Tuhan sudah menganggap perbuatan kita itu adalah sebuah jihad, dan pembimbing menuju revolusi.
2. Suka tebar fatwa, mengabaikan kebenaran, apalagi Tuhannya yang menyandang gelar “Maha Benar”
Anda ingin menyebar fatwa yang diharapkan memiliki arti sesuai yang anda inginkan ? Maka ambillah satu atau dua patah ayat yang sekiranya mendukung, lalu mutilasilah ayat yang benar – benar sesuai dengan apa yang anda ajarkan ! Apakah dengan begitu Tuhan anda lantas meridhoi apa yang anda lakukan ? Cobalah yakin apabila fatwa Tuhan anda belum sesempurna atau sebagus fatwa anda, cobalah mengilhami apabila anda ’sekedar’ membantu fatwa Tuhan agar jelas di mata pembaca !
3. Suka teriak – teriak kepada Tuhannya, tidak menggubris sifat Tuhan yang “Maha Mendengar”
Apakah ada kurang mempercayai apabila Tuhan anda bukan Maha mendengar ? Maka tak perlu sungkan – sungkan, dengan alibi tersebut anda dapat berteriak – teriak memohon azab bagi orang – orang yang tidak menyetujui prosedur agama anda. Anda dapat meminta perlindungan atau keinginan anda kepada Tuhan dengan cara berteriak – teriak. Biarkan tetangga anda yang sedang tidur terganggu oleh doa anda, bilang saja itu adalah prosedur agama anda, atau cara yang lebih hebat untuk meminta kepada Tuhan anda !
4. Tidak peduli meski Tuhannya menyandang gelar “Maha Adil”
Sehingga anda bebas menyumpah – nyumpah orang dari ras berbeda, memberinya fatwa bahwa ‘Kutukan akan segera tiba padamu, wahai Dajjal !’ Anda tinggal membuat alibi kalau anda tidak mengetahui statemen Tuhan anda sekarang adalah Maha Adil. Lalu tolak semua fatwa orang lain yang berusaha membenarkan (Dengan cap sesat !).
5. Mendukung penyerangan, mentang – mentang tidak tahu kalau Tuhannya “Maha Perkasa”
Siapa tahu Tuhan anda tidak mampu untuk menyerang setiap bentuk yang menurut anda adalah cerminan dari kebathilan, refleksi dari kesesatan ! Maka dari itu, anda dan senjata anda (Bisa Parang atau Celurit) siap untuk adu jotos, atau sparring antara si pemuka agama dan pemuka kesesatan.
6. Tidak mempercayai kalau Tuhannya mempunyai gelar “Maha Suci”
Tuhan anda sedikit banyak agak vulgar, norak, dan tidak mendukung emansipasi perempuan (tilik poin 4). Bagi mereka yang tidak mempercayainya, silakan lemparkan sebuah dalil yang anda temukan, apabila kaum lelaki yang masuk surga akan disuguhi oleh PSK yang jumlahnya tak terkira, dan kaum perempuan tidak mendapat hal yang senikmat itu karena dalilnya, perempuan itu adalah penghuni neraka. Bayangkan saja Tuhan tidak sepintar itu sehingga dia tidak mempedulikan poin ini, dan dalilnya yang notabene masih tren di kalangan anda.
Seperti apa hobi dan ciri – ciri mereka ?
1. Maksa ! Maksa ! Maksa !
Tak memperdulikan ras, tak menggubris hak – hak, apalagi respek terhadap apa yang mestinya tidak perlu dilakukan. Selama anda menemukan satu lagi orang yang tidak sesuai dengan prosedur atau mekanisme agama anda, maka orang yang anda ‘kafirkan’ tersebut selayaknya disembuhkan dan masuk kedalam agama anda. Mereka tidak mau ? Maka paksalah orang itu ! Tak perduli meski orang tersebut adalah seorang Paus Benedictus ataupun seorang George W. Bush ! Bilang saja bahwa itu adalah keputusan atas agama anda dan Tuhan anda.
2. Memutilasi fatwa Tuhan
Tentu anda tahu poin 2, kembali anda dapat menganggap bahwa fatwa Tuhan tidak sebagus atau sehebat yang anda inginkan. Apapun itu, cara memutilasi ayat yang anda tahu tentulah dengan mengambil fatwa tersebut dan mengambil dari apa yang anda perlukan. Ah, ya. Jangan mengambil ayat yang mudah dimengerti orang. Sebaiknya anda mencomot ayat – ayat yang mutasyaabihaat, sehingga dengan mudah anda dapat membuat tafsiran a’la anda. Mudah, bukan ?
3. Sering dikait – kaitkan dengan darah, perang, barbar, d.l.l.
Yang tidak mengetahui ciri – ciri di atas tentulah dia tidak mengetahui umat anda seutuhnya. Anda diwajibkan berperang atas fatwa Tuhan anda yang menginginkan kedamaian. Bilang bahwa anda menumpahkan darah orang – orang yang dikafirkan demi menjaga stabilitas dunia dan menentramkan komunitas agama. Sebutkan fakta bahwa anda hendak mengikuti apa yang Tuhan anda katakan, sehingga mau tidak mau anda berperang dan berkelakuan barbar.
4. Kebal terhadap hukum yang berlaku
Yak, ini adalah superiority anda. Anda tidak diketahui oleh aparat pemertintah karena mereka sedang asyik di belakang layar. Peraturan di negara anda tidak mampu untuk menghalang – halangi setiap tindak – tanduk yang anda lakukan terhadap agama anda ataupun agama orang. Teman anda juga seorang koruptor, para penjahat kelas kakap, d.l.l., yang notabene juga sepaham dengan dalil anda, karena jelas itu menguntungkan mereka.
5. Suka berbaur dengan orang – orang tak berpendidikan
Mengapa ? Karena dengan cara itu anda bisa mendakwahi mereka, mengajak mereka untuk masuk ke dalam kepercayaan anda tanpa paksaan. Hanya dengan itu anda dapat membodoh – bodohi mereka dengan dalil yang sudah anda buat – buat.
——–
Dan diantara mereka – mereka, ada pula yang suka menumbuhkan jenggot atau memakai pakaian serba putih. Tentu ini tidak bisa dijadikan referensi menentukan kaum anda. Benar ?
(Silakan tambahkan menurut pendapat anda)
……….
……….
……….
……….
Apakah anda mempercayai semua hal di atas…? Ingatlah bahwa kaum diatas, boleh anda cap sebagai kaum yang sesat, atau itu adalah sebuah kefanatikan dari anda sendiri, sehingga anda dengan tak bersungkan – sungkan mengatakan bahwa anda adalah salah satu dari pengikut kaum tersebut.
Juni 4, 2007 at 5:53 pm
PERTAMAX…!!!
yes…!
ini pertamax saya yang pertamax…
Tambahan :
1. Nggak mau ngucapin selamat hari raya buat agama lain
2. Nggak boleh pake avatar dengan gambar makhluk bernyawa…
3. Sekian dulu
Juni 4, 2007 at 6:11 pm
@Yang Nulis
“5. Suka berbaur dengan orang – orang tak berpendidikan”
Ada Fakta?
“Dan diantara mereka – mereka, ada pula yang suka menumbuhkan jenggot”
Ada korelasi langsung dengan diktum-diktum diatas?
“Tak perduli meski orang tersebut adalah seorang Paus Benedictus”
Jujurlah padaku… (yakin nih ga memutilasi berita ???)
“Sebaiknya anda mencomot ayat – ayat yang mutasyaabihaat, sehingga dengan mudah anda dapat membuat tafsiran a’la anda.”
Emang sampeyan ngerti apa itu “ayat mutasyaabihaat”
“Suka teriak – teriak kepada Tuhannya”
ah ini cuma fenomena buaya (eh budaya) saja. coba sesekali lihat fakta diluar jakarta donk. jangan terlalu gampang menggeneralisir tanpa fakta empirik yang cukup.
===================
Jangan Kalap! gitu ah, tulisan emosional tidak akan lama diingat orang. Kecuali anda menulis cuma karena pengen buang hajat saja (maap, siapa tahu)
“Parah Parah, dikedua kubu sama saja adatnya”. Hanya beda gaya bahasa. Content relatif sama! Tidak ada yang benar2 membawa ideologi perubahan.
Kayaknya baru cuma Geddoe yang tulisannya fresh! (bukan membandingkan, tapi membangkitkan semangat)
Juni 4, 2007 at 7:59 pm
Saya setuju dengan wadeheaven, tapi setuju juga dengan DB…
Boleh kan??
Yang diungkapkan DB benar, dan tidak ada salahnya mengungkapkannya dengan emosi tinggi, mengingat dengan kesabaran juga, yang diprotes itu jarang bisa mengerti…
Tapi kalau memang bisa mengungkapkannya dengan sabar, ya silahkan yang bisa mmengungkapkannya..
Gimana mas wadeheaven..? Situ ada posting yg lebih sabar??
OOT: ini benar DB = dada besar kan yang nulis??
Juni 4, 2007 at 8:26 pm
mmm…. sarannya buat pengikut agama apa dong???
Juni 4, 2007 at 11:56 pm
sik tho…keluar topik…
kok disini yang nulis namanya berbau ‘abu’ semua???
Lha kalo cewek yang nulis, apa bakal dikasi embel2 “abu” juga?
Juni 5, 2007 at 1:53 am
@ yang tepat diatasku
Klo cewe ya umi donk.
Juni 5, 2007 at 8:04 am
Ini maksud postingannya kalau mau jadi pengikut agama jangan kek begitu, bener2 belajar lah dan saling berbagi tapi jangan mengkafirkan, menyebarkan boleh tapi dengan damai… lha agama itu khan sebenernya urusan pribadi masing2 punya account ke Sang Pencipta.
Buat he who must not be name (euleh meni hese…) ehmm…rajin juga ya komen, keknya pake beberapa id deh…;) kekekekek…baguslah berarti ngikutin perkembangan omaigat… terimakasih kritiknya yang membangun, namanya juga lagi belajar nulis, ajarin dong nulis lebih bagus tapi keknya mereka menghindari pake ayat2 secara kita semua juga sedang belajar agama, jangan sampai ngawur dan asal jeplak… tolong di ingatkan yaa…
Juni 5, 2007 at 8:16 am
Penasaran aja…
emang para ustadz di sini udah berapa yang kena kutuk sih?
Sumpeh.. gue belon pernah kena kutuk lho..
paling banter gue cuma ‘diingatkan’, “ente namanya menolak kebenaran islam kalo gitu”…
Juni 5, 2007 at 8:19 am
Ma sih belom pernah dikutuk juga,, kalo di-sindir ampe ampir mampus-sih pernah,,
Juni 5, 2007 at 8:55 am
goblok lu, Tuhan itu orang Arab, surga itu isinya juga orang Arab semua!
Tapi yang “arab wanna be” juga boleh masuk…
Juni 5, 2007 at 10:55 am
Kok ada Mahatma Gandhi sih disebut-sebut.. nich aku lagi Online pake baju gambar Mahatma Gandhi dengan tulisan eh semboyan gini dibawahnya…
Salam Damai…
Juni 5, 2007 at 10:55 am
@Neneknya omaigat
“ehmm…rajin juga ya komen, keknya pake beberapa id deh…;) kekekekek”
Iya bu, klo lagi pake nickname ini emang lagi pengen anonimouz
, bisa di track IP email yang masuk.
Jadi lebih menonjolkan sisi gelapnya, wakakak.
Orang dapur pasti tahulah siapa saya
btw, soal wadeheaven@wordpress.com emang pernah bikin, lalu saya delete lagi. Khan udah ada omaigat yang top markotop (semoga)
“ajarin dong nulis lebih bagus”
Lha, saya aja baru blajar nulis je. Saya cuma terobsesi akan tulisan yang bisa jadi cermin untuk semua. Yang bisa jadi contoh. Kalau kita berpandangan bahwa “x” jelek, maka kita juga harus bisa menunjukkan mana yang bukan “x” dan sopasti harus lebih baik dari “x”
@arab keren
Nih satu lagi contoh golongan Kalap dan Ngawur (please dech, harregene, kreatip dikit nape).
*emang lagi pengen kasar, sesuai nicknamenya”
Juni 5, 2007 at 11:16 am
pintar, bahasannya…
jadi ingat bab terakhir iqbal: Apakah Agama Itu Mungkin?
agama itu pertama adalah dogma lalu diikuti dengan akal dan terakhir adalah penemuan.
lanjutkan mas… gerakan apa yang bisa buat agama ini jadi universal (baca secara positif), dan rahmat bagi semesta alam, tanpa emblem-emblem “nama belakang” tapi mengakar dihati dan buahnya hadir melalui tindakan.
Juni 5, 2007 at 11:17 am
@Suluh
ngelihat kutipan sampeyan, saya jadi ingat dengan ujar-ujar jawa,
ngluruk tanpo bolo (menyerbu tanpa tentara)
menang tanpo ngasorake (menang tanpa merendahkan/menghinakan)
Juni 5, 2007 at 12:37 pm
*menghilang*
Juni 5, 2007 at 1:34 pm
Btw, Gandhi itu konon seorang omnitheis, ya…
Soal kutuk-mengutuk, saya pernah dikutuk beberapa kali… Beberapa kutukannya saya daur ulang menjadi bahan studi di ‘Menghujat Cara Islami’ tempo hari
Juni 5, 2007 at 4:29 pm
tapi..masih harus banyak belajar dari mas Teguh aka w a d e h e l..
Juni 5, 2007 at 8:08 pm
@ABe
emang kalo belajar harus sm teguh?
saya (ga pake kami, takut yg lain ga merasa terwakili) mencoba belajar dari yang ditinggalkan Teguh, secara dianya udah ga nulis lg,,
tempat untuk belajar itu banyak. karena saya bukan jiplakan wadehel, jadi ya belajar ga cm dari wadehel. Teguh a.k.a wadehel itu cm salah satu bahan pembelajaran. yang lain? masih banyaaaakkk….
Peace lah..
@DB
sabaarr….tp
setubuhsetuju!!!Juni 5, 2007 at 9:48 pm
waduh…
tulisannya keren juga. tapi, terkesan menuju “satu arah” atau emang sengaja di arahin “kesana”?
*Peace*
Juni 6, 2007 at 9:44 am
Omnitheis tuh apa sih bung geddhoe? gak ngerti saya… buat postingan dong bot this…
Juni 6, 2007 at 3:14 pm
Tuhan beragamakah?
Wahai para penjual kecap agama
apakah kau sadari
kalau Tuhan itu tidak beragama
Lantas kenapa kau sebut
kecapmu nomor 1?
Juni 6, 2007 at 3:47 pm
Dulu sekali, Pascal pernah bilang,
Men never do evil so completely and cheerfully as when they do it from religious conviction.
Dan itu memang benar, ya? Hal yang paling mendukung terjadinya “kejahatan” adalah dengan meyakinkan bahwa KEJAHATAN itu adalah BENAR.
@danalingga
Tuhan itu atheist, saya yakin benar itu
*Can anything be stupider than that a man has the right to kill me because he lives on the other side of a river and his ruler has a quarrel with mine, though I have not quarrelled with him?*
Juni 6, 2007 at 5:12 pm
@ Calonorangtenar
Yah..lha yang nyuruh sampeyan belajar ma teguh tu sapaa…wong saya cuma bilang ke omaigat koq..yee, jangan ge er yaaa…hehehe..ampun bos..ampuuuuun..pisss
*kenapa harus belajar dari teguh? coz..the way how you deliver a message really does matter..find the answer yourself*
lihat komen Andalas..posting ini seperti “mengarah ke satu titik”. Benar..sehingga mungkin hanya satu pihak yang merasa di”diskredit”kan..tidak seperti w a d e h e l yang meng”hantam” seluruh elemen..hebat? iya tuh
*ngelindur mode:ON*
Juni 8, 2007 at 4:17 pm
@Alex:
Anda yakin?
Kok bisa yakin?
Juni 8, 2007 at 11:18 pm
jaman sekarang jarang ada pemeluk agama, yang ada pengikut alias pengekor…
cuma ngekor dan gak ngerti yang diekor nih sapa
celakanya ngekor dengan mata ketutup, kalo yang diekorin udah ganti dianya ga nyadar, diingetin juga ga mau…. udah gitu ngerasa paling bener… duuuh tape deeeehhh
ya udah ga usah diingetin, didiemin aja biar kena batunya sekali2 dan jadi pelajaran….
sing penting kui damai, tanpa kekerasan dan aman bagi semua orang…. rahmatan lil alamin gitu lohh…..
Juni 12, 2007 at 12:34 pm
cuman nambahi, ciri-ciri pengikut agama sekarang:
7. suka komentar sesuatu yang dirinya tidak punya kompetensi apapun didalamnya (tipikal pengikut agama di indonesia).
8. menutup mata dan telinga terhadap apa yang terjadi di belahan dunia lainya, cuek dengan saudara-saudara muslimnya (palestine dan irak misalnya), dan lebih membela ’saudara-saudara’ kafirnya, yang notabene pelaku penzoliman saudara-saudara muslimnya (george bush jr + ariel sharon misalnya lagi).
He Who Must Not be Named benar (kalo ane ga salah nangkep), tidak usah mencari beragam pembenaran untuk kehidupan religi kita yang terlalu awam, untuk hati kita yang gersang, dengan sederet tulisan tendensius. well, tetaplah menulis, tapi yang jujur dari hati nurani, yang nawaitunya benar, bukan sekedar sampah (maaf kelewatan dikit) yang seharusnya hanya ada di diari kita.
well . .?
Juni 13, 2007 at 3:09 pm
gua liat yang nulis disini kebanyakan iseng semua ya? sibuk ngomongin ini itu, padahal masalah banyak banget….
gak usah emosian lah, buat gua agama adalah jiwa gua,so jangan pukul rata pake nilai ini itu.Kalo elo pada ngeliat yang pemeluk agama tertentu itu “sangar”, jangan dliat pemeluknya dulu lah (capek dah..)mending liat emang bener tuh agama ngajarin gitu, kan jadinya sportip, lojik gicthu. Lagian kasus kayak gitu mah, di semua agama juga ada,namanya juga manusia (ada jahat , ada baik, ada desperate, ada apa aja lah,).
Hhhh…gitu aja kok repot
Juni 15, 2007 at 10:43 am
Jangan menganggap minoritas ndablek dan berisik sebagai mayoritas bung… mayoritas itu juga ga semuanya bener….
Juni 16, 2007 at 10:08 am
Pekerjaan paling asik ituh…”berdebat”
Yang satu kasih statement dengan kalangan sendiri,
yang satu lagi kasih respon dengan kalangan sendiri,
Manfaat yg diambil…..”membuat org2 dibalik layar bertepuk tangan”
Trus…..ya biasa la….”kacau balau dalam berfikir”
Trus…..mungkin juga…”Ganyang trus”…
Realitas :
“Setiap kelompok menarik yg lain pada kelompok nya”
Nasehat:
“Carilah kebenaran….karena kebenaran membawa kepada penampakan Oops..maksudnya kepada kebaikan, bukan membenar2kan golongan sendiri gituwwww.
enjoy…..
Juni 16, 2007 at 11:33 am
Itu salah satu kegunaan dekonstruksi pemikiran mas Amrul “mengkacaubalaukan pemikiran”, agar dari puing-puing pemikiran kita bisa menemukan hal yang tidak bisa didekonstruksi lagi. Sang Kebenaran Sejati.
Juni 18, 2007 at 10:04 am
lho? bukannya perang tidak terjadi dalam kurun waktu yang hanya 5 dekade ini? dan perang sudah menjadi sejarah manusia sejak jaman dahulu? apa memang perang baru-baru saja terjadi? ahahaha, sepertinya saya memang manusia yang baru lahir sekarang. baru tahu tentang perang itu sperti apa. ternyata perang itu cuman masalah dengan jalan pemikiran yang sempit saja, cuman hal sepele maka terjadi perang. kirain karena memang manusia punya “sifat kehewanan” sedari dulu, yang ikut hukum rimbanya, siapa yang kuat dia yang menang begitu. oalah… ternyata penyulutnya itu ternyata agama toh? berarti bahaya yah agama itu? bukan mengarahkan manusia dari “sifat kehewanannya” menjadi yang bermartabat, dan berperi kemanusiaan. berarti. kirain hehehe berarti tidak beragama adalah yang benar? dengan demikian dunia akan aman damai sentosa? anarki pun merupakan jalan yang pantas sebagai solusi? daripada jadi agamawan yang cuman ngomong doang dan maennya perang saja? hehhee bingung kan? ngga bingung? yah ngga pa pa sih ^^
yah… namanya perang udah lazim. ngga usah diributin pun perang akan terjadi. karena begitulah manusia. yang seperti itulah yang berpikiran pentingnya perang. namun, sepertinya saya kurang setuju saja bila yang disoroti demikian (terlebih lagi penyorotannya hanya pada satu “ajaran” saja). yah kenapa ngga cenderung menunjuk ke oknumnya saja? kan cuman oknum saja, dan bukan secara garis besar.
hehehe, btw metode dakwah revolusioner yah? ^ ^ yah ngga apa-apa sih, saya juga bukan yang ahli dalam masalah apa itu, dakwah, ceramah, atau apalah. ternyata memang dakwah punya fungsi tambahan yang baru yah: sebagai tempat dekonstruktif pemikiran ^_^.
fu..fu.. fu… berarti kalo saya jadi juru dakwah nantinya saya akan “membangun pemikiran yang dekonstruktif untuk membenarkan pemahaman yang ’salah’”
hehehhe
peace ^^
Juli 1, 2007 at 7:15 pm
Saya tertarik dengan salah satu ciri, kebal terhadap hukum yang berlaku.
Gimana ya? kalo menurut saya sih kita sebagai umat beragama kadang-kadang harus punya kekebalan terhadap hukum tertentu.
1. Bagaimana kalo ada negara yang nglarang umat Islam sholat, ato pake jilbab, ato, melaksanakan kewajiban lainnya?
2. Bagaimana kalo ada negara yang nglarang orang Kristen membangun gereja?
3. Bagaimana kalo pemerintah meratakan Candi Borobudur untuk kepentingan lain?
Lalu mau kita apakan negara-negara seperti ini? Kalo saya sih, agama itu adalah hak pribadi seseorang, sehingga tidak layak negara manapun melarang umat beragama untuk menjalankan KEWAJIBAN agamanya dengan cara apapun, selama itu nggak mengganggu agama lain.
Nah, definisi mengganggu ini khan kadang susah. Kalo ada cewek pake jilbab diteriakin, “Lo ganggu pandangan kami!” terus gimana? Parah khan? Karena itu, harus disepakati antar umat beragama di daerah itu apakah yang mengganggu dan apa saja yang tidak mengganggu.
Balik lagi ke negara. Demi kebebasan beragama, kekerasan dibolehkan jika diperlukan. Mulai dari ancaman, perusakan, hingga pembunuhan. Itu menurut saya, entah yang lain.
Kalo negaranya sekuler abis (maksudnya sekuler gak peduli lo ya, bukan sekuler tukang maksain seperti Turki), saya sih gak terlalu bermasalah. Jadinya khan, nggak ada kewajiban yang dilarang. Tapi, biasanya sering timbul masalah karena ketidakpahaman soal ajaran agama tertentu.
Kalo menurut saya, negara yang ideal itu ya negara yang berhati-hati membuat aturan agar tidak menyinggung KEWAJIBAN umat beragama tertentu di negaranya.
Juli 1, 2007 at 11:01 pm
@ Jaya
Ma setuju tuh,, jadi biar agama mana juga bisa tetep menjalankan ajaran agamanya di negara itu,,
Ehh,,? sampe ngebunuh?
Hmm,, Ma takut salah ngerti nih,, Jaya jelasin lagi dong tentang poin yang ini,,
Juli 2, 2007 at 1:38 pm
itu ironi kok, rasanya…
Juli 2, 2007 at 7:41 pm
yang ironi itu yang mana Joe? komennya Jaya?
Juli 3, 2007 at 11:56 am
iya.
jadinya ya bisa meraba2 sedikit
kebetulan dia adik kelasku kok
Juli 3, 2007 at 1:18 pm
joesatch meraba2 jaya ?? *hiyyy ….*
Juli 3, 2007 at 1:32 pm
ooh,, gitu,, gitu,,
*ngangguk ngangguk sok ngerti*
Juli 12, 2007 at 11:44 am
[...] agama pun mulai memanipulasi kata kata tuhan, membelokkan dan memalsukannya, kemudian mencuci otak pengikutnya, yaitu manusia sendiri. Lalu membunuh tuhan dengan ajaran dan doktrin aliran agamanya. Salah satu [...]
Juli 20, 2007 at 1:11 am
kutip komen chiw:
—————–
2. Nggak boleh pake avatar dengan gambar makhluk bernyawa…
Baru ngeh aku…
Agustus 2, 2007 at 2:44 pm
jangan bunuh-bunuhan lah..paling enak itu peace aja beibeh
Agustus 2, 2007 at 2:52 pm
@ atas
Setuju
Desember 4, 2007 at 7:07 pm
Aku gak terlalu setuju dgn selalu mengurus kerohanian saja tp kita ini harus seimbang dalam hal mengurus duniawi dan akhirat karena itu penting. maka dari itu, kita semua harus menyadari betapa pentingnya urusan dunia dan akhirat. ingat ya !!!!