Ditulis oleh Sousakiy I.M.
[Post ini sebagian terinspirasi dari beberapa diskusi di sini, di sini, dan di sini]
…
…
Pernahkah Anda merasa buntu dalam berdiskusi? Lawan Anda terlalu cerdas sehingga Anda selalu kalah dalam diskusi?
Pernahkah Anda merasa menghadapi argumen yang kokoh bagaikan gunung, dan tak tembus seperti benteng Tentara Salib sekian abad lalu? Argumen tersebut demikian logis, kokoh, dan masuk akalnya sehingga pendapat Anda begitu kerdil dan lemah di hadapannya. Tak ada jalan keluar — Anda sepertinya sudah pasti akan kalah dalam debat tersebut.
Tapi, jangan menyerah!! Ketika Anda berhadapan dengan argumen sehebat apapun, selalu ada jalan keluar. Ikuti penjelasan berikut ini, dan jadilah pemenang!!
…
Cara Pertama: Cari Kelemahan Lawan Bicara Anda, dan Jatuhkan Dia dengan Itu
Istilah kerennya, Argumentum ad Hominem.
Semua orang pasti punya kelemahan. Punya rasa malu. Punya sisi buruk dalam hidup. Nah, sekarang saatnya Anda mengeksploitasi semua kelemahan tersebut. Jangan biarkan lawan bicara Anda menertawakan Anda dan memandang Anda seperti kutu di sol sepatunya.
Lawan bicara Anda mungkin selalu meneror Anda dengan pertanyaan menjengkelkan — misalnya, pertanyaan legendaris “bener nggak sih, agama kita melarang umatnya berpacaran?” Padahal agama mazhab Anda jelas-jelas menyatakan demikian. Kebenarannya sudah terbukti, lintas generasi, dari ulama terdahulu hingga zaman sekarang. Tak seharusnya hal itu diperdebatkan!! Orang itu pasti salah!!
Sekarang, Anda cari segala kelemahannya. Ah, ada! Orang itu ternyata hanyalah seorang mahasiswa biasa. Mahasiswa ngerti apa urusan agama? Omongannya pasti salah!!
Itu dia kelemahannya — nyatakan dia sebagai seorang mahasiswa kesurupan, agar lebih afdhol. Maka, jawaban Anda idealnya akan seperti berikut:
“Saya nggak perlu dengerin ocehan mahasiswa kesurupan macem ente.”
Maka, rekan Anda itu akan jengkel sendiri mendengarnya. Dan Anda pun sukses menyarangkan satu argumentasi dengan telak!!
Nggak nyambung? Ah, memang iya. Tapi itu tetap kebenaran kan? Fakta bahwa ia mahasiswa kesurupan memang tidak berhubungan dengan “hukumnya berpacaran” yang ia tanyakan — tapi Anda tetap bisa memenangkan diskusi kok.
Logika? Apa itu?
(+) “Maaf Pak, kayaknya keyakinan bahwa matahari mengelilingi bumi itu perlu direvisi, deh.”
(-) “Ah, mana mungkin. Kamu ini ngerti apa dibandingkan ulama saya yang tinggal di Timteng?“
(+) “Demi Allah, Teleskop NASA sudah menunjukkan bahwa tata surya itu mengelilingi matahari Pak!!”
(-) “Kamu lebih percaya sama teleskop NASA, daripada sama ulama!!??”
Cara Kedua: Jatuhkan Dia dengan Argumennya sendiri!
Sebetulnya tidak persis seperti judulnya, tapi bisa dibayangkan seperti ini.
(+) “Seharusnya kita mempelajari dulu teologi agama lain secara detail, daripada langsung mengkafirkan mereka tanpa tedeng aling-aling.
(-) “Apa? Bicara apa kamu? Jangan-jangan kamu ini antek liberal ya?”
Dengan demikian, si pembicara pertama langsung jadi ‘tertuduh’. Mungkin dia cuma berusaha belajar obyektif, tapi itu kan bukan urusan Anda. Pokoknya™, Anda menang!!
Cara Ketiga: Serahkan pada yang Ahli
Kalau Anda sudah mengerahkan semua kemampuan Anda, dan ternyata Anda tetap terpojok dalam diskusi, ada jalan keluar yang cukup mudah. Serahkan saja pada ahlinya! Anda bebas dari masalah, dan lawan diskusi Anda (mungkin) bisa mendapat masukan yang bagus, langsung dari ‘ahlinya’.
Contohnya bisa diringkas seperti ini.
(+) “Saya yakin itu benar. Kalau ente nggak percaya, silakan debat langsung pada kiai saya. Biar dia yang jelaskan.”
Jelas ini cara yang paling jitu. Pertama, Anda tak perlu capek-capek berpikir. Kedua, Anda tak perlu capek-capek menjawab. Dan, ketiga — Anda mendapat kesempatan menyebarkan kepiawaian guru Anda pada orang lain!!
Berbakti pada guru itu perbuatan mulia, betul?
Cara Keempat: Berkaca Pada Sejarah
Lawan bicara Anda meneror Anda dengan pertanyaan berat. Katanya, agama Anda adalah agama besar di dunia, dengan jumlah penganut sekitar dua milyar jiwa. Tetapi, mengapa banyak pemeluknya yang tinggal di negara miskin? Mengapa pemeluknya sendiri bolak-balik dicap radikal, teroris dan kampungan? Sementara, yang kaya malah asyik berfoya-foya laiknya pangeran Arab di negeri modern.
Nah, lawan bicara Anda bertanya. Semengenaskan itukah kondisi umat Anda, yang, katanya, merupakan ‘umat terbaik’ ?
Anda kehabisan ide. Bingung? Tak usah khawatir! Ingatlah akan kebesaran umat Anda di masa lalu!! Langsung muntahkan sebagai serangan balik!!
(+) “Kalian, umat Muslim, sungguh aneh. Kalian memiliki seperangkat hukum yang lengkap, dan penganut yang banyak. Bahkan, kalian menjadi agama mayoritas di beberapa negara Asia dan Afrika. Tetapi, mengapa kalian justru seolah tenggelam di kancah dunia?”
(-) “Sebenarnya tidak begitu. Di masa lalu, umat kami pernah sangat berkuasa, dan juga sangat maju di bidang IPTEK. Pencapaian itu sangat hebat — kami memiliki ilmuwan semacam Al-Khwarizmi, Ibnu Sina, dan lain-lain, yang sulit dicari tandingannya di dunia Barat.”
Ah, betapa indahnya masa lalu. Anda bahkan bisa menangkis keburukan masa kini dengan segala kenangan indah tersebut — sampai-sampai Anda bisa lupa bangun dari mimpi indah itu.
Cara Kelima: Ambil Pendapat dari Para Ahli, dan Lontarkan
Ini berlaku terutama pada pembahasan yang mencakup sosial, politik, dan agama. Di dunia yang sifatnya tidak eksak itu tidak seperti matematika, fisika, dan elektronika, pendapat para ahli bisa saja berbeda daripada kenyataan aslinya.
Ada kelebihan jika Anda memakai cara ini. Pertama, Anda menyandarkan pendapat Anda pada orang yang memang “ahlinya”, sehingga lawan bicara Anda tidak bisa mendebat lebih lanjut. Kedua, Anda akan dianggap cerdas karena dapat mengutip dengan persis ucapan ahli yang berkompeten!!
Contoh penerapannya seperti berikut ini:
(+) “Umat Islam kok sekarang pada eksklusif ya? Banyak yang sibuk ibadah sendiri, dan tidak mau membaur ke masyarakat dan tetangga.”
(-) “Menurut Ulama X, seharusnya tidak begitu. Beliau sendiri menekankan pentingnya berbuat baik pada tetangga, karena begitulah teladan dari Rasul. Ditambah lagi, tetanggalah yang akan menjadi penolong pertama kita di kala sulit.”
(+) “Tapi, mengapa keluarga Y di ujung sana itu begitu tertutup? Suaminya sering pergi,sementara istrinya mengurung diri saja di rumah.”
Tidak mengubah kenyataan sih; tapi setidaknya bisa melegakan perasaan Anda — bahwa umat Anda sebenarnya dianjurkan untuk tidak berbuat demikian.
Padahal, perbuatan itu jauh lebih bermakna daripada kata-kata, betuuul??
***
…
… dan disinilah akhirnya. Anda sudah menerapkan semua cara di atas. Tetapi, semuanya mentah — ANDA GAGAL!!
Lawan bicara Anda berhasil mementahkan semua argumen Anda. Maka, inilah saatnya Anda mengeluarkan sebuah jurus terakhir. Jurus yang paling dahsyat, dan merupakan kombinasi dari semua trik di atas…
…
Cara Terakhir: Bantai Babi Buta!!!
Anda mungkin kalah telak. Semua argumen Anda gagal. Anda tak bisa menerima kenyataan bahwa umat terbaik kebanggaan Tuhan Anda ternyata terpuruk bagaikan buih di lautan.
Lawan Anda bangga dan menertawakan Anda, yang cuma bisa copy-paste dari internet — tanpa bisa menulis pendapat Anda sendiri dengan runtut. Bagaimana caranya melarikan diri dari masalah ini?
Tak ada cara lain: bantai secara membabi buta!! Nyambung nggak nyambung, peduli amat!!
(+) “Katanya umat terbaik? Kok sekarang masih gini-gini aja sih?”
(-) “Masih mendingan umat gue kali yee… seenggaknya nggak main bikin murtad orang. Lagian ni agama keluar paling terakhir, udah pastilah jadi yang paling sempurna….!!!”
Mungkin belakangan umat Anda bakal mendapat sebutan sebagai umat bodoh dan keras kepala, tapi peduli amat. Dalam keadaan gawat, semua bisa jadi halal kan?
***
Dan, demikianlah akhirnya pembahasan kita kali ini. Mudah-mudahan bisa bermanfaat bagi yang membacanya.
Semoga Allah selalu memberi hidayah pada kita semua — dari yang segala tersurat maupun yang tersirat; dari yang tegas maupun yang halus, dan dari yang terang-terangan maupun yang satire dan ironik.
Amin.
…
…
~~~~~
Ps:
Poin (1) didedikasikan untuk Death Berry, yang mengalami hujatan serupa di sini.
Juli 10, 2007 at 5:31 am
pertama nih….. bukan pertamax, lagi-lagi menyinggung agama….
sebenarnya saya tidak suka ketika agama dibawa2 apalagi disatirkan..
harus punya dalil aqli dan naqli dong, supaya jelas, dan tidak sepotong2 mengambil ayat.
seharusnya –>
(+) “Saya yakin itu benar. Kalau ente nggak percaya, silakan debat langsung pada kiai saya. Biar dia yang jelaskan.”
nyontek cara ke -3 :p
Juli 10, 2007 at 8:34 am
Cara nomer tiga efektif tuh,, ga cape, dan terkesan marah marah ato ngeguruin,, dirujuk aja,,
eh kalo cara yang bilang “Kita ga boleh mempertanyakan itu,,” itu masuknya yang mana ya?
Juli 10, 2007 at 9:17 am
masalah iman memang sangat sensitif…
Juli 10, 2007 at 11:50 am
Dirilis beberapa saat setelah punyanya saya, ya.
Hmmm….kalau diruqyah itu masuk kedalam ad hominem juga, ya…?
*Ketawa ngakak*
Anda tahu bahwa ulama – ulama seperti mereka kerasnya sama seperti batu.
Juli 10, 2007 at 12:17 pm
[...] selalu anda gunakan. Atau sekedar ber-ad hominem..? Dan beberapa cara yang saya temukan tentang cara berdebat itu harusnya anda pakai untuk menebar kebusukan – kebusukan anda, dengan lebih mudah. Tapi [...]
Juli 10, 2007 at 12:54 pm
Waduh cara-caranya jenius nih.
*lagi milih mo make cara yg mana*
Juli 10, 2007 at 2:21 pm
Buat diskusi ya? pas berantem juga bisa nih kayanya
(atau yang berantem pas diskusi? Hmm)
Ada enam cara ya? Seandainya baru di cara awal-awal aja udah enggak sabar dan gemes banget boleh dong langsung lompat ke cara terakhir. Ga buang-buang masa *bletaak*
btw, cara pertama jadi yang paling populer kayanya? Bisa jadi orangnya malah ga sadar sedang menerapkan cara itu ya… apa karena memang lumayan `sakti`
Sering ketemu soalnya
Juli 10, 2007 at 2:32 pm
Ada debat yang menarik nih disini
http://hafez.wordpress.com/2007/06/03/pks-didzalimi-nu-dan-muhammadiyah/
Juli 10, 2007 at 2:33 pm
Halaaahhh…. Tau apa sih yang nulis ini entryyy!!!
( ga usah didengerain, tau aja maksudku kan
)
Juli 10, 2007 at 2:44 pm
huehehe… kok begitu yak…
btw, apa cara ini berhasil juga buat ngadepin bos?
Juli 10, 2007 at 3:10 pm
cK…cK…cK!
saran yang buagus…………!!!
kapan kita bikin diskusi terbuka???
Juli 10, 2007 at 3:12 pm
mau comment disini http://abdurrahman.wordpress.com/2007/03/15/benarkah-bumi-mengelilingi-matahari/
koq udah habis yaa karcisnya, padahal ada yg sangat penting lho.
saya baca kutipan terjemahan:
Ini khan yang dimaksud dgn condong adalah cahaya mataharinya (arah datangnya cahaya). matahari yang dimaksud adalah matahari dalam pandangan si penghuni gua dimana posisinya adalah objek yang diamati.
aduh saya ga tega rasanya harus ngajar bahasa Indonesia soal SPO atau SPK disini. saya hanya kasihan, boro-boro astronomi, untuk menterjemahkan dengan kaidah bahasa Indonesia tingkat kelas 2 SD aja sudah ngaco.
beginilah kalau terlalu mendewakan teks.
*pst, bagi yg masih ga ngerti maksud tulisan saya yang sudah sangat sederhana bin mudah dicerna ini, pasti akan segera mengambil kesimpulan saya mendustakan al-qur’an*
Tanya Kenapa?
Juli 10, 2007 at 3:37 pm
Masih nyambung dengan yang diatas
Lagi-lagi egois menafsirkan, masa menjadikan SORBAN sebagai analogi.
Menundukkan? saya tidak akan bahas panjang-panjang, pasti semua sudah kenal dengan hukum gravitasi Newton, atau coba tanya sama agorsiloku atau deking.
Tanyalah pada ahlinya (ULAMA), tapi mbok ya jangan ngawur. Urusan ASTRONOMI yaa tanyanya ke ulama ASTRONOMI bukan ulama SASTRA atau AKUTANSI
Juli 10, 2007 at 5:10 pm
@ Fadli
Jago juga ya kemahiran bahasa antum? hemmm…tapi tingkat pemahaman tafsir Alquran masih cupet–maaf kalo menyinggung perasaan. Masih kalah jauh jika dibandingkan dengan yang punya http://abdurrahman.wordpress.com/2007/03/15/benarkah-bumi-mengelilingi-matahari/. Ketahuilah, siswa SD pun juga masih terbata-bata kok masalah fungsi bahasa (belum sampai mereka pada tahapan ini), tentu kurang tepat kalo menyejajarkannya dengan anak SD kelas 2. Dari sisi sintaksis dan linguistik, saya juga masih meragukan kualitas Saudara Fadli.
Adapun artikel di blog al-akh abdurrahman tersebut merupakan tulisan ulama ahli tafsir, ahli hadits, dan ahli fikih zaman ini, yakni syaikh muhammad bin shaleh al utsaimin dan beliau rahimahullah menjelaskannya dengan dalil-dalil Alquran dan hadits yang beliau sendiri sangat paham akan keduanya. Adapun kita-kaum awam-ini hanyalah bisa membaca dan merenungi penjelasan Syaikh Utsaimin tersebut. Dan apa yang datangnya dari Alquran dan hadits shahih wajib kita imani. Selesai perkara. Jika ada beberapa gelintir orang yang nggak setuju, maka datangkan dalil yang jelas untuk menyanggah pendapat Syaikh. Namanya dalil itu adalah Alquran dan Hadits sesuai pemahaman salafush shaleh. Jika menganggap hal seperti itu bahwa ahlinya adalah para astronom, maka datangkan bukti-bukti otentik atas penelitian mereka, kemudia jelaskan pula keshohihan berita dari mereka, lalu sebutkan biografi mereka sehingga sanadnya dari mereka baik dan diterima. Ini baru adil. Bukan dengan cara mengolok-olok atau mencela seorang ulama besar dengan gelaran ulama astronomi, ulama akuntansi, atau ulama sastra. Celaan seperti ini hina sekali di mata Allah dan Rasul-Nya.
Juli 10, 2007 at 5:31 pm
mmm… itu cara ke berapa yak?
kayanya variasi baru tuh…
*kaburrr*
Juli 10, 2007 at 7:41 pm
Hohohoho…sora sora, komen ke 14 itu termasuk yang mana ya?
*kabur*
Juli 10, 2007 at 8:23 pm
@antosalafy
“Adapun kita-kaum awam-ini hanyalah bisa membaca dan merenungi penjelasan Syaikh Utsaimin tersebut.”
Maaf bukan mau ngeflame, saya cuma penasaran, kenapa cuma bisa membaca dan merenungi penjelasan dari beliau? Bukankah segala sesuatu harus kita telaah? Anda sendiri menuduh saya:
“kaum bodoh yang hanya bisa mengikuti rahib dan pendeta”
Padahal, saya sendiri tidak pernah diajarkan untuk terima saja apa penjelasan dari pendeta.
Mungkin saya salah mengerti, mohon penjelasan, Terima kasih.
Juli 10, 2007 at 8:30 pm
@antosalafy
saya lihat kok komen anda masuk kategori ketiga, yakni serahkan pada yang ahli.
Juli 10, 2007 at 8:41 pm
Emmm, tarik nafas dulu.
Bi Ismi Allah Arr Rahmaan Arr Rahiim.
Perkenanken saya menjawab komentar Al Akh Abu Maulid Anto as Salafy
Fatsal 1 :
Dimaafkan
Fatsal 2 :
Dimaklumkan
Lha wong saya belajarnya bahasa C#, Java, VB.NET, dan PHP tentu saja ga ngerti linguistik. Saya menterjemahkan struktur sederhana koq, dan saya rasa ga perlu lah nahwu sharaf untuk itu.
ahem, klo ga pake nahwu sharaf bisa diklaim memperturutkan hawa nafsu ya?
Fatsal 3 :
Syaikh Muhammad ibn Shaleh al Utsaimin rahimahullah adalah ulama ahli tafsir, ahli hadits, dan ahli fikih. Siapa pula yang menentang?
Tanggapan saya :
1. Bagaimanapun beliau tetap manusia biasa, bukan Nabi yang terpelihara dari kesalahan.
2. Bagaimana pula orang yang tidak pernah melihat dan meraba gajah hendak menjelaskan gajah.
3. Saya catat kalimat ini untuk dipergunakan nanti “Dan apa yang datangnya dari Alquran dan hadits shahih wajib kita imani. Selesai perkara.”
Nabi sendiri pernah bertanya koq kepada seorang petani bagaimana cara bercocok tanam yang benar (coba ambil i’tibar dari sini)
Fatsal 4 :
OK, OK. Balik ke Fatsal 3 Point 3, ternyata belum selesai perkara. Masih ada perkara baru yaitu “harus sesuai pemahaman salafush shaleh”
Tadi sebelum maghrib saya baca terjemahan Al-Qur’an surah Az-Zumar. Pada salah satu ayat ada diterangkan bahwa bayi dalam kandungan itu berada dalam 3 lapis kegelapan, yaitu kulit perut, rahim, dan plasenta. Apakah pada zaman salafush saleh pada 3 generasi pertama itu hal ini telah diketahui?
Bingung?
Maksud saya, ada hal-hal / ayat-ayat qauniyah yang terungkap setelah periode mereka dan akan terus terungkap sampai akhir zaman nanti. Nah bagaimana mungkin kita menyandarkan pemahaman kita kepada para leluhur itu jika mereka sendiri belum pernah menemuinya. (ini konteksnya soal hal yang benar-benar baru lho, plz jangan di plintir)
Saya prihatin sekali melihat skenario debat seperti ini,
Pada tahapan pertama diminta “berikanlah kepada kami dalil yang syar’i (ini istilah yg paling sering dikambinghitamkan)”,
Kemudian disajikanlah hadist dan ayat. Jadilah hadist bertemu hadist. Ternyata masih belum ketemu.
Pada tahapan kedua diminta “harus berdasarkan pemahaman salafush saleh tanpa kecuali”. Lalu dijawab dgn argumen seperti saya diatas
Pada tahapan ketiga malah diminta kesahihan argumen dan rekam jejak yang punya argumen. Kali ini objektivitas bergeser menjadi subjektivitas. Siap-siap orangnyalah yang akan diserang.
Pada tahapan keempat : menutup dialog dengan ucapan nylekit “tidak ada faedahnya berdebat dengan anda sekalian karena tidak membawa manfaat”.
Nah lucunya setelah tahapan keempat ini, balik lagi ke tahapan pertama. Debat lagi, ngotot lagi, bersitegang urat leher lagi, lalu ngeloyor dari gelanggang. Cabbe deeecchh.
Fatsal 4 :
Saya tersenyum simpul membaca imajinasi seorang Anto Salafy. Bagaimana mungkin seorang yang faham bahasa Arab (pada tataran linguistik sintaksis pula secara ybs adalah yang paham sastra) bisa menterjemahkan tulisan saya sebagai olok-olok. Jelas-jelas ulama itu secara bahasa (bukan secara istilah) artinya adalah orang yang memiliki ilmu dibidangnya.
Yaa tentu saja yang saya maksud adalah ahli astronomi, ahli akuntansi, ahli sastra.
Anda tampaknya benar-benar telah total bermetamorfosis jadi orang asing, sampai-sampai cara memahami bahasa Ibu Anda sendiripun anda pakaikan metodologi bahasa Arab. Lha ya ndak ketemu toh mas. Piye toh?
Juli 10, 2007 at 9:20 pm
baru ini kuliah di blog dapet teori … plus prakteknya (contoh aplikatifnya)
mantabh dah
Juli 10, 2007 at 10:41 pm
@ mas Antosalafi
wah,, gitu ya? bukannya biar gimana juga kita masih mempertimbangkan pendapat ahli ya?
biar kita jadinya belajar,,
bukannya kalo kita yakin hal di Qur’an dan Hadist shahih itu benar, artinya bakal bisa dibuktikan dengan ilmu kan,, walaupun ga sekarang,,
Juli 10, 2007 at 10:59 pm
Pas baca kalimat ini, “Kamu lebih percaya sama teleskop NASA, daripada sama ulama!!??” saya tersenyum karena teringat diskusi masalah matahari dan bumi di forum intranet. Eh, komentar dibawahnya juga persis sama dengan diskusi di forum itu. Kalimat ini yang saya maksud, “maka datangkan dalil yang jelas untuk menyanggah pendapat Syaikh. Namanya dalil itu adalah Alquran dan Hadits sesuai pemahaman salafush shaleh. Jika menganggap hal seperti itu bahwa ahlinya adalah para astronom, maka datangkan bukti-bukti otentik atas penelitian mereka, kemudia jelaskan pula keshohihan berita dari mereka, lalu sebutkan biografi mereka sehingga sanadnya dari mereka baik dan diterima. Ini baru adil. Bukan dengan cara mengolok-olok atau mencela seorang ulama besar dengan gelaran ulama astronomi, ulama akuntansi, atau ulama sastra. Celaan seperti ini hina sekali di mata Allah dan Rasul-Nya.”
Apakah ini namanya TAKLID buta, hingga masalah dunia pun harus dengan ilmu hadis? Saya pikir untuk membuat satelit komunikasi bukan dengan ilmu hadis. Begitu juga dengan memahami astronomi. Ini ilmu yang bisa dibuktikan secara ilmiah oleh siapapun.
Juli 10, 2007 at 11:59 pm
Sepertinya ‘limit break’ dari jurus-jurus berdiskusi busuk ini belum disebut di atas: chewbacca defense!
Juli 11, 2007 at 12:03 am
Hahaha… terus perang-terus perang… sama-sama kacaunya… diskusi yang destruktif, merusak, tak baik…
Udah ah males bacanya….
Juli 11, 2007 at 12:33 am
Men of science conform their beliefs to fit the established fatcs.
Men of conservative religious cults conform the established facts to fit their beliefs.
Juli 11, 2007 at 3:16 am
Kalau sudah dikuasai yuk kita praktekkan di Blog Islamsyiah.wordpress.com
Juli 11, 2007 at 5:33 am
Ga jelas nih. Gue liat di topiknya
“Berbagai Cara Busuk Memenangkan Diskusi”
Tapi kok malah jadi diskusi kepada satu orang?? trus, pada ngelontarin yang nggak2. najis banget. Gue liat di kalimatnya ada perasaan benci ‘n dendam banget. kok bisa gitu ya?? hatinya keruh banget. Gampang banget diajak perang. Tokoh2nya dia2 juga, padahal tujuannya sama, ‘Satu’. Kenapa bisa sekeruh itu?? dangkal banget..
Gabung aja kenapa? masih satu umat kan?
Juli 11, 2007 at 9:51 am
Kadang teorinya tidak sesuai dengan praktek. Kalau sedang gugup atau ngantuk gimana dong caranya?
Juli 11, 2007 at 12:44 pm
Habis baca Chewbacca Defence yang ditunjukin Catshade…
Memang aneh… dan aplikatif…
Juli 11, 2007 at 1:50 pm
kalau dalam diskusi selalu menyerang lawan anda, itu malah menunjukkan bahwa anda sebenarnya lemah …
http://bangsabodoh.wordpress.com/
Juli 11, 2007 at 5:14 pm
@ arul
Ini bukan menyatirkan agama kok Mas. Sebetulnya, yang disorot di sini adalah argumen2 lemah yang sering diajukan umat muslim ketika berdiskusi. Alhasil, timbullah kesan bahwa umat muslim itu bodoh dan nggak bisa berdiskusi dengan cerdas.
Makanya, post ini berusaha menyorot kelemahan itu. Di bagian post sendiri kan ada tuh tulisannya:
Gitu deh.
:::::
@ Rizma
Yang itu… nggak tau. Kayaknya itu cara yang beda lagi deh.
:::::
@ anthonysteven
Betul. Dan, sayangnya, banyak yang memakainya untuk menyerang orang lain. Yang seiman saja dihajar, apalagi yang beda…?
:::::
@ Death Berry
Besok paginya, kalau nggak salah.
Ruqyah? Kenapa? Disangka kesurupan lagi nih?
:::::
@ danalingga
Yak, dipilih, dipilih…
:::::
@ jejakpena
Cara pertama memang sering banget dipakai, kok. Kayaknya itu budaya yang udah mengakar di Indonesia, deh.
Contoh: anak kecil berkata pada orang dewasa agar tidak berbuat X.
Jawaban: “Ah, anak kecil tahu apa??”
:::::
@ Fadli
Ntar dikunjungi, deh.
:::::
@ Lee’s Journey, On the Way to a Smile
“Halahhh, anak kecil umur 13™ tahu apa sih soal ini??”
:::::
@ Edy C
Cobain aja, Mas. Separah-parahnya, kan nggak bakal tewas. Paling banter kehilangan pekerjaan aja kok.
:::::
@ st. of darkness
Ssst, ini satir lho Mas.
:::::
@ Fadli | antosalafy
Kok jadi ngurusin matahari mengelilingi bumi…? ^^;;
Sekadar mengingatkan, post ini topik utamanya adalah tentang cara2 berdiskusi yang tidak sesuai dengan topik lho.
Buat mas Antosalafy, coba cek di wikipedia soal sejarah astronomi:
http://en.wikipedia.org/wiki/History_of_astronomy
Di sana ada beberapa referensi tentang ahli astronomi yang diakui secara luas, seperti Galileo, Newton, dan Copernicus; juga soal teori heliosentris yang sedang dibicarakan.
:::::
@ Edy C | antobilang
Kayaknya gabungan antara cara ketiga dan kelima deh… (o_0)
:::::
@ anthonysteven
Sekadar info, beberapa ulama muslim melarang untuk taklid buta tanpa mengetahui sumbernya secara langsung. Misalnya Imam Malik (kalau nggak salah) melarang orang mengambil rumusan darinya tanpa mengetahui landasannya.
Jadi, secara umum, umat muslim aslinya tidak diwajibkan untuk taklid buata pada satu imam/ulama saja. Beberapa mazhab mungkin punya pandangan lain sih, soal ini. (o_0)”\
(CMIIW)
:::::
@ danalingga
Rasanya ada juga unsur cara kelima-nya sih…
CMIIW
:::::
@ watonist
Ah, terima kasih.
:::::
@ raden.suparman
Setuju dengan Anda. Bukan berarti kitab suci dan hadis itu salah; tetapi cara mempersepsinyalah yang bisa salah.
Jika dulu kita menafsirkan sesuatu secara berbeda, itu tak lain karena pandangan kita dulu belum seluas sekarang. Teknologi juga punya andil di sini; contohnya ya soal teleskop NASA itu tadi.
::::::
@ Catshade
*ngakak*
Baru tahu saya.
BTW, itu kalo gak salah pernah diterapkan deh. Bahasannya diaduk-aduk sedemikian hingga jadi teknis, dan… segala sesuatu jadi nggak jelas ujung pangkalnya.
(di salah satu link di atas ada diskusi yang kayak gitu, AFAIK)
:::::
@ mathematicse
Coba baca bagian terakhirnya post di atas deh,
FYI, saya pun nggak suka perang kok. Tapi kalau saya diem aja, nanti ada pihak2 yang merasa bahwa tindakannya bener. Padahal, saya rasa nggak seharusnya begitu.
Jadi, saya pun menulis.
:::::
@ Kopral Geddoe
Somehow, it reminds me of someone in a science-religion forum out there.
:::::
@ Anto S
Baca paragraf penutup post di atas. Udah?
Ini satir, bung. Sifatnya teguran, dan bukan ajakan buat diterapkan dalam diskusi nyata.
:::::
@ Zoe
Yang itu adalah orang-orang yang nulis komentar, bukan inti dari post ini. Udah saya sampaikan sih ke balasan buat mereka di atas; bahwasanya post ini menyorot berbagai kesalahan dalam berdiskusi — bukannya membicarakan teori heliosentris-geosentris… (o_0)”\
:::::
@ Thamrin
Ya, kan di sini cuma menyampaikan caranya aja. Kalau pelaksanaannya gagal, salah pembicaranya dong.
:::::
@ dnial
Iya… Terlalu aneh dan nggak nyambung, IMO… ^^;;
-mungkin karena itu disebut ‘Limit Break’-
:::::
@ Bang Mandor
Setuju.
Juli 11, 2007 at 5:30 pm
Yaa sudah lah…
Mengalah sajalah sama mas Antosalafi.
Dia malah sudah mempraktekkan option kelima; membabi buta. Wee…ke..ke..k..
Kacau banget dia,
Threatnya apa, komennya apa, sdh ga nyambung….
Juli 11, 2007 at 5:30 pm
Fadli:::
kata siapa C#, Java, VB.NET ga ada linguistik dan sintaksisnya?
pernah coding dan kemudian yg tiba2 keluar malah “syntax error” kan?
dan semua bahasa memiliki karakter linguistik masing2
wakakakakakaka…
salut, mas! semua anak ilkomp bersodara….hahahahahaha!
Zoe:::
masalahnya, yg diajak gabung nggak pernah menganggap yg mengajak gabung sebagai satu umat
Juli 11, 2007 at 6:24 pm
Tapi yang paling banyak saya temui di dunia perdebatan agama yang gini nih:
nah kalo itu masuk yg mana yak?
Juli 11, 2007 at 8:11 pm
@sora9n
He he he , mohon maap encang encing nyak babe dan sodara sodare penunggu blog ini. bukan maksud ane menyimpangkan topik ini jadi bedah astronomi. kebetulan itu cuma contoh aja. berhubung ane penyuka astronomi namun kehabisan karcis lihat pertandingannya di bioskop sebelah. maapin ane ya sodara sodare.
baidewei ane kira, comment ane di Fatsal 4 masih nyambung koq sama topiknya, yaitu soal diskusi. disana khan ga spesifik nyuarain pembelaan terhadap ilmu astronomi (secara saya merasa rada ulama dibidang itu (duh sombongnya ;p))
maapin ane ya sodara sodare
Juli 11, 2007 at 8:59 pm
@ Shelling Ford
Betul, setuju. Sintaks dan logika itu nggak cuma ada di bahasa manusia, tapi juga berlaku di dunia pemrograman.
*sambil belajar Sastra Java*
:::::
@ danalingga
Lha, itu kan termasuk mencari-cari kelemahan si pembicara. Kayaknya termasuk ad-hominem juga sih… (o_0)”\
-garuk2 kepala-
:::::
@ Fadli
Ah, nggak papa juga sih, toh masih nyambung juga sama “teleskop NASA” yang itu.
Btw, iya, fatsal 4-nya memang terkait sama diskusi secara umum, sih. Cuma jangan melebar ke topik astronomi aja, soalnya itu kan cuma salah satu contoh aja di sini.
Juli 12, 2007 at 12:14 pm
Salam kenal…(Indonesia)
Numpang promosi nih!
Ada yg mau kuliah dengan beasiswa? Belajar Wirausaha?
Main ke blog kampusku – Makasih ya!
[Moderator]: “Sekadar mengingatkan, OOT tidak diperbolehkan di blog ini. Ini sekaligus peringatan buat komen2 selanjutnya di post ini ya. Sekian, terima kasih.
“
Juli 12, 2007 at 12:21 pm
Yah, walaupun busuk….setidaknya manusia yang menggunakan cara busuk masih sedikit memutar otaknya untuk mencari cara bususk supaya menang. Yah minimal ada usaha dan pembakaran kalori serta aliran darah ke otak. meski hasilnya cuma cara busuk.
Juli 13, 2007 at 7:22 pm
[...] sederhana aja, sih. Dipicu oleh omongan tentang teori heliosentris yang mendadak marak di post ini, gw pun pergi ke wiki dan -syukurnya- terantuk pada lukisan yang satu [...]
Juli 15, 2007 at 12:42 am
sebenarnya saya itu kasihan lho lihat orang2 sperti mas Antosalafi, kayak sakit gitu, bkn sakit apa2 tapi sakit pikiran, mereka seperti tidak hidup dlm realitas, mereka seperti hidup dalam mimpi dan angan2. Kok bisa gitu ya? seperti tidak bisa nerima kenyataan…kok gitu ya?
salam
Juli 15, 2007 at 3:08 am
Saya juga prihatin, mas
Iya, impresi saya juga begitu. Kok kayaknya hidup di dunia angan-angan. Kayak Flat Earth Society…
Juli 17, 2007 at 4:26 pm
Orang ngigau kali yachh si antosapi itu, hehehe
Kenalken
http://antisalafi.wordpress.com/
Juli 18, 2007 at 9:07 pm
postingan ini ga usah didengerin.. :p
*dibaca aja, hehehehe
Juli 19, 2007 at 7:58 am
ngabahas agama lain aja pak
tentang trinitas gitu
bukankah doktrin juga??
gimana2 ;;)
bukan ajarannya yang salah
tapi bisa jadi umatnya
nah,,, coba ngebahas tentang umat lain juga dong
biar fair gitu,,,
*hati2 juga jangan merasa benar sendiri pula,,,,
bagi saya kebenaran memang relatif, kecuali kebenaran dari DIA
Juli 20, 2007 at 12:03 am
wah, kalo ngebahas umat lain, mungkin namanya bukan otokritik lagi, pak
Juli 24, 2007 at 11:40 pm
[...] tetap saja itu menyakitkan. Ketika Anda sudah mencurahkan waktu dan pikiran untuk menggerakkan semangat untuk berdiskusi cerdas dan persahabatan lintas negara, Anda harusnya akan sakit hati ketika dianggap “tidak punya [...]
Juli 26, 2007 at 2:40 pm
kebenaran dari DIA juga tergantung interpretasi masing2 orang kan…
la wong satu agama yg bersumber dari DIA aja ada alirannya masing2 hehehe
Buat mas antosalafi….la wong org lain udh sampai ke taraf riset nanomaterial, kirim surveyor ke mars, bikin obat buat kanker…kok situ masih mentok ama matahari mengelilingi bumi si??
kalo masalah astronomi..yaa diserahkan ke ahlinya dong..ulama(yg berilmu)astronomi…bukan ulama tafsir…setuju tidak… =)
Juli 27, 2007 at 9:13 am
nah itu dia, karena interpretasi itu relatif, makanya jangan sampai kita merasa benar sendiri toh
Menjudge orang lain merasa benar sendiri, bisa jadi kita juga begitu
Bukan cuma Islam kok yang punya aliran, agama lain juga…
*hati2 juga jangan merasa benar sendiri pula,,,,
bagi saya kebenaran memang relatif, kecuali kebenaran dari DIA
Juli 31, 2007 at 4:00 pm
dan itulah maksud artikel di atas ini…
satire, ironi…
kita tau kan maksudnya?
Agustus 1, 2007 at 3:11 pm
@ bingung
Betul, Pak. Kebenaran memang relatif, kecuali yang berasal dari Tuhan. Tapi terkadang kita semua berbeda interpretasi atasnya. Jadi deh terkadang ada beda yang sampai bikin gotok-gontokan.
Bahkan post ini pun bisa disalahartikan… Makanya, di bagian akhirnya, saya menyertakan penjelasan bahwa tulisan ini sifatnya satire dan ironik (seperti kata Shelling Ford di atas).
Agustus 4, 2007 at 2:12 am
Dalam masalah kebenaran hal yang paling perlu diperhatikan adalah Interpretasi,oleh karenanya kajian kebenaran harus diiringi kajian atas interpretasi. permasalahan antara pro kontra salafi misalnya juga jelas tidak jauh dari itu. Studi kritis atas interpretasi ini penting,
nah contoh interpretasi saya terhadap kata
“hati-hati jangan merasa benar sendiri” adalah kata-kata yang sering disalahgunakan untuk melindungi diri.
Bayangkan setelah berdiskusi dengan dalil dan argumen yang baik serta dianalisis dengan baik(argumen kita dan lawan bicara dibandingkan dan ditelaah).Akhirnya hasil diskusi menunjukkan kalau argumen kita yang benar, si lawan bicara tidak terima keluarlah kata-kata itu yang akan mengembalikan keadaan seperti semula. Menurut saya pada saat seperti itu kita berhak menentukan kalau kita benar dan maaf lawan bicara kita salah, kecuali kalau dia mau melanjutkan diskusi kembali dan yah mulai lagi prosesny.
Dan kata-kata “kebenaran memang relatif kecuali kebenaran dari DIA”
interpretasi saya kata-kata seperti ini bisa ditangkap bersifat pesimis ,sama seperti sebelumnya setelah diskusi dengan baik dan hasilnya menunjukkan kalau kita yang lebih benar ada saja orang yang mengeluarkan kata-kata itu, seolah-olah ingin mengatakan anda belum tentu benar karena yang pasti benar adalah Tuhan.
Aneh sekali lalu bagaimana manusia bisa tahu yang benar kalau apapun usaha yang dia lakukan hasilnya relatif sifatnya. Tuhan tidak berbicara langsung kepada setiap manusia untuk menyampaikan kebenaran. Jadi kebenaran dari Tuhan secara umum tidak lepas dari Interpretasi manusia.
Pesimis dalam arti usaha apapun anda ,kebenaran yang pasti hanyalah milik Tuhan, akan berkesan usaha atau tidak ya sama saja.
tentu saja semua pendapat saya inipun adalah Interpretasi
Sayangnya tidak setiap Interpretasi nilainya sama, diantara semua jenis Interpretasi ada yang paling mendekati kebenaran.
Agustus 4, 2007 at 1:28 pm
kalo tentang ini, saya malah sering bilang: silahkan simpan kebenaran versimu untuk dirimu sendiri, dan jangan menyalah2kan orang lain yang mungkin meyakini kebenaran dalam versi yang lain yang berbeda dgn versi yg kamu yakini
Agustus 7, 2007 at 4:34 pm
cuma meminta hati2
secara apa yang ditulis disini sangat mungkin membuat interpretasi umat lain terhadap Islam jadi tak baik.
Kenapa tak langsung sebut saja ajaran golongan yang mana ini yang sedang disindir jika memang hanya segolongan saja yang disindir?
*hati2 juga jangan merasa benar sendiri pula,,,,
Semoga setiap interpretasi kita bisa disampaikan dalam bahasa yang baik
bagi saya kebenaran memang relatif, kecuali kebenaran dari DIA
–> jika memang ditangkap secara pesimis, kali lain tidak saya gunakan lagi
Agustus 7, 2007 at 5:10 pm
@ bingung
Waduh, masalahnya banyak yang melakukan cara-cara diatas Mas… bahkan jamaah dan harakah-nya sendiri bisa berbeda lho.
Saya sendiri memandang ini sebagai sesuatu yang rada ‘umum’ di kalangan umat — walaupun, kenyataannya, memang selalu ada orang-orang yang lebih moderat dan cerdas dalam berdiskusi.
Oktober 22, 2007 at 9:55 pm
[...] pada syak wasangka dan generalisasi, serta tidak cerdas dalam berdiskusi. Sejujurnya, saya sering kehabisan tenaga ketika harus menjalani diskusi dengan orang-orang seperti [...]
April 21, 2008 at 11:39 am
[...] daya, ada pendapat dari sebuah agama lain yang mencap aksi mereka haram. Dengan hebatnya mereka memenangkan diskusi dengan menggunakan fallacies. Tepatnya argentum ad verecundiam, atau bahasa Inggrisnya appeal to [...]
Juni 12, 2008 at 4:28 pm
[...] si Tono? Tentunya kalau kurang mampu mempertahankan argumen dan terpaksa mengeluarkan ‘jurus-jurus licik‘, bisa jadi justru dicap fallacious. Dan tentu itu akan menyebalkan peserta diskusi yang [...]
Januari 8, 2009 at 2:50 pm
ndancok kowe! dasar kurang kerjaan..
Agustus 18, 2009 at 2:19 am
[...] Berbagai cara busuk memenangkan diskusi [...]