Apa Yang Kau Tabur Itu Yang Kau Tuai
dalam pemaknaan keterpurukan Indonesia
Sebagaimana kita ketahui bersama kalo saat ini Indonesia kok sangat susah keluar dari keterpurukan. Tak lain dan tak bukan hal itu disebabkan oleh sikap mental kita yang saat ini sangat hancur sekali. Di mana korupsi dianggap hal lumrah, pelanggaran hukum di anggap kecerdikan, padahal katanya masyarakat kita adalah orang yg beragama. Seharusnya sikap-sikap yang bertentangan dengan nilai agama, seperti korupsi, pelanggaran hukum dll sudah sangat minim (kalo tidak mungkin hilang), tapi nyatanya kok malah makin menjadi,,
So, tentu ada yang salah dalam kehidupan beragama di negara kita ini.
Kira-kira apa ya yang salah? Bukankah rumah ibadah terus bertambah, acara keagamaan di televisi juga banyak, para pendakwah juga bejibun, bahkan banyak yang seperti selebritis. Tapi kok ya dalam kehidupan bernegara seoalah-olah nilai-nilai agama yang ditanamkan di kita itu menguap.
Tampakanya agama bagi masyarakat kita hanya sebatas seremonial saja, tidak merasuk ke dalam diri. Sehingga masih kita temui sholat, ibadah, sembahyang iya, tapi korupsi jalan terus. Melanggar hukum juga terus asal nggak ketahuan yg berwajib, toh ketahuan juga bisa di suap kok. Padahal seharusnya sebagai orang beragama neh katanya tahu donk kalo setiap perbuatan kita ada yang melihat, yakni Dia yang kita sebut sang Maha.
Dan lebih parah lagi ada pandangan yang menggangap kalo dosa kita bakal terhapus jika berbuat amal kebajikan. Maka berbondong-bondonglah para koruptor beramal, memberi sumbangan, mendirikan rumah ibadat, dll lagi. Sungguh suatu pikiran yang naïf , dan tidak masuk akal. Tapi pikiran ini nyata berkembang di masyarakat kita.
Sebenarnya ada satu nilai yang ada di semua agama yang jika kita jiwai akan membuat kita otomatis tidak akan melakukan perbuatan-perbuatan yang menyebabkan negara ini terpuruk. Nilai itu adalah apa yang kau tabur itu yang kau tuai. Dengan menjiwai nilai ini, seharusnya kita tidak akan melakukan perbuatan yang merugikan orang lain, sebab sadar kalo itu jugalah yang akan kita dapatkan sebagai balasannya. Dan balasan ini bersifat nyata dalam hidup ini, bukan di awang-awang seperti kisah surga dan neraka.
Maka jika para pendakwah yang berjibun itu dapat menanamkan nilai ini kepada setiap umatnya, hingga mendarah daging, bisalah di harapkan negara ini dapat bangkit. Dan ini saya rasa sangat sederhana, nggak perlulah berbuih-buih mengajari gimana ritual agama, yang dah terbukti selama ini gagal total. Atau rebut rebutan umat, dan tuding-menuding telah di curi umatnya. Cukuplah dengan nilai apa yang kau tabur itu yang kau tuai saja.
[tulisan dikirim oleh Danalingga]
Juli 17, 2007 at 8:03 am
Ada yang enak-enakan korupsi bisa bebas
dan ada yang hak-haknya dirampas gak bisa dapet pendidikan, gak bisa mengakses layanan kesehatan,
siapa menabur? siapa menuai?
Juli 17, 2007 at 9:04 am
Apa yang kau tabur itu yg kau tuai = karma.
Yakinlah kalau karma itu ada dan berjalan terus, walaupun seribu kebaikan telah kita perbuat namun karma dari perbuatan kita terdahulu tetap harus kita tanggung, begitulah hukumnya, walau agama apapun kita, tetap karma atas perbuatan2 kita harus kita tanggung sendiri atau bersama org2 yg kita sayangi. Itulah perwujudan surga dan neraka di dunia ini. Karma baik “hasilnya” surga, karma buruk “hasilnya” neraka.
*bhiksu mode = on * heheheh….
Juli 17, 2007 at 9:08 am
“Ada yang enak-enakan korupsi bisa bebas”
coba selidiki keadaan keluarganya, pasti berantakan. Coba tanya apa dia bahagia menikmati hidup setelah pensiun, pasti menderita, soalnya sudah ada bbrp contoh yg saya dengar dan lihat.
Juli 17, 2007 at 9:24 am
Hmm,, tapi itu kayanya dijadiin pedoman lho,,
Gara gara korupsi, jadi ngeluarin zakat 2,5%,, kebayang aja, berapa banyak yang di dapet dipotong
pajakzakat,,Kalo bisa kaya gini sih,, Ma juga mau deh korupsi,, dizakatin aja 2,5%, ga berasa ini,,
Juli 17, 2007 at 12:27 pm
jauhkan korupsi dari bumi pertiwiku….
Juli 17, 2007 at 12:37 pm
hmmm…
serasa lagi dengerin khotbah jumat sambil ngantuk2….
zzzzzzz…..
Juli 17, 2007 at 4:23 pm
Huh, pendakwah nyang mana yah?
Nyang bejenggot?
Juli 17, 2007 at 4:24 pm
Numpang lewat, because link belon aktip, gw pamer dulu
http://antisalafi.wordpress.com/
Juli 17, 2007 at 9:27 pm
@novri
Itulah pak, karena selama ini kita berpandangan kalo karmanya itu abstrak dan nggak keliatan. Tapi apa benar mereka bakal enak terus, tidak menikmati buah karma mereka? Mungkin jika kita lebih peka lagi, maka kita akan tahu bahwa setiap perbuatan itu nyata balasannya. Mungkin kepekaan inilah yang sebaiknya di asah.
@CY
wah setuju banget atas pandangan
bikhuCY ini.Satu yang ingin saya tambahkan di perlukan kepekaan untuk menyadarinya.
@Rizma
yah kan di janjikan dosanya bakal di tebus tuh.
@catatangs
Makanya latihlah kepekaan untuk menyadari akibat dari setiap perbuatan kita itu adalah nyata.
@hamzah
wah ketahuan nih, ngantuk mulu pas kotbah jumat.
@antisalafi
wah, saya juga berjenggot nih, tapi bukan pendakwah sih.
Juli 17, 2007 at 11:10 pm
Allah ga pernah tertidur kok. Setiap dosa pasti akan dihitung, bahkan jika itu sebesar biji sawi..(biji sawi sebesar apa ya?hehe)
Juli 18, 2007 at 1:02 am
Kutipan 1:
“Melanggar hukum juga terus asal nggak ketahuan yg berwajib, toh ketahuan juga bisa di suap kok.”
Tanya: Tapi ini dipraktikkan oleh yang empunya punya tulisan engga yah?
Kutipan 2:
“…., nggak perlulah berbuih-buih mengajari gimana ritual agama, yang dah terbukti selama ini gagal total”
Komentar: bila ibadah tidak diajari dengan benar (karena dianggap tidak perlu), khawatir ibadah itu malah salah (menyimpang). Misal tentang bagaimana cara sholat, bila tidak ada yang ngajarin nanti malah salah deh (menyimpang)…. Cuma memang kebanyakan mereka (para pendakwah agama itu) agama baru sampai tahap di situ (ritual agama), belum sesuai tahap yang dimaksud dalam tulisan ini. Jadinya, kurang bijak bila dianggap gagal total.
Btw, bisakah yang empunya punya tulisan memeberi 1000000001 contoh yang menjadi fakta bahwa “berbuih-buih mengajari mengajari agama selama ini gagal total? Terimakasih.
Juli 18, 2007 at 4:23 am
entah ya, masalah korupsi ada hubungan langsung dg agama atau tidak.
Menurut saya, jika seseorang jujur tidak melakukan korupsi maka korupsi tidak terjadi (pada orang tersebut). Untuk skala lebih luas menyangkut sekelompok orang, jika sekelompok orang tersebut tidak korupsi maka pada sekelompok orang tersebut tidak ada kasus korupsi, dan seterusnya … Kalaupun agama sebagai acuan, toh akan bermuara pada bagaimana seseorang menerapkan ajaran agamanya
Juli 18, 2007 at 8:15 am
@CY: Teori karma dan reinkarnasinya jalan lagi, bung?
Nah, inilah kehampaan spiritual masyarakat modern.
Dosa dihapus kebaikan?
Kayaknya ga bisa dianalogikan dengan kemarau setahun dihapus hujan sehari deh.
Juli 18, 2007 at 10:26 am
@Cakmoki
Dalam hal seseorang yg jujur dalam sekelompok org yg korupsi diperlukan keberanian sekeras baja utk melawan arus dgn resiko “hanyut” atau malah lebih parah “tenggelam” dan kebanyakan orang tidak punya keberanian sebesar itu. Padahal selalu ada Sang Khalik yg akan mengulurkan ranting pohon utk menyelamatkan kita dari arus deras itu di saat2 terakhir.
@Lee Shan-in
Iya Om…, ini yg perlu disosialisasikan supaya org2 jadi sadar dan memiliki kontrol dalam segala tindakan. Krn Karma itu bukan agama tetapi hukum alam, hukum sebab akibat, kalau dalam fisika hukum aksi-reaksi.
Juli 18, 2007 at 10:38 am
Tapi ada saatnya…yang kita tuai ngak sesuai dengan yang kita tabur lho. Tergantung cara kita menyikapinya.
Juli 18, 2007 at 12:04 pm
KORUPTOR BERAMAL ??????????????
AMALNYA DAI HASIL KORUPSI ?????????
Wakakakakakakak……..
Juli 18, 2007 at 12:06 pm
hukum harta kan darimana dan untuk apa? jadi ya ditanyain juga darimananya??
Juli 18, 2007 at 8:42 pm
@safitri
Eh… itu balasannya nyata apa hanya di awang-awang?
@mathematicse
mending tanyakan ajalah pada diri sendiri, sehingga dapat memperbaiki diri bersama.
Ibadah itu sudah benar dan tidak menyimpang jika kita rakyat Indonesia sudah tidak melakukan lagi apa yang di larang agama. Demikian pula cara melihat apakah sholatmu sudah benar atau tidak. Jika masih melakukan perbuatan yang tidak sejalan dengan agama, maka anggapan saya itu adalah kegagalan.
Tapi saya akui mungkin saya memang terlalu hiperbolis ketika menyebut gagal total. Tapi lihat saja bahwa Indonesia yang katanya negara religius ini, kok korupsinya sedemikian parah ya?
Apa itu artinya kalo bukan kegagalan, atau anda lebih senang menyebutnya belum berhasil? Ya silahkan sajalah.
@cakmoki
Menurut saya hubungannya adalah jika korupsi berarti belum benar beragamanya, dan kemungkinannya bisa saja karena penekanan terhadap pengajaran nilai-nilai dari Agama itu masih keliru.
@Mr Li
iya tuh, kalo gitu kan kaco.
@CY
Iya, maka marilah kita kita (terutama para pemuka agama) melatik kepekaan ini.
@jhonrido
bukannya karena nggak merasa aja?
@purnama
@kangguru
heh! Pokoknya setiap perbuatan itu ada balasannya. Gitu aja.
Juli 18, 2007 at 8:57 pm
kembali ke diri masing2.
please jawab dgn jujur, tanya pada diri sendiri,
“pernahkan saya korupsi (mengambil uang yg bukan saya)?”
kalau saya, jawaban saya,
“pernah, tapi tidak lebih dari 100 rb rupiah, itu pun cuma sekali dan tidak akan saya ulangi”
bagaimana dengan anda semua??
Juli 19, 2007 at 7:34 am
jadi kalo kita masih ga terlalu sempurna, ga boleh menganjurkan berbuat baik gitu mas? (retorik)
Bukannya karena kita sama sama suka lupa,, jadi saling diingetin ya? biar sama sama jadi lebih baik,,
Ma ga tau Ma pernah korupsi apa ngga,, korupsi nilai mungkin iya,, tapi bukan berarti Ma bangga dengan itu,, dan mau berubah kok,,
Juli 19, 2007 at 12:09 pm
analoginya, kalo makan ya harus bayar ya…:p
)
ada yg bayarnya kontan saat itu juga, ada yg dicicil..
ada kejahatan yg akan dibalas saat itu jg
ada yg akibatnya kita tanggung bbrp lama setelah ‘kejahatan’ dilakukan
karma = what u give is what u get in return
so.. begitulah keadilan berjalan huehe..(aku jd ikut takut
Juli 19, 2007 at 1:15 pm
Ini berhubungan dengan karma ya..
Tapi kata orang – orang, teori Karma itu malah berarti sebaliknya lho. Hanya untuk di Dunia nyata.
Misalnya :
1. Jadi jahat, dapat uang banyak di dunia
2. Di Akhirat, mati tersiksa.
Begitu.
Juli 20, 2007 at 9:31 am
@Bhita
kok jadi takut? pernah makan ga bayar ya… hehehe..
“ada yg bayarnya kontan saat itu juga, ada yg dicicil..”
ada lagi yg mencoba lari dan ga mau bayar, akhirnya bayar (baca=digebukin rame2) juga.
Juli 20, 2007 at 1:51 pm
@CY
pernah jahat
akhirnya.. masing2 orang hanya bertanggungjawab atas dirinya sendiri ya
kata mother Theresa “in the final analysis, it’s between YOU and GOD”
Juli 21, 2007 at 10:22 am
@mrlekig
Ya, intinya sih pada diri sendiri, tapi alangkah baiknya kalo para pemuka agama juga membantu kita untuk menyadari kenyataan ini. Jangan cuma memberikan yang di awang awang aja.
@rizma
Minimal kita telah menyampaikan kebaikan
versi kita. Kali aja dapat pahala.@bhita
kalo makan sih bisa aja gratis, kalo balasan perbuatan ?
@ D.B
wah kalo akhirat sepertinya masih di awang awang tuh.
Juli 21, 2007 at 2:48 pm
inilah kesalahpahaman manusia dalam memahami agama itu sendiri. agama hanya di anggap sebagai ibadah ritual aja, agama hanya dimengerti sebagian2 en secara parsial saja, padahal agama jika di pahami secara menyeluruh agama adalah pengatur seluruh aspek kehidupan, tanpa terkecuali…hanya saja, masih banyak yang ogah2an untuk melaksanakan perintah agama yang katanya sechhh “njelimet” itu..yaaaa, di paksa masuk surga koq gak mau, malah dengan sukarela masuk neraka…gitu tooo…
Juli 21, 2007 at 10:29 pm
Iya tuh.
Nampaknya memanng neraka lebih di sukai.
Juli 22, 2007 at 12:57 pm
@danalingga
habisnya … keliatannya seperti surga sih
Juli 23, 2007 at 12:30 pm
omong-omong surga neraka, emang udah pada tahu, perbuatan kita bakal menyeret kita masuk surga ato neraka? jangan salah orang yang ‘keliatan’ beramalpun belum tentu lho masuk surga, jangan mendahului Tuhan ahh…
Juli 23, 2007 at 12:33 pm
*komen di atas Ma*
banget tuh!!! Tuhan aja nunggu sampe kita meninggal buat nge-judge kita,, malah yang di sini hobi betul nge-judge orang,, suka salah perasaan nih orang orang,,
*sensi mode on*
Juli 23, 2007 at 5:32 pm
@watonsit
wah bisa salah liat gitu yak…
@doni
itulah yang saya maksud di awang awang. Mendingan diasah aja kepekaan kita untuk menyadari bahwa balasan itu nyata di kehidupan ini. Ndak perlu nunggu akhirat.
@Rizma
Maka marilah kita tidak menghakimi untuk urusan dengan Tuhan, kalo untuk sesama manusia ya diserahkan aja pada hukum yang berlaku.
Juli 23, 2007 at 5:48 pm
@danalingga
ooo … harus itu
kalau nggak gitu neraka nggak laku
*nunggu gigi tiga nya*
Juli 24, 2007 at 6:51 am
wah…kalo gitu kita memang harus melihat lebih teliti lagi, biar jangan sampai salah liat.
Agustus 14, 2007 at 5:44 pm
[...] Artinya? Bahwa korupsi di dalam tubuh kepolisian sudah terorganisir secara rapi dan tertanam sebegitu dalam karena ada perintah dari atasan, dan semua setoran yang diterima juga harus [...]
Mei 2, 2008 at 12:55 pm
saya sangat setuju apa yang dipaparkan tersebut. bravoo untuk anda
Mei 2, 2008 at 12:57 pm
mas dana
kalo emang g mau salah ya..jangan dilihat dong, rasanya kita dah pernah ketemu