Ditulis oleh sora9n
Anda kagum pada wadehel? Ya! Wajar! Wadehel adalah seorang blogger yang tiada tanding. Dialah yang paling vokal berteriak ketika yang lain diam. Bahkan ketika dia masih hidup, semua masalah sosial dilibasnya tanpa ampun. Bagi Anda, Wadehel adalah pahlawan! Superhero! Pemimpin besar revolusi!!
Anda kagum pada wadehel. Ketika dia mati, Anda pun sedih. Anda bahkan mengkritik para blogger kesurupan yang berusaha melanjutkan perjuangannya sebisa mereka… sambil mengabaikan semua penjelasan bahwa para blogger ini hanyalah mengambil start untuk mengesankan estafet dan akan berevolusi meninggalkan citra wadehel di kemudian hari.
Anda bahkan menutup mata dan kuping. Apa lacur? Hati Anda tertutup oleh kecintaan pada wadehel. Anda tak mau mendengar alasan lain.
Anda hanya percaya pada satu hal: para blogger kesurupan itu mencoba mengekor wadehel!! Mereka hanyalah orang-orang oportunis yang menumpang nama!!
Tak peduli ketika para blogger itu menyatakan bahwa mereka hanyalah menyediakan wadah untuk tulisan berbau kritik dan dekonstruksi sosial, Anda tak mau mendengarnya. Dalam hati Anda hanya ada satu wadehel. Dan para bangsat itu sedang mencoba meniru wadehel!! Ini tak bisa dibiarkan!!
Lalu Anda geram pada mereka. Geram dan marah. Tak Anda lewatkan satu kesempatan pun untuk mengkritik mereka. Tak Anda lewatkan satu momen pun tersia-sia selain mengingat bahwa wadehel kecintaan Anda itu sedang akan diambil namanya. Anda pun menghabiskan waktu mengkritik mereka lewat blog mereka — dan juga lewat blog Anda sendiri.
Anda benci pada mereka. Sangat benci. Dan Anda bertekad untuk terus menjatuhkan mereka.
Ketika mereka mengkritik cara berdiskusi umat yang kampungan, Anda tetap diam, karena Anda tak mau peduli. Ketika mereka berhadapan dengan kaum yang selalu dihadapi oleh wadehel dengan gagah dulu, Anda juga diam. Bahkan setelah semua usai, Anda tetap diam!!
Tapi apa lacur? Anda tetap membenci mereka. Maka, setelah semua usai, Anda kembali menyerang para blogger itu. Kembali, Anda benci pada mereka. Dan Anda masih sangat cinta pada wadehel.
Ya, sangat cinta. Sampai-sampai Anda mengharapkan kedatangannya yang kedua. Anda tak rela para bangsat itu melanjutkan perjuangan wadehel, dan berharap wadehel akan datang kembali dan mengunyah mereka bulat-bulat atas “peniruan” mereka yang tak tahu malu.
Anda berharap para blogger brengsek itu tumbang…
…
…
Tapi, tahukah Anda?
Anda tidak melakukan apa-apa. Anda tidak bertarung menghadapi kaum berpaham Pokoknya™ itu selepas tewasnya wadehel. Anda hampir tak bersuara sedikitpun mengenai keadaan sosial yang ada di sekitar Anda. Dan Anda memutuskan untuk membenci mereka — yang, dengan sedikit asa, berusaha melanjutkan perjuangan wadehel — hanya karena Anda menganggap mereka impostor brengsek tak tahu malu.
Tapi Anda diam.
Anda terlalu cinta pada wadehel sehingga lupa pada semangat perjuangannya. Anda bahkan masih lebih suka menjatuhkan para blogger itu — ketika mereka, masing-masingnya, terlibat pertarungan di sini, di sini, dan di sini.
Maka, izinkanlah saya berkata ini.
Sesungguhnya, Andalah yang telah mengkultuskan wadehel. Silakan angkat wadehel sebagai nabi Anda, dan sembah dia. Anda hanya perlu mengingat satu-satunya wadehel yang pernah muncul, dan tak perlu bertarung di rimba yang gelap menghadapi mereka yang tak beradab.
Sembahlah wadehel Anda, dan tunggu kedatangannya kembali untuk melumat kami. Silakan — dan Anda boleh mengutuki kami yang bersuara dan berteriak, sementara Anda cuma bisa diam dan menyerapahi kami di belakang…
…
…
Silakan saja. Anda bebas melakukannya.
Tapi, di mata saya, semua tindakan Anda itu cuma sampah.
Juli 29, 2007 at 9:02 am
ahahahaha,, Sora balik lagi mengganas,,
Tapi mungkin cuma sebagian orang yang nyerang dengan alesan cinta sama wadehel,, sebagian lagi mungkin karena mereka udah nyaman ga ada lagi yang bikin rusuh, dan manjadi ‘penyeru kebathilan’,, eeh,, ini malah mau mulai lagi,, jelas aja kesel,, (mungkin ada options yang lain,, tambain aja deh)
Sampah?? Mari kita buang!!
Juli 29, 2007 at 9:40 am
Keduaaxxx… lumayanlah kedua di omaigat!
Sepakat sama Ma, malah menurut ane lebih banyak yang nyerang “karena mereka udah nyaman ga ada lagi yang bikin rusuh, dan manjadi ‘penyeru kebathilan’,, eeh,, ini malah mau mulai lagi,, jelas aja kesel,,” *copy-paste komen Ma*
Ane juga nganggap ga mungkin “blogger2 kritis yang selama ini mendukung pemikiran wadehel”, sampai mengkultuskan wadehel. Kenapa? Karena pikirannya gak mungkin sesempit itu. Sepertinya sangat kekanak2an kalau sampai ada yang seperti itu!
Juli 29, 2007 at 10:58 am
Hohoho ganas sekali tulisan anda, Sensei. Aku ampe kaget begitu baca judulnya
Jujur aja aku suka ama cara pemikiran Guh-sama (wadehel), tapi enggak sampe mengkultuskan kok. Yang bisa aku pelajari dari wadehel adalah cara berpikir kritis, dimana skill ini amatlah berguna baik dalam kehidupan blog maupun kehidupan nyata.
Barangkali para fanatis wadehel itu belum begitu familier dengan gaya menulis di forum Omaigat yang tidak hanya terdiri dari satu orang saja. Barangkali, lho. Soalnya kalo udah kadung lengket ama satu gaya bercerita seseorang, yang lain lewat aja.
Juli 29, 2007 at 11:12 am
Heh! Wadehel itu nabi toh , bukannya Tuhan?
Eh mengenai diam, mungkin karena sekarang jamannya diam itu adalah emas.
Juli 29, 2007 at 11:21 am
diam itu emas,,
diam itu aman,,
diam itu nyaman,,
diam itu risk-free,,
,,
,,
diam itu,, diam,,
Juli 29, 2007 at 4:10 pm
hei, hei,
aku selalu ikut berjuang walaupun lebih sering di dapur umum, lho.
yeah, kadang2 overlap juga ke lini depan, kok
Juli 29, 2007 at 6:41 pm
diam itu memang emas tetapi ketika emas itu tidak bercahaya *diam tidak ngomong red* tidak akan terlihat kilaunya…
Juli 29, 2007 at 9:36 pm
Sudah sejak dulu saya melihat bahwa kalian hanya produk proses meniru saja. Sampai kapanpun Omaigat gak akan pernah jadi wadehel, harusnya kalian sadar akan hal penting itu!!
Ahem. Tapi kan Sora, kayanya waktu awal-awal Omaigat ada, komentar, pandangan, tanggapan, kritikan rada sejenis kaya ini lumayan sering, tapi belakangan udah gak nampak. Ini sekedar mengingatkan atau memang mengangkat wacana bahwa masih ada yang suka ngomong di belakang?
Juli 29, 2007 at 11:59 pm
@ all
Sebenarnya, post ini ditujukan buat mereka yang, waktu wadehel aktif, diam saja — atau malah sering ikut nyambangin ke blog beliau. Tetapi, pas wadehel tewas dan OMG mencoba melanjutkan, justru mereka-mereka ini mengecam OMG karena dianggap sebagai “mengekor”…. padahal pokok-pokok kebijakannya blog ini sendiri sudah dijelaskan seperti yang saya link di atas.
Lebih parah lagi, ketika para awak OMG dan yang lainnya aktif di berbagai diskusi, justru orang-orang macam inilah yang kerjaannya diam. Mereka nggak suka pada OMG karena dianggap meniru wadehel, dan doyan mengkritik OMG — tapi tindakan mereka sendiri malah nol besar di luar sana.
Menjatuhkan kami semata karena dianggap meniru wadehel… apa bukan cinta berlebihan itu namanya?
:::::
@ jejakpena
Rasanya sih saya baru menemukan (lagi) beberapa orang yang masih berpikir demikian. Tapi kita lihat saja perkembangannya nanti.
:::::
@ aRuL
Setuju… tapi, ternyata ada lho orang-orang yang sikapnya seperti ilustrasi di atas.
Juli 30, 2007 at 12:10 am
Waduuuh, payah deh kalo pengkultusan konyol gitu terus terjadi… Jangan-jangan Sang Utusan Resmi sendiri nasibnya juga gitu yak? umatnya sibuk mengkultuskan, sampe muncrat2an darah, tapi seruannya, esensi ajarannya sendiri malah terlupakan. Cacian amat sih jadi nabi… dasar nabi sial, gagal dan tidak berguna. Bukannya bikin manusia lebih berprikemanusiaan, malah pada jadi primitif dan super hewani.
Perlu nabi yang lebih cerdas, yang diutus oleh tuhan yang mampu bikin strategi lebih bagus
)
*ngomongapasihguh*
Juli 30, 2007 at 12:39 am
huahahahahahahahahahahaha!
pergantian nabi…pergantian nabi…
joe satrianto bersiap2 di pinggir lapangan
Juli 30, 2007 at 12:43 am
Wah agama sepakbola jadi di launch nih?
Juli 30, 2007 at 4:33 am
Wadehel….? Omaigat…? Pengekor…? Lawan debat kusir…?
Saya mah netral-netral saja ah…
Juli 30, 2007 at 7:45 am
Hm… Rupaya rindu “wadehel” tetap berkumandang…
gpp, tak usah dibuang…
rindu… ya rindu saja….
menikmati kerinduan juga nyaman…
Juli 30, 2007 at 8:01 am
Ada apa seh sora??
Saya lama tidak mengikuti perkembangan sosial di komunitas ini, he…
Juli 30, 2007 at 9:52 am
ada apa nih………?? rame banget?
gak ikut kampanye?????? wkakakakakk kakakwaaaaaau
Juli 30, 2007 at 10:33 am
tidak mau ikut campur urusan wadehel-omaigat…
Saya menikmati keduanya.
Juli 30, 2007 at 10:41 am
oh, iya tadi lupa:
BUANGNYA KEMANA? :p
Juli 30, 2007 at 10:56 am
*ngehookah di pojokan, terharu*
Juli 30, 2007 at 11:00 am
Awas Ati2 Ya………….?
Juli 30, 2007 at 11:13 am
*liat komen di atas Ma*
ati ati sama apa mbak/mas??
Juli 30, 2007 at 1:04 pm
ah … ternyata masih ada juga yg menyebut omaigat sebagai tukang tiru …
Juli 30, 2007 at 2:58 pm
Hmm…
Benar, benar. Sebenarnya kalau saya sih mengikuti fornt O-Mai-Gat semata – mata bukan karena wadehel. Tetapi karena saya masih harus memperjuangkan kebenaran.
Juli 30, 2007 at 4:21 pm
Holohh sora9n galak ..
siapa pulak yang peduli sama wadehelnya..yang penting kan nilai2 yang bisa di ambil dari tulisannya *taelaahh*
Juli 30, 2007 at 5:12 pm
Penting ya??? Pada ngomong aja terus.. Aksi donk
Juli 30, 2007 at 5:21 pm
Sudahlah sora9n…, persetan apa kata dunia… yg penting kita jalan terusss….
Juli 30, 2007 at 7:55 pm
[...] Table , Reality Mengingat banyak sekali perseteruan yang terjadi belakangan ini, baik antara pengagum wadehel, masalah kekerabatan sesama muslim, atau antar Praja dan Tukang Ojek; membuat saya ingin berkata [...]
Juli 30, 2007 at 8:13 pm
@ LeftClick
Sudah pernah melakukan hal yang anda katakan barusan ? Saya sih sudah.
Tidak usah disebut, nanti malah riya.
Juli 30, 2007 at 9:27 pm
setuju dgn chielicious. yg penting nilai2 tulisannya.
tapi, ada sesuatu yg menarik (bagi saya) ttg Wadehel. yaitu, Dia sebagai top Blogger, atau katakanlah seleb atas, masih mau mengunjungi dan memberikan saran sesekali (baik komen ataupun email/chating) kepada blogger2 tingkat kurcaci. (spt saya
).
dan itu sedikit bnyk, memberikan pengaruh psy thp pengikut2-nya.
eh, tapi saya bukan salah satu yg mengkultuskan wdh ya. banyak juga isi postingnya yg saya tak setuju. bagaimanapun, si jenius itu adalah manusia biasa yg tdk bisa di Nabikan, atau disamakan dgn Tuhan.
mengikuti kata div off diatas, tidak mau ikut campur urusan wadehel-omaigat…
Saya menikmati keduanya.
Juli 30, 2007 at 9:57 pm
jihhh… saya sih najis… memang andalah yang men-tuhan-kan wadehel sehingga blog ini bisa di loncing. andalah yang sebenarnya umat
kesurupanyang mendewakan wadehelkenapa? karena saya anggap gak penting, menguras energi, melelahkan. dan yang pasti gak penting!!!! jadi buat apa?
lalu apa tujuan di bentuk blog ini? mana hasilnya? tak ada selain debat kusir yang gak penting itu. satu contoh ribut-ribut anda dengan pemilik paham Pokoknya™ (anda menyebutnya begitu). tapi sadarkah anda, dengan sengaja atau tidak, andapun sekarang ber-embel-embel Pokoknya™. coba renungkan postingan-postingan di blog ini, komentar-komentarnya.
kesan saya, orang yang kali pertama komentar di blog ini. anda itu beraninya ya… cuma gini doang, NATO. main keroyok!!!!
kalah debat, kehabisan hujjah lalu kebakaran jenggot dengan merengek, mengancam pihak lawan dengan ancaman hukum, bah!!!! pulisi
siyaldi bawa-bawa.http://wadeleh.wordpress.com/2007/07/03/manhaj-salafi-membuka-aib-sesama-muslim/
jadi begitu yang disebut kritik buat rekonstruksi sosial. anda itu tak lebih sekumpulan orang egois yang maunya menang sendiri.
jika tidak setuju dengan sekelompok orang yang berpendapat, kemukakan pendapat dengan cerdas. tulisan-tulisan anda (sebagian besar), tidak mendidik, meski saya tidak ragu untuk mengacungkan jempol buat beberapa (sebgian kecil, kecil banget) tulisan anda yang lain.
jika ingin bertukar pendapat, sediakan forumnya, atur tata caranya, tunjuk para panelisnya, yang adil, egaliter, jangan kebelet buat menang.
biar saya (yang laen juga) sebagai penonton tau mana yang benar dan mana yang sesat. klo cuma gini2 doang saya malah curiga dua-dua kubu sesat semua, tukang adu domba umat!!!
ctt :
saya bukan pendukung paham Pokoknya™ bahkan saya tak pernah membaca blognya, apalagi komen disana. saya cuma satu dari penonton yang haus juga akan keadilan, dan kebenaran.
Juli 30, 2007 at 10:01 pm
halahh…….
di moderasi segala, gak yakin gw komen gw barusan bakal lolos
kita liat aja, kalo gak lolos berti, ini emang komunitas ‘muna’
Juli 30, 2007 at 11:13 pm
saya main ke sini… kadang-kadang. saya main ke tempatnya wadehel (dulu)… juga kadang-kadang.
…tapi saya agak tertarik membaca komen di atas. salam kenal dulu sebelumnya, yah. (walaupun tidak ada atribut yang bisa dikenali juga sih… sudahlah
)
apa tujuan dibentuknya blog ini, saya rasa kontributornya (dan Tuhan
) lebih mengetahuinya. selain itu, hal tersebut bukan urusan saya juga. tapi yang jelas, saya mendapatkan beberapa hal dari blog ini. subjektif mungkin, tapi begitulah adanya.
mungkin perasaan saya saja, tapi tampaknya anda berpikiran bahwa blog ini dan kontributornya hanya tertarik untuk ribut-ribut dengan kaum pokoknya™ dan sebagainya. saya rasa kok tidak demikian yah.
8 dari 10 headline di halaman utama tidak merujuk ke hal tersebut, dan saya rasa itu cukup jelas. saya sendiri tidak merasa ada alasan bagi saya untuk memandang ‘mereka ini’ hanya mengurusi masalah ‘ribut-ribut pokoknya’ itu.
yah, seperti halnya anda yang mengklaim diri ‘bukan pendukung paham pokoknya™ saya juga mengklaim diri sebagai BUKAN pendukung fanatik omaigat. saya juga haus akan kebenaran (yang serba relatif itu) dan keadilan (yang kadang tidak jelas itu), dan tulisan saya di sini tidak berarti saya adalah pendukung wadehel atau omaigat.
(eh… jangan pakai guilty by association, yah
)
::
PS: komen anda ternyata lolos moderasi, tuh. mungkin karena ada link-nya, jadi disaring sebentar oleh akismet. saya juga pernah mengalami hal tersebut.
Juli 30, 2007 at 11:40 pm
@ Guh
Ah, sebetulnya saya memakai istilah “cinta” dan “kultus” itu buat sarkasme aja kok. Soalnya, mereka ini begitu nggak suka wadehel ‘ditiru’, padahal tindakannya sendiri malah nggak ada sama sekali. Apa bukan cinta tuh namanya?
IMO (IMO lho
), sebenarnya Tuhan itu sudah memberikan strategi yang jenius beserta nabi yang cerdas untuk menunjuki para manusia. Sayangnya, (kebanyakan orang) yang dikasih ajaran malah nggak bisa menangkapnya…
~tanya Kenapa~
:::::
@ Shelling Ford
(Eh Joe, kamu ini playmaker kan?)
:::::
@ danalingga
Entah ya… yang jelas para pemain bola itu, sesudah bertarung dan jatuh-jatuhan di lapangan, langsung salaman dan tukar kaos. Jangan bandingin sama orang-orang yang saling menjatuhkan dan ad hominem karena kalah diskusi.
:::::
@ mathematicse
Iyalah, yang penting jangan pakai acara menjatuhkan…
Eits, sebentar… kita di OMG nggak ada yang mendukung debat kusir, kok. Kita di sini selalu berusaha untuk (sebisa mungkin) menyampaikan argumen yang dilengkapi logis, normatif, dan disertai fakta.
Kalau kemudian jadi debat kusir, mungkin (mungkin lho
) itu dimulai oleh lawan diskusinya yang tidak mengikuti prinsip tersebut.
:::::
@ agorsiloku | manusiasuper | Candanya Joerig
Euh, nggak segitunya amat kok. Ini sebetulnya cuma refleksi aja, ketika saya melihat beberapa pendapat yang terkesan menjatuhkan OMG semata karena “mengekor wadehel”. Padahal kenyataannya kan nggak begitu.
:::::
@ k’baca
Entah ya…
:::::
@ div off
Ah, terima kasih karena telah menikmati blog ini.
:::::
@ k’baca (lagi)
He? Apanya yang dibuang?
“Dianggap sampah” itu nggak berarti ikut diperlakukan sebagai sampah, lho.
:::::
@ Kopral Geddoe
Kenapa lagi nih orang…?
:::::
@ ryev4
Hati-hati pada apa, Mas?
:::::
@ Mihael “D.B.” Ellinsworth
Same-same™…
:::::
@ chielicious
Setuju… ^^
:::::
@ LeftClick
Oh, saya sudah ‘beraksi’ kok di dunia nyata. Tapi saya kan nggak perlu riya’ sama Anda.
:::::
@ telmark
Wadehel memang bukan panutan kami kok. Tapi keberadaan beliau itulah yang jadi titik tolak kami untuk membuat blog ini… dan sekarang saja udah kelihatan bedanya blog ini sama wadehel dulu.
Wadehel dulu nggak pernah bikin komik, kan?
Euh… kalau semua redaksi OMG pergi ngomen ke blog seseorang, kayaknya udah pasti traffic blognya bakal langsung melejit. Lha, punggawanya blog ini kan banyak?
Juli 31, 2007 at 12:05 am
@ cuma komen aja
Lha, dasar argumen Anda apa? Sudah jelas saya tuliskan di atas, bahwa blog ini mengambil start untuk mengesankan estafet, dan akan berevousi untuk meninggalkan citra wadehel di kemudian hari. Klik saja link-nya, itu menuju ke tulisan para kontributor blog ini sendiri, kok.
Tunggu, yang nyuruh Anda melakukan itu siapa? Kalau memang nggak penting, kenapa Anda marah?
Saya kan cuma menulis soal mereka yang menuduh kami meniru wadehel, tapi nggak melakukan apa-apa? Siapa juga yang ngomongin Anda?
Saya mau tanya sedikit… bagaimana sih caranya Anda bisa mengkampanyekan anti-fundamentalisme selain lewat diskusi ?
Dan yang debat kusir itu adalah lawan bicara kami, sori aja. Bukankah kami selalu menyampaikan argumen yang runtut untuk menghadapi mereka? Pernahkah kami menyerang pribadinya dan bukan pesannya?
Ad hominem? Semangat menjatuhkan? Maaf, itu bukan senjata kami.
Kalau Anda mau tahu, paham Pokoknya™ itu melambangkan argumen fundamentalisme. Di mana paham ini menyatakan “hanya kami yang benar, dan yang lain salah”, serta menolak untuk menerima diskusi.
Kami di blog ini nggak berlandaskan sikap semacam itu. Coba aja cek, ada berapa kali komentar yang kami terima dan kami anggap sebagai masukan? Jangan samakan kami dengan blog yang komentarnya dimoderasi — dan hanya menampilkan yang sejalan dengan empunya blog saja…
Saya tanya, ya:
(1) Bagaimana sih caranya Anda bisa mengkampanyekan anti-fundamentalisme selain lewat diskusi?
(2) Anda tahu dari mana kalau kami ini NATO? Memangnya Anda tahu aktivitas kami di dunia nyata?
(3) “Main keroyok” maksudnya apa?
FYI, kami ini terdiri atas beberapa orang blogger yang jadi anggota; tentunya setiap anggota punya kehendak sendiri. Tapi tak sekalipun kami mengorganisir anggota kami untuk berfokus di satu diskusi, untuk menyerang lawan debat. Sekali lagi, itu BUKAN senjata kami.
Ya ampun…
Oke, sebelumnya saya minta maaf dulu, tapi… perkenankanlah saya menyampaikan bahwa ANDA SALAH PAHAM.
Wak Abdul Somad itu BUKAN anggota OMG. Nggak ada hubungan antara beliau maupun aktivitas JT dengan blog ini… Apalagi kami mengurus-urus pelaporan polisi segala. Keberadaan blogger kami di sana hanyalah untuk menanggapi aksi kaum salafy/wahhaby yang mengkafirkan dan membid’ahkan sesama muslim. Polisi itu urusan Wak Somad dan JT-nya, dan tidak ada hubungannya dengan kami.
Tidak ada satupun diantara kami yang menganggap wak Abdul Somad maupun JT sebagai aliansi resmi blog ini.
Jadi, mohon maaf… kelihatannya Anda salah tangkap.
Yang mau menang sendiri dan debat kusir kan bukan blogger kami. Yang berbuat begitu kan mereka yang membawa-bawa nama “salafy”…
Anda ini sebenarnya sudah tahu belum kontributor kami siapa saja? Sudah? Terus lihat, bagaimana cara mereka berdiskusi di sana. Baru Anda bilang, siapa yang mau menang sendiri? Para “salafy” itu, atau blogger kami?
OK, begini deh. Bagaimana kalau Anda membuat blog sendiri? Di situ Anda bisa menulis apa yang ingin Anda sampaikan, dan kami akan menjawabnya. Anda bisa menyediakan forum yang Anda inginkan.
Karena itu adalah blog Anda sendiri, maka Anda punya kekuasaan penuh atasnya. Anda bisa menyaring komentar yang masuk, menjaga arah diskusi, siapa yang Anda undang… dan spesifikasi lain sesuai yang Anda inginkan. Di situ, kami akan menjawab apa yang mengganjal di hati Anda — jika memang itu terkait dan bisa kami jawab.
Setuju?
Tadi sih sudah saya sampaikan, tapi baiknya saya tuliskan sekali lagi. Di antara kami di sini, tujuan utama kami adalah mengikis semangat fundamentalisme dan premanisme beragama, serta menuliskan masukan dan kritik sosial pada umumnya.
Saya kira jelas ya? Kami tidak bertendensi menyesatkan umat lain, kok.
Saya rasa, kami di sini juga begitu, kok. Tapi diskusi dan pengertian akan lebih mudah datangnya — jika kedua pihak sama-sama berkepala dingin, dan bersedia untuk berdiskusi dengan runtut dan logis tanpa harus saling menjatuhkan.
Ps:
Komen Anda nggak dimoderasi kok. Langsung muncul… harusnya Anda me-refresh halaman browser Anda dulu sebelum marah-marah.
:::::
@ yud1
Kelihatannya orang yang di atas itu nggak pakai innocent prejudice… mana pakai ada salah sangka lagi.
~ngapain amat coba, OMG punya aliansi sama wak Somad dan JT? (o_0)”\ -
Juli 31, 2007 at 9:38 am
@sora9n
@Mihael “D.B.” Ellinsworth
Yang di atas bukan riya’ ya? Maaf saya cuma copy paste
Juli 31, 2007 at 10:19 am
@guh
“Perlu nabi yang lebih cerdas, yang diutus oleh tuhan yang mampu bikin strategi lebih bagus
) ”
sifat dasar para nabi adalah “bego” dan “goblok” namun, tuhan kasih kecerdasan buat para nabi itu.
dan, kecerdasan itu tak membuat para nabi sombong dan takabur!
@sora9n
yup, ilmu tuhan begitu tinggi … beda level !
tak semua mampu memahami maksud tuhan.
trus, kalimat …
“Oh, saya sudah ‘beraksi’ kok di dunia nyata. Tapi saya kan nggak perlu riya’ sama Anda…”
dan @Mihael “D.B.” Ellinsworth
“Sudah pernah melakukan hal yang anda katakan barusan ? Saya sih sudah. Tidak usah disebut, nanti malah riya. “
saya yg gak mudeng ato gimana ?
bukannya mereka sudah pada menyebut-nyebut ? penekanan pada kata “saya sich sudah melakukan … “
Juli 31, 2007 at 1:00 pm
*ngisap rokok dalam-dalam*
Juli 31, 2007 at 1:37 pm
Saya nggelar tikar saja……….
Juli 31, 2007 at 2:01 pm
@ cuma komen aja
Dari jawaban anda saya kira andalah yang mendukung wadehel. Kenapa…?
Nadanya seakan – akan anda tidak memperbolehkan orang lain mengikuti jejaknya. Sehingga saya berpendapat anda terlalu protektif akan hal itu.
Ad Hominem pertama.
Apa bedanya dengan kaum – kaum kontra yang sukanya berkomentar ramai – ramai ?
Hmm…
Anda juga sama dengan kami, kalau begitu. Apakah anda lebih suka mengejek – ngejek kemauan orang lain karena dianggap meniru ?
Rasanya kami sudah pernah membuatnya, atau anda yang tidak melihat ?
z3.invisionfree.com/omaigat
Juli 31, 2007 at 2:02 pm
Kayaknya bukan. <–anak bodoh
Juli 31, 2007 at 3:14 pm
*saya ngasah tombak. kemarin2 ga jadi dipake hasilnya malah kembali tumpul*
Juli 31, 2007 at 3:31 pm
Seperti biasa, postingan pendek komentar yang panjang… Ada api yang laen pada nyirem bensin doank… Kadang minyak tanah, kadang solar, kadang juga dilempar botol gas
*logoff*
Juli 31, 2007 at 3:58 pm
*komen di atas Ma*
ahahahaha,, itu yang bikin seru lho,,
pengennya sih selain minyak minyakan,, sekali kali airnya gitu yang dituangin,, kalo ada teh juga boleeh,,
*lha??*
@ Sora
buat jawaban ke komentator itu, top! no further question, your honor,,
*kaya di pengadilan aja*
Error sejati nih Ma,,
Juli 31, 2007 at 4:13 pm
[...] {31 Juli 2007} Blogger di mata orang awam itu.. Gue yang lagi asik-asik baca salah satu postingan di blog ini..tiba-tiba di tegur sama temen kantor [...]
Juli 31, 2007 at 7:22 pm
Sssttt wadehel udah tewas kata teguh yg sekarang lagi ngobrol sm aku sambil benerin laptopku yg dodol ini…
asal tahu aja Teguh baik dan pinter banget ga asal ngomong doang, mau membantu ortu yg gaptek spt aku… so yg dulu caci maki teguh coba ngaca kalian udah buat apa?
Juli 31, 2007 at 10:01 pm
@ LeftClick
Lah, kan Anda yang tanya. Saya sih terpaksa menjelaskan sedikit, supaya Anda tidak sallah paham.
Lebih berdosa mana, membiarkan orang salah paham dan bersangka buruk, atau -sedikit- menjelaskan tanpa menyebutkan detail?
Hayo, hayooo?
BTW, Anda termasuk yang mana?
::::
@ rajaiblis
Euh, maksud saya tuh sekadar ngasih tahu ke dia bahwa dugaannya tuh salah. Tapi, untuk itu kan nggak perlu dikasih detail abis — bisa-bisa justru kita yang terbawa kebanggaan sendiri kalau disebutin…
Kalau nggak dibilangin, dia ntar salah paham dan prasangka buruk. Tapi dijelasin dikit, dianya malah nggak paham.
Susah memang.
Juli 31, 2007 at 11:30 pm
saya rasa masing2 orang berhak untuk ‘memperjuangkan’ idealismenya dengan caranya masing-masing…
tapi saya rasa wadehel hanya beruntung karena berani muncul duluan. ini tanpa maksut untuk mengecilkan smua yg udah dilakukan wadehel lhoo
walopun saya telat baca wadehel
dan kemudian omaigat memiliki semangat yg sama yg kebetulan punya metode yg mirip dalam bentuk ekspresinya
justru semangatnya ini yg harus tetep ada
saya pikir sih wajar2 aja
ga ada yg perlu diributin…
*anakkecilsoktau*
Agustus 1, 2007 at 3:51 am
waduh… bikin pusing ternyata perpolitikan di dunia blog. kembali ke laptop aja… tujuan anda.. anda.. dia… mereka… kitaa.. untuk ngeblog itu apa?
mo ngekor, mo nguping, mo ngapain pun selama masih pada tatanan norma (dan mungkin HAKI *paan tuh*) kan sah-sah ajah alias wad-e-hel (red: wad-e-hel bukan wadehel) :p
Agustus 1, 2007 at 10:31 am
jadi mirip mengannggap seorang nabi adalah nabi terkahir…menganggap seorang wadehel adalah wadehel terakhir. berarti progres kita sudah buntu
Agustus 1, 2007 at 10:52 am
Setuju
Agustus 1, 2007 at 1:55 pm
@sora9n
Gw termasuk yang pengen ngelembar nuklir biar pada rame kayan Iran getoh
Agustus 1, 2007 at 8:47 pm
Diam justru malah menghanyutkan….!!!
Agustus 2, 2007 at 10:31 am
Assalamualaikum wr wb
Wadehel pengecut! pejuang koq bunuh diri…..
Agustus 2, 2007 at 3:51 pm
loh, wadehel tewas terkena usus buntu ya ?
Agustus 3, 2007 at 11:02 pm
maaf salam kenal semua, ingin sih ikut diskusi tapi yang penting sekarang salam kenal dulu.
Agustus 4, 2007 at 2:29 am
@ J Algar
Salam kenal juga…
Agustus 4, 2007 at 2:25 pm
*liat komen Bharma*
walaah,, Ma baru tau kita pake kenal kenalan dulu,,
*timpuk Bharma yang sok resmi*
Agustus 5, 2007 at 3:18 pm
ahhhhh….. setiap ada sesuatu yang menjadi fenomena pasti ada yang ngekor, entah hanya untuk ikut tenar, ataupun lagi ikut trend doang. kesan pertama yang muncul dalam benak saya ketika buka omaigat adalah “AH…. CUMA SEKUMPULAN ORANG YANG ASAL NAMPANG DOANG”
*HEHEHHE… numpang nampang ommmmm…..*
Agustus 5, 2007 at 10:17 pm
@ Kang Wahana
Beda orang beda pendapat, itu wajar… yang penting kan jangan salah ambil kesimpulan aja.
Agustus 10, 2007 at 1:53 pm
untung ada yg buka walauoun mikirnya cuma numpang nampang. Jadinya kan banyak yg penasaran apakah OMG sudah berhasil nampang dengan sukses atau blm. Dan jadinya? banyak yg rajin buka dan rajin komen kan.
Banyaknya komen yg masuk, walaupun hujatan, tetep aja menunjukkan besarnya perhatian.
Heil OMG!
Agustus 10, 2007 at 6:46 pm
Sampah….
Agustus 10, 2007 at 8:14 pm
@ atas saya
siapa?
Agustus 11, 2007 at 1:00 am
@ Amrul
Buanglah sampah pada tempatnya.
–
Mas, kalau ada yang kurang pas, kasi masukan, kalau ada yang gak berkenan, sampaikan secara baik-baik, tunjukin pointnya. Toh kita disini terbuka ama kritik kok (yang konstruktif tentunya).
Satu kata dari mas ini rawan salah paham lho,
Agustus 11, 2007 at 11:02 am
@ Amrul
diperjelas mas,,
Kalo mau nyampah, komennya Ma apus,, kalo mau bilang kalo tulisan ini sampah, komennya Ma biarin aja,,
Agustus 11, 2007 at 11:44 am
Hiohihohihohio….
Don’t panic….
Cuma sedikit cari perhatian ….
Maksud gue Wadehel ituh sampah “Non Organik…”
Jadi gak ada yg perlu diributkan…
hiohihohihohio….
Agustus 13, 2007 at 11:35 pm
G Nyampe Fikiran Gwe…….
Mending;
diam itu emas,,
diam itu aman,,
diam itu nyaman,,
diam itu risk-free,,
,,
,,
diam itu,, diam,,
(Sori Copy Paste dari Komen diATas)
Agustus 14, 2007 at 9:35 pm
@ Amrul
apasih Mas maksudnya “sampah nonorganik”
saya gak ngerti
wadehel,masa’sih
blognya Mas kayaknya bersih banget dan kesannya mewah gitu
gak ada yang diributkan tapi Masnya bilang wadehel sampah
coba kasih tahu sampahnya saya mau lihat
beneran nih
Agustus 15, 2007 at 10:45 pm
berarti postingan ini bukan buat saya… lho? ga nyambung ya? hehehe
Agustus 16, 2007 at 12:52 pm
Hihohihohiho….
Kan dah gue kasih tahu….
“Don’t panic…”
Buat sayah gituwww….kalo buat anda terserah aja…
Buat gue pemikiran Wadehel terlalu ringan bahkan mendekati sampah…
yang emank gak bs gue daur ulang lagi….
Hanya buat sayah yah….
cuma numpang coret2…mo dihapus juga boleh komen sayah…
yang penting jangan merasa terusik dengan komen sayah…
Hihohihohihohio….
Agustus 16, 2007 at 2:10 pm
[...] ada seorang blogger yang menulis komentar menyebalkan di blog Anda. Seperti komentar ini, misalnya. Tanpa tedeng aling-aling, dia langsung marah-marah dan meluapkan kebencian di blog Anda. Lebih [...]
Agustus 18, 2007 at 11:28 am
ketergantungan.. ya..ya.. hampir semuanya memang seperti itu..
Mengapa kita bergantung? Secara psikologis, di dalam, kita bergantung pada suatu kepercayaan, kepada suatu sistem, kepada suatu filosofi. kita bertanya kepada orang lain tentang patokan perilaku. kita mencari guru yang akan memberi kita cara hidup yang akan membawa kita kepada suatu harapan, suatu kebahagiaan. Jadi, bukankah kita selamanya mencari suatu bentuk ketergantungan, keamanan. Mungkinkah bagi batin untuk membebaskan dirinya dari rasa bergantung ini? Yang bukan berarti bahwa batin harus mencapai ketaktergantungan; itu hanyalah reaksi terhadap ketergantungan. Kita tidak membicarakan ketaktergantungan, kebebasan dari suatu keadaan tertentu. Jika kita bisa menyelidik tanpa bereaksi mencari kebebasan dari suatu keadaan ketergantungan tertentu, maka kita bisa menyelaminya jauh lebih dalam. …. Kita menerima perlunya ketergantungan; kita berkata itu tidak bisa dihindarkan. Kita tidak pernah mempertanyakan keseluruhan masalah itu sama sekali, mengapa kita masing-masing mencari suatu bentuk ketergantungan. Bukankah kita, sungguh jauh di dalam, membutuhkan keamanan, kekekalan? Berada dalam keadaan bingung, kita menginginkan seseorang akan membebaskan kita dari kebingungan itu. Maka, kita selalu memikirkan bagaimana cara melepaskan diri dari atau menghindari keadaan yang di situ kita berada. Dalam proses menghindari keadaan itu, mau tidak mau kita akan menciptakan suatu bentuk ketergantungan, yang menjadi otoritas kita. Jika kita bergantung kepada orang lain untuk keamanan kita, untuk kesejahteraan batin kita, maka dari ketergantungan itu muncullah berbagai masalah yang tak terhitung banyaknya, lalu kita mencoba memecahkan masalah-masalah itu–masalah kelekatan. Tetapi kita tidak pernah bertanya, kita tidak pernah mendalami masalah ketergantungan itu sendiri. Jika kita dapat sungguh-sungguh dengan cerdas, dengan kesadaran penuh, menyelami masalah ini, maka mungkin kita akan menemukan bahwa ketergantungan bukanlah masalahnya sama sekali–bahwa itu hanyalah satu cara untuk melarikan diri dari suatu fakta yang lebih dalam.
Agustus 21, 2007 at 3:57 pm
wah aku ra paham soal wahehel (alm) ama omaigat…tapi aku ngikuti aaja apa yangmereka tulis …kalo cocok ya mungkin bener kalo nggak ya mungkin kurang pas…itung-itung untuk tambahan ilmu…
Oktober 29, 2007 at 1:08 pm
wai..????
mari kita tanya Gus Pur.
“Gus, wadehel mati. Gimana dong, Gus?”
“Gak usah meratapi kematiannya. Lanjutkan saja perjuangannya. Gitu aja kok repot..”