Ditulis oleh Hiruta
Ada yang suka dikritik? Terserah. Mau itu kritik pedas, asal bunyi, memang `niat`, cuma karena sinis dan sebagainya, yang jelas kritik.
Bisa jadi ada orang yang bakal menjawab seperti ini, “ya, saya suka dikritik dengan syarat…” :
1. Kritiknya tidak asal bunyi
2. Cara menyampaikan kritiknya harus oke (menurut saya lho) dan berkenan di hati saya
3. Latar belakang kritikus itu harus jelas dulu, kapasitas ilmunya, kelakuannya, sikapnya, siapa dia (jangan-jangan malah musuh saya kan?)
4. Maksud dari kritikan itu harus jelas dulu, ingin keadaan ke arah yang lebih baik, sekedar berkoar-koar melepas stress ataukah upaya jahat ingin menjatuhkan saya.
5. kritik itu tidak menganggu kenyamanan saya.
Yap. Itu dia syarat-syarat kritik yang diajukan oleh orang tersebut. Jadi, jika syarat-syarat itu tidak terpenuhi, jangan harap kritik anda akan diperhatikan.
Ada sebuah contoh. Dalam suatu acara, seorang peserta menyampaikan masukan atas kinerja panitia. Kritik ini disampaikan pada A, peserta yang sekaligus kenal dengan panitia. Maka A menyampaikan pada temannya, B yang merupakan salah satu panitia acara.
A : Tadi ada masukan dari peserta
B : Oh ya, apa itu?
A : Katanya panitia belum profesional , harusnya kesalahan teknis kaya tadi bisa diantisipasi. Ke depannya kinerja panitia harusnya bisa lebih baik.
B : Hooh, yang mana orangnya…?
A : Bapak `O` yang itu…
B : Hooh (lagi)… kalau beliau itu sih memang punya sentimen pribadi. Udah biasa kok kaya begitu.
A : … Hee?
Ada yang merasa aneh dengan contoh itu?
Ya, panitia B menjadikan alasan sentimen bapak O sebagai excuse atas kesalahan teknis panitia yang terjadi. Mungkin ia melakukannya tanpa sadar, dan dengan alasan itu ia malah mengabaikan inti kritikan itu sendiri.
Contoh lain lagi. Dalam suatu rapat, C dan juga beberapa yang lainnya datang terlambat dan setelah rapat selesai, D menyampaikan sesuatu pada C. Terjadilah dialog seperti berikut ini :
D : Tadi ada yang sempat ngomong sama anggota yang lain, protes sama jam karet anggota rapat. Itu sama aja menzalimi orang lain yang udah berusaha tepat waktu. Ke depannya harusnya semua bisa lebih disiplin, gitu katanya.
C : Eh? Siapa yang ngomong?
D : Si F…
C : Hooh, ya iya lah. Dia kan memang perfeksionis orangnya. Wajar sih dia bilang begitu.
D : Lho…?? *bengong *
Ada yang (lagi-lagi) aneh kan? Ya, dengan menuding sosok F yang perfeksionis, C melindungi diri dari kesalahannya yang dikritik oleh F. Spontan.
***
Itu contoh umum yang sering terjadi dan mungkin juga anda sering menemukan contoh sejenis lainnya . Ini hanya sekedar mengangkat fenomena, bahwa ternyata masih sebegitunya masyarakat kita dalam menyikapi kritik yang ada. Bahkan mereka melakukannya dengan refleks, spontan, tidak sadar. Reaksi pun beragam. Kejadian umum lain yang biasanya kita temui, ada yang bereaksi secara ekstrem, penuh emosi, mengecam yang memberi kritik, membungkam kemungkinan munculnya kritik-kritik yang lain dengan kekuasaan yang dimiliki ataupun jalan lainnya. Inti tujuannya, berhentilah wahai pemberi kritik.
Selain contoh di dunia nyata seperti itu, fenomena mirip-mirip itu terjadi pula di dunia maya ini. Terutama di blogosphere ini misalnya saat diskusi atau menanggapi pendapat orang lain, ternyata sikap anti kritik atau menutup diri dari kritik masih begitu kental sekali.
Refleksinya bisa kita lihat dari reaksi dan tanggapan yang muncul. Beragam. Warna warni. Bahkan pada beberapa terkesan dipenuhi emosi, merasa `diserang`, disudutkan, `dijatuhkan` dihina dina, dicibir, dimusuhi. Macam-macamlah. Hingga akhirnya malah melupakan hal penting, yaitu substansi kritik itu sendiri.
Pertanda apa ini? Entahlah. Mungkin ada hubungannya dengan pola pikir dan budaya anti kritik sebagian masyarakat kita yang terbentuk karena pengaruh lingkungan sosial. Eh? Yang menjadi kambing hitamnya malah lingkungan sosial. Apa betul? Selalunya mencari kambing hitam itu mudah ya?
Kalau begitu jangan menyalahkan siapa-siapa lah, atau entah apa-apa lah. Lihat saja diri sendiri. Ini ada hubungannya dengan realita bahwa terkadang, ternyata, kita lebih suka, lebih mudah, dan lebih cepat mengedepankan ego, ketimbang logika berpikir secara jernih. Jadinya tanpa sadar kita dengan terburu-buru menyimpulkan bahwa yang memberi kritik berikut kritikannya itu misalnya, adalah sampah, tidak penting, hanya cuap-cuap aneh yang tidak perlu dilayani, orang-orang kurang kerjaan yang lagi stress, provokator ide sesat, dan seabrek tuduhan lainnya (baik terselubung dalam hati atau terang-terangan) yang dengan segera tanpa disadari, hal itu `membentengi` mata, hati dan pikiran untuk merenungkan dan memikirkan inti kritikan itu sendiri. Ini bahaya tidak? Bisa dikatakan iya. Kenapa? Bayangkan saja jika sudah tidak ada lagi yang peduli, tidak ada reaksi apapun atas ketidakberesan, ketidakbenaran, penyimpangan-penyimpangan dan hal-hal lainnya di sekeliling anda. Keadaan ini jadi tidak sehat kan?
Karena itu, disinilah kritik menjadi penting. Bahkan pada lingkup yang lebih luas, kritik bisa menjadi kontrol sosial yang berimbang dengan usaha-usaha menjalankan peraturan yang sudah baik. Dan seperti yang sudah dijelaskan tadi, ternyata masih ada yang tidak bisa terima saat dikritik. Karena egokah? Ego pribadi ? Agaknya sih begitu. Silahkan jika anda punya pendapat lainnya. Lalu bagaimana caranya supaya orang bisa menerima kritik dengan sikap terbuka dan tidak egois? Yaa…(mungkin) kendalikan ego, atau…kurangi ego! Kurangi? Iya lah, menghilangkan jelas tidak mungkin. Hidup tanpa ego itu bukan lagi manusia, tapi jadi seperti malaikat kayanya?
Jadi begitu deh, kalau manajemen ego-nya sudah lumayan, maka anda akan santai saat ada kritikan yang mampir. Kalaupun pada detik, menit, jam, hari, minggu (lanjutkan sendiri) pertama anda akan sedikit tersinggung, atau belum ngeh dan masih tidak habis pikir kenapa bisa dikritik, dengan ego yang terkendali, pikiran anda akan dengan mudah mendampingi anda menelusuri substansi kritik itu sendiri. Pada keadaan seperti ini, anda sudah tidak akan mempermasalahkan lagi, siapa orangnya yang sudah berani-beraninya mengkritik anda, latar belakang maksud orang (yg jangan-jangan ingin menjatuhkan) yang memberi kritikan itu, dan pikiran-pikiran horor lainnya, karena anda mulai bisa melihat, bahwa TERNYATA, ada hal yang tidak beres yang sedang dikritisi dan ada yang (berusaha) mengupayakan keadaan ke arah yang lebih. Anda mulai membuka mata pada inti kritikan itu sendiri. Dan tentu saja anda tidak perlu capek-capek tsu`udzon lagi kan?
Hohoho, jadi? Ya, jadi kita mulai bijak sekarang. Kita mulai bisa membuka diri pada kritik dan juga mulai kritis. Melihat sesuatu secara objektif dengan tidak menempatkan ego di barisan terdepan. Bagaimana? Dengan begitu budaya anti-kritik di masyarakat kita sudah bisa kita tinggalkan bukan?
–
Ah iya, katanya kritikan jauh lebih punya efek positif ketimbang pujian. Terlalu banyak dipuji bisa bikin orang stagnasi dan merasa tidak perlu lagi mengembangkan diri, tapi terlalu banyak dikritik akan jadi cambuk untuk selalu (berusaha) memperbaiki diri. Lalu, kritik yang bagaimana? Ah, jangan pura-pura begitu, anda mesti tahu kritik yang seperti apa. Ya kan? Ya kan?
Agustus 20, 2007 at 3:05 pm
Hohoho! Yang penting harga diri terselamatkan dulu. Benar salah urusan belakangan
Agustus 20, 2007 at 3:10 pm
Gara – gara ada banyak kritik yang cacat, mungkin memunculkan budaya seperti ini…
Agustus 20, 2007 at 4:52 pm
Ah.. si Z itu kan antek2nya Yahudi, ya wajarlah kalo kritiknya kayak gitu
Agustus 20, 2007 at 5:14 pm
Orang yang asal kritik tadi kebanyakan NATO. Seperti beberapa komentar disini.
Ada yang berpendapat bahwa BoS’45 itu game jelek, ancur. Tapi setelah dibalas oleh DeBe, orang-orang tadi pun akhirnya berhenti.
Agustus 20, 2007 at 5:15 pm
Yah, sial.
Komenku masuk moderasi.
Agustus 20, 2007 at 5:26 pm
ya silakan kritik dan maki saya sepuasnya
masukan anda akan saya
pertimbangkanhargaidng catatan :
bla
bla
bla
Agustus 20, 2007 at 6:35 pm
Saya anti kritik, tapi juga ga pernah ngeh kalo dipuji… Bagaimana itu?
Yang jelas, saya selalu belajar untuk selalu mengritik diri sendiri dan menghargai prestasi pribadi, itu saja..
*melenggang dengan
sokkeren*Agustus 20, 2007 at 7:11 pm
Kritik itu biasa, manusia ada lemahnya …
Agustus 20, 2007 at 7:19 pm
Persetan dengan semua syarat itu!
*maaf, masih muak soale*
Kalo bagi saya kritik bagaimanapun sah sah aja. Yang penting saya tidak boleh lupa untuk mengeritik diri sendiri.
Agustus 20, 2007 at 8:46 pm
ga boleh ngritik kalo blm berteman 12™ tahun dengan saya!
memangnya situ tau siapa saya sebenarnya? kok berani2nya ngritik! Mbah saya saja ga pernah ngritik kok!
Agustus 20, 2007 at 10:25 pm
kritik itu boleh asal……………………………….
*titik-titik itu yang memberatkan karena syarat yg banyak*
Agustus 20, 2007 at 11:50 pm
Membaca ini, tiba-tiba saya teringat mantan pacar saya…
Agustus 21, 2007 at 12:18 am
FYI, satu-satunya-mantan-pacar-anda-yang-saya-tahu juga memiliki blog di WP. Ada baiknya anda anda mengecilkan volume
paruhsuara anda sedikitAgustus 21, 2007 at 5:13 am
saya lebih suka memberi saran
kritik juga sih. biar geli. di kritik-kritik
terkadang orang memberi kritik hanya sekedar untuk menjatuhkan. sehingga tidak semua kritik dapat dianggap membangun.
Agustus 21, 2007 at 5:54 am
setuju dengan komen di atas (cK), sebenernya saran adalah kritik juga, tapi memang diniatkan untuk membangun.
salam kenal cK
(maaf, kok malah jadi ajang kenalan)
Agustus 21, 2007 at 9:06 am
@ Kopral Geddoe
Payah sih memang kalau sudah berurusan dengan harga yang satu itu.
@ Mihael “D.B.” Ellinsworth
Bisa jadi juga. Tapi parah banget kalau jadinya tutup mata pada semua kritik.
@ CY
Anda pasti tidak suka dengan si Z kan? Wajarlah ngomong kaya gitu.
@ p4ndu_Y4m4to
Ah, benar. Untuk kritik asbun (asal bunyi) kaya begitu, memang tinggal jelasin ke mereka aja memang bahwa sebenarnya tidak seperti itu.
Dan untuk kritik kaya gini, harus rela banyakin sabar kayanya.
Yak, komennya udah dibebasin Pandu.
@ caplang™
Maaf, saya juga tidak suka kritik tanpa alasan. Terkadang, kalau sudah ada hal yang ingin saya kritik dan itu tidak sesuai dengan catatan-catatan anda, kritik akan tetap terjadi, blablabla…
@ manusiasuper
Tidak masalah sih sepanjang anda tidak berkeinginan membunuh kritik itu dan orang yang mengkritik anda.
Itu baik juga, tapi kurang cukup lho, kritik dari orang lain itu refleksi diri kita di mata orang lain kan?
Ada yang memberi kritikan bahwa narsis akut itu sedikit berbahaya, misalnya… Nah, kritik seperti itu bisa dipertimbangkan agaknya…
*kabur sejauh-jauhnya*
@ Fadli
Betul Mas. Tapi pada kenyataannya banyak yang tidak bersikap biasa saat dikritik kan ya…
@ danalingga
Lhaa, syarat-syarat di atas itu kan bukan yang semestinya. Syarat-syarat yang dibuat itu malah menampakkan bahwa dia orang yang masih anti-kritik kan?
Setuju!
@ calonorangtenarsedunia
Ya. Ya. Saya tahu kamu tidak suka pada saya, bukan pada kritik saya. Ya kan? Ya kan? Sudah, mengaku sajalah.
@ almas
Waduh, masih banyak ya titik-titiknya Mas?
@ Scrooge McDuck
Heh?! Kenapa? Anda atau mantan anda yang anti kritik? Atau… cuma gara-gara kritik akhirnya…putus??
*dipenggal*
@ Kopral Geddoe
FYI, satu-satunya-mantan-pacar-anda-yang-saya-tahu juga memiliki blog di WP. Ada baiknya anda anda mengecilkan volume
paruhsuara anda sedikitMasukan yang baik. Tapi itu terlanjur diucapkan, gimana tuh?
Mudah-mudahan tidak ada apa-apa.
@ cK
Sebenarnya intinya itu supaya kita objektif aja pada tiap kritikan yang mampir. Kalau memang konstruktif (biasa disebut masukan ya), bisa kita terima dan pertimbangkan, kalau memang kritiknya ngasal dan sekedar menjatuhkan, kita juga santai saja, go on, tidak terpengaruh sama kritik itu.
Jadinya kita tidak langsung emosi dan main hantam saat dikritik tanpa melihat lagi inti kritik itu sendiri, padahal bisa saja kritik itu sebenarnya baik buat kita. Gitu kira-kira,
Ah iya, saran terdengar lebih `bersahabat`, walaupun kalau diliat lagi ada kesamaan tujuan yang diinginkan, yaitu mengubah keadaan ke yang lebih baik.
Contoh:
- Kamu gak cocok pakai baju itu, acaranya agak resmi soalnya. Ganti aja deh. (kritik)
- Baju warna lembut dan ga mencolok kayanya lebih pas kamu pakai buat acara agak resmi seperti itu. (saran)
Dan kritik-kritik sosial pun sama juga menurut saya, ada yang mengemasnya dengan kritik ada yang dengan saran, maksudnya sama, mengupayakan keadaan yang dikritisi ke arah yang lebih baik.
@ macanang
Setuju Mas.
Agustus 21, 2007 at 9:43 am
Hohoho! Let us just say that a good relationship is a two-way communication, and talking to a brick wall does not fall into this category. (lha, curhat?)
Ah, soal kritik-mengkritik. Kadang memang susah sekali memundurkan ego untuk menerima kritik dengan lapang dada. Apalagi jika substansi kritik tersebut, sebagus apa pun, tertimbun di balik makian yang menggebu atau kalimat tak tersruktur yang sulit dibaca. Masa hanya orang yang dikritik yang harus aktif menggali-gali substansi sebuah kritik? Yang mengkritik juga harus ada usaha menyodorkan kritik yang bisa dipahami dan tepat guna, dong.
Baik menerima dan memberi kritik ada seninya.
Agustus 21, 2007 at 9:52 am
sebenarnya kritik itu apa sih? definisi secara frase itu sendiri maksdku.
Agustus 21, 2007 at 10:15 am
aku setuju dengan poin 1 dan ke 4.Terkadang banyak orang meng-kritik tapi tanpa dengan dasar yang jelas, asal cuap doang, apalagi kalo mengkritik dengan cara menghina atau melecehkan.Tapi aku bukan anti kritik loh.
Agustus 21, 2007 at 11:09 am
Untuk irdix:
“Kritik” dalam arti luas adalah “kegiatan mengevaluasi dan menganalisis sesuatu”.
Agustus 21, 2007 at 12:23 pm
@ Scrooge McDuck
Arrghh!
Iya juga ya, ini dari tadi kesannya bela-belain tukang kritik dan membiarkan orang yang dikritik jadi korban perasaan ya?
Maksud saya ini lebih ke penyikapan kita kalau udah dikritik sih. Dan bener banget, saya setuju, yang memberi kritik juga harus punya seni. Idealnya, jika ingin kritiknya sampai dengan baik dan tepat sasaran, dia harus bisa mengkomunikasikan kritiknya itu dengan baik. Ya, pakai seni juga.
Ah iya, makasih atas definisi kritiknya. ^^
@ irdix
Secara umum bisa dibilang kalau kritik itu adalah usaha/kegiatan menilai apa yang sudah ada/terjadi.
Atau juga seperti yang diberikan oleh Scrooge McDuck.
Di wikipedia, bilangnya gini,
Maaf kalau definisinya masih kurang… ^^
@ toin the shinigami
Ahahaha iya Mas, Iya. Jadi orang yang tidak anti-kritik bukan malah menjadikan kita orang yang mau dihina-dina dengan kritikan tanpa alasan yang jelas, gak kaya gitu sih maksudnya.
Bisa dibilang gini, ini lebih ditujukan kepada penyikapan sebagian orang yang belum bisa bijak saat menghadapi kritik yang konstruktif, gitu kali ya.
Agustus 21, 2007 at 1:50 pm
kadang ad-hominem dan character-assasination memakai topeng kritik …
Agustus 21, 2007 at 9:44 pm
Terkadang terlalu banyak kritik…tapi gak bisa memberikan solusi pemecahan…
Ketika kita merasa sesuatu ituh tdk sesuai…kemudian mengkritik….namun tidak pernah memberikan jalan keluar yg seharusnya dilakukan dan mempunyai bukti keberhasilan dari bukti tersebut…
“Banyak kasus seperti mengkritik pemerintah….
bahwa pemerintah yg sedang memimpin ini tidak sesuai…
Ketika pemerintahan ini lengser..dan digantikan…
Mereka masih mencoba2 dengan metoda2 yang baru …
dengan sesuatu yg blom pernah teruji keberhasilan nya…
sehingga yg terjadi adalah saling menyalahkan….saling menjatuhkan…
“Jadi ketika kita mengkritik, kita juga harus mampu memberikan jalan keluar/solusi pemecahan yg memang benar2 dapat mengatasi problem dari permasalahan tersebut”.
Gituwwwww…. Menurut sayah lho….
hihoihohihohio….
Agustus 21, 2007 at 9:59 pm
oh gitu tah, kirain itu syarat syarat dari mbah hiruta.
*kaboer ke sarang fasis*
Agustus 21, 2007 at 10:04 pm
Btw menurut saya justru yang perlu dihilangkan itu kebiasaan menganggap bahwa kritik mesti disertai dengan saran…
Kritik ya kritik, kalau saya bilang secara obyektif, misalnya, karya tulis A itu jelek, saya nggak berkewajiban memberikan saran…
Walau tentunya kritik yang baik itu seyogyanya dilengkapi dengan solusi
Agustus 21, 2007 at 11:48 pm
wah saya sependapat kalau kritik gak mutlak harus ada saran atau solusi
kritik ya kritik, kalau ada saran jadi kritik dan saran
kritik itu sebaiknya dipersepsi sebagai unsur yang mendeteksi kekurangan yang terlewatkan oleh sistem deteksi kita sendiri
jadi gak mesti bersyarat ada solusinya
Agustus 22, 2007 at 5:33 am
Kok tidak menebar trackback? Bukankah dalam kritik akan lebih baik jika langsung tepat mengenai sasaran?
Bukankah tulisan ini kritik?
*halah, komennya ternyata juga kritik. huehehe*
Agustus 22, 2007 at 5:57 am
Iseng-iseng baca di deretan pernyataan official WP saya nemu link ini
http://wordpress.com/blog/2007/08/19/why-were-blocked-in-turkey/
Sorry kalau sudah ada yang membahas ttg hal ini
Agustus 22, 2007 at 7:54 am
Pada prinsipnya kritik itu boleh, tapi:
SYARAT DAN KETENTUAN BERLAKU
KETENTUAN DAPAT BERUBAH TANPA PEMBERITAHUAN TERLEBIH DAHULU
Agustus 22, 2007 at 7:43 pm
@ Odi
Bahasan tentang itu sudah ditulis kok oleh dua orang kontributor blog ini, yaitu di blog saya dan di blognya Kopral Geddoe. Untuk sementara, itu jadi tulisan personal dulu — soalnya OMG kebanyakan fokusnya ke tema Indonesiana.
Mungkin nanti OMG akan menulis soal itu; tapi lihat keadaan dulu, sih.
Agustus 23, 2007 at 2:17 pm
lha iya tho..
sayah ini kan paling puinter dan huebat sedunia..
kok dikritik…
lha ya wajar kalo sayah ngritik orang laen..
lha orang laen ituh ndak ada yang sehebat sayah..
gimana tho..
*siyul siyul sambil kipas kipas*
Agustus 23, 2007 at 5:00 pm
Kritikus tak punya kewajiban memberi saran, sama halnya seperti kritikus tidak punya keharusan untuk “bisa melakukan yang lebih baik”.
Lha, kalau kritikus itu harus punya solusi dan berkemampuan juga, mengapa tidak dia sendiri saja yang melakukannya? Dan kalau memang demikian, berarti yang boleh mengkritik hanya orang-orang “tinggi” dong? Siapa yang nanti akan memberitahu orang yang ada di puncak misalnya mereka melakukan kesalahan?
Agustus 23, 2007 at 7:58 pm
@ Joerig™
Paket kritikan memang macam-macam, Teh
@ Amrul
Kalau seperti itu malah balik lagi menunjukkan bahwa kita tidak mau dikritik lho. Karena kita cuma mau melihat sebelah mata pada kritikan jika disodori sepaket kritik plus solusi atau saran.
Ah, bener juga sih, itu terserah anda.
@ danalingga
Katanya anti-fasis. Gimana sih?
@ Kopral Geddoe | secondprince
Iya. Saya pikir juga begitu. Masih ada kebiasaan bahwa kritik itu mesti ada saran atau solusi. Padahal kritik dan saran itu dua hal yang berbeda.
@ Bangaiptop
Ughh. Saya dikritik nih.
Akan diperhatikan ke depannya, Bang Aip.
Makasih.
@ odi
Yak, sudah ada link yang diberikan sora9n. Silahkan dicek.
@ noVri
Waww…
@ sora9n
Makasih udah ngasi link-nya, sora
@ tikabanget
Makanya kamu mikir dong kalau mau ngeritik saia.
Makanya kamu liat dong kritikan saia ke kamu!
–
Btw, bener juga ya, ada orang yang saat dikritik merasa tidak suka karena menganggap kritikus itu sok hebat banget. Lagi-lagi, belum-belum udah sentimen duluan ya.
@ scrooge McDuck
Exactly. Saya sependapat. Kritik tetaplah kritik. Solusi dan saran sudah keluar dari konteks itu.
Walaupun seperti dikatakan Kopral Geddoe, kalau ada yang memberi kritik dan solusi tentu saja baik, tapi itu bukan kemudian menjadi syarat baru boleh kritik kalau ada solusi.
Agustus 24, 2007 at 6:44 pm
Hmmm….
Lha kalo cuma bisa kritik ajah berarti kita cuma bisa nyalahin orang doank dunk….
Kita harus bs buktiin kalo yg benar nya gimana gituh….
ekekekekek….
Yang sayah maksud ituh bukan cuma sekedar saran….tapi solusi dengan bukti yg otentik, walo dia ituh seorang yg ahli sekalipun…tapi yah seperti ituh tadi…
Masih menurut sayah lho…
hihohihoihohio…..
Agustus 24, 2007 at 10:10 pm
@ Amrul
Kayanya kita memang beda pandangan sih.
Waww, saya malah ga melihatnya seperti itu. Jika kita sala lalu dikritik, harusnya kita menjadikan kritik itu untuk introspeksi, bukan malah melindungi diri untuk tidak dikritik dengan alasan bahwa orang itu cuma bisanya nyalahin kita aja. Inti kritiknya yang perlu diperhatikan. Walau tentu saja, upaya menyampaikan kritik agar tepat sasaran juga baiknya diperhatikan oleh kritikus.
Wah, bagi saya, orang dengan prinsip kaya gini, masih menunjukkan orang yang tidak terbuka pada kritik lho.
Misalnya saja,
) cuma karena seorang teman anda (atau orang lain, ga ada bedanya lah) memberi kritik bahwa ada yang ketimpangan yang terjadi dengan manajemen keuangan itu, tanpa menyebutkan bahwa sepertinya anda harus merombak tatanan staf disana atau gimanalah solusinya itu. Ya, cuma karena kritik saja, tanpa saran atau solusi darinya, lantas anda mengabaikan kritik itu. Padahal jelas-jelas ada ketimpangan yang terjadi di bagian manajemen itu yang harus segera anda benahi kan?
Anda tidak mau memperbaiki sistem manajemen keuangan perusahaan anda (contohnya perusahaan nih
Jadinya apa? Mestinya kita tidak menutup diri dari sebuah kritik jika memang kritik itu layak dipertimbangkan, walaupun tidak sepaket dengan saran atau solusi dengan bukti yang otentik (huaah, sampe pake bukti otentik coba?!) seperti yang anda katakan tadi. Substansi kritiknya yang perlu diperhatikan. Ini maksudnya agar kita objektif menghadapi kritik dan tidak mengedepankan ego sampai-sampai ga melihat lagi inti kritik yang bisa menjadi bahan koreksi buat kita.
Walaupun tentu saja bagus jika yang memberi kritik itu kemudian menjelaskan pada anda strategi baru bagaimana memperbaiki sistem manajemen keuangan perusahaan anda tadi. Dia memberikan solusi pada anda dibarengi kritiknya itu.
–
Pada akhirnya, kritik tetaplah kritik. Adanya saran ataupun solusi itu tidak lantas menjadi syarat sebuah kritik baru boleh diberikan.
Menurut saya begitu, mungkin menurut pendapat anda tetap begitu ya…
Agustus 24, 2007 at 10:34 pm
Walah…saya terlambat tuh baca blog ini. Saya juga nulis tentang kritik, soalnya dua hari sebelum saya nulis, saya katanya sedang dikritik. Trus saya malah dituduh anti kritik karena saya tidak terima kritiknya.
Padahal yang namanya kritik kan terserah yang dikritik, mau terima atau tidak. Trus juga nanggapi kritiknya juga terserah yang dikritik, mau nanggapi dengan marah kek, ketawa kek, mesem kek dan lain sebagainya.
Tapi yang mengkritik malah marah karena kritiknya tidak diterima….
Gimana coba.!!! Jadi bingung…lha wong kritik dibalas kritik kok ga mau. Harusnya kan mau ya…
Agustus 25, 2007 at 9:20 am
Wah, Mbak. Kaya yang dibilang Scrooge McDuck. Dalam soal kritik-mengkritik ini kadang sulit memundurkan ego dan menanggapi kritik dengan lapang dada. Memang mestinya ada seninya. Jika ingin kritiknya sampai dengan baik dan tepat sasaran, kritikus yang memberi kritik juga harus memperhatikan cara dia menyampaikan.
Dan tentu saja teman Mbak itu harusnya ga perlu marah-marah kalau kritiknya tidak diterima. Menurut saya kaya gitu Mbak,
Mungkin ada masukan dari yang lain? ^^
Agustus 25, 2007 at 9:57 am
kalau dikritik pasti ada mekanisme pertahanan diri, itu biasa kok. Tingkat kedewasaan orang juga bisa diukur dari tingkat pertahanan dirinya terhadap kritik (berbanding terbalik tapi
)
Agustus 25, 2007 at 6:39 pm
Wah, jadi inget kata-kata bang fertob di argumentum ad pusingam
Ad hominem tuh. Kalo orang dikritik kemudian tanya siapa orangnya yang mengkritik, jangan dijawab deh. Soalnya, bisa jadi dia cuma pengen merendahkan pendapat orang lain. Padahal, benar salahnya suatu pendapat tidak bergantung pada siapa yang mengucapkannya, tapi sepenuhnya bergantung pada pendapat itu sendiri.
Contoh: Kalo ada orang gila bilang, “SBY Presiden Indonesia!”, apakah kita akan menolaknya? Begitu juga kalo ada ustadz bilang, “Bumi itu datar”. Apakah kita akan menerimanya? Begitulah, menjawab kritikan tidak boleh dikaitkan dengan siapa yang memberi kritikan.
Ada cara mudah untuk menguji apakah suatu jawaban atas kritikan termasuk ad hominem apa tidak. Ganti aja orangnya, apakah jawaban itu masih relevan?
Harap diingat juga, beberapa kasus ad hominem mirip dengan bantahan iblis. Ketika diperintahkan untuk sujud, dia malah menolak dengan alasan Adam diciptakan dari tanah, sedangkan dia dari api. Jadi, kalo ada orang dikritik dan dia bilang, “memangnya kamu siapa?”, boleh jadi dia telah memakai argumen iblis. Kalo ada ustadz ketika dikritik kemudian bilang, “Antum itu, sholat malam tidak pernah. Dakwah juga cuma asal-asalan. Urus diri sendiri dulu, baru mengkritik orang lain”, maka dia telah memakai argumen iblis, yaitu argumen kesombongan.
Hati-hati menjawab kritikan, karena beberapa jawaban yang ad hominem adalah argumen iblis.
Agustus 26, 2007 at 1:39 pm
gitu aj Kok Repot….
Agustus 26, 2007 at 1:48 pm
@ fauzan
*Masak Orang gak tau komputer mau kritik “microsoft”
*Kayu bengkok, bayangannya juga bengkok kan..?? Bisa gak bayangannya jadi lurus…??? Bisa aja sih, Edit pake Photoshop, Kali ye…
*Mengkritik harun Yahya, Biologi dapet Lima,….?? mau gak dengrin Kritikannya,,,,???
Akal ada batasnya BRO…
Amgin aj gak ada yang bisa liat, Tapi kita bisa merasakannya.
Agustus 26, 2007 at 2:21 pm
*ngelihat komen di atas*
Duh, umat masa depannya suram
Agustus 26, 2007 at 4:04 pm
@anaconda
Opo tho, mbah?
@Geddoe
kayaknya masa depan dia yg suram..
Agustus 26, 2007 at 5:27 pm
@ anaconda
Lha, saya rasa justru nggak ada yang kayak gitu. Justru yang udah ngerti/terbiasa sama komputer itulah yang hobi mengkritik MS…
*ceritanya panjang*
IMO, kalau orang biologinya dapet 5, kemungkinan besar dia akan nerima bulet-bulet penjelasan “evolusi sudah runtuh” model HY… dia nggak butuh penjelasan sains dan bukti-bukti empirik.
Cukup bilang “semua kehendak Tuhan!” habis perkara. Padahal Tuhan kan bekerja dengan proses, dan itu bisa dipelajari oleh manusia.
Betuuul?
Agustus 26, 2007 at 6:40 pm
@ anthonysteven
)
Tingkat pertahanan diri ini maksudnya bertahan atau bersikeras saat dikritik ya, makanya dibilang berbanding terbalik? Jadinya, makin dewasa seseorang makin terbuka orang tersebut saat dikritik, dan sebaliknya makin belum (tidak) dewasa orangnya, makin mudah angot atau bertahan dengan dirinya sendiri dan tidak mau melihat kritik itu. Begitu? ( saya nangkapnya gitu, soalnya
@ fauzan.sa
Ah iya, di contoh 1 dan 2 itu yang dikritik menggunakan ad hominem. Bener. Harus hati-hati daam menjawab kritikan.
@ anaconda
Saya menyimpulkan mas/mbak (kayanya mas deh) ini baru mau lihat kritik tergantung siapa yang kasi kritik. ^^
Menurut saya, prinsip kaya gini lumayan merugikan sih, soalnya kita mentingin siapa yang ngasi kritik daripada fokus sama inti kritiknya itu sendiri. Gara-gara ga berkenan sama orang yang mengkritik kita, kita mengabaikan kritik itu sendii padahal bisa jadi itu layak dipertimbangkan.
Lha, kalau memang kritiknya itu ada benarnya gimana? Mau dimentahkan gitu aja cuma karena label dia `buta komputer`?
Walaupun kenyataannya saya percaya kaya Sora9n bilang sih, orang yang hobi kritik Microsoft itu biasanya orang yang paham seluk-beluk komputer.
Ahihihi… ya iya lah.
Btw, saya pernah denger, perumpamaan itu digunakan buat menggambarkan bahwa orang yang akhlaknya buruk biasanya perkataannya juga suka yang buruk-buruk. Lagi-lagi menurut mas, orang yang ga jelas misalnya, kritiknya pun sama ga jelasnya, jadi ga perlu diambil pusing, gitu kan?
Orang yang bijak biasanya tetap bisa mengambil kritik (atau pelajaran) dari siapapun, meski yang ngomong itu orang ga jelas atau jahat sekalipun, kalau memang kritiknya benar adanya, kenapa enggak?
Kalau memang kritiknya punya landasan kebenaran, saya (yang misalnya aja nih, udah mati-matian banget memuja sosok Harun Yahya dan karyanya) akan buka mata dan mencoba kritis, meskipun yang ngomong itu bukan Profesor di bidang Biologi yang dapet Nobel, dan misalnya aja nilai Biologi pas SMU-nya lima. Saya mau lho dengerin kritiknya itu. Karena apa? Saya gak peduli siapa yang ngomong, kalau abis saya lihat lagi, omongannya itu bener ya saya mau percaya. Gitu deh…
Mungkin kita sering bilang, “Terimalah kebenaran itu dari siapa saja” atau ada lagi, “Terimalah kebenaran itu walaupun dari mulut anjing sekalipun” itu. Ternyata itu masih sebatas slogan aja. Pada prakteknya masih sulit diterapkan. Buktinya ya kadang kaya gini, kita masih mempermasalahkan siapa orangnya, bukan pada kebenaran yang disampaikannya (kalau dalam hal ini pada kritikannya yang layak dipertimbangkan misalnya).
@ Kopral geddoe
Entahlah… *sabar Geddoe*
@ Calonorangtenarsedunia
@ sora9n
Betuul, saya setuju.
Agustus 26, 2007 at 9:32 pm
Yang Paling Besar Kritiknya Biasanya Gak lebih baik dari yang Di kRitik
)
(Mugkin benar SAlah Juga Mungkin
Ada Komen ada Kritik Seru….!!!
@Geddoe
kayaknya masa depan dia yg suram..
Masa Depan Orang Siapa Tau hehehehe
@ *Masak Orang gak tau komputer mau kritik “microsoft”
Justru yang udah ngerti/terbiasa sama komputer itulah yang hobi mengkritik
Kalo dia lebih tau, kenapa dia Aj yang Buat Sendiri yang Lebih Baik. Gak usah kritik Orang Laen, Kesempatan Bisinis Tuh….
;D
Lanjut Mang…..!!!
Agustus 26, 2007 at 9:41 pm
@ belumngantuk
Masaoloh…
Baca ini, mas/mbak…
Heran, ini fallacy kok populer betul, ya?
*gemas, gigit-gigit bantal*
Agustus 26, 2007 at 9:49 pm
Mungkin Maksud Anaconda Di atas.
Bukan siapa yang sebenarnya Orang yang menkritik dari segi Personalnya. Tetapi Substansialnya Itu yang menjadi Fokusnya
Dan Seandainya Orang yang lebih Banyak ilmu Yang mengkritik Topik tersbut, Penkritk itu tidak Hanya Modal Suara Keras saja, melainkan Mengenai Substansial Yang menjadi TOPIK tersebut. Dengan didasari Oleh pemikiran Ilmiah, Teori-Teori Ahli, Dan penyampaian yang Bijak.
Istilahnya
Tidak hanya ASBUN, Kalo hanya ASBUN, Anjing-Anjing (anjing benaran maksudnya) itu ASBUN Loh…
Peace…..!!!
Banyak kan di INdonesia ini yang G ada Ilmunya Berkoar-koar Ingin menang sendiri, padahal dia tidakk tahu apa yang ia Koar-Koar kan tersebut.
Agustus 26, 2007 at 10:47 pm
Maksud saya tuh yang ini;
Itu jelas-jelas tu quoque, tho?
Agustus 27, 2007 at 3:40 am
@ belumngantuk
Kalau saya lihat komen dari anaconda, malah tidak seperti itu sih, memang mementingkan siapa yang memberi kritik. Terlihat dari bagaimana tanggapannya terhadap komentar dari fauzan.sa kan?
Dan yang saya jelaskan, mestinya kita bisa terbuka sama kritik (cara ngasi kritik juga harus diperhatikan nih ya, *wew, saya terkesan ngulang-ngulang jadinya) yang memang layak dipertimbangkan, terlepas dari siapa orangnya yang memberi kritikan. Lihat inti atau substansi kritiknya. Bener gak yang dikritik itu? Jadikan bahan koreksi. Bukannya malah melindungi diri untuk tidak mau dikritik dengan alasan `siapa anda yang ngasi kritik?`. Itu kan? Coba deh diliat lagi.
Kalau substansi kritiknya memang bener, jangan menutup diri dari kritik itu hanya dengan alasan lain lagi, semisal, “Wah, yang ngasi kritik ini modal suara keras saja” atau “Lah, kalau kamu lebih baik ya kamu saja yang kerjain!” atau yang lainnya. Bagi saya, yang kaya gini enggak bijak. Itu aja sih. Masalah asbun atau orang yang berkoar-koar, itu urusan lain. Soalnya yang di atas sana yang saya maksud itu kritik yang memang substansinya benar, layak dipertimbangkan dan patut jadi bahan koreksi, terserah siapapun yang menyodorkan kritik itu ke hadapan kita. Begitu menurut saya…
Agustus 27, 2007 at 6:52 am
@belumngantuk
“Anjing-anjing itu asbun”
Meski belum pernah pelihara anjing, dari cerita banyak teman saya yang dog-lover, gonggongan anjing itu ada maknanya lo. Kadang minta makan, kadang mengingatkan si empunya kalau ada pencuri, kadang nunjukkin saat mau kawin
Intinya seasbun-asbunnya berbagai jenis suara yang kita dengar di dunia ini pasti ada maknanya. Lha wong semua ciptaan Tuhan, mana ada Tuhan menciptakan sesuatu yang tak bermakna ?
Agustus 27, 2007 at 8:59 am
bah,aku nggak suka kritik e..,aku suka emping mlinjo!!
kekeke..
Agustus 27, 2007 at 10:46 am
jangan lupa … menolak kritik adalah sebuah bentuk kritikan juga, kritik pada pemberi kritik …
Agustus 27, 2007 at 5:29 pm
hehehe…, kalo misalnya Microsoft mementahkan kritik yg datangnya dari org yg punya label “tidak ngerti/terbiasa sama komputer” maka dari awal2 nasibnya sudah akan sama tragisnya dgn IBM, tidak akan sepopuler sekarang lagi.
Betul gak? coba renungkan
Bandingkan Wordstar dulu dgn Microsoft word sekarang, itu aja dulu…
Agustus 27, 2007 at 9:03 pm
IBM, Setidaknya Begitu, May BE…!!!
*Lap keringat, baru balik Jalan
“
Agustus 28, 2007 at 11:06 pm
omaigat,, benar-benar *****
Agustus 29, 2007 at 8:54 am
@ odi
Eh, benar juga ya…
@ onoda
Waduh, dilarang OOT Mas, disini.
@ watonist
Mungkin bisa juga dibilang begitu ya.
@ CY
Makanya ya, disuruh liat kritiknya, bukan siapa yang ngasi kritik.
*ga tahu perkara Wordstar dengan Ms.Word, nih*
@ TSe Men The KID`s
Oh, iya ya.
*nambah info*
@ aLe
Walah, disensor.
(hati-hati Mas, disini dilarang OOT lho *lirik satpam OMG* )
Agustus 29, 2007 at 10:16 am
hahaha… sorry Jejak Pena, komen saya lebih ditujukan buat org2 yg sejenis dgn bung anaconda, yg memilah2 kritik dgn melihat latarbelakang orgnya.
Kalo Wordstar dulu kurang userfriendly utk yg ga paham komputer krn menggunakan command2 tertentu utk editing tulisan, sdgkan Microsoft Word lebih userfriendly krn menggunakan icon2 (tinggal klik aja).
Nah..,itu terjadi krn banyak kritik dari org yg “ga paham komputer” kan? iya gak Mr. Anaconda??
Agustus 29, 2007 at 10:53 am
Hee… iya, bener kok. Saya memang nangkapnya gitu. Dan komen itu maksudnya menyetujui komen CY.
Btw, yang wordstar itu, gitu ya ternyata. Makasih atas infonya.
Agustus 29, 2007 at 1:06 pm
@ anaconda
Mas conda saya biologinya nggak dapet 5, jadi saya boleh mengkritik Mas Harun ya
sebenarnya kan tinggal dilihat aja argumennya. apa itu argumen orang yang biologinya dapet 5 atau bukan. Orang yang biologinya 5 kan bisa saja belajar lagi dan baca lebih banyak dan akhirnya lebih tahu.
jadi kalau argumennya berkelas profesor, ya gak usah dikaitkan dengan biologinya yang dapet 5.
jauh amat nggak nyambungnya
kecuali kalau argumen orang itu memang menunjukkan ke5an biologinya.
Nah untuk tahu yang seperti itu kritiknya perlu didengar dan dipikirkan bukan
bukan asal comot nilai 5 nya terus kesimpulan kritiknya rendahan, gak begitu Mas ana
Mas anaconda salah mengambil sudut pandang
salam damai dan salam kenal Mas conda
Agustus 31, 2007 at 9:52 pm
Subjektifitas ya. Entah kenapa saya merasa ini sudah mendarah-daging (?).
).
Kalau soal pendapat ulama atau yang berprofesi yang lebih diakui, menurut saya ini karena biasanya orang akan lebih mempercayai yang memang ahli di ilmunya. Mungkin ada perasaan tertentu kalau mempercayai yang bukan ahlinya, khawatir kalau itu ternyata hoax (atau memang ngga bisa percaya
————————————–
Sekedar ikut-ikutan soal anaconda:
Nilai ngga bisa dijadikan indikator, saya rasa.
Seseorang yang setiap hari ‘bergaul’, jalan-jalan dan muter-muter bisa saja dapat nilai sempurna lho.
Oktober 26, 2007 at 7:35 pm
kalau kita mau dikritik tapi pasang syarat, itu sama saja kita gak mau dikritik..
Oktober 26, 2007 at 8:56 pm
ya iyalah. kritik yang ad-hominem kan ga enak
Desember 25, 2007 at 11:01 pm
[...] Jadi, siapa yang salah dan siapa yang mulai duluan? Entah. Selama masih ngotot mempertahankan sudut pandang sepihak dan menekankan arogansi, generalisasi yang negatif, serta berpatokan pada orangnya, damai di [...]
Desember 26, 2007 at 8:00 pm
[...] tidak) ancaman yang muncul dari sebuah ke-aku-an, maka saya sangat kecewa dengan masih berakarnya budaya anti-kritik di blogosphere [...]
Januari 26, 2008 at 10:28 pm
[...] Jadi, siapa yang salah dan siapa yang mulai duluan? Entah. Selama masih ngotot mempertahankan sudut pandang sepihak dan menekankan arogansi, generalisasi yang negatif, serta berpatokan pada orangnya, damai di [...]