Ditulis oleh sora9n
Anda pernah membaca koran? Menonton berita? Ataupun lain sebagainya? Kalau iya, WASPADALAH!!
Anda mungkin sudah kena pengaruh mematikan. Pengaruh yang sedemikian berbahaya, sehingga opini Anda dipengaruhi olehnya. Bahkan, Anda bisa saja percaya sedemikian rupa — padahal, belum tentu berita yang Anda dengar itu mewakili keadaan yang sebenarnya.
Bisa saja Anda sudah menjadi korban pemotongan berita!
Jadi, di topik kali ini, kami akan menyampaikan bagaimana berita-berita bisa dipotong — dan dipelintir — sehingga maknanya jadi berbeda daripada keadaan aslinya. Jangan sampai Anda terkena serangan tersebut.
Berikut ini ciri-cirinya. Waspadalah, waspadalah!!
***
1. Berita ini Keterangannya tidak Lengkap
Ini adalah cara yang lumayan umum terjadi. Intinya, sebuah berita disajikan dengan mengabaikan beberapa data yang penting. Massa boleh jadi akan langsung bereaksi, ketika mendengar berita macam ini disuarakan di radio dan televisi.
Contohnya kira-kira begini:
Berita:
“Seorang mahasiswa Institut Tak Bergengsi dipukuli oleh aparat.”
Kalau Anda mahasiswa Institut Tak Bergengsi, Anda kemungkinan besar akan langsung marah. Mahasiswa kampus Anda dipukuli oleh aparat — ini tindakan anarkis namanya. Represif! Opresif! Tidak bisa dibiarkan!!
…tapi, benarkah begitu kenyataannya?
Ternyata, selidik punya selidik, faktanya adalah sebagai berikut:
Fakta:
“Seorang mahasiswa Institut Tak Bergengsi dipukuli oleh aparat. Peristiwa ini terjadi selepas pertandingan Persib melawan Persija — di mana terjadi kerusuhan dan bentrok antara aparat dan suporter. Mahasiswa ini sendiri sempat terdengar meneriakkan kata-kata provokatif ketika bentrok tersebut berlangsung.”
Lihat, hampir saja terjadi dendam antara rekan-rekan si mahasiswa terhadap aparat. Itulah kekuatan pemotongan berita!!
Contoh lain:
Berita:
“Pemerintah Israel dan Amerika itu diam saja terhadap penderitaan kaum Muslim Palestina!”
Apakah berita itu benar? Tentu saja benar. Lha, ada skrinsut™-nya di televisi dan koran, kok. Tapii… kenyataan lebih lengkapnya adalah…
Fakta:
“Pemerintah Israel dan Amerika itu diam saja terhadap penderitaan kaum Muslim Palestina. Tapi negara-negara Arab juga banyak yang tidak bersuara. Bahkan Arab Saudi, yang dianggap sebagai ‘biangnya’ negara Islam, tidak pernah melancarkan protes keras ke dua negara tersebut soal ini.”
Sekali lagi, waspadalah!!
2. Bisa jadi Subyeknya disamarkan
Berbeda dengan sebelumnya, kali ini subyeklah (si tokoh dalam berita) yang jadi ‘korban’. Subyek disederhanakan sedemikian rupa, sehingga berita jadi bernilai lebih positif.
Biasanya, trik ini dilakukan jika si tokoh memiliki citra buruk di masyarakat.
Contoh:
Berita:
“Seorang pria berusia 80-an tahun dilarikan ke rumah sakit karena stroke.”
Pertama kali mendengarnya, Anda mungkin bersimpati pada pria tersebut. Mungkin juga Anda berdoa supaya beliau cepat diberi kesembuhan.
Tapii… lagi-lagi tapi. Lihat dulu fakta yang sudah disembunyikan dengan rapi:
Fakta:
“Pria tersebut adalah Soeharto, mantan Presiden RI yang pernah berkuasa selama 32 tahun”
Masihkah reaksi banyak orang sama dengan sebelumnya?
3. Kalimatnya diambil Out-of-Context!
Selain pemotongan macam di atas, ada juga teknik menerjemahkan di luar konteks. Dengan cara ini, Anda bisa disuguhi berita yang bermutu — beritanya benar dan bukan hoax. Meskipun begitu, dengan memanfaatkan perbedaan interpretasi, sebuah berita bisa dimanfaatkan untuk menggiring opini publik.
Contohnya kira-kira…
Berita:
Seorang pakar mengklaim, “Saya menemukan klip lagu ‘Indonesia Raya’ 3-stanza dengan bantuan server Belanda.”
Cerita selanjutnya, kita tahu sendiri lah. ^^
Apakah sang pakar berbohong? Boleh jadi tidak. Bagaimana kalau faktanya ternyata sepeti berikut ini?
Bisa saja:
Sang pakar menemukan klip lagu tersebut di sebuah situs. Ternyata, setelah dicek data WHOIS-nya, diketahui bahwa server situs itu memang berlokasi di Belanda.
Nah, lho…
Sang pakar tidak berbohong — bahwa dia mendapatkan lagu tersebut dengan bantuan server Belanda. Lha, hosting situs tempat dia menemukannya saja servernya di Belanda, kok?
Ada juga contoh lainnya seperti berikut ini.
Berita:
“Semua pesawat terbang di maskapai X baru saja mendapatkan sertifikat kelayakan terbang. Jadi, jangan khawatir untuk terbang bersama mereka.”
Apakah benar mereka punya sertifikat? Betul, mereka punya. Bahkan mereka mampu menunjukkannya. Tapiii… adakah fakta yang tersembunyi?
Fakta:
Ternyata sertifikat itu didapat berdasarkan hasil kongkalikong dengan otoritas Y. Bahkan pesawat yang baru beberapa hari kena grounding pun sudah boleh terbang lagi.
Hohoho!
Jadi, sekali lagi: hati-hatilah pada informasi di sekitar Anda!!
***
Mungkin masih ada lagi beberapa teknik pemotongan berita yang belum dibahas di sini. Meskipun begitu, tiga trik itulah yang paling umum dipakai dalam ‘mengolah’ berita.
Bahkan berita yang jujur pun bisa dipelintir seperti di atas. Apalagi berita yang betul-betul hoax — alias murni kebohongan??
Oleh karena itu, waspadalah!!
September 12, 2007 at 10:47 pm
Pemlintiran berita itu sebenarnya apa ya tujuannya? Yang jelas ada pihak tertentu yang diuntungkan. Lantas??? Hm, sepertinya yang sering diplintir tidak cuma berita. Hehehe…
Salam kenal!
September 13, 2007 at 2:02 am
menarik!
*duh komen apa lagi coba*
September 13, 2007 at 7:39 am
Kok yang nulis bukan yang profesinya penulis berita?? :mrgreeen:
By the way, TEPAT!!
September 13, 2007 at 10:11 am
ehm… ttg pesawat terbang..
ada teknik penyampaian berita spy penumpang tidak panik.
September 13, 2007 at 11:01 am
*tepuk tangan*
*kasih applause*
September 13, 2007 at 4:55 pm
menarik nih
hmm hmmm yang seperti ini sih sering
berita itu kadang berupa realitas yang ditampilkan
bukan realitas yang sebenarnya
realitas yang ditampilkan kadang dipersepsi berbeda dengan realitas yang sebenarnya
tapi gak semua berita seperti ini kan?
September 13, 2007 at 8:27 pm
@ mansup
lho? bukannya penulis blog itu juga secara de-facto and de-jure™ adalah penulis berita juga?
*keukeuh mempertahankan ego blogger*
September 13, 2007 at 10:07 pm
@ tiyokpras
Pertamax-nya dihapus ya, soalnya dilarang OOT di blog ini. ^^
Soal tujuan, itu tergantung si pengggunanya. Tapi yang jelas sih, dengan berita sepotong-sepotong, lebih mudah mempengaruhi opini masyarakat.
Contohnya ya kayak mahasiswa nonton bola itu. Kalau nggak dilurusin, bisa aja anak2 kampusnya bentrok sama aparat pas ketemu lain waktu.
:::::
@ didats
Ah, terima kasih…
:::::
@ manusiasuper
Lha, makanya om Mansup yang rajin nulis di OMG. Sendirinya kan profesinya wartawan…
:::::
@ CY
Walah… ^^;;
Ketentraman yang menipu, itu.
:::::
@ Kopral Geddoe
*ikutan tepok tangan*
*yay!*
:::::
@ secondprince
Betul sekali. Dan hal-hal semacam itu bisa terwujud, salah satunya dengan teknik pemotongan berita macam di atas.
Tergantung sih, IMO… soalnya pemotongan berita itu bisa aja sengaja ataupun nggak disengaja. Kalau udah begini ya, kualitas berita itu tergantung sama editornya. Kalo editornya bagus + teliti, mungkin beritanya bakal lebih netral…
Kalo nggak ya nggak tahu deh.
:::::
@ alex
Iya sih, betul. Tapi mansup itu kan wartawan yang merangkap blogger… makanya tanggung jawab dia tuh harusnya dobel.
September 14, 2007 at 2:47 pm
itulah kekuatan media.siapa-siapa saja yang menguasai media cetak, TV atau internet adalah “dewa” dalam mengeluarkan berita.
September 15, 2007 at 3:28 am
Intinya, harus hati-hati ya pak… Baiklah, saya akan mengunci diri di sebuah pulau terpencil, tanpa tivi, tanpa koran, tanpa radio, tapi tetep dengan internet dan henpon kesayangan saya :p
September 15, 2007 at 6:03 am
Dengan menguasai media, anda menguasai publik.
Teringat akan simbah yang dulunya lama menguasai negeri ini.
*dicaplok Petrus*
September 15, 2007 at 11:44 am
*liat komen atas*
lah skarang juga masih ada kok penguasaan media demi ‘kepentingan publik’
September 15, 2007 at 4:34 pm
Saya memang hobi baca berita…
Tetapi yang bagian politik itu, saya lewatkan. maklum, karena editing itu, dan lagi, akhir – akhir ini banyak wartawan yang disuap…
September 16, 2007 at 1:02 pm
Kekuatan Media..
Tapi pemotongan berita kan dipakai untuk kententraman sebagian orang dan disukai karena menentramkan perasaan sebagian yang lain..
September 19, 2007 at 3:45 am
@calonorangtenarsedunia
“kententraman sebagian orang dan disukai karena menentramkan perasaan sebagian yang lain..”
sebagian orang disitu itu maksudna ini bukan : sebagian orang dari beberapa orang yang ikot terlibat dalam pemberitaan tersebut dan akan mendapatkan kerugian jika pemberitaan itu tidak dipotong…
hohoho
September 21, 2007 at 9:53 pm
yohooooooo…..
saya mau jadi pakar dan mengundang wartawan inpotenmen
September 24, 2007 at 12:47 pm
hmmm… kira-kira berita yang disampaikan disini uda kena edit belum yak??
*kabuuuurrrr*
Oktober 22, 2007 at 9:43 pm
[...] saya sempat me-review aktivitas saya di internet ini beserta dinamikanya. Mulai dari masalah Harun Yahya yang dulu, hingga kesan intoleransi yang tampaknya dimiliki oleh umat agama saya. Lalu soal teori [...]
Oktober 26, 2007 at 5:51 pm
*mikir, “waspada juga sama artikel di atas”.
Oktober 28, 2007 at 7:39 pm
seru juga diskusi tentang seni memotong berita.
Sebuah berita tentu memiliki isi yang berbeda sesuai dengan intepretasi pembacanya.
bisa saja sebuah berita tentang kasus PT Timah yang diliput oleh AN TV kemaren bertujuan untuk memberikan peringatan pada para penyelundup, tapi bagi para penambang liar di sekitar PT timah, tentu berita itu merupakan hal yang basi, dan tidak layak. karena mereka berada diluar kpentingan.
Salam
ardi
November 9, 2007 at 12:35 pm
mm…masa c segitu parahnya negri ini..!!tapi kadang2 ad benernya kog..gag semua yg loe denger tuch bener..tapi gag semua yg loe denger itu salahjuga..jadi mending gag usah ngliat berita lagi de..mending film2 hollywood..lebih menipu dan senang untuk ditipu..!!tambah penghetahuan pula..
Juni 3, 2008 at 6:21 pm
bagus bagus… blog gua nyangkut juga di atas.. heheheh