oleh sora9n
Ada suatu kutipan yang menarik, yang saya dapat ketika jalan-jalan ke wikipedia beberapa waktu lalu. Tapi maaf… tulisan kali ini temanya akan menyinggung soal fundamentalisme beragama[1]. Jadi, pembaca yang tidak suka membahas tema seperti yang disebut… brace yourself.
Kutipannya saya temukan di entry wikipedia tentang Karen Armstrong, dan isinya kurang lebih seperti di bawah ini. Cetak tebal ditambahkan oleh saya.
Central to her reading of history is the notion that premodern cultures possessed two complementary and indispensable ways of thinking, speaking and knowing: mythos and logos. Mythos was concerned with meaning; it “provided people with a context that made sense of their day-to-day lives; it directed their attention to the eternal and the universal”. Logos, on the other hand, dealt with practical matters. It forged ahead, elaborating on old insights, mastering the environment, and creating fresh and new things. Armstrong argues that modern Western society has lost the sense of mythos and enshrined logos as its foundation. Mythical narratives and the rituals and meanings attached to them have ceded authority to that which is rational, pragmatic and scientific – but which does not assuage human pain or sorrow, and cannot answer questions about the ultimate value of human life.However, far from embarking on a wholesale rejection of the modern emphasis in favour of the old balance, the author contends, religious fundamentalists unwittingly turn the mythos of their faith into logos. Fundamentalism is a child of modernity, and fundamentalists are fundamentally modern.
–The Battle for God: Fundamentalism in Judaism, Christianity and Islam. New York: Ballantine, 2000. p. xv
***
Apa yang menarik?
Saya pribadi cenderung terkesan pada kalimat terakhir yang diberi cetak tebal.
Fundamentalism is a child of modernity, and fundamentalists are fundamentally modern.
Fundamentalisme, konon, merupakan akibat langsung dari modernisasi. Benarkah?
Sebentar. Apa itu Fundamentalisme?
Fundamentalisme, pada dasarnya, adalah sebuah paham “kembali ke akar” yang cenderung kaku. Dengan kata lain, hanya pendapat yang stick-to-regulation yang akan diterima dan diamalkan. Meskipun demikian, istilah ini kemudian mulai mengalami pergeseran makna. Karena sifatnya yang cenderung kaku dan menolak perubahan, para penganut paham ini cenderung mempertahankan status quo atas keyakinan mereka. No other way round.
Akibatnya, pihak/lembaga yang menerapkan sistem ini jadi lebih kaku dan cenderung intoleran.
Apa yang terjadi ketika fundamentalisme diterapkan dengan spirit keagamaan?
Muncullah kesan umat yang kurang toleran. Umat yang keras. Yang merasa dirinya sebagai yang paling benar. Hingga titik tertentu, fundamentalisme beragama ini cenderung menolak inovasi dan kemajuan yang diraih di era modern.
Umat ini begitu kaku. Mereka bisa menolak konsensus sains dan menyatakan sebaliknya, hanya demi membela keyakinan mereka. Mempercayai bahwa matahari mengelilingi bumi dan sama sekali menolak Teori Evolusi bahkan menjadi hal yang wajar. Sedangkan di titik ekstrim, kelakuan umat ini bisa jadi sangat memprihatinkan. Kalau Anda pernah melihat aksi FPI dan para terpidana pelaku Bom Bali di TV, maka Anda tahu apa yang saya maksud.
Kembali ke Topik
Lalu, apa hubungannya fundamentalisme itu dengan modernisme? Penjelasannya kurang lebih begini.
Para fundamentalis-agama pada umumnya hanya patuh pada peraturan agama mereka. Di samping itu, sebisa mungkin mereka juga menyamakan kehidupan mereka dengan umat pada saat agama mereka diturunkan.
Pada beberapa kasus, mereka bahkan cenderung menolak inovasi sains, seperti yang sudah dijelaskan.
Pada titik ekstrim, keyakinan mereka bisa menjadi landasan untuk berbuat kekerasan dan anarki untuk menghadapi “zaman sekarang yang edan”.
Maka, dengan segala acuan ke masa lalu itu, bagaimana mungkin mereka dianggap sebagai akibat dari modernisme?
Ibaratnya, Anda melihat pabrik mobil yang ngotot memproduksi mesin uap — sekalipun masyarakat kini beranggapan bahwa mesin bensinlah yang lebih baik. Dari tahun 1920 sampai 2007, mereka terus memproduksi mesin uap. Mereka ini tidak modern — harusnya mereka ini dibilang kuno kalau begitu!
Betul, Mereka Memang Kuno. Tapi…
Tapi.
Tapi.
Mereka adalah sebentuk reaksi. Counter-culture atas keburukan dunia yang kita alami sekarang.
Ketika modernisme dianggap gagal menjadikan dunia yang lebih baik, suara-suara ini bertahan dari masa lalu. Mereka mengangankan “sistem kami” yang pasti bisa membawa dunia ke arah yang baik jika diberi kesempatan. Dan, karena modernisme (di mata mereka) hanya mengakibatkan penderitaan, maka mereka semakin memiliki alasan untuk mengambil “jalan keras”.
Itu betul. Kalau kita mau melihat dari sisi lain, sebenarnya fundamentalisme ini semakin berkembang sebagai respon atas “kebobrokan” yang mereka lihat.
Moral masyarakat mungkin begitu permisif — lantas mereka merasa bahwa sudah saatnya moralitas (dan hukum) agama mengambil alih. Dunia terus dilanda perang dan instabilitas, lantas mereka berkata “tegakkan khilafah!”. Amerika menginvasi Irak dan Afghanistan? Maka mereka merasa bahwa sah-sah saja meledakkan bom bunuh diri di sebuah kafe penuh warga bule.
Dan semuanya bersumber pada kekecewaan, serta harapan untuk mencari dunia yang lebih baik.
Ironis ya, harapan untuk mewujudkan dunia yang lebih baik justru membuatnya terasa makin buruk.
***
Mungkin betul, bahwa fundamentalisme adalah suara kuno yang — bagi banyak orang — doesn’t make sense at all. Tapi mereka adalah bagian dari kita di zaman ini.
Kekakuan mereka pada agama semakin menjadi ketika melihat ‘keburukan’ moral zaman sekarang. Kekerasan mereka memuncak karena penindasan yang kita sendiri lakukan pada mereka. Dan penolakan mereka muncul, dari keengganan untuk menerima masukan dari lingkungan yang ‘rusak’ di luar mereka.
Fundamentalisme, pada akhirnya, menjadi sebuah reaksi. Reaksi atas kegagalan kita di zaman ini, dan juga reaksi atas kekecewaan yang mereka sendiri alami. Dan mereka telah bertransformasi dari way of life yang kuno menjadi reaksi yang persisten di zaman modern ini.
—–
Catatan:
[1] i.e. menerapkan kehidupan beragama dengan semangat fundamentalis/kembali ke akar. Kalau dalam agama Islam, kita bisa melihatnya dalam pergerakan Salafi/Wahhabi; dalam agama Kristen semangat ini dimiliki oleh kaum Puritan.
November 3, 2007 at 6:46 pm
Gimana ya cara mengatasi kaum fundamentalis ini.. minimal membukakan “mata” mereka akan realitas yg ada.. bahwa masalah kerusakan moral tidak hanya terjadi saat ini saja.. bahkan masa yg mereka anggap “ummat terbaik” pun juga ada..
btw, pertamax?
November 3, 2007 at 6:54 pm
Benar, saya selalu berpikir seperti itu. Ada kalanya ketika dikelilingi oleh suatu paham, timbul keinginan untuk muncul sebagai sesuatu yang berlawanan. Saya kira kritik John Armstrong atas agama; bahwa ‘agama selalu melihat dunia ini sebagai pergelutan antara yang benar dan yang salah’, berperan di sini. Ketika modernitas dilihat melalui kacamata paham yang cenderung fundamental, akan muncul kesan ‘kerusakan yang merajalela’, dan implikasinya, timbul keinginan untuk memperbaiki, atas nama agama. Ya. Menurut saya semuanya hanyalah ramuan aneh yang timbul dari rasa ingin mencari jati diri, afeksi in-group, dan rasa benci pada kelompok lain. Ramuan yang sama (namun tidak bombastis) bisa ditemukan pada tiap remaja dan kelompok-kelompoknya.
Ergo, radical jihadis and crusaders are just kids; adults that are slow to grow up, and got pissed off in the process.
November 3, 2007 at 10:58 pm
Sebenarnya ketika di sebut kembali ke akar itu harusnya secara esensi, bukan secara tekstual. Sebab misalnya ayat AQ, itu jika di artikan secara asbabun nuzulnya saja, tanpa memperhatikan konteks sekarang, maka hasilnya ada ayat-ayat yang harus di matikan alias sudah tidak berlaku lagi. Misalnya soal kebolehan meniduri budak.
November 3, 2007 at 11:05 pm
selalu setuju!
November 4, 2007 at 12:28 am
akibatnya banyaklah aliran yang menyatakan merekalah yang terbaik..
November 4, 2007 at 6:07 am
hmm hukum tesis antitesis terus berjalan dengan apa adanya….
saat modernisme tidak bisa menjadi jawaban dan fundamentalisme agama kadang tidaka menjadi penyelesaian, trus bagaimana dunia modern ini dapat menjadi lebih baik. Saat kedamaian hanyalah isapan jempol belaka, kedamaian tidak lebih dari kebohongan-kebohongan dari yang berkuasa kepada yang lemah, dan………. kiamat sudah dekat
November 4, 2007 at 1:57 pm
kala kita menempatkan agama kita sebagai yang paling benar dan menggangap yang lain musyrik itu adalah awal kita mengingkari agama kita sendiri, awal kita mencoba membela agama dengan tindakan yang dilarang agama kita sendiri, awal kita mencoba membalas agama atau pemeluk agama lain dengan tindakan yang diharamkan agama kita sendiri.
just look at the most corrupted nations, indonesia, phillippines, etc adalah negara yang mengklaim sebagai negara agamis.
justru kala kita membuka hati untuk pendapat orang lain, mencoba memahami kepercayaan orang lain, menghargai perbedaan, disitulah kita menunjukkan pada orang lain bentuk sebenarnya agama yang kita yakini.
November 4, 2007 at 3:13 pm
Sebenarnya agak aneh kalau melihat bahwa istilah Fundamentalisme justru lahir dalam tradisi Kekristenan di Amerika (ada di buku Battle For God-Karena Armstrong), tapi justru sekarang ini lebih banyak dinilai pada kelompok Islam garis keras.
Sebenarnya nggak terlalu tepat kalau dibilang “kembali ke akar” karena ini adalah ciri khas dan etimologi dari nama Radikalisme. Fundamentalisme dalam agama itu, menurut Armstorng, cenderung mendahulukan mythos dalam kehidupannya dibandingkan logos. Mereka terbuai dengan kejayaan masa lalu mitos yang jadi “panglima’ dalam kehidupannya. Disini Armstrong berusaha melihat konteks mitos dan logos dalam wajah fundamentalisme.
Dari beberapa kasus Fundamentalisme dlm agama, kebanyakan memang karena perbenturan antara modernisme (yang menggusur simbol-simbol agama dari kehidupan) dengan kehidupan agamais (mitos) yang menjadi bagian keseharian dari suatu masyarakat. Turki dan Mesir jadi contoh yang sangat nyata dari perbenturan itu.
Modernitas bisa jadi adalah musuh fundamentalisme. Tapi tanpa modernitas, fundamentalisme nggak punya tempat. Di Turki sebagai contoh, ketika Mustafa Kemal Attatturk memodernisasi Turki, dia bukan saja menghadirkan simbol-simbol barat dalam pemerintahan Turki, tetapi juga menggusur peran Ulama dan Kaum Agama dari konsep pemerintahan negara. Disinilah letak perbenturannya.
Tapi fundamentalisme di Irak dan Iran justru berbeda dari situ. Syiah dianggap sebagai fundamentalis oleh sebagian sunni karena konsep mereka sendiri. Dan ini justru sedikit aneh.
ntar lagi disambung…..
November 4, 2007 at 3:44 pm
@ warnetubuntu
IMHO, hal itu kembali pada kearifan pribadi/masyarakat ybs. Kalau mereka nggak berniat belajar dan memperluas cara pandangnya, hal seperti itu nggak bakal ada habisnya.
Kasarnya sih, kaum fundamentalis menyebarkan paham itu di lingkungan mereka; lalu mengajarkannya ke anak cucu mereka. Akhirnya terbentuk sistem budaya yang mereka lebih nyaman berada di dalamnya…
Boleh jadi yang benar-benar bisa memperbaikinya hanya mereka sendiri saja.
:::::
@ Kopral Geddoe
Semangat anti-mainstream, brother?
Setuju. Kalau melihat dari kutipannya di atas sih, itu seharusnya termasuk ke dalam ranah mythos. Hal yang seharusnya nggak diterapkan tanpa pertimbangan matang dalam kehidupan di dunia… makanya disebut bahwa “religious fundamentalists unwittingly turn their mythos of their faith into logos”
BTW, apa John Armtrong itu saudaranya Tante Karen, ya?
Jadi inget waktu saya ngomong soal balita keras kepala di blognya DB.
:::::
@ Danalingga
Sebetulnya soal itu juga sudah dibahas oleh Karen Armstrong, dalam bukunya yang dikutip di atas itu. Ada elemen kehidupan yang sifatnya meaning/pemaknaan, dan itu adalah mythos. Ada elemen yang bersifat praktis dalam hidup (logos).
Justru ketika kaum fundamentalis itu mencampurkan mythos kepada logos dengan tidak bijak, terjadilah hal-hal yang dijelaskan Mas Dana itu. E.g. kalau dalam Islam kita menafsirkan Al-Qur’an semata mengandalkan tekstual, itu sama memaksakan mythos (yang harus dicerna terlebih dulu) mentah-mentah jadi logos. Harus ada pertimbangan lain, e.g. asbabun nuzul, kias, dan relevansi penafsiran tersebut pada keadaan umat yang sekarang.
:::::
@ Shelling Ford
Terima kasih selalu.
:::::
@ morishige
Yup, itu salah satu konsekuensi dasar dari fundamentalisme. Karena sifatnya yang kaku, maka mereka menilai bahwa “yang berbeda dari pendapat mereka pasti salah”.
:::::
@ almascatie
Tesis dan antitesis mah sudah pasti bakal terus berlangsung. Dan ‘pertarungan’ diantaranya tambah rame karena ego para manusia yang memperkuat masing-masing kubu.
Satu-satunya cara menuju kedamaian, IMHO, semua dari kita harus berusaha menghargai yang lain. Entah itu fundamentalis dan modernis, atheis dan religius, agama dan agama, atau lain sebagainya. Kalau semuanya meninggikan diri sendiri, itu sama saja membuat perbedaan tambah runcing. ^^
:::::
@ putratomohon
Setuju.
November 4, 2007 at 3:45 pm
@ fertobhades
Mungkin karena aktivitas mereka lebih terlihat di dunia internasional saat ini…? (o_0)”\
Fundamentalisme Kristen yang paling terkenal (AFAIK, CMIIW) kalo gak salah yang antara Irlandia sama Irlandia Utara. Tapi mereka kan sifatnya regional, dan nggak terang-terangan menantang tatanan dunia saat ini. ^^
Waks, makasih masukannya.
Kalau begitu apa “fundamental” = “kembali ke dasar”? Soalnya “radikal” kan dari “radix” (akar). (o_0)”\
Soal itu, mungkin karena Sunni di sana dianggap mewakili semangat modern. Mereka cenderung lebih moderat dan nggak mengkultuskan keturunan dibanding Syiah. Makanya semangat kontra-sunni yang dibawa oleh Syiah dicap sebagai “fundamentalis”… IMHO.
(atau bisa juga itu cuma word-play untuk menggiring opini publik. God knows.
)
Ah, ditunggu.
November 5, 2007 at 9:27 am
Iya ya, kaya pikiran ‘dunia ini sudah rusak, kita harus balik lagi’
tapi kok ga bisa balik lagi yang tetep fleksibel ya?
Kan bisa ngambil yang baiknya dari versi asal dan versi baru,, atau ngga?
*tetep bingung*
November 5, 2007 at 10:52 am
sebenernya mereka mlakukan itu krn muak aja “dijajah” dan nasib mereka gak jelas di masyarakat.gak ada yg meduliin, dan mereka mlakukan itu agar dipedulikan.
Kehidupan yg pas-pasan, kurangnya pemahaman terhadap ajaran agama yg bener jg mempengaruhi mereka.
November 5, 2007 at 3:01 pm
OOT nih…
themenya agak meribetkan mata membaca. Beneran jadi kurag asyik dengan huruf-huruf jadi kecil
Cuma pendapat lho
November 5, 2007 at 7:25 pm
Tapi sebenarnya kan sama saja, munculnya keberanian sebagian kalangan untuk mengapresiasi sendiri masalah2 agama tanpa me-refer ke asalnya kan juga karena merasa agama “mainstream” (konservatif) gagal mengelola kehidupan ini. Jadi sama saja toh.
Khasanah keilmuan Islam sendiri [sesungguhnya] tidak mengenal istilah fundamentalisme ini, dan kadang kita latah aja menyandingkannya secara general kemana2.
BTW, kok suasana situs ini jadi kayak situs underground gitu ya … SEREM..
November 6, 2007 at 12:18 pm
hmm.. eden sudah dibebaskan, kan?
kenapa?
November 6, 2007 at 2:45 pm
@ Rizma
Yaa, harusnya sih bisa. Tapi semangat keagamaan model begitu kan biasanya malah nggak fleksibel, terutama buat menerima ide-ide baru di luar mereka…
Gitu deh.
:::::
@ toim the shinigami
Persis. ^^
:::::
@ alex
Wah, iya ya? (o_0)”\
Udah ada beberapa orang sih yang bilang begitu. Bentar lagi di-update, lah.
:::::
@ Herianto
Hmm, ada benarnya juga. Sebetulnya sih intinya memang pada mainstream itu sendiri. Kalau mainstream-nya dianggap mengecewakan, maka sudah pasti akan timbul gerakan yang meng-counter-nya.
Entah yang berkuasa itu sistem agama ataupun sekuler, selama mereka dianggap ‘mengecewakan’ oleh sekelompok orang, fundamentalisme masih akan mendapat tempat di dunia ini.
Euh, iya ya? ^^;;
Segera di-update deh tampilannya. Udah ada yang ngomong bahwa theme-nya terlalu gelap, sih. (o_0)”\
:::::
@ morishige
Nggak tahu.
BTW, itu agak kurang nyambung sama isi post-nya, IMO. Kita kan lagi membahas pergerakannya secara umum. (o_0)”\
November 6, 2007 at 3:02 pm
itu memang gw niatnya OOT
*menyesali diri
November 6, 2007 at 7:48 pm
[...] akhir – akhir ini sedang dalam kondisi buruk. Lalu adapun sebuah mayoritas massa memiliki teori fundamentalisme, cenderung tidak ingin mengalami perubahan dalam sesuatu yang mereka yakini. Penempatan [...]
November 9, 2007 at 1:49 am
Mudah saja kok,…
Kita harus menjunjung Tinggi nilai luhur PANCASILA karena itu memang penengah dari konflik yang melanda negri ini … PANCASILA
salam kenal ..
November 15, 2007 at 7:08 pm
[...] saya suka membahas hal-hal yang rada umum di blog ini. Misalnya soal fundamentalisme yang tempo hari, atau soal topik-topik yang “Indonesiana”. Tapi, untuk kali ini, saya [...]
Desember 5, 2007 at 8:03 pm
[...] menyaring dengan sempurna segala informasi yang beredar di dalamnya. Dari situs-situs dewasa hingga dakwa-dakwah agama fundamentalis, (hampir) semuanya ada di internet. Tergantung bagaimana konsumennya — dalam hal ini, pembaca [...]
Januari 28, 2008 at 3:44 am
[...] Itu memang relevan tapi tidak fundamental. Sekarang saya ingin menjadi seorang fundamentalis. [...]
September 14, 2008 at 11:05 pm
orang2 fundamentalisme itu seperti apa sich?
Juni 5, 2009 at 4:29 pm
Fundamentalisme, modernisme, sekularisme, libralisme, atau isme2 lainnya pada substansinya adalah mencari kebenaran dan pembenaran dari kebenaran yang mereka yakini. yang harus dipahami adalah tidak ada kebenaran yang mutlak “absolute relatifitas”. kalau kita semua sepakat kalau tidak ada kebenaran yang absolut, maka kenapa kita harus memaksakan kebenaran yang kita yakini kepada orang lain dan harus selalu mencari-masalah dengan menyalahkan kebenran yang orang lain yakini benar? bukankah kebenarn yang mutlak itu hanya milik Tuhan (Allah YME)? ingat pesan Rasulullah sebelum beliau meninggal bahwa diakhir jaman ummatnya akan terpecah menjadi 73 golongan, dan yang paling baik diantara mereka adalah yang menjalankan Al-Qur’an dan sunnahnya. kalau fundamentalis, modernis, liberalis, dan is2 lainnya menyakii itu, ya berarti mereka termasuk dalam satu golongan yang dimaksud nabi tersebut?lalau kenapa harus saling menyalahkan? tinggal bagaiman kita menjadi rahmatan lil alamin dalam kehidupan dunia ini.
GITU AJA KOK REPOT…..!!!!
September 29, 2009 at 10:07 pm
Aneh ya kalau melihat orang begitu getol mempertahankan ide atau asumsi dasariah bahwa nilai-nilai dan keyakinan (agama)nya paling benar, padahal menurut hemat saya, tidak ada hal yang mutlak di dunia ini, kemutlakan itu hanya milik Sang Absolut (Tuhan) sendiri. Lha, kenapa orang begitu ngotot memaksakan pendapat dan keyakian agamanya sebagai yg palin benar dan menganggap keyakinan atau paham agama di luar dirinya sebagai yang tidak benar. Dalam arti ini saya menyimpulkan bahwa kalau tidak hati-hati, fundamentalisme bisa menghambat komunikasi sosial antar satu sama lain, apalagi kalau orang yang beraliran seperti ini cenderung menjadi totaliter. Apakah bangsa kita bisa menjadi sebuah bangsa yang demokratis kalau klaim kebenaran berpendapat dan berkeyakinan itu dibatasi?