oleh sora9n
Bapak dan Ibu yang Terhormat,
Sebelumnya, kami sebagai generasi muda ingin mengucapkan terima kasih, terutama untuk kepercayaan yang Bapak-bapak dan Ibu-ibu berikan pada generasi kami untuk memperbaiki bangsa. Malah, kalau boleh jujur, kami merasa sangat tersanjung — karena kepercayaan sebesar itu telah dibebankan kepada kami sejak usia sangat belia.
Ya, kami ingat waktu kami masih SD, ketika upacara bendera rutin diselenggarakan di hari Senin. Pada kesempatan tersebut, pembina upacara selalu menekankan agar generasi muda bisa menjadi orang-orang yang berguna bagi nusa dan bangsa. Mengapa begitu? Alasannya sederhana saja: karena generasi tua tidak lagi memiliki banyak waktu untuk berkiprah di dunia ini. Sedangkan generasi muda masih mempunyai waktu dan jalan hidup yang panjang. Alhasil, generasi mudalah yang harus mengambil alih tanggung jawab untuk membangun bangsa, terutama di masa depan.
Sejak kami SD, hingga SMP, dan lantas SMA, kami terus-menerus diberi beban kepercayaan tersebut. Generasi muda adalah ujung tombak pembangunan bangsa. Generasi tua yang sekarang harus dilanjutkan oleh generasi muda yang lebih baik. Bahkan, lebih hebat lagi, kamilah yang diharapkan untuk memperbaiki keadaan bangsa yang sudah bobrok ini. Mulai dari korupsi, kolusi, nepotisme; hingga masalah kemiskinan dan kesejahteraan umum, semuanya adalah tanggung jawab generasi muda. Tanya kenapa? Karena generasi tua sudah tidak bisa lagi berperan besar di dunia nyata. Itulah yang sering saya dengar.
Bapak dan Ibu yang terhormat,
Kami tahu bahwa kalian lebih senior daripada kami, generasi muda pada umumnya. Usia kalian mungkin sama dengan usia ayah dan ibu kami. Dan ya, kami juga tahu bahwa kalian sudah bekerja sekeras mungkin dan tetap gagal — sehingga kemudian mewariskan tanggung jawab perbaikan bangsa kepada kami. Kami sangat tersanjung, karena anak-anak ingusan seperti kami diberi tanggung jawab semacam itu: memperbaiki bangsa!
Bayangkan, anak-anak muda seperti kami menjadi harapan untuk memperbaiki sebuah negeri tujuhbelas ribu pulau. Dengan dua ratus juta penduduk yang masih terus bertambah. Ini sungguh suatu kehormatan besar dari generasi tua yang melungsurkan tanggungjawabnya pada kami.
Kami bangga, dan terharu. Oleh karena itu, kami akan berjuang sebaik mungkin untuk memenuhi harapan Bapak dan Ibu. Agar generasi kami bisa menjadi penyelamat bangsa yang tengah sekarat ini.
Terima kasih atas semua sampah birokrasi di negara ini, yang asalnya dari generasi Bapak dan Ibu sekalian. Terima kasih pula untuk raja-raja kecil yang tak berkualitas diantara kalian, yang harus kami gusur kelak di masa depan. Dan terima kasih pula atas pelimpahan tanggung jawab yang semena-mena, setelah Anda sekalian gagal mengurus bangsa. Semua itu kini menjadi tanggung jawab kami, generasi muda, untuk membereskannya — bukankah seperti kata orang, “idealisme hanya dimiliki oleh anak muda saja” ?
Oleh karena itu, ketika Anda hendak bersantai, menikmati hari tua, dan melupakan semua beban itu, doakanlah agar konsistensi dan keberhasilan selalu menyertai kami — dalam usaha besar mewarisi tanggung jawab Bapak dan Ibu sekalian.
Salam hormat selalu,
Generasi (yang katanya) muda dan bisa memperbaiki bangsa.
—–
Terkait:
OMG! – Potret Raja-Raja Kecil Kita
Sora-kun – Bapak dan Ibu yang Terhormat, JANGAN sentuh Laptop Itu
November 12, 2007 at 9:18 am
saya juga anak muda! *ngakungaku*
walopun ga ngerti banget maksut tulisan di atas
November 12, 2007 at 9:20 am
@ caplang™
Coba dibaca lagi pelan-pelan, dan diresapi maknanya. Ntar juga ngerti, kok.
November 12, 2007 at 10:06 am
bukannya
anak mudabelum tua belum boleh bicara??*niru iklan*
November 12, 2007 at 4:36 pm
*Ibu2 mode:ON*
Ah, ga perlu berterima kasih begitu. Ibu juga dapet semua itu sebagai warisan dari nenek moyangmu, Nak.
Ini
dosaWarisan turun temurun. Sekarang waktumumemanfaatkannyamemperbaikinya.*Ibu2 Mode:OFF*
November 13, 2007 at 12:38 pm
haha, mahasiswa aja masih pada nyontek dan titip absen, mana bisa diserahi tanggung jawab memperbaiki kebobrokan bangsa ini?
kalo nyontek paper buat bahan pembahasan laporan atau titip tugas ke asisten sih gapapa
eh, ini maksudnya sarkasme ya?
November 13, 2007 at 1:56 pm
Masihkah?

dan kalo emang masih, bertahan lama kah?
*Ma ga mau pesimis, tapi susah*
Ups, ga nyambung sama postnya ya?
November 13, 2007 at 3:01 pm
Aduh maaf sebelumnya, kok saya ndak begitu paham maksudnya nggih mas.
Gimana yah maksudnya, apakah maksudnya semua kebobrokan sistem di negara ini adalah ulah generasi tua dan sebagai generasi muda tidak seharusnya menanggung semua itu. Generasi muda seharusnya mendapatkan warisan yang terbaik.
Waduh, kalau saya sederhana saja mas.
Kita faktanya hidup dalam sistem yang amburadul tersebut.
Saya mungkin tidak mampu mengubah sistem atau orang lain, namun saya akan sekuat tenaga mengubah diri sendiri supaya tidak menjadi satu dengan sistem yang korup. Dan itu bukan pekerjaan yang mudah
November 13, 2007 at 3:15 pm
Biasanya kala masih muda penuh semangat yg idealis, tapi tunggu entar kalo udah tua…..
nggak ada bedanya..
November 14, 2007 at 9:28 am
@ cK
Wah, itu sih contoh yang sebaliknya.
Tanya kenapa…
*ikutan ngiklan rokok:::::
@ calonorangtenarsedunia
Ah, terimakasih Bu… sekarang baru saya paham duduk masalahnya. Ternyata kita ini senasib, ya.
:::::
@ rifu
Lah, makanya kita harus makin berterima kasih. Buktinya generasi kayak begitu itu masih dipercaya memperbaiki bangsa.
:::::
@ Rizma
Kalau dipasang iklan mungkin begini:
:::::
@ sigid
Eh, bukan begitu… ^^;;
Maksud saya, kebanyakan orang tua kan bilang “generasi muda harus bisa lebih baik untuk memperbaiki bangsa”. Padahal, kenyataannya, yang turut bikin rusak kan dari generasinya mereka juga.
Turut bikin rusuh, tapi nyuruh penerusnya buat nyuci piring. Lha, itu gimana?
Ah, setuju.
Walaupun kenyataanya memang
susahterkesan mustahil juga, sih…:::::
@ hezekia
That’s it. Kalau udah tua dan udah nggak idealis, tinggal nyuruh generasi muda buat beresin masalahnya. Very convenient, indeed.
November 14, 2007 at 11:07 am
kayak di pilem2 kungfu itu lho…, generasi muda sblm pantas utk turun gunung disuruh nyapu, ngepel dan nimba air dulu hehehe…
November 14, 2007 at 11:51 pm
Dulu, saya dan Imam, temen saya, pernah dikusi di kereta. Kami mempertanyakan hal yang cukup simpel. Pertanyaannya yaitu, “Kalo Gie (Soe Hok Gie) masih idup. Apakah dia di parlemen atau masuk partai?”
Kami naik kereta cukup lama. Tidak bisa menjawab pertanyaan itu.
Sebab, Gie emang udah meninggal. Mana bisa njawab.
Oom Mari’e (Mari’e Muhammad) yang terkenal sungguh keras dan jujur, pun masuk parlemen. Ustadz Lopa (Baharuddin Lopa) pun ikut masuk parlemen.
Kalau masih hidup, apakah Gie akan masuk parlemen?
Dan andaipaun masih hidup dan masuk parlemen. Akankah beliau tetap memegang cita-citanya?
Entah mengapa? Saya optimis aja menjawab “Iya”.
Sama optimisnya ketika membaca tulisan ini.
November 15, 2007 at 8:55 am
Aq bukannya pesimis dengan orasi di atas tapi kenyataanya memang begitu, siapa yg sekarang pd pegang jabatan dan jg duduk di DPR yg terhormat yg sarangnya pr koruptor bercokol kalo bukan angkatan yg dulu muda dan begitu idealis (angk. 66)
November 15, 2007 at 3:47 pm
@ CY
Hmm… jadi setelah ‘lulus’ menimba air, ngepel, sama nyuci gitu boleh menikmati kehidupan ‘dunia’ dong?
misalnya menikmati sabetan di DPR, koneksi menteri…mengikuti contoh generasi yang lebih tua
:::::
@ arifkurniawan as bangaiptop
Euh… bagaimana kalo dia ternyata nggak ke dua-duanya? Siapa tahu dia jadi wartawan yang nulis kritik pedas lewat majalah atau koran…
Hueeh… ^^;;
Wah, senangnya kalau tulisan saya bisa menimbulkan optimisme di hati orang.
*ditimpuk*
:::::
@ hezekia
Yah, memang kenyataannya begitu, sih. Tapi orang-orang yang sekarang di atas sana juga nggak semuanya separah itu IMO… bukankah masih ada contoh semacamnya Pak Lopa dan Kapolri Sutanto?
Walaupun harus diakui juga sih, kalau jauh lebih banyak yang jelek. Link-link yang ada di atas kayaknya cukup menggambarkan.
November 15, 2007 at 6:12 pm
Mudah-mudahan generasi muda zaman sekarang memang bisa membetulkan negara ini dan menambal apa yang diberikan oleh generasi muda zaman dahulu.
Jujur saja, dengan jumlah generasi muda zaman sekarang yang ratusan ribu (atau puluhan ribu ya), saya rada ngga yakin bahwa sejarah tak akan terulang. Justru sebaliknya.
Tapi, yah, harus tetap optimis, deh.
November 17, 2007 at 12:04 am
[...] yang terlupakan oleh sejarah Namanya memberi ingatan bertuah Terlupakan oleh belaian bermewah Untuk terkujur beku, terhapus [...]
November 17, 2007 at 3:07 pm
Kalo Gie masih ada dan tdak masuk partai atau parlemen mungkin dia ikut-ikutan ngeBlog kayak kita-kita….
November 19, 2007 at 3:46 pm
He he, mungkin maksudnya generasi penerus itu juga mencakup meneruskan usaha beberapa generasi tua untuk memperbaiki bangsa. Tapi ndak meneruskan ngerusak loh
Terkesan mustahil namun ndak mustahil kok
November 19, 2007 at 4:27 pm
@ sigid
*mengaminkan*
Yah, mari kita berdoa, supaya kesan tersebut memang sesat dan menyesatkan.
November 20, 2007 at 12:52 am
ehmm…sekedar berfendafad negh kawand, kalo buad saia ini sih seferti lingkaran setan…
ntar kalo generasi kita uda uzur, ya ntar kita tinggal bilang aja
“wahai generasi muda, kalianlah ujung tombak fembangunan”
dan begitu seterusnya…..
mhuahuahuahau
endonesa…oh…endonesa
SH*T..(oopss..)
November 20, 2007 at 2:43 pm
@ hoek
IMO, sebetulnya nggak masalah kita ngasih tanggung jawab ke generasi muda nantinya. Itu kan keharusan…
Cuma, masalahnya, generasi tua yang sekarang nyuruh-nyuruh generasi muda buat beresin bangsa. Padahal generasi mereka sendirilah yang andilnya besar dalam membuat bangsa terpuruk.
Apa bukannya cuci tangan tuh namanya?
November 22, 2007 at 2:54 pm
Mbok kalo sama orang tua jangan sarkasme gitu to
November 22, 2007 at 3:04 pm
@ Yu Djoem
Lho, nggak sarkasme kok Yu… ini kan sindiran.