oleh sora9n
Di sebelah kamar saya, ada keluarga
Kecil.
Anak mereka yang pertama masih SD
Yang kedua mungkin baru setahun kurang
Di sebelah kamar saya, ada keluarga
Mereka tinggal di satu kamar
Ngekos
Saya tak tahu sang ayah kerja apa
Di sebelah kamar saya, ada keluarga
Sang ibu baru saja menelepon
ke ibu guru, tampaknya
dan bertanya:
“Berapa total harga buku paketnya Galih[1], Bu?”
Diam sejenak.
Terdengar bunyi “heeh, heeh”
Suara si ibu
Lalu ia berkata “dua empat lima ya bu…”
…
…
Di sebelah kamar saya, ada keluarga
Kecil. Cuma empat orang
Tapi biaya buku paket anaknya
Lebih besar daripada biaya kos saya sebulan
Di sebelah kamar saya, ada keluarga.
—-
Catatan:
[1] Bukan nama sebenarnya. Selain itu, semua yang ditulis di atas benar-benar terjadi pagi ini.
*) Gaya penulisan terinspirasi dari postnya Kopral Geddoe.
Desember 7, 2007 at 11:19 am
OOT :

kostnya keren, bisa untuk keluarga juga
________________________
kadang memang biaya pendidikan kian tidak masuk akal, dan kebanyakan hanya tepekur, menatap jari kaki
trims bro, menggelitik
Desember 7, 2007 at 11:58 am
masih banyak keluarga yang bertempat tinggal dengan menyewa kost. mungkin inilah yang menjadi alasan kenapa beberapa teman saya menunda pernikahannya. karena belum ada tempat tinggal tetap…
Desember 7, 2007 at 12:26 pm
yah… di jkt mmg banyak keluarga yg tinggal di kamar kost. dan kenapa harga buku kok mahal? kan katanya ada BOS? atau BOS-nya di tilap si boss he??
Desember 7, 2007 at 1:54 pm
Iya tuh.. di tipi kan juga ada iklan..
buku2 nya dipinjemin ama sekolah
Desember 7, 2007 at 1:57 pm
mudah-mudahan Galih bisa terus bersekolah
supaya ktemu dengan Ratna
Desember 7, 2007 at 2:10 pm
Dan kita masih saja membuang-buang omongan sia-sia sambil terus tertawa…
Keep on work Sorang!!
Desember 7, 2007 at 2:43 pm
semakin lama belajar, semakin saya tahu bahwa saya tidak benar-benar membutuhkan buku. kalau mau jujur, sejak kuliah saya cuma mengandalkan slide untuk belajar… dan baca buku sekali-kali.
untuk anak SD, kalau lembar kerja sih lain urusan, yah. lagipula, itu relatif lebih murah, sih.
…tapi, buku?
~saya
~kenapaTanya -___-”
Desember 7, 2007 at 3:30 pm
kamarnya disebelah mana ?
Desember 7, 2007 at 3:34 pm
Saya juga bingung, sekolah gratis tapi suruh bayar buku yang duitnya lebih banyak dari pada ongkos SPP, ah mending bayar SPP aja kalo gitu *telpon pak mentri*
Desember 7, 2007 at 4:08 pm
bang, bukankah lebih baik tertawa menghibur hati
daripada tertekan menghadapi problema?
bukan untuk melupakan
tapi menghimpun tenaga untuk perjuangan berikutnya
Desember 7, 2007 at 4:22 pm
nah ketauan… nguping ya…
Desember 7, 2007 at 8:37 pm
Walah… Kost di Bandung mahal ya.
Desember 7, 2007 at 10:02 pm
Sora gak tau kepala keluarga di kamar sebelah kerja apa…? BTW kos disitu murah ya…
Desember 8, 2007 at 1:17 am
*terharu
Desember 8, 2007 at 11:27 am
klo dah tau si ibu kesulitan, bantuin donk.Kan masih ada susuk (kembalian) dr bayaran kos2-an kmu, sora
Desember 8, 2007 at 2:58 pm
bahkan orang miskin masih bisa nelpon
*prediksi saya si ibu nelpon pake telpon pribadi aka handphone*
Desember 8, 2007 at 3:06 pm
@celo
HP sekarang ini bukan termasuk barang mewah lagi acho…, 200rb dah bisa dapet satu kok. Lagian kalo dikamar ga ada telpon, trus kalo keluarga lain mo hubungi kemana?? ke telponnya ibu kos kah?? ga direpetin kah??
Desember 9, 2007 at 8:33 pm
@ goop
Betul, kosnya memang keren. Bahkan satu kamar itu bisa dipasangi kompor dan TV segala buat ruang keluarga.
[/sarcasm
]
Ah, sama-sama. ^^
:::::
@ cK
Yup, yup. Bukan cuma rumahnya doang malah… harga tanah juga ikutan mahal lho sekarang.
:::::
@ CY
Mana saya tahu. Yang jelas yang di atas itulah yang saya denger di kosan tempo hari.
:::::
@ Funkshit
Wah, saya kurang tahu tuh mas. Di kamar saya nggak ada TV, soalnya.
::::
@ caplang™
He? Siapa tuh Galih dan Ratna? (o_0)”\
*rasanya pernah denger, tapi nggak inget di manaa, gitu* ^^;;
:::::
@ manusiasuper
Lha, kok jadi sorang?? ^^;;
:::::
@ yud1
Si ibunya bilang “buku paket” kok. Kalau LKS sih, seinget gw, harganya memang paling mahal belasan ribu satu item…
Yaa, masalahnya anak SD (dianggap) belum punya kemampuan + tanggung jawab untuk memilah buku dan pelajarannya. Fase pembelajaran mereka kan masih lebih ke arah “disuapin”, bukannya “makan sendiri”. ^^;;
:::::
@ harriansyah
Di sebelah kamar saya. Kan udah saya tulis dari tadi… ^^;;
(betulan lho)
:::::
@ annots
Wah, udah ditelepon Mas? Gimana, apa kata pak menterinya?
:::::
@ caplang™ (lagi)
Hohoho! Betul banget. Makanya blog ini punya kategori satire buat menghibur penulis dan pembaca.
:::::
@ konsultan
Bukannya nguping, mbak. Jadi saya itu kemaren habis begadang ngerjain tugas. Baru mau rebahan sekitar jam setengah tujuh pagi, tapi nggak bisa tidur.
Terus kedengaran deh dialog itu… makanya saya tulis buat di-post di sini.
:::::
@ rozenesia
Hus, jangan samakan dengan kota lautan pelajar™ dong.
:::::
@ jensen99
Umm, saya nggak tahu kalau bapaknya kerja apa. Kalau ibunya sih sering saya lihat bantu-bantu nyuci buat laundry kosan… (o_0)”\
Iya, kosnya memang murah kok. Makanya saya nggak pindah-pindah. ^^
:::::
@ morissupersaiya™
*saya juga kok pas kemaren itu*
:::::
@ toim
Lha, iya. Tapi saya kan harus nabung, Mas. Memangnya saya mahasiswa tajir?
:::::
@ celo
Memang iya. Beliau pake handphone. Nggak tau merek apa, tapi yang jelas ringtone-nya masih monophonic. ^^
BTW, itu wajar, kali. Emangnya ente nggak pernah liat penjual buah di kios-kios nenteng HP? (o_0)”\
:::::
@ CY
Yup, betul. Ditambah lagi kartu perdananya nggak mahal2 amat. Terutama IM* tuh… isi pulsa sama SMS-nya murah pula. (o_0)”\
Desember 10, 2007 at 1:53 am
yang jadi masalah. kadang kalo nggak punya buku bisa disetrap.
di sekolah saya dulu malah ga boleh pake buku fotokopian. kata gurunya harus asli. benar2 guru yg ‘anti pembajakan’
bikin males sekolah…
Desember 10, 2007 at 1:34 pm
kayaknya dosen kita juga masih ada deh joe yang kayak githu.. nggak boleh pake buku bajakan, fotokopian, bahkan sampe software bajakan juga.. hohoho…
Desember 10, 2007 at 1:37 pm
*itulah Indonesia*
Desember 11, 2007 at 8:31 am
Banayak kejadian sehari-sehari kita lihat seperti ini. Malam minggu lalu saya ketemu anak yang berhujan-hujan dan kesulitan karena beratnya beban berjualan cobek batu
Dana BOS cuma mapir ke pejabat yang terkait pendidikan n gak pernah sampai ke anak-anak miskin itu
Desember 11, 2007 at 4:15 pm
@ Shelling Ford
Weh, sampai segitunya?
*syukurlah dulu pas sekolah keadaannya nggak gitu2 amat* ^^;;
:::::
@ trojan
Hmm, mungkin itu artinya dosen sedang mencontohkan, supaya mahasiswanya pada taat hukum Mas.
:::::
@ Jabz
Janganlah pesimis begitu; nggak semua orang Indonesia keadaannya separah itu kok.
[/optimis]
:::::
@ n0vri
Susah mengharapkan dana yang ‘bersih’ kalau birokrasinya udah model begini, Mas…
*teringat sama post-nya Bang Aip*
Desember 16, 2007 at 6:07 pm
Hehehe… money talks….
Algojo di Indonesia itu ternyata uang ya…hehe
Juni 2, 2008 at 2:10 pm
[...] pingin nyoba niru geddoe dengan AC nya tapi gagal total… akhirnya malah njiplak keluarganya [...]