oleh sora9n
-
Catatan awal (ditambahkan 15 Desember 2007)
Post ini secara garis besar membahas perilaku sebagian umat Islam (radikal) di tataran global. Oleh karena itu, isinya tidak mutlak mencerminkan keadaan umat Islam dunia per se.
Tempo hari, ketika sedang mencari data untuk mengerjakan tugas kuliah, saya sempat ‘nyasar’ ke berbagai situs dan blog yang membahas tentang aktivitas Islam radikal di dunia internasional.
OK, OK, Anda mungkin bosan mendengar saya mengoceh lagi dan lagi dan lagi tentang radikalisme agama yang saya menjadi anggotanya ini. Sesungguhnya, ini belum apa-apa — karena, aslinya, tugas makalah yang saya kumpulkan kemarin itu memang sedikit menyinggung propaganda jihad di masa kini. But, for the sake of few things… mari kita kesampingkan hal itu untuk saat ini.
Nah, kembali ke topik.
Jadi, ketika saya sedang sibuk googling tema-tema yang berkaitan, saya menemukan beberapa blog yang membicarakan hal sejenis. Saya tak akan berpanjang-panjang menulis semua yang mereka bicarakan — sebagai gantinya, saya akan menyampaikan kutipan yang terdapat di salah satu blog tersebut.
Doesn’t it strike folks strange that Muslims are upset at the Pope’s comments about Islam being a violent religion, then they turn around and threaten to hang him and commit jihad across the globe? I guess they don’t see the irony in their actions and words.
Kalau Anda seorang muslim, harusnya Anda merasa tertohok oleh tulisan orang yang (kelihatannya) merupakan nonmuslim tersebut. Mengapa?
Saya beri kesempatan untuk berpikir.
…
…
…
…
…
Sudah ketemu jawabannya? Kalau belum, biar saya jelaskan dengan berbagai contoh kasus di bawah ini.
Pertama:
Agama Anda disatirkan sebagai agama teroris dan tukang bom oleh sebuah harian umum di Denmark. Sudah barang tentu Anda marah besar. Tapi, apa yang terjadi selanjutnya?
Ternyata umat Islam malah berbuat kerusuhan dan marah-marah di seluruh dunia. Bahkan sebuah bom hampir saja meledak dalam gerbong kereta di Jerman sebagai buntutnya. Di sisi lain, sebagian besar umat kemudian mengutuk-ngutuk negeri Denmark sebagai “ancaman besar terhadap Islam”.
Ironis? Jelas iya. Ketika umat Islam dikatakan sebagai pengikut agama yang kejam dan berjiwa teroris, mereka kemudian marah atas stigmatisasi tersebut. Tapi ternyata… kelakuan mereka sebagai respon tak beda jauh dari stigma yang dituduhkan. Kalau Anda adalah seorang muslim. Mau dibawa ke mana muka Anda?
Toh kenyataannya masih ada cara-cara lebih beradab yang bisa dilakukan. Boikot ekonomi dan tindakan diplomatis jauh lebih bermartabat daripada jutaan sumpah-serapah dan pengeboman, bukan?
Kedua:
Paus Benedict memberikan pidato yang membuat kaum muslim kecewa berat. Konon, dalam pidatonya tersebut, sang Paus dianggap melecehkan agama Islam sebagai agama penuh kekerasan dan disebarkan dengan pedang.
Apa yang terjadi? Umat Islam rusuh lagi. Dua gereja ortodoks di Tepi Barat dilempar molotov; konon sebagai respon atas ucapan Paus tersebut. Sampai-sampai ada yang minta agar Paus tersebut digantung. Padahal, apa yang terjadi? Konon sebenarnya Paus sedang mengutip dokumen kuno dan tidak terang-terangan menyatakan opini pribadinya (transkrip pidato [di sini]).
Tapi, mari kita singkirkan soal kutipan-atau-bukan itu. Masalahnya cuma satu:
Kalau Anda merasa tersinggung dianggap kejam dan cinta kekerasan, BUKTIKAN SEBALIKNYA!! Bukannya bertindak agresif dan kampungan model begitu!
Sekali lagi. Mau dikemanakan muka Anda? Tak peduli Anda bilang bahwa agama Anda bukan “penyebar teror”, kenyataan tetap kenyataan. Umat Islam sendiri malah seolah menguatkan pernyataan tersebut — dengan cara seperti yang saya jelaskan di atas.
Kalau Anda tanya saya, kebencian tak akan pernah menyelesaikan masalah. Sekarang, salah siapa kalau orang-orang di Amerika dan Eropa memprasangkai “Islam” sebagai biang kekerasan? Harusnya kita (umat muslim) meng-uswah-i apa yang disampaikan oleh Pak Din Syamsuddin sehubungan dengan kasus di atas itu; sebagaimana yang akan saya kutipkan di bawah ini.
“Kita tidak akan mengirim pernyataan ke Vatikan,tetapi mari kita buktikan Islam sebagai agama kasih, tidak hanya dengan kata-kata tapi dengan tindakan.’[sumber]
Ketiga:
Amerika Serikat (AS) menginvasi Irak dan Afghanistan. Seluruh dunia Islam meradang karenanya. Konon Presiden Bush Jr. melakukan invasi tersebut untuk melawan terorisme, yang (menurut rahasia umum) merupakan kamuflase dalam merujuk umat Islam dunia.
Nah, umat Islam marah besar. Penyebabnya dua hal: Pertama, AS menyerang dua negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam tanpa alasan yang jelas. Kedua, secara implisit umat Islam dikesankan sebagai biang teroris yang harus diperangi.
Sudah tentu umat bereaksi… dengan cara yang sama seperti dua kasus sebelumnya
. Aduh, sial — umat ternyata terbawa nafsu main generalisasi. Bukan saja Pak Bush dan stafnya yang disumpahi masuk neraka dan ditimpa azab; seluruh rakyat Amerika pun terkena bonus ikut dianggap “laknatullah”. Padahal sudah jelas ada sebagian di antara mereka yang menolak kebijakan perang sang Presiden.
Yang lebih payah lagi, pada saat rakyat Amerika merana diterjang badai Katrina dan kebakaran besar California, dua peristiwa itu dianggap AZAB pemberian Allah. Beberapa gelintir kaum muslim bahkan terang-terangan mensyukuri peristiwa “bahagia” ini.
Hei Bung, Amerika bukan cuma orang jahat saja isinya! Memangnya Anda bahagia kalau muslim Amerika sekaliber Pak Jeffrey Lang tewas terkena badai? Anda bahagia kalau sutradara kritis semacam Michael Moore mati diazab Allah?
Anda mungkin masih berani bilang umat Islam itu mengedepankan toleransi. Padahal, kenyatannya, mereka justru bersikap tidak patut. Kalau Anda benci pada pemerintahnya, bukan berarti Anda OTOMATIS harus membenci seluruh warganegaranya!!
Yang kayak begini inilah citra umat Islam di mata dunia. Pembenci dan kampungan. Seandainya ayah tetangga Anda hobi berantem di klab malam, bukan berarti istri dan anaknya juga layak dibenci. Jika pemerintah Amerika bersikap menyebalkan, bukan berarti seluruh warganegaranya boleh Anda laknat seenaknya.
Kalau meletakkan kebencian saja masih salah tempat, bagaimana bisa Anda mengklaim bahwa umat Anda itu “mengutamakan kasih sayang”?
***
…
…
Terkadang, saya berpikir. Mungkin memang umat Islam ini punya kelemahan yang sangat mendasar. Entah kenapa, jika mereka merasa dikritik karena sikap kerasnya, mereka justru membalas kritik tersebut dengan sikap defensif yang sama kerasnya. Ironis.
Terkadang saya juga berpikir, bahwa umat Islam ini sebagian besarnya bukan umat yang siap menerima kritik. Disindir habis-habisan model tulisannya wadehel, mereka marah. Disampaikan model baik-baik dan sopan, yang kontra pun masih ada. Dituduh teroris? Mereka malah semakin keras menyumpah dan melaknat pihak yang menyebut diri mereka teroris.
Pada akhirnya respon umat hanyalah membuktikan tuduhan yang sudah dilemparkan pada mereka sebelumnya. Menyedihkan sekali.
Religion of Hypocrites, anyone?
Desember 11, 2007 at 4:18 pm
wah…umat islam mesti introspeksi lagi tuh…
*padahal sendirinya umat islam juga*Desember 11, 2007 at 4:25 pm
entahlah apa yang ada dalam benak umat islam, mungkin mereka merasa mayoritas(secara jumlah!) hingga merasa memiliki otoritas.mari kita buktikan (umat)islam sebagai RAHMAT LIL ‘ALAMIN…..
Desember 11, 2007 at 4:30 pm
@ cK
*sok menasihati mode = on*
Makanya, jadi orang itu yang mawas diri mbak…
*sok menasihati mode = off*
:::::
@ saifullah
Mungkin memang karena faktor jumlah; di samping itu mungkin juga karena umat juga merasa ditindas terus-menerus oleh Barat. Sehingga dijadikan pembenaran untuk berbuat anarkis. (o_0)”\
Setuju.
Desember 11, 2007 at 6:25 pm
saya bukan muslim, tapi boleh komen kan? memang mungkin itu yang namanya oknum kali ya. yang gak memahami kalo kita ini masih hidup di dunia yang diverse. saya tiga tahun tinggal sekamar di kost dengan teman yang berjilbab, dia rajin puasa senin-kamis dan tahajud, dan dia masih baik sama saya. gak anti sama saya yang non muslim. jadi kayak saudara malah ampe sekarang. makanya kok saya menyayangkan aja tindakan2 defensif yang akhirnya menjurus ke anarkis itu. karena masih banyak cara untuk menjadikan dunia ini lebih baik selain saling menyerang hanya membuktikan siapa menang – siapa kalah, siapa benar – siapa salah.
Desember 11, 2007 at 6:50 pm
@ chrisibiastika
Ah, silakan komentar. Nggak apa-apa kok. ^^;;
Iya, memang dalam beberapa hal saya juga beranggapan demikian. Ini lebih ke arah semangat keagamaan umat Islam (global) yang cenderung berlebihan dalam menerapkan agamanya… sayangnya citra macam inilah yang justru sering ‘ditangkap’ oleh media internasional. (o_0)”\
Padahal Nabi Muhammad pun pada waktu berdakwah pernah diolok dan dihina. Meskipun begitu, justru beliau menjenguk orang yang menghinanya itu di kala si penghina itu terbaring sakit.
Menurut saya, harusnya teladan macam ini yang diambil oleh umat Islam ketika dihina… bukannya justru dengan berbuat anarkis seperti di atas. Tapi ini opini saya aja sih.
Setuju.
Desember 11, 2007 at 7:10 pm
Kalo kata singkatnya:
Sesuatu itu di nilai dari perbuatannya.
Desember 11, 2007 at 8:59 pm
Parahnya, kecenderungan manusia untuk menangkap yang negatif.
Yang positif seakan ga dianggap, yang negatiflah yang diumbar, diobral.
Desember 11, 2007 at 9:48 pm
ada orang “goblok” yang salah menafsirkan tulisan di atas ini lagi ga, ya?
*menanti…*
Desember 11, 2007 at 11:00 pm
Heheheeee… Menanti juga.
Biar diskusinya seru kah, om Joe?
Desember 11, 2007 at 11:37 pm
pusing juga diskusi agama o_O?
Desember 12, 2007 at 12:26 am
@Sorang
Emang mas, Karena kebanyakan bahkan mayoritas umat islam adalah Moderat, tetapi mereka adalah silent voters, makanya gaung mereka meski banyak nggak begitu terasa pengaruhnya
sedangkan mereka yang extreem dan narrow minded meski sedikit tapi mereka aktif dan agresif
Silahkan klik di sini …
http://retorika.wordpress.com/2007/12/10/hidup-damai-dan-adil-adalah-impian-pancasila/#comment-459
bahkan nyuruh sesama mereka damai pun beresiko tinggi …
http://retorika.wordpress.com/2007/12/07/edan-nyuruh-orang-damai-malah-diancam-dan-dicaci-maki/
@Suneo
Kamu Kapir suneo…kamu mau aku pukul?
Desember 12, 2007 at 10:17 am
@ danalingga
Yup, yup. ^^
:::::
@ rozenesia
Katanya sih,
:::::
@ Shelling Ford
*ikutan menanti*
:::::
@ rozenesia (lagi)
Sebetulnya ente ini berharap diskusi tambah ribut, atau berharap dunia jadi damai?
:::::
@ shinobi
Yaah, kalau udah menyangkut keyakinan sih… biasanya memang bakal jadi kayak gitu Mas. ^^;;
:::::
@ RETORIKA
Lho, kok jadi “Sorang”? ^^;;
Nama saya “Sora” oiii…
Iya sih, ada betulnya juga. Kalau kita lihat, biasanya justru minoritas yang garis keras (i.e. FPI, MMI, Wahhabi) yang lebih sering masuk TV dan koran. Yang moderat ya, karena kesannya “umum”, jadi nilai beritanya juga kurang buat masuk media IMO. (o_0)”\
BTW, ya, beberapa memang cenderung nggak mau berdamai. Persis seperti yang Mas bilang di post-post tersebut. Kalau udah soal keyakinan, ini susahnya — biasanya orang bakal keukeuh habis-habisan dan jadi susah menerima pendapat pihak ‘lawan’-nya…
Desember 12, 2007 at 10:24 am
semua kembali ke diri kita masing2…dan kita tidak boleh secara sepihak menyalahkan agama. bisa saja memang teroris memeluk islam tapi jangan salahkan agama Islamnya tapi salahkan oknumnya. Islam mengajarkan kebaikan dan perdamaian. tapi kalo yang diajarkan agama itu ga mau tau mo gimana lagi. kalo mo menyalahkan Islam saja, memang pemeluk agama lain tidak ada yang melakukan terorisme, brutalisme, dan isme2 yang lain. jadi jangan asal menyalahkan
*mode sabar ON
lebih kejam terorisme gaya orang Islam yang jadi teroris atau gaya yang mengatasnamakan pemberantasan teroris (Gaya Bushit…….)
Desember 12, 2007 at 10:36 am
@ Rommy
Yup, setuju. Seperti yang saya tulis di atas, “Islam” seharusnya bukan agama teroris. Sayangnya, di tataran global, perilaku umatnya justru kurang mencerminkan semangat itu.
Kalau umat dituduh teroris, lantas responnya adalah meradang dan membuat rusuh. Apa nggak ironis tuh?
“An eye for an eye will make the world blind”
–Mahatma Gandhi
Desember 12, 2007 at 11:34 am
yang salah bukan ajarannya, tapi penganutnya. menurut gua sebagai muslim kita mungkin terlalu merasa ajaran yang paling sempurna, sehingga gampang tersulut amarah apabila dikritik,,
memang kalo dikritik itu gak enak dan kita cenderung melakukan counter. Tapi seyogyanya kita introspeksi,,
apakah kita sudah ngamalin dengan benar ajaran yang sempurna itu?
Desember 12, 2007 at 11:39 am
@ devino
Yup, setuju. Bukannya dengan marah-marah dan justru ‘membenarkan’ tuduhan yang dilemparkan dengan tindakan kita itu.
Nah, ini pertanyaan yang susah dijawab. Hanya Allah yang tahu apakah seorang muslim itu sudah benar-benar mematuhi jalan yang dikehendaki-Nya. Sebagai manusia, kita tahu apa, selain menebak-nebak dengan sedikit ilmu yang ada?
Desember 12, 2007 at 11:45 am
Untuk mendamaikan, ada kalanya harus perang dulu.
Tapi bagusnya langsung damai aja deh.
(mimpi)
Desember 12, 2007 at 11:51 am
*berfikir untuk murdad*
gyahahahahaha…
Desember 12, 2007 at 12:02 pm
@ rozenesia
BTW, ente pernah nonton Gundam SEED nggak sih? Rada mirip omongannya mbak Lacus, soalnya.
:::::
@ Hoek Soegirang
Hus, jangan gamfang menilai suatu agama/aliran dari tingkah laku fengikudhnya, akhi…
Desember 12, 2007 at 12:10 pm
Walah-walah…..Umat Islam lagi..umat Islam lagi. Lha Coba lihat Amerika diserang sama hantu aja (pelakunya belum diadili secara terbuka) sampai Twin Tower Rubuh emangnya nggak marah…?, sampai memBABI buta menyerang Afghanistan dan Irak….? kalau cara menyikapinya yang salah lalu bagaimana, wong Amerika saja menyikapinya juga salah…Yang salah adalah diri kita sendiri..hanya bisa menyalahkan…, Coba negara kita diserang Amerika apa ente nggak mencak-mencak…
Peace……..he..he..he..
Desember 12, 2007 at 12:22 pm
@ daeng limpo
Masalahnya bukan marah atau nggak marah Pak. Masalahnya adalah…
(1) Orang-orang menuduh umat Islam teroris
(2) Umat tersinggung
(3) Ternyata umat melampiaskan dengan berbuat anarkis
Lha, itu apa bukannya justru membuktikan “tuduhan” namanya? Kalau umat nggak suka dibilang “teroris”, ya janganlah bersikap seperti teroris. Begitu aja kok intinya.
Memang betul kalau umat diserang, umat berhak untuk membenci dan membela diri. Tapiiii…. sadarilah siapa yang harusnya kita benci dan kita serang. Bencilah secara layak, jangan secara barbar.
Kalau kita benci pada pemerintah Amerika, jangan main pukul kita benci seluruh warganegaranya. Karena di samping kejahatan pemerintahnya, ada orang-orang baik diantara mereka — sebagaimana yang pernah saya singgung [di post terdahulu].
Peace juga. n,_(^_^)
Desember 12, 2007 at 1:19 pm
1. Kalau sekarang Belande masih dinegara ini mungkin ente juga dibilangin Teroris.
2. Lha kalau orang yang kita cintai dihina, diejek-ejek dijadikan cemohan. Apa yang akan anda lakukan? tentu reaksi anda tidak dapat saya tebak bisa jadi anda ngamuk, bisa diam nggerundel, bisa juga ngangguk..ngangguk nah bisa juga geleng..geleng : artinya tidak semua masyarakat bisa menerima perlakuan penghinaan secara arif. Toh antara anda dan saudara anda belum tentu sama menyikapi suatu keadaan tul..nggak..
3. Nah kalau narkhis ini yang guwe nggak setuju, namun..ada namunnya juga he..he..he… Apa nggak orang Denmark nggak ada bahasan lain selain menghina agama orang laen.
4. Saya nggak benci Warga Amerika, coba baca komen saya apa ada kata “benci warga Amerika”?. Well.well memang benar kata anda tidak semua warga Amerika Jahat dan juga tidak semua Muslim Anarkhis…jadi tolong berimbang.
Peace..he..he..he..
Desember 12, 2007 at 1:45 pm
@ daeng limpo
1. Lha, yang ini bukan topik bahasannya post di atas. Yang saya tekankan kan bahwa “umat membalas tuduhan dengan sikap keras”, yang pada akhirnya justru memperkuat kesan “keras” yang dituduhkan itu.
2. Yup, betul. Tidak semua orang bisa menerima penghinaan secara arif. Cuma, masalahnya timbul kalau ketidakarifan itu membawa-bawa nama agama. Salah-salah, justru seluruh anggota agama itulah yang dianggap tidak arif; padahal kan cuma sebagian saja yang bersikap keras model itu.
Intinya ya kita harus sebisa mungkin menutup celah. Kalau tak ingin kita dibilang teroris, maka kita harus buktikan dengan kearifan. Seperti kata Pak Din Syamsuddin di atas.
3. Dosen agama saya pernah berkata,
Begitu deh. Kalau orang Denmark mengejek-ejek kepercayaan Islam, maka kita jawab dengan diskusi dan ijtihad kita. Itu baru seimbang.
4. Saya pun nggak bilang Anda membenci Amerika, kok. Adapun saya cuma mencontohkan, bahwa ketidaksukaan pada Amerika itu sering disalahpahami umat sebagai “seluruh Amerika itu jahat”. Jadi bukannya ditujukan pada Anda; sebab saya cuma memberikan gambaran umum saja. ^^
BTW, peace (lagi).
Desember 12, 2007 at 2:00 pm
Balik lagi nih…he..he…he..
1. Menurut anda apa yang akan dilakukan orang Philippina kalau gambar presidennya dan benderanya dinjak-injak ?
2. Setiap orang yang beragama tentu tidak terpisah dari agamanya, seperti juga nama. Mestinya orang-orang yang menghina tahu apa akibat yang akan terjadi bila mereka melakukan penghinaan. Contoh: kalau seseorang mengejek “orang yang kita cintai” dengan kata-kata bernada menghina, yang mengejek harus berani menanggung resiko kalau yang diejek marah. Apakah pantas orang yang memukul orang yang telah menghina harga dirinya disebut”teroris”.
3.Masalahnya mau nggak mereka diajak diskusi?, wong mereka negara bebas kok..termasuk bebas menghina siapa saja.
4.Saya hanya memberi pandangan, “kalau anda menganggap tidak semua orang Amerika Jahat” tolong anda juga harus memandang”tidak semua Orang Muslim anarkhis dan teroris”, jadi seimbang.
Salam…
Desember 12, 2007 at 2:02 pm
*Baca*
Menurut saya, apabila suatu saat nanti ada yang datang kemari dan melawan semua yang ada di dalam artikel, bisa jadi itu adalah sebuah ironi. Apalagi kalau pelakunya mempunyai agama yang didakwa ‘keras’ itu.
Desember 12, 2007 at 11:22 pm
@ Semua
SAYA SIRIK … BLOG SAYA SELALU SAJA DISATRONO MANUSIA BEROTAK DANGKAL PEMUJA TERORIS TERSEBUT!
Desember 12, 2007 at 11:30 pm
eh DISATRONI deng … sori … sori …
Desember 13, 2007 at 4:26 am
@RETORIKA
wah…masa langsung memvonis dangkal, inilah pernyataan yang memaksakan kehendak..he..he..he..jadi yang dangkal siapa?, kalu nggak bisa jawab jangan bilang dangkal donk…
Desember 13, 2007 at 7:33 am
sepertinya memang begitu,
seharusnya tidak hanya memandang amerika dari dua sisi,tapi memandang muslim juga dari dua sisi.
tidak semua muslim itu memuja kekerasan.
tapi saia yakin setiap umat pasti fanatik terhadap agamanya,
sekecil apapun kefanatikan itu.
setiap yang beragama akan guncang hatinya,bila agamanya dihina,dilecehkan,diinjak-injak.
tinggal bagaimana cara yang baik untuk memfasilitasi keterguncangan hati tersebut.
Desember 13, 2007 at 9:12 am
Sebuah pemikiran yang bagus mas.
Kebencian berlaku seperti kacamata hitam.
Kebencian membuat manusia tidak bisa melihat warna dunia yang sebenarnya.
Kebencian membutakan
Desember 13, 2007 at 9:53 am
@sigid
maksudnya gini loh mas, kita sepakat untuk tidak menyetujui tindak kekerasan dan kita juga harus sepakat untuk tidak memancing tindak kekerasan alias memprovokasi. Jangan hanya sebelah saja. Dan tolong bilang sama si “tukang menghina” agressor dan kampungan juga donk itu baru adil. Menilik masalah itu harus dari dua sisi. Saya rasa bukan hanya di Islam yang ada Fundamentalis, diagama lain juga ada, cuman yang sering disorotkan Islam, karena mereka menganggap orang Islam lemah. Kalau anda menulis posting selain agama Islam disini saya yakin anda juga akan menuai komen yang sama.
Desember 13, 2007 at 10:03 am
@ daeng limpo
1)
Mau jawaban yang bijak atau emosional?
Kalau yang emosional, mereka bakal menggerakkan massa. Kalau perlu malah panggil tentara buat tembak langsung di tempat.
Kalau yang bijak, pemerintah Filipina akan memutus hubungan diplomatik ke negara yang melecehkan benderanya tersebut. Bisa juga penduduknya melakukan boikot ekonomi seperti umat Islam ke Denmark dulu.
Kalau mereka pakai cara emosional ya memang terlihat hasilnya langsung. Tapi ini nggak menyelesaikan persoalan. Pemerintah yang menyelesaikan masalah dengan kekerasan itu pemerintahan yang nggak layak dihargai lho. Apalagi kalau sampai negara lain.
Sebaliknya kalau mereka bersikap elegan dan bijak, itu akan mendatangkan dukungan tersendiri. Bukan cuma dari rakyatnya malah; negara tetangga juga akan bersimpati.
See the difference?
2)
Kalau Anda pikir pukulan itu pantas, ya monggo. Tapi ingatlah… bahwasanya, kekerasan tak menyelesaikan masalah.
Dulu, waktu saya masih kecil, ada teman yang menghina ayah dari temannya. Temannya kemudian marah. Mereka berantem. Akhirnya? Bukan saja mereka sama-sama bonyok, dua-duanya juga dipanggil ke ruang guru (kejadiannya di sekolah).
Kalau Anda berpikir bahwa tindakan fisik itu pantas untuk membalas penghinaan, saya kurang setuju. Itu hanya akan membawa rantai kekerasan fisik yang lebih panjang lagi.
3)
Lha, penerapan diskusi itu kan nggak harus selalu duduk berhadapan, Pak. Kalau satu pihak melempar opini, dan kemudian pihak lain membalasnya, itu juga sebentuk diskusi.
E.g. seperti waktu masalah pernyataan Paus Benedict. Waktu OKI mengeluarkan pernyataan tidak setuju dan Vatikan menanggapi, itu juga salah satu bentuk diskusi. Yang penting adalah bagaimana menyampaikan perasaan kita tanpa merugikan pihak seberang.
Kalau mereka masih mau mendengarkan, it’s OK. Tapi, kalaupun nggak, itu tidak berarti kita boleh menyerang secara fisik — kecuali kalau negara sudah menyatakan perang. Di luar itu, kekerasan cuma bikin kesan buruk buat umat itu sendiri.
4)
Sebetulnya saya memang memandang umat Islam itu bervariasi kok. Tentu saja ada yang moderat; seperti halnya orang-orang yang saya kenal di sekitar saya. Meskipun begitu, di post ini saya ingin menekankan bahwa umat itu selalu dianggap satu — terutama oleh dunia luar. Makanya saya menekankan bahwa “umat” harusnya bertanggungjawab kalau ada sebagian dari mereka yang bersikap nyeleneh dengan kekerasannya.
Jadi, tak usah khawatir. Pandangan saya pribadi soal ini sejalan dengan Anda.
Anuu… itu kayaknya Anda salah paham. Maksudnya mas Retorika itu adalah post di blognya, yang link-nya beliau sertakan di komentar no. #11. ^^;;
Blognya mas Retorika ada di http://retorika.wordpress.com , jadi bukannya membicarakan blog ini dan diskusi kita.
:::::
@ Mihael “D.B.” Ellinsworth
Hohoho, sebagaimana sudah ‘diramalkan’ dalam artikelnya.
:::::
@ RETORIKA
Mas, kalimatnya rada rancu tuh. Memicu kesalahpahaman lho.
:::::
@ endjivanhouten
Betul, selalu ada dua sisi dalam setiap kelompok/umat. Baik itu Amerika, Barat, ataupun Islam. Yang susah adalah kalau salah satu pihak (atau dua-duanya) cuma bisa melihat keburukan dari yang lain, dan langsung membenci semua yang berhubungan dengannya tanpa pandang bulu. ^^
Dalam hal ini, bukan hanya umat Islam saja yang salah IMHO. Barat juga kurang melihat sisi baik dan lembut dari Islam pada umumnya… tapi itu bukan tema post kali ini. Masalahnya, cara umat bereaksi justru malah ‘menguatkan’ stigma “teroris” itu… dan itulah letak ironinya.
:::::
@ sigid
Yup, kebencian membutakan. Sebagaimana cinta.
Desember 13, 2007 at 10:09 am
@sora9an
1,2,3,4…S…E…T…U…J…U
Desember 13, 2007 at 10:32 am
@ daeng limpo
Ah, terima kasih. ^^
Yah, sebetulnya pandangan kita pada umumnya sejalan kok soal topik ini. Jadi nggak usah khawatir soal itu, IMHO.
Desember 13, 2007 at 12:00 pm
Soalnya Islam udh kenyang dijadiin sasaran tembak umat2 non muslim.Soalnya klo mbales nge-bom, kt-nya suka kekerasan, klo mbales pake kata2 atau pemboikotan, nggak punya media pendukung.
Desember 13, 2007 at 4:03 pm
Jadi ingat komik strip senada yang pernah saya baca dulu…
Ironis…
Yo wis, Islam ndak mengajarkan gontok-gontokan, AS ndak mengajarkan gontok-gontokan. Akur, akur…
Desember 14, 2007 at 9:58 am
Ikut senang, karena fenomena ini makin disorot. Mudah-mudahan makin banyak orang yang open-minded dan tidak ‘reaktif’ kayak dulu-dulu…
Desember 14, 2007 at 12:57 pm
bahkan karena itu… di forum internasional yang saya ikuti… membernya beranggapan terrorists = islaam …adduh… gimana ya… sebenarnya awalnya salah… tapi kalo sekarang ya nggak salah-salah amat…
Desember 14, 2007 at 2:35 pm
@ toim
Memang dilematis, sih. Tapi bagaimanapun, berbuat keras cuma akan menguatkan kesan buruk yang udah ada lho.
Soal media pendukung, ini memang kurang. Tapi seenggaknya kita (umat Islam) masih punya badan2 besar internasional yang mewadahi opini… misalnya OKI. Tapi IMHO, yang penting adalah jangan sampai umat justru ‘membenarkan’ tuduhan yang dilemparkan itu… jangan sampai “jeruk minum jeruk”.
:::::
@ Kopral Geddoe
Akur, akur…
:::::
@ jejakpena
Ah, terima kasih. Senang rasanya kalau ada orang yang senang baca tulisan saya.
*ditimpuk batu bata*
:::::
@ celo =3
Yup, betul. Hal yang sama waktu saya jalan2 ke berbagai blog anti-Islam tempo hari itu.
Ironis, bukan?
Desember 14, 2007 at 10:53 pm
Hmm… ironis juga melihat keadaan umat yang begini. Dibilang teroris malah membuktikannya sendiri.
Kalau menurut saya, secara singkat, mungkin memang gara-gara umatnya yang masih bertindak berdasarkan hati. Emosi gampang disulut, kemudian karena berada di bawah bendera agama rasanya juga bisa lebih leluasa untuk bertindak.
Atau kalau mau alasan lain, mungkin gara-gara zaman kejayaan Islam zaman dulu sempat runtuh gara-gara orang-orang Barat (kebudayaan dibakar dsb)? Sejarah yang buruk kayak begitu yang kemudian ‘didoktrinkan’ oleh orang tertentu untuk melawan mereka-mereka yang umumnya non-muslim dan bersikap menentang Islam — dengan harapan bahwa tidak akan ada kehancuran kedua kalinya dan mungkin bisa jadi ajang pembuktian ‘Islamic power’.
Mungkin lho, saya cuma ngasal blas.
Desember 15, 2007 at 3:06 am
Ndak.
Yeah, faktor eksternal selalu disalahkan. Padahal IMHO, saya rasa sistem monarki yang diterapkan justru merusak dari dalam.
Desember 15, 2007 at 9:03 am
bukannya kalo pake ‘umat’ juga berarti menggeneralisir? napa ga pake ’sebagian umat islam’ atau ’sebagian muslim’.
artikelnya bagus, sayang kalo terjebak pada fallacy halus.
Desember 15, 2007 at 9:18 am
Islam itu baik, hanya saja penganutnya (beberapa, tentunya) yang kurang bisa bersikap bijak. Yang benar-benar mengamalkan Islam tentu bersikap bijak. Bukan begitu? Jadi kesimpulannya, umat muslim yang tidak bijak berarti…
Desember 15, 2007 at 3:30 pm
Makanya saya bilang itu didoktrinkan sama orang-orang tertentu (entah siapa) supaya menumbuhkan budaya anti-barat.
Desember 15, 2007 at 8:32 pm
@ Xaliber von Reginhild
Pandangan saya juga begitu sih. Ibaratnya, ada orang yang dihina terus menanggapinya dengan berantem… padahal bisa aja penghinaan itu murni sebentuk provokasi buat mancing kekerasan.
Kalau berdasarkan pengalaman saya dulu sih, biasanya doktrin semacam itu memang ada… tapi bukan persis seperti yang diomongin mas Xaliber di atas. Prinsipnya sendiri sama, yaitu kebencian pada nonmuslim. ^^
Misalnya hoax Granada, yang — menurut ceritanya — sebenarnya satu April itu hari pembantaian kaum muslim di Spanyol. Padahal bukan… (wiki it). Alhasil, mulailah kebencian pada April Mop.
Ada juga berbagai selentingan soal valentine, coca-cola, perayaan tahun baru, kreasionisme Harun Yahya, dsb. Semuanya biasanya diarahkan untuk menjatuhkan kesan “Barat”… sayangnya lebih banyak dari ‘propaganda’ ini yang off-base dan nggak akurat. Jadinya ya, lebih terkesan umat ini gampang ditipu dan percaya hoax.
*teringat film “Sebuah Penantian” yang baru aja heboh tempo hari*
:::::
@ rozenesia
Um, sebetulnya nggak cuma internal aja yang bikin umat tenggelam. Sejauh yang saya tahu, ada faktor eksternal juga (i.e. kemajuan Eropa selama Renaissance).
Jadi, waktu abad 13-14, umat Islam merasa santai karena menang terus di Perang Salib. Akhirnya Eropa mundur. Lama nggak ketemu, Muslim menyangka Eropa nggak banyak berkembang… padahal selama itu ada Renaissance di Eropa.
Abad 18, kekaisaran Utsmani mulai runtuh. Barat udah maju. Pas Napoleon dateng ke Mesir buat ekspedisi, kagetlah mereka. Eropa kok jadi dahsyat begini?
[/ceritaMode]
[CMIIW]
:::::
@ laufi
Ah, sebetulnya bukan maksud saya untuk menggeneralisir. Saya sendiri aslinya memandang umat Islam sebagai kelompok yang terdiri atas moderat dan keras (bisa dilihat pada komentar #32, balasan untuk Daeng Limpo yang nomor 4). ^^
Meskipun begitu, terima kasih masukannya. Akan saya tambahkan catatan awal kalau begitu.
:::::
@ tiyokpras
Weits, saya nggak ikut-ikutan Mas. ^^;;
Ada lho sekelompok umat yang merasa dirinya bijak, tapi marah-marah kalau dibilangin bahwa dia itu (mungkin) kurang menjalankan agama dengan semestinya. Jadi…
:::::
@ Xaliber von Reginhild (lagi)
Yup, seperti yang saya jelaskan di reply sebelumnya. ^^
Desember 17, 2007 at 6:04 am
[OOT]

Nah, berarti itu kombinasi faktor internal dan eksternal.
Dengan ada perasaan puas, merasa memang, dan hingga akhirnya timbul ketidakhati-hatian.
[/OOT]
*ngeloyor ke wc, sakit perut*
Desember 18, 2007 at 11:56 am
Memang ada orang Islam yang bodoh. Makanya yang lain juga kena getahnya. Memang ada orang Islam yang kasar dan jadi teroris, makanya yang lain juga kena getahnya.
Jadi ya, terima saja deh dicap bodoh dan teroris, memang kita itu bagian daripada segenap umat Islam.
Desember 18, 2007 at 6:55 pm
@sora9n:
*manggut-manggut*
Hoh, pembantaian di Granada itu hoax ya, ternyata? Selama ini saya percaya saja, meskipun memang ngga saya ambil peduli dan hanya dijadikan referensi sejarah…
Desember 24, 2007 at 8:21 pm
Oh ya, menyikapi soal ini, harusnya umat Islam melihat kutipannya Shakespeare.
Kalau Islam-nya memang bagus, mau diejek-ejek sebagaimana pun juga itu tak akan merubah kenyataan bahwa Islam-nya bisa bertahan. IMO, sih.
Desember 24, 2007 at 9:10 pm
@ Xaliber von Reginhild
Hohoho! Masalahnya, sikap besar hati dan kebanggaan itulah yang tidak dimiliki umat saat ini.
*jadi inget ospek yang pakai marah-marah sedemikian rupa, padahal tujuannya kan untuk melatih mental juga*
*kalo ditanggepin gitu kayaknya lebih adem*
Desember 25, 2007 at 10:15 pm
[...] tau ga loe, yang mulai duluan tuh mereka. Mereka pada nuduh dan jelekin macem-macem. Kalo mereka ga duluan, ga bakal kayak gini deh kita-kita! Otomatis dong kita-kita bela [...]
Desember 26, 2007 at 6:50 am
Jeffrey Lang ya. Saya suka baca buku terjemahannya “Bahkan Malaikat Pun Bertanya?” Highly recommended dibaca. Islam ditulis dengan gaya penuturannya yang sangat Amerika.
Desember 26, 2007 at 9:46 am
setuju dgn Sora, kenyataan adalah tetap kenyataan dan ga bisa ditutupi cuma dgn setumpuk kata2 penyangkalan. Kecuali, ada perubahan dalam cara respon-nya.
Generalisasi pasti selalu terjadi (jgn bermimpi semua org cukup logis utk tdk meng-generalisasi), maka itu perlu diantisipasi penyebab-nya. Yaitu dgn memperbaiki respon umat thd suatu kritik atau bahkan hinaan… maka itu pelajarilah baik2 hukum sebab-akibat. Umat Islam selama ini kalah image krn lawannya lebih menguasai hukum sebab akibat… betul gak?
*tips dr seorang non-muslim*
Desember 27, 2007 at 12:19 am
@ Junarto Imam Prakoso
Ah, iya, saya juga udah baca buku itu.
Betul, kekuatan utamanya adalah penyampaiannya tentang Islam dengan pendekatan Barat (dalam hal ini Amerika) yang cenderung skeptis dan rasional. Seperti karya beliau yang lainnya, highly recommended buat muslim yang nggak menyetujui pendekatan dogmatis dalam memahami agama. ^^
:::::
@ CY
Setuju. Cara yang paling ampuh untuk mengubah pendapat seseorang adalah dengan bukti… bukan dengan limpahan kata-kata segala macem.
..kecuali, mungkin, kalau kita udah bisa ilmu hipnotis.
[/bercandaLho!]
Januari 5, 2008 at 9:02 pm
Ah mencerahkan
Semoga saja kita semua bisa bersikap lebih baik
Januari 25, 2008 at 3:11 am
[...] tau ga loe, yang mulai duluan tuh mereka. Mereka pada nuduh dan jelekin macem-macem. Kalo mereka ga duluan, ga bakal kayak gini deh kita-kita! Otomatis dong kita-kita bela [...]
Juli 19, 2008 at 10:08 pm
[...] anjing daripada non-muslim. Dan kalau ada negara dengan mayoritas non-muslim kena musibah, malah dianggap azab Allah. Beberapa lagi populer dengan mengecap orang Islam lain sebagai kafir jika dirasa tidak sesuai [...]