Juni 2007


Masyarakat kita tampaknya sedang terkena demam SMS. Tidak tanggung-tanggung, segala macam aktivitas kini dapat dilakukan dengan menggunakan media pesan pendek tersebut.

Kini makin banyak pemilihan yang dilakukan berdasarkan polling SMS. Entah itu memilih penyanyi calon idola Indonesia, calon artis dangdut, atau malah para da’i cilik. Semua itu dilakukan hanya dengan POLLING SMS!! Ini kan mengerikan??

Hah, mengerikan? Kenapa mengerikan?

Apanya yang mengerikan??

Iklan

Wow, sebuah kabar dari kang guru cukup mengejutkan, GANJA AKAN DILEGALKAN! Ironisnya, inisiatif justru datang dari Badan Narkotika Nasional, yang seharusnya ada di garda terdepan perang melawan pemabukan bangsa mabuk ini.

Selain menggabungkan UU Narkotika dan UU Psikotropika, kabarnya, BNN juga berupaya memasukkan kajian melegalkan ganja ke dalam RUU Antinarkoba. Menurut hasil kajian sementara yang dilakukan BNN dengan Indonesian National Institute of Drug Abuse(Inida), manfaat ganja lebih banyak ketimbang sisi buruknya. “Sasaran awal kami didirikan pusat penelitian ganja yang dilindungi undang-undang,” kata Direktur Pengembangan dan Riset Inida, Tomi Haryatno.

Selama ini, banyak kalangan menutup mata dengan banyaknya manfaat ganja untuk berbagai bidang. Daun yang bisa disayur, batang ganja yang bisa dijadikan serat tali. Terang Tomi adalah sebagian manfaat dibanding dampak negatif dari asap ganja.

Dikutip dari situs resmi BNN di sini.

Luar biasa kan?

Mau lebih mabuk lagi? Ayo diklik atuh…

Oleh Sousakiy Al-Buntakun Ibnu Mishrilliy

Anda penasaran dengan kualitas para ‘raja’ di negeri ini? Berarti, Anda sedang membaca tulisan yang tepat.

Berikut ini saya sudah mengumpulkan beberapa potret yang terkait. Silakan baca, dan ikuti link menuju sumber berita yang tersedia.

Selamat membaca… 🙂

Potret Mereka…

(lebih…)

Dari Tahta Kekuasaan berakhir di Kursi Roda

:: :: :: SKRINSYUT :: :: ::
Beberapa kali kita disuguhi tayangan media elektronik maupun berita media cetak tentang episode digelandangnya pejabat ataupun mantan pejabat oleh penegak hukum. Ya, rangkaian pemeriksaan hingga ketokan palu di pengadilan. Kemana lagi kalau bukan menuju hotel prodeo menyeramkan bernama Penjara.

Sungguh mengenaskan, seseorang yang sebelumnya dielu-elukan kemanapun pergi, disanjung bak dewa oleh para pendukungnya, diperlakukan bak sesembahan oleh bawahannya, dipayungi walau tiada panas dan hujan, bergelimang nyaris segala kemewahan, berakhir tragis. Sisa hidupnya yang lazimnya dapat berkumpul bersama sanak keluarga dengan damai, ternyata harus dihabiskan di balik terali besi.

Di lain lelakon, seseorang yang sebelumnya lantang berorasi kala demostrasi menentang ketidak adilan, kemudian dia terjun ke ranah tertentu, mengintip kekuasan, berharap bahkan yakin akan mampu mengubah kebobrokan menjadi kebaikan. Jargonpun bersemburan meyakinkan para pemilih agar memilihnya. Tak lupa, janji manispun dilontarkan bagai bunga-bunga merekah.
Nun ketika dia sudah menjadi seorang wakil dari pemilih yang konon dibelakangnya, entah mengapa dia menjelma menjadi pengoleksi uang, memenuhkan pundi-pundinya yang serasa tidak pernah penuh, tentu dengan tetap mengusung jargon demi rakyat.

Pada babak yang lain, seseorang yang sebelumnya menempelkan asas agama dalam dada dan ucapannya, ketika menimang gelimang harta tak urung doyan juga. Tidak berbeda dengan sebagian sejawatnya yang lain, yang sudah lebih dulu bersimbah lembaran rupiah (kadang dolar juga). Bisakah disebut nurani?
Ah, ternyata soal kesempatan. Tatkala kesempatan tiada, dia bak dewa penolong. Manakala kesempatan terhampar di hadapannya, dia juga seorang garong.

Ups, para konco, pendukung dan koleganya akan mati-matian mengatakan:
jangan men-generalisir

  • oh, itu oknum, bukan institusi, kami akan menindaknya
  • jika akan menghilangkan nyamuk tidak pertlu membakar kelambunya
  • dan bla bla bla, mudahnya menyemburkan berbagai alasan

Ah, terserah apa yang akan dikatakan untuk membela diri yang konon demi keadilan dan kebenaran. Kadang mereka lupa bahwa dulu mereka menghujat dengan gegap gempita. Lupa pula bahwa kini mereka ada di lorong kekuasaan. Lupa bahwa mereka dulu merasa dibungkam hanya karena menyuarakan seperti yang disuarakan orang-orang yang diwakilinya.

:: :: :: T R A G E D I :: :: ::
Maka tak usah heran, jikalau kelak sebagian dari mereka digelandang sebagai pesakitan. Kalaupun saat ini mereka terbuai nikmatnya fasilitas kekuasaan, kita hendaknya tak jemu mengingatkan. Meski tidak pernah didengarkan.

Sekiranya nanti sebagian dari mereka menjalani prosesi persidangan panjang dan menjadi lunglai lantaran ketahuan menggondol uang negara, mungkin itulah babakan sebuah tragedi.
Yah, tragedi: dari tahta kekuasaan berakhir di kursi roda.

:: :: :: RENUNGAN :: :: ::
Pertanyaannya, apakah kita juga akan seperti itu saat ada kesempatan?
Jangan, jangan tiru mereka (bahasa politisnya halusnya adalah oknum).

Percayalah, kita bisa menyumbangkan sedikit kebaikan dengan tidak melakukan seperti yang mereka lakukan. Tidak korupsi dimanapun kita berada. Tidak berbohong dengan menggunakan kalimat tipuan.
Tidak !!!

:: :: :: Prosa anak negeri, oleh: koki tukang saji :: :: ::

Di sebuah rumah yang terdiri atas dua kamar yang sesak, hiduplah keluarga yang terdiri dari tujuh orang. Di antara lima orang anak ada seorang anak kecil, anggap saja, berumur tiga tahun. Ini adalah usia di mana kesan pertama dibuat pada alam kesadaran anak. Orang-orang berbakat memelihara jalur-jalur kenangan dari saat ini sampai usia yang sangat tua.

Sempit dan sesaknya ruangan tidak memberikan kondisi yang menyenangkan. Sebagai akibatnya, pertengkaran dan percekcokan sering terjadi. Dalam kondisi macam ini, orang-orang tidak hidup berdampingan satu sama lain, mereka saling menekan. Setiap argumen, bahkan yang paling sepele, yang di dalam rumah yang luas dapat didamaikan dengan ungkapan lembut sehingga selesai dengan sendirinya, disini menyebabkan pertengkaran yang memuakkan tanpa akhir. Di antara anak-anak, tentu saja, ini masih dapat ditangani. Mereka selalu bertengkar dalam kondisi ini, dan mereka dengan mudah dan cepat melupakannya. Tetapi jika pertengkaran ini terjadi antar orang tua, dan hampir setiap hari dalam bentuk serangan yang brutal dari sang ayah kepada sang ibu, pukulan-pukulan mabuk, sulit bagi siapapun yang tidak tahu lingkungan ini untuk membayangkannya.
(lebih…)

Mau hidup di negara ini anda tidak boleh miskin, meskipun memang di dalam UUD45 pasal 34  tertulis; “Fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara.

Pun meskipun hampir 90% mengaku beragama Islam, dan di Al-Qur’an ditemukan sekitar 39 ayat yang memerintahkan untuk mendirikan sholat dan memelihara fakir miskin dan yatim piatu.

Lhoo…khan banyak orang kaya muslim yang wajib berbagi…?

Berdasarkan fatwa oleh Abu Furomuri.

Berikut adalah petuah (yang tentu saja berpura-pura resmi, tanpa dalil dan unreliable) bagi Anda yang ingin membangun masjid, atau sudah membangun masjid tapi putus asa karena pemasukan yang senantiasa minim bahkan defisit. Jangan buru-buru frustasi sampai bunuh diri. Semoga wejangan berikut membantu. Tuhan Bersama kita.

Ingin cepat punya bisnis ini? Baca terus…

Laman Berikutnya »