Berdasarkan fatwa oleh Abu Furomuri.

Berikut adalah petuah (yang tentu saja berpura-pura resmi, tanpa dalil dan unreliable) bagi Anda yang ingin membangun masjid, atau sudah membangun masjid tapi putus asa karena pemasukan yang senantiasa minim bahkan defisit. Jangan buru-buru frustasi sampai bunuh diri. Semoga wejangan berikut membantu. Tuhan Bersama kita.

0. Bangun di tempat ramai bin seru.
Adalah sebuah kekonyolan ketika Anda membangun masjid di sebuah tempat gersang panas sunyi sepi tak berpenghuni. Bila tak ada ummat yang bisa dikibuli di situ, bagaimana mungkin kita, pihak manajemen masjid bisa bertahan? Oleh karena itu, survey terhadap tempat yang nantinya akan menjadi markas orang-orang berjenggot rumah Tuhan ini sebaiknya dilakukan dengan profesional, misalnya sebuah kampung dengan mayoritas penduduk berpenghasilan tinggi tapi mudah untuk dibodohi, sehingga akan berdampak pada naiknya sumber pendapatan masjid.

1. Legal itu perlu.
Manajemen masjid seharusnya telah dilakukan jauh-jauh hari sebelum bangunan berdiri, dimulai dari tanah yang biasanya hasil wakaf orang sudah mati pengharap surga. Hindari sengketa karena hanya akan membuat repot ketika pengikut fanatik yang rela mati demi ketua pengurus masjid ummat sudah mulai banyak dan laporan keuangan sudah menunjukkan bahwa masjid dapat go public. Biasanya, manusia Indonesia akan meributkan tanah persengketaan bila masjid sudah terlanjur besar, karena sifat iri dengki hasut tak terima dalam hati. Maka dari itu, dokumen-dokumen non palesu selayaknya sudah kita miliki sedari awal.

2. Pulau syahwat, tanjung kimpul. Orang lewat, duit kumpul.
Pengumpulan dana untuk konstruksi bangunan tidak seharusnya Anda pikirkan dengan memakai lebih dari 100 kepala. Cukuplah bermodalkan drum-drum besar, megaphone, dan beberapa orang dengan loyalitas tinggi untuk meminta-minta di jalan sambil meneriakkan nama Tuhan. Bila perlu, kecam para pengguna jalan pelit bin bakhil dengan ayat-ayat mengerikan tentang neraka atau ancaman bagi yang tangannya terlalu terbelenggu pada lehernya. Hati-hati pada tempat ibadah lain yang akan meniru cara kita ini. Oleh sebab itu, sudah sepatutnya kita segera mematenkan metode ini dan mendapat lisensinya.

3. Karena harga kubah tak pernah bohong.
Bila di dekat pembangunan masjid Anda terdapat tempat ibadah lain yang lebih canggih, modern, elegan, bonafid, haibat, dan bermartabat, jangan cemas! Persaingan selalu saja terjadi dalam perolehan pengikut. Segera bangun tempat ibadah yang lebih, lebih dan lebih mutakhir. Niscaya, para pengikut akan secara alamiah beralih aliran karena melihat kebesaran Tuhan berupa kubah yang besar, tinggi lagi megah. Bila Anda sudah dapat membangun itu semua, selamat! Anda sudah menyelesaikan separuh pekerjaan ahli surga.

4. Pengemis? Huh! Bah!
Tak ada sebuah negara pun yang tak punya orang miskin, hanya standarnya saja yang berbeda. Namun, di nagari mimpi di mana kita tinggal ini, orang miskin bagaikan jamur di musim hujan: terlampau banyak! Kehadiran mereka di tepi-tepi jalan menuju masjid atau di teras-teras dengan marmer Italia masjid akan menurunkan popularitas dan kebonafidan masjid. Akibatnya, fans masjid ummat menjadi tak percaya bahwa masjid kita tercinta ini menyalurkan zakat kepada yang berhak. Dan keadaan ini sungguh berbahaya bagi kelangsungan status masjid yang sudah menjadi seleb (selebmasjid).

Selain itu, uang sedekah yang seharusnya masuk ke kotak-kotak sedekah masjid (yang banyak jumlahnya dengan masing-masingnya memiliki ukuran mega sehingga menghambat jalannya pengunjung masjid) akan mengalir ke kantong para pengemis. Ini akan berdampak pada menurunnya sumber penghasilan utama masjid, selain uang sewa yang didapat dari acara sekelas perkawinan atau pesta-pesta semacamnya. Masa bodoh dengan suara sumbang yang mengatakan masjid adalah penyedot listrik terbesar di kampung, yang penting tempat perkumpulan rahasia guna membahas urusan politik masjid kita ini bisa memperoleh banyak untung dari situ.

5. Marbot rules!!
Terkadang, marbot menjadi pemegang kekuasaan tertinggi di masjid, selain bertugas menjaga sandal serta barang bawaan wisatawan masjid agar tak hilang. Seorang marbot haruslah memiliki aliran yang sama dengan dewan gereja masjid serta punya andil besar dalam penyebarluasan paham geng, berbadan tegap sangar bak satpam bank, dan punya komitmen tinggi untuk hidup irit tak menghabiskan fasilitas masjid. Beri salutasi bila marbot berhasil menangkap pelaku aksi curanmor. Sebaliknya, buat tato tulisan “AHLI NERAKA” di dahinya bila ada sandal ummat yang hilang. Kita tahu, kesalahan sedikit saja, masjid kita akan di-tjap sebagai sarang maling. Dan ini, sungguh tak baik bagi popularitas. Bisa-bisa peringkat masjid kita turun di botd.mosquepress.com.

6. Hari Jum’at dan ekstensifikasi.
Hari Jum’at adalah hari yang paling kita tunggu-tunggu. Bukan hanya layaknya hari Sabath Yahudi, tetapi juga karena hari Jum’at adalah hari di mana pemasukan masjid akan meningkat tajam. Tak heran, banyak sekali masjid yang lebih memfokuskan diri pada perluasan masjid daripada memperbaiki kualitas khutbah Jum’atnya. Buat masjid serenggang mungkin. Peduli amat kalau saat Shubuh, yang datang tak sampai seperenambelas shaf. Yang penting ketika sholat Jum’at, tak ada simpatisan yang berdiri di luar. Kalau sampai ada yang sholat di luar, berarti tingkat kepercayaan nasabah dalam menginvestasikan uangnya lewat kotak amal akan menurun.

7. Saatnya menikmati hidup.
Bila pemasukan masjid sudah stabil, ada baiknya kita mempertahankan aset kita itu dengan segenap daya upaya. Tetap waspada dengan bangkitnya tempat ibadah lain sehingga pengunjung masjid tidak akan kecewa dan tak pindah ke lain hati. Pandang masjid sekitar sebagai saingan yang menurunkan pemasukan saat sholat Jum’at yang hanya seminggu sekali. Hal ini bisa dimungkinkan dengan meningkatkan kualitas pelayanan berupa AC semriwing, karpet persia yang tebal dan hangat, jaminan air wudhu terus mengalir 24/7, customer service yang senantiasa online (dengan suara mesra bin aduhai) demi menjawab keluhan pelanggan, atau pembuatan taman-taman di sekeliling masjid penanda miniatur surga.

Jangan lupa bahwa ancaman berupa penyerangan dari geng aliran lain bisa datang kapan saja. Oleh sebab itu, penjagaan terhadap aset kita ini sudah seharusnya ditangani oleh para pasukan berani mati konyol, yang kompetensinya sudah kelas mumpuni, ditandai dengan sertifikasi atau label pernah berperang minimal sekali. Tempatkan mereka di posisi strategis, dekat dengan masjid, sehingga dapat dipanggil sewaktu-waktu.

Nah, ketika status masjid sudah terlampau terkenal, fasilitas sudah layaknya surga, ummat tak banyak berkomentar soal ke mana larinya uang tanggukan Jum’at, para pengikut nan fanatik sudah solid, nilai saham masjid di bursa efek terus meningkat, alangkah indahnya bila para pengurus masjid berlomba-lomba untuk pergi berhaji. Gunakan sebagian uang masjid demi kesejahteraan ummat pengurus. Bukankah ulama itu seharusnya hidup bergelimang harta tanpa nista? Jangan pedulikan saran masyarakat yang iri dan memberi anjuran untuk hidup bersahaja. Memangnya kita rahib yang tak nikah atau sufi yang persetankan dunia? Kita ini ulama, Bung! Ulama! Dan ulama, sudah sewajarnya mendapat hegemoni tertinggi, bagai punya separuh mata air dunia.

.

.

Mudah2an tips absurd ini bisa menjadi rujukan bagi kita yang akan terjun di bisnis yang menggiurkan ini mengelola masjid. Salam dahsyat!!