Dari Tahta Kekuasaan berakhir di Kursi Roda

:: :: :: SKRINSYUT :: :: ::
Beberapa kali kita disuguhi tayangan media elektronik maupun berita media cetak tentang episode digelandangnya pejabat ataupun mantan pejabat oleh penegak hukum. Ya, rangkaian pemeriksaan hingga ketokan palu di pengadilan. Kemana lagi kalau bukan menuju hotel prodeo menyeramkan bernama Penjara.

Sungguh mengenaskan, seseorang yang sebelumnya dielu-elukan kemanapun pergi, disanjung bak dewa oleh para pendukungnya, diperlakukan bak sesembahan oleh bawahannya, dipayungi walau tiada panas dan hujan, bergelimang nyaris segala kemewahan, berakhir tragis. Sisa hidupnya yang lazimnya dapat berkumpul bersama sanak keluarga dengan damai, ternyata harus dihabiskan di balik terali besi.

Di lain lelakon, seseorang yang sebelumnya lantang berorasi kala demostrasi menentang ketidak adilan, kemudian dia terjun ke ranah tertentu, mengintip kekuasan, berharap bahkan yakin akan mampu mengubah kebobrokan menjadi kebaikan. Jargonpun bersemburan meyakinkan para pemilih agar memilihnya. Tak lupa, janji manispun dilontarkan bagai bunga-bunga merekah.
Nun ketika dia sudah menjadi seorang wakil dari pemilih yang konon dibelakangnya, entah mengapa dia menjelma menjadi pengoleksi uang, memenuhkan pundi-pundinya yang serasa tidak pernah penuh, tentu dengan tetap mengusung jargon demi rakyat.

Pada babak yang lain, seseorang yang sebelumnya menempelkan asas agama dalam dada dan ucapannya, ketika menimang gelimang harta tak urung doyan juga. Tidak berbeda dengan sebagian sejawatnya yang lain, yang sudah lebih dulu bersimbah lembaran rupiah (kadang dolar juga). Bisakah disebut nurani?
Ah, ternyata soal kesempatan. Tatkala kesempatan tiada, dia bak dewa penolong. Manakala kesempatan terhampar di hadapannya, dia juga seorang garong.

Ups, para konco, pendukung dan koleganya akan mati-matian mengatakan:
jangan men-generalisir

  • oh, itu oknum, bukan institusi, kami akan menindaknya
  • jika akan menghilangkan nyamuk tidak pertlu membakar kelambunya
  • dan bla bla bla, mudahnya menyemburkan berbagai alasan

Ah, terserah apa yang akan dikatakan untuk membela diri yang konon demi keadilan dan kebenaran. Kadang mereka lupa bahwa dulu mereka menghujat dengan gegap gempita. Lupa pula bahwa kini mereka ada di lorong kekuasaan. Lupa bahwa mereka dulu merasa dibungkam hanya karena menyuarakan seperti yang disuarakan orang-orang yang diwakilinya.

:: :: :: T R A G E D I :: :: ::
Maka tak usah heran, jikalau kelak sebagian dari mereka digelandang sebagai pesakitan. Kalaupun saat ini mereka terbuai nikmatnya fasilitas kekuasaan, kita hendaknya tak jemu mengingatkan. Meski tidak pernah didengarkan.

Sekiranya nanti sebagian dari mereka menjalani prosesi persidangan panjang dan menjadi lunglai lantaran ketahuan menggondol uang negara, mungkin itulah babakan sebuah tragedi.
Yah, tragedi: dari tahta kekuasaan berakhir di kursi roda.

:: :: :: RENUNGAN :: :: ::
Pertanyaannya, apakah kita juga akan seperti itu saat ada kesempatan?
Jangan, jangan tiru mereka (bahasa politisnya halusnya adalah oknum).

Percayalah, kita bisa menyumbangkan sedikit kebaikan dengan tidak melakukan seperti yang mereka lakukan. Tidak korupsi dimanapun kita berada. Tidak berbohong dengan menggunakan kalimat tipuan.
Tidak !!!

:: :: :: Prosa anak negeri, oleh: koki tukang saji :: :: ::