Ditulis oleh sora9n

 
Anda kagum pada wadehel? Ya! Wajar! Wadehel adalah seorang blogger yang tiada tanding. Dialah yang paling vokal berteriak ketika yang lain diam. Bahkan ketika dia masih hidup, semua masalah sosial dilibasnya tanpa ampun. Bagi Anda, Wadehel adalah pahlawan! Superhero! Pemimpin besar revolusi!!

Anda kagum pada wadehel. Ketika dia mati, Anda pun sedih. Anda bahkan mengkritik para blogger kesurupan yang berusaha melanjutkan perjuangannya sebisa mereka… sambil mengabaikan semua penjelasan bahwa para blogger ini hanyalah mengambil start untuk mengesankan estafet dan akan berevolusi meninggalkan citra wadehel di kemudian hari.

Anda bahkan menutup mata dan kuping. Apa lacur? Hati Anda tertutup oleh kecintaan pada wadehel. Anda tak mau mendengar alasan lain.

Anda hanya percaya pada satu hal: para blogger kesurupan itu mencoba mengekor wadehel!! Mereka hanyalah orang-orang oportunis yang menumpang nama!!

Tak peduli ketika para blogger itu menyatakan bahwa mereka hanyalah menyediakan wadah untuk tulisan berbau kritik dan dekonstruksi sosial, Anda tak mau mendengarnya. Dalam hati Anda hanya ada satu wadehel. Dan para bangsat itu sedang mencoba meniru wadehel!! Ini tak bisa dibiarkan!!

Lalu Anda geram pada mereka. Geram dan marah. Tak Anda lewatkan satu kesempatan pun untuk mengkritik mereka. Tak Anda lewatkan satu momen pun tersia-sia selain mengingat bahwa wadehel kecintaan Anda itu sedang akan diambil namanya. Anda pun menghabiskan waktu mengkritik mereka lewat blog mereka — dan juga lewat blog Anda sendiri.

Anda benci pada mereka. Sangat benci. Dan Anda bertekad untuk terus menjatuhkan mereka.

Ketika mereka mengkritik cara berdiskusi umat yang kampungan, Anda tetap diam, karena Anda tak mau peduli. Ketika mereka berhadapan dengan kaum yang selalu dihadapi oleh wadehel dengan gagah dulu, Anda juga diam. Bahkan setelah semua usai, Anda tetap diam!!

Tapi apa lacur? Anda tetap membenci mereka. Maka, setelah semua usai, Anda kembali menyerang para blogger itu. Kembali, Anda benci pada mereka. Dan Anda masih sangat cinta pada wadehel.

Ya, sangat cinta. Sampai-sampai Anda mengharapkan kedatangannya yang kedua. Anda tak rela para bangsat itu melanjutkan perjuangan wadehel, dan berharap wadehel akan datang kembali dan mengunyah mereka bulat-bulat atas “peniruan” mereka yang tak tahu malu.

Anda berharap para blogger brengsek itu tumbang…

Tapi, tahukah Anda?

Anda tidak melakukan apa-apa. Anda tidak bertarung menghadapi kaum berpaham Pokoknya™ itu selepas tewasnya wadehel. Anda hampir tak bersuara sedikitpun mengenai keadaan sosial yang ada di sekitar Anda. Dan Anda memutuskan untuk membenci mereka — yang, dengan sedikit asa, berusaha melanjutkan perjuangan wadehel — hanya karena Anda menganggap mereka impostor brengsek tak tahu malu.

Tapi Anda diam.

Anda terlalu cinta pada wadehel sehingga lupa pada semangat perjuangannya. Anda bahkan masih lebih suka menjatuhkan para blogger itu — ketika mereka, masing-masingnya, terlibat pertarungan di sini, di sini, dan di sini.

Maka, izinkanlah saya berkata ini.

Sesungguhnya, Andalah yang telah mengkultuskan wadehel. Silakan angkat wadehel sebagai nabi Anda, dan sembah dia. Anda hanya perlu mengingat satu-satunya wadehel yang pernah muncul, dan tak perlu bertarung di rimba yang gelap menghadapi mereka yang tak beradab.

Sembahlah wadehel Anda, dan tunggu kedatangannya kembali untuk melumat kami. Silakan — dan Anda boleh mengutuki kami yang bersuara dan berteriak, sementara Anda cuma bisa diam dan menyerapahi kami di belakang…

Silakan saja. Anda bebas melakukannya.

Tapi, di mata saya, semua tindakan Anda itu cuma sampah.