Ditulis oleh Sousakiy Ibnu Mishrilliy

 

Catatan:
Post ini terutama ditujukan untuk para aktivis dakwah Islam. Pembaca dari kalangan non-muslim mungkin membutuhkan beberapa informasi latar yang tak dicantumkan di sini.

 

Ada satu logika berpikir yang cukup membuat saya tergelitik, terutama ketika berdiskusi dengan para aktivis dakwah. Tak peduli mereka itu aktivis dakwah tingkat sekolah, kampus, ataupun yang sudah senior, para aktivis ini biasanya terbawa pada pola pikir generalisasi berlebihan — yaitu mengkotak-kotakkan dan memukul rata berbagai istilah yang mereka pergunakan. Padahal, kalau mereka mau teliti, sebenarnya generalisasi mereka itu tak akurat; kalau tak boleh dibilang sebagai salah sama sekali.

Sayangnya, kesalahan macam ini biasanya justru diabaikan — dan kebanyakan malah dipercaya sebagai “kebenaran” di kalangan para aktivis tersebut. Untuk alasan apa, hanya Tuhan (dan mereka) yang tahu.πŸ™„

Jadi, dalam post ini, saya akan membahas tentang beberapa generalisasi mereka yang salah kaprah tersebut — sekaligus mencoba meluruskannya semampu saya. Harap diingat bahwa tulisan ini bukan ditujukan untuk menjatuhkan kegiatan aktivis dakwah pada umumnya; melainkan sebagai masukan untuk dipertimbangkan.

Seperti apa saja? Here goes…

 


1) Kaum Yahudi itu laknatullah! Mereka tak pernah mau peduli penderitaan kaum Muslim di Palestina!

Kalau yang ini, saya cuma bisa meringis getir. Orang yang bicara di atas pasti tidak tahu kisah Rachel Corrie, gadis Yahudi-Amerika yang meninggal tergilas buldoser Israel ketika membela penduduk Palestina di Rafah. Orang ini pun, boleh jadi, tidak tahu perjuangan Adam Shapiro dan ISM yang pro-Palestina. Bahkan, saya curiga dia juga tidak tahu — bahwa tujuh pilot pesawat tempur Israel pernah menolak terbang untuk menghancurkan pemukiman sipil Arab di sekitar wilayah negeri tersebut.

Mungkin memang ada kaum Yahudi yang tak peduli, dan lebih suka berperang dengan suku Arab-muslim di Palestina daripada hidup bersama dengan damai. Meskipun begitu, adanya orang-orang seperti Corrie dan Shapiro harusnya bisa menjelaskan — bahwa generalisasi “laknatullah” macam itu tak lantas berlaku sepenuhnya.😎

 


2) Sekularisme sebaiknya dicegah. Kalau itu diterapkan, bisa-bisa ada pelarangan memakai jilbab seperti di Prancis sana.

Pendapat ini mulai marak ketika terjadi kasus pelarangan jilbab di Prancis, sekitar tahun 2003. Sejak saat itu, berkembanglah isu bahwa “sekularisme” adalah musuh besar “agama”.

Kenyataannya, “sekularisme” hanyalah sebuah konsep pemisahan agama dari sistem pemerintahan negara. Konsepnya tidak melarang penduduk untuk menerapkan dan menampilkan atribut keagamaan — kasus pelarangan jilbab di atas adalah pengaturan kewarganegaraan, dan bukan merupakan inti dari sekularisme itu sendiri.

Sekularisme, per definisinya, (AFAIK, CMIIW) tidak melarang kegiatan/aktivitas keagamaan bagi yang menghendakinya. Jilbab boleh saja, begitu pula nilai-nilai agama diperbolehkan di kehidupan negara sekuler. Syaratnya adalah agama tidak dicampurkan dalam pengambilan keputusan politik dan pemerintahan.

Ini bukan berarti saya pro-sekularisme, terutama dengan tulisan di atas. Tetapi, setidaknya, pelajarilah suatu istilah secara detail sebelum mengkambinghitamkannya. Menjatuhkan sesuatu sambil salah kaprah justru menunjukkan kesan bahwa dakwah Anda itu picik dan penuh kecurigaan. Anda tak ingin itu terjadi, bukan?πŸ˜‰

 


3) Kamu selalu menggunakan pendekatan logika, pasti kamu antek liberal ya!?

Ini adalah kedangkalan berpikir tingkat ekstrim. Bagaimana mungkin “memakai logika” bisa digolongkan sebagai “antek liberal” ?

Coba kita ingat-ingat. Bukankah Umar bin Khaththab pernah berijtihad untuk menentukan nasib wanita kehausan yang dipaksa berzina? Bukankah Imam Malik memanfaatkan akalnya untuk untuk menulis bab penjelasan tentang haid? Dan lagi, bagaimana mungkin kita bisa mendefinisikan konsep perbankan syariah, tanpa menggunakan akal dan logika?

Akal dan logika itu hanyalah alat. Tapi, bagaimana itu digunakan, itulah yang menentukan — Anda bisa saja sampai pada liberalisme, sosialisme, dan lain-lainnya dengan akal. Tetapi, Anda juga bisa mencapai “Islam” dengan akal. Semuanya tergantung pilihan Anda.πŸ™‚

    side note:
    BTW, beberapa contoh tentang akal dan agama ini bisa Anda cek di blognya Pak Agor. Referensi pribadi dari saya, sih, jadi mungkin saja Anda berpendapat lain. ^^

 


4)
Amerika itu setan besar musuh Islam!

Ini juga pernyataan yang terlalu menggeneralisir. Ada berapa sih warga Amerika yang pro-perdamaian, dan menentang kebijakan kontra-terorisme oleh Presiden George W. Bush? Bahkan seorang Michael Moore pun menyempatkan diri membuat dua film dokumenter untuk menyerang sang Presiden, yang juga merupakan pemimpin negaranya sendiri itu.

Dan jangan lupa juga — Adam Shapiro dan Rachel Corrie yang disebut sebelumnya itu warga Amerika keturunan Yahudi, lho.πŸ™‚

***

Jadi, apa tujuan saya menuliskan semua generalisasi di atas dan menjawabnya? Sebenarnya jawabannya sederhana saja.

Jangan lakukan generalisasi berlebihan, apalagi untuk dimanfaatkan dalam usaha berdakwah. Anda mungkin masih akan didengarkan, seandainya pemirsa Anda adalah sekelompok orang yang menerima saja dan jarang bertanya. Tapi, masalahnya bukan di situ.

Jika Anda berhadapan dengan masyarakat yang biasa berpikir kritis, berbagai argumen tersebut justru akan dipandang rendah. Tentunya ini terjadi karena Anda menyampaikan fakta yang tidak sesuai dengan keadaan di dunia nyata. Salah-salah, Anda malah akan dianggap picik dan tidak berwawasan karenanya.

Kalau sudah begitu, bagaimana mungkin dakwah bisa berlangsung?

Tentunya Anda tak mau itu terjadi, bukan?πŸ˜‰

 

 

~~~~~

Ps:

Sebetulnya contohnya tidak cuma empat itu saja sih; tapi sepertinya akan jadi terlalu panjang kalau saya tuliskan semuanya. Jadi, saya ambil saja empat itu sebagai beberapa contoh yang paling sering dipakai.πŸ˜‰