Ditulis oleh Hiruta 

Ada yang suka dikritik? Terserah. Mau itu kritik pedas, asal bunyi, memang `niat`, cuma karena sinis dan sebagainya, yang jelas kritik.

Bisa jadi ada orang yang bakal menjawab seperti ini, “ya, saya suka dikritik dengan syarat…”  :
1. Kritiknya tidak asal bunyi

2. Cara menyampaikan kritiknya harus oke (menurut saya lho) dan berkenan di hati saya

3. Latar belakang kritikus itu harus jelas dulu, kapasitas ilmunya, kelakuannya, sikapnya, siapa dia (jangan-jangan malah musuh saya kan?)

4. Maksud dari kritikan itu harus jelas dulu, ingin keadaan ke arah yang lebih baik, sekedar berkoar-koar melepas stress ataukah upaya jahat ingin menjatuhkan saya.

5. kritik itu tidak menganggu kenyamanan saya.

Yap. Itu dia syarat-syarat kritik yang diajukan oleh orang tersebut.  Jadi, jika syarat-syarat itu tidak terpenuhi, jangan harap kritik anda akan diperhatikan.😎

Ada sebuah contoh.  Dalam suatu acara, seorang peserta menyampaikan masukan atas kinerja panitia. Kritik ini disampaikan pada A, peserta yang sekaligus kenal dengan panitia. Maka A menyampaikan pada temannya, B yang merupakan salah satu panitia acara.

A : Tadi ada masukan dari peserta
: Oh ya, apa itu?
: Katanya panitia belum profesional , harusnya kesalahan teknis kaya tadi bisa diantisipasi. Ke depannya kinerja panitia harusnya bisa lebih baik.
B : Hooh, yang mana orangnya…?
A : Bapak `O` yang itu…
B : Hooh (lagi)… kalau beliau itu sih memang punya sentimen pribadi. Udah biasa kok kaya begitu.
A : … Hee? 😕

Ada yang merasa aneh dengan contoh itu?:mrgreen: Ya, panitia B menjadikan alasan sentimen bapak O sebagai excuse atas kesalahan teknis panitia  yang terjadi. Mungkin ia melakukannya  tanpa sadar, dan dengan alasan itu ia malah mengabaikan inti kritikan itu sendiri.

Contoh lain lagi. Dalam suatu rapat, C dan juga beberapa yang lainnya datang terlambat dan setelah rapat selesai, D menyampaikan sesuatu pada C. Terjadilah dialog seperti berikut ini :

D  : Tadi ada yang sempat ngomong sama anggota yang lain, protes sama jam karet anggota rapat.       Itu sama aja menzalimi orang lain yang udah berusaha tepat waktu. Ke      depannya harusnya semua bisa lebih disiplin, gitu katanya.
: Eh? Siapa yang ngomong?
: Si F…
 : Hooh, ya iya lah. Dia kan memang perfeksionis  orangnya. Wajar sih dia bilang begitu.
: Lho…??  *bengong *

Ada yang (lagi-lagi) aneh kan? Ya, dengan menuding sosok F yang perfeksionis, C melindungi diri dari kesalahannya yang dikritik oleh F. Spontan.

***

 Itu contoh umum yang sering terjadi dan mungkin juga anda sering menemukan contoh sejenis lainnya . Ini hanya sekedar mengangkat fenomena, bahwa ternyata masih sebegitunya masyarakat kita dalam menyikapi kritik yang ada. Bahkan mereka melakukannya dengan refleks, spontan, tidak sadar. Reaksi pun beragam. Kejadian umum lain yang biasanya kita temui, ada yang bereaksi secara ekstrem, penuh emosi, mengecam yang memberi kritik, membungkam kemungkinan munculnya kritik-kritik yang lain dengan  kekuasaan yang dimiliki ataupun jalan lainnya. Inti tujuannya, berhentilah wahai pemberi kritik.😎

Selain contoh di dunia nyata seperti itu, fenomena mirip-mirip itu terjadi pula di dunia maya ini. Terutama di blogosphere ini  misalnya saat diskusi atau menanggapi pendapat orang lain, ternyata sikap anti kritik atau menutup diri dari kritik masih begitu kental sekali.

Refleksinya bisa kita lihat dari reaksi dan tanggapan yang muncul. Beragam. Warna warni. Bahkan pada beberapa terkesan dipenuhi emosi, merasa `diserang`, disudutkan, `dijatuhkan` dihina dina, dicibir, dimusuhi. Macam-macamlah. Hingga akhirnya malah melupakan hal penting, yaitu substansi  kritik itu sendiri.

Pertanda apa ini? Entahlah. Mungkin ada hubungannya dengan pola pikir dan budaya anti kritik sebagian masyarakat kita yang terbentuk karena pengaruh lingkungan sosial. Eh? Yang menjadi kambing hitamnya malah lingkungan sosial. Apa betul? Selalunya mencari kambing hitam itu mudah ya?😛

Kalau begitu jangan menyalahkan siapa-siapa lah, atau entah apa-apa lah. Lihat saja diri sendiri. Ini ada hubungannya dengan realita bahwa terkadang, ternyata, kita lebih suka, lebih mudah, dan  lebih cepat mengedepankan ego, ketimbang logika berpikir secara jernih. Jadinya tanpa sadar kita  dengan terburu-buru menyimpulkan bahwa yang memberi kritik berikut kritikannya itu misalnya, adalah sampah, tidak penting, hanya cuap-cuap aneh yang tidak perlu dilayani, orang-orang kurang kerjaan yang lagi stress, provokator ide sesat, dan  seabrek tuduhan lainnya (baik terselubung dalam hati atau terang-terangan) yang dengan segera tanpa disadari, hal itu `membentengi`  mata, hati dan pikiran untuk merenungkan dan memikirkan inti kritikan itu sendiri. Ini bahaya tidak? Bisa dikatakan iya. Kenapa? Bayangkan saja jika sudah tidak ada lagi yang peduli,  tidak ada reaksi apapun atas ketidakberesan, ketidakbenaran, penyimpangan-penyimpangan dan hal-hal lainnya di sekeliling anda. Keadaan ini jadi tidak sehat kan?

Karena itu, disinilah  kritik menjadi penting. Bahkan pada lingkup yang lebih luas, kritik bisa menjadi kontrol sosial yang  berimbang dengan usaha-usaha menjalankan peraturan yang sudah baik. Dan  seperti yang sudah dijelaskan tadi, ternyata masih ada yang tidak bisa terima saat dikritik. Karena egokah? Ego pribadi ? Agaknya sih begitu. Silahkan jika anda punya pendapat lainnya. Lalu bagaimana caranya supaya orang bisa menerima kritik dengan sikap terbuka dan tidak egois? Yaa…(mungkin) kendalikan ego, atau…kurangi ego! Kurangi? Iya lah, menghilangkan jelas tidak mungkin. Hidup tanpa ego itu bukan lagi manusia, tapi jadi seperti malaikat kayanya?:mrgreen:

Jadi begitu deh, kalau manajemen ego-nya sudah lumayan, maka anda akan santai saat ada kritikan yang mampir. Kalaupun pada detik, menit, jam, hari, minggu (lanjutkan sendiri) pertama anda akan sedikit tersinggung, atau belum ngeh dan masih tidak habis pikir kenapa bisa dikritik, dengan ego yang terkendali, pikiran anda akan dengan mudah mendampingi anda menelusuri substansi kritik itu sendiri. Pada keadaan seperti ini, anda sudah tidak akan mempermasalahkan lagi, siapa orangnya yang sudah berani-beraninya mengkritik anda, latar belakang maksud orang (yg jangan-jangan ingin menjatuhkan) yang memberi kritikan itu,  dan pikiran-pikiran horor lainnya, karena anda mulai bisa melihat, bahwa TERNYATA, ada hal yang tidak beres yang sedang dikritisi dan ada yang (berusaha) mengupayakan keadaan ke arah yang lebih. Anda mulai membuka mata pada inti kritikan itu sendiri. Dan tentu saja anda tidak perlu capek-capek tsu`udzon lagi kan? :mrgreen:

Hohoho, jadi? Ya, jadi kita mulai bijak sekarang. Kita mulai bisa membuka diri pada kritik dan juga mulai kritis. Melihat sesuatu secara objektif  dengan tidak menempatkan ego di barisan terdepan. Bagaimana? Dengan begitu budaya anti-kritik di masyarakat kita sudah bisa kita tinggalkan bukan?:mrgreen:

Ah iya, katanya kritikan jauh lebih punya efek positif ketimbang pujian. Terlalu banyak dipuji bisa bikin orang stagnasi dan merasa tidak perlu lagi mengembangkan diri, tapi terlalu banyak dikritik akan jadi cambuk untuk selalu (berusaha) memperbaiki diri. Lalu, kritik yang bagaimana? Ah, jangan pura-pura begitu, anda mesti tahu kritik yang seperti apa. Ya kan? Ya kan?:mrgreen: