Ditulis oleh sora9n

 

Akhirnya saya menulis lagi di blog ini, setelah beberapa waktu berlalu. Saya sendiri tak hendak bercerita banyak, apa saja alasan yang membuat saya seolah terhenti menulis selama beberapa hari tersebut — meskipun begitu, beberapa hari terakhir yang sibuk itu juga membuat saya menyadari adanya satu hal yang memprihatinkan.

Masyarakat kita, sebenarnya, sangat gampang untuk ditipu dan dicuci otaknya — terutama lewat jalur media massa.

Kurang lebih, beginilah ceritanya.

Sekitar seminggu yang lalu, saya menulis sebuah post yang membahas tentang maraknya ilmu semu di masyarakat kita. Yah, ilmu semu. Dengan kata lain, omongan yang diaku-aku sebagai “fakta ilmiah” — padahal isinya sama sekali kosong dan menyesatkan. Tokohnya? Siapa lagi kalau bukan Roy Suryo dan Harun Yahya (HY) yang legendaris itu.:mrgreen:

Soal Roy Suryo, kelihatannya OK. Hampir semua orang (setidaknya yang menulis komentar di post saya itu) setuju bahwa beliau memang pakar asbun. Tapiiii….

Ternyata. Hal yang sama tidak berlaku untuk tokoh kedua, yaitu Pak Harun Yahya.

 

Lho, kenapa?

Ada hal yang membuat saya miris pada kasus Om Harun ini. Kalau Anda melihat post terkait di blognya Geddoe, akan terlihat bahwa ada orang-orang yang taklid pada buku-buku beliau. Meninggikan beliau sampai taraf tertentu, sehingga tak bisa membuka diri pada kemungkinan bahwa penjelasan beliau tidak akurat — betapapun panasnya diskusi sudah berlangsung di post tersebut. Bahkan orang-orang ini mati-matian membela doktrin “evolusi tidak mengakui Tuhan” — BETAPAPUN orang-orang sudah menjelaskan konsep Theistic Evolution dan hipotesis proses kerja Tuhan.

Dan, betapapun sudah dijelaskan bahwa “Teori Evolusi masih diakui sebagai teori ilmiah”, orang-orang ini tetap bersikeras dengan doktrin HY bahwa “teori evolusi sudah runtuh”.

Beberapa orang bahkan percaya bahwa beliau adalah ilmuwan muslim™ tokoh anti-evolusi™ yang diakui di dunia baru™ — walaupun kenyataannya sangat jauh panggang dari api.๐Ÿ˜ฆ

 

Kok bisa begitu?

Dari situ, saya kemudian mencoba berhipotesis. Berpikir, mengapa pengaruh Harun Yahya bisa begitu kuat di Indonesia ini. Mengapa orang-orang bisa cuma membaca bukunya saja, dan mengabaikan karya para ahli biologi modern yang berhasil menjelaskan evolusi dengan lubang seminimal mungkin.

Akhirnya, saya sampai pada kesimpulan berikut:

    Pertama, karena Harun Yahya dianggap sebagai ‘dewa penyelamat’ sains Islam. Beliau telah diterima (dalam opini masyarakat) sebagai ilmuwan Islam zaman baru — yang mengadvokasi umat agamanya di tengah keterpurukan global yang mereka alami.

    Kedua, beliau menerapkan teknik pemotongan berita yang hebat[1]. Beliau mengambil fakta-fakta ilmiah menyangkut kelemahan Teori Evolusi dari berbagai zaman, tanpa mengacu ke pencapaian ilmiah biologi modern. Yang paling parah, beliau melakukan semuanya tanpa sedikitpun menjelaskan capaian ilmiah teori tersebut hingga kini. Alhasil, pembaca makin percaya bahwa evolusi memang di ambang kehancuran.๐Ÿ˜

    Ketiga, ia juga mencampurkan ‘teori’ keruntuhan Darwinisme dengan hal-hal yang pasti dibenci umat Islam. Dengan lihai (walaupun masih banyak fallacy-nya), ia menunjukkan bahwa teori evolusi adalah akar dari paham-paham materialisme, atheisme, fasisme, komunisme, zionisme, freemasonry, dan lain sebagainya yang pasti dibenci oleh umat muslim mainstream.

    Keempat, terakhir — HY mengemas semua poin yang disebut sebelumnya dengan publikasi yang mumpuni. Ia mengenalkan diri sebagai “ilmuwan muslim abad 21”, melalui video dan buku-bukunya yang luks itu. Akibatnya? Tentu saja dia diterima dengan mulus sebagai pahlawan di masjid-masjid kampus dan sekolah.

 

Alhasil, diakuilah ia sebagai “pahlawan Islam”. Ilmuwan yang agamis-religius. Hanya karena ia memanfaatkan empat poin di atas tadi secara optimal.

 

Tapi, kalau ide yang disampaikannya benar, harusnya tak masalah, bukan?

Kenyataannya, semua dalilnya tentang keruntuhan Teori Evolusi itu sangat lemah. Bahkan ada yang salah kaprah. Silakan baca link-link berikut sebagai rujukan:

[tulisan Harun Yahya di situsnya dalam menyanggah evolusi]

[29+ Evidences of MacroEvolution]

[“Introduction to Evolution” di Wikipedia]

[Kategori “Evolusi” pada Dongeng Geologi]

 

Kembali ke topik

Di judul di atas tadi, saya menyebut tentang “masyarakat yang gampang ditipu”. Sejujurnya, inilah yang saya maksud.

Kita membaca buku-buku HY. Karena ia menyokong keyakinan yang (mayoritas) kita anut, maka kita mulai terbawa setuju. Kemudian kita membaca fakta-fakta yang berbungkus ilmiah itu. Lantas kita makin terbawa.

Kemudian, HY mulai menyebutkan bahwa evolusi adalah akar dari semua masalah — fasisme, liberalisme, komunisme, dan lain sebagainya. Paham-paham yang membuat dunia jadi kacau. Yang membuat pecahnya berbagai perang di dunia kita.

Gongnya, ketika dia menyatakan diri melawan semua itu sambil menjatuhkan teori evolusi. DIA PUN DIANGGAP PAHLAWAN OLEH MAYORITAS UMAT MUSLIM!!!๐Ÿ˜ฎ

Padahal, kalau kita lihat. Argumennya lemah — bahkan buku biologi SMA pun sudah membahas evolusi dengan lebih obyektif. Pendapatnya kurang berkualitas (dia bahkan tak paham teori common descent). Tapi kemasan yang hebat itulah yang membuat orang-orang taklid dan membela idenya habis-habisan.๐Ÿ˜Ž

 

Akhir Kata…

Jadi. Apakah masyarakat kita gampang ditipu, atau tidak?

Yah, kalau masih banyak orang yang memilih percaya pada kibulan Roy Suryo dan propaganda Harun Yahya, saya tak bisa berkata banyak. Yang jelas, saya cuma menyarankan sesuatu hal — yang isinya pernah disarikan di lagunya Sherina jaman dulu.๐Ÿ˜›

Lihatlah lebih dekat, dan kau akan mengerti.”

Mudah-mudahan kita semua bisa lebih berhati-hati dalam menyaring info di masa depan. Tapi, kalau ada yang lebih suka percaya pada kata-kata manis nan kosong macam itu ya, apa boleh buat. Saya kan sudah menyampaikan apa yang saya tahu.๐Ÿ˜‰

 

 

Footnote:

[1] Tulisan tentang topik terkait akan saya post beberapa hari selepas tulisan ini.๐Ÿ™‚