Tulisan dikirim oleh Danalingga

 

Teman, kan kuuntai kata tuk menjelaskan kebencianmu. Yah, kebencian yang kau tumpahkan siang tadi di sudut kamarku yang pengap. Kau teriakkan dengan sepenuh hati sumpah serapah itu teman. Jujur saja, sesaat tadi malah kupikir kau akan tega membunuhku teman.. Sungguh sebuah kelegaan yang luar biasa bahwa kau belum hangus oleh bara kemarahan. Dan “hanya” sebuah vonis telah tersesat yang kau hujamkan kepadaku. Yup, tersesat kau bilang teman, engkau masih ingat bukan?

Semua sumpah serapah yang kau muntahkan hanyalah dikarenakan anggapanmu bahwa aku tidak ber Tuhan lagi teman. Aku kau anggap telah menghianati Tuhan, yang dulu kita sembah bersama. Ya teman di masa lalu , memang kita seakan hambaNya yang paling patuh. Setiap perintahNya kita jalankan apa adanya , tanpa pernah kita pertanyakan. Yah saat itu aku akui kita tidak berpikir teman, kau mengakui hal ini bukan? Kita hanya melakukan apa yang di katakana orang orang itu sebagai perintah dari Tuhan.

Oh , teman tidakkah kau ingat, kalo semua perintah yang kita jalankan itu diajarkan oleh seorang yang di panggil pemuka agama. Jadi sebenarnya itu perintah Tuhan menurut mereka teman, bukan menurut kita apalagi menurut Tuhan itu sendiri. Sudahkah kau sadari ini teman? Ah sepertinya belum kau sadari, sehingga semua sumpah serapah itu kau hamburkan di hadapanku. Dan bahkan kau vonis aku tersesat dan telah menghianati Tuhan.

Teman itu semua hakmu untuk memvonis apapun. Saya tidak punya hak untuk melarangmu. Tapi teman, kumohon kepadamu dengan sepenuh hati agar dapat mengerti bahwa aku temanmu ini masih tetap ber Tuhan. Hanya saja cara saya ber Tuhan mungkin sudah berbeda dengan yang dulu kita lakukan bersama. Ya cara saya tidak seperti dulu lagi teman, ketika kita hanya mengiyakan pendapat para pemuka agama itu, dan tidak berani mempertanyakannya. Sungguh wajar saya kira keadaan kita saat itu, sebah pikiran telah dikungkung akan rasa ngeri sebuah neraka, jika meragukan apa yang katanya merupakan perintah Tuhan itu.

Ah teman, tapi apakah kita harus begitu selamanya? Selalu melakukan semua tindakan sebagai suatu bayaran agar kita tidak masuk neraka. Teman, jujur saja aku sangat lelah dengan cara cara demikian. Aku ingin melakukan ber Tuhan dengan cara tanpa perlu membayangkan hukuman yang sangat mengerikan. Alangkah indahnya jika kita ber Tuhan di dorong rasa ikhlas dari indahnya cinta kan teman? Dan sepertinya saat ini saya sedang menuju cara tersebut teman, walau kuakui belum berhasil sepenuhnya.

Teman, saya juga tidak akan pernah memaksa kamu mengikutiku. Jadi tolong teman, jangan paksa saya untuk ke kehidupan ber Tuhan yang melelahkan itu. Dan sekali lagi kutekankan teman, bahwa aku tetap ber Tuhan . Walau kulakukan dengan cara yang berbeda. Ya teman aku ber Tuhan dengan caraku sendiri. Jadi teman , kau buang jauh jauh saja kebencian itu. Sebab teman, walau di cara ber Tuhan kita dulu di benarkan untuk membenci dengan alasan tertentu, tapi kebencian tidak akan membawa kita ke mana mana, kecuali ke lubang kehancuran. Percayalah teman, sebab kehancuran itu telah aku alami.

Dan bilapun pada akhirnya kau tetap membenci aku teman. Camkanlah bahwa aku tidak akan pernah balas membencimu. Sebab kamus kebencian itu sudah aku buang jauh jauh. Semoga damai di hati, damai di bumi teman.