Ditulis oleh sora9n

 

Anda pernah membaca koran? Menonton berita? Ataupun lain sebagainya? Kalau iya, WASPADALAH!!

Anda mungkin sudah kena pengaruh mematikan. Pengaruh yang sedemikian berbahaya, sehingga opini Anda dipengaruhi olehnya. Bahkan, Anda bisa saja percaya sedemikian rupa — padahal, belum tentu berita yang Anda dengar itu mewakili keadaan yang sebenarnya.

Bisa saja Anda sudah menjadi korban pemotongan berita!πŸ‘Ώ

Jadi, di topik kali ini, kami akan menyampaikan bagaimana berita-berita bisa dipotong — dan dipelintir — sehingga maknanya jadi berbeda daripada keadaan aslinya. Jangan sampai Anda terkena serangan tersebut.

Berikut ini ciri-cirinya. Waspadalah, waspadalah!!πŸ‘Ώ

***


1. Berita ini Keterangannya tidak Lengkap

 

Ini adalah cara yang lumayan umum terjadi. Intinya, sebuah berita disajikan dengan mengabaikan beberapa data yang penting. Massa boleh jadi akan langsung bereaksi, ketika mendengar berita macam ini disuarakan di radio dan televisi.

Contohnya kira-kira begini:

Berita:
“Seorang mahasiswa Institut Tak Bergengsi dipukuli oleh aparat.”

Kalau Anda mahasiswa Institut Tak Bergengsi, Anda kemungkinan besar akan langsung marah. Mahasiswa kampus Anda dipukuli oleh aparat — ini tindakan anarkis namanya. Represif! Opresif! Tidak bisa dibiarkan!!😎

…tapi, benarkah begitu kenyataannya?

Ternyata, selidik punya selidik, faktanya adalah sebagai berikut:

Fakta:
“Seorang mahasiswa Institut Tak Bergengsi dipukuli oleh aparat. Peristiwa ini terjadi selepas pertandingan Persib melawan Persija — di mana terjadi kerusuhan dan bentrok antara aparat dan suporter. Mahasiswa ini sendiri sempat terdengar meneriakkan kata-kata provokatif ketika bentrok tersebut berlangsung.”

Lihat, hampir saja terjadi dendam antara rekan-rekan si mahasiswa terhadap aparat. Itulah kekuatan pemotongan berita!!πŸ‘Ώ

Contoh lain:

Berita:
“Pemerintah Israel dan Amerika itu diam saja terhadap penderitaan kaum Muslim Palestina!”

Apakah berita itu benar? Tentu saja benar. Lha, ada skrinsut™-nya di televisi dan koran, kok. Tapii… kenyataan lebih lengkapnya adalah…

Fakta:
“Pemerintah Israel dan Amerika itu diam saja terhadap penderitaan kaum Muslim Palestina. Tapi negara-negara Arab juga banyak yang tidak bersuara. Bahkan Arab Saudi, yang dianggap sebagai ‘biangnya’ negara Islam, tidak pernah melancarkan protes keras ke dua negara tersebut soal ini.”

Sekali lagi, waspadalah!!:mrgreen:

 


2. Bisa jadi Subyeknya disamarkan

 

Berbeda dengan sebelumnya, kali ini subyeklah (si tokoh dalam berita) yang jadi ‘korban’. Subyek disederhanakan sedemikian rupa, sehingga berita jadi bernilai lebih positif.

Biasanya, trik ini dilakukan jika si tokoh memiliki citra buruk di masyarakat.

Contoh:

Berita:
“Seorang pria berusia 80-an tahun dilarikan ke rumah sakit karena stroke.”

Pertama kali mendengarnya, Anda mungkin bersimpati pada pria tersebut. Mungkin juga Anda berdoa supaya beliau cepat diberi kesembuhan.

Tapii… lagi-lagi tapi. Lihat dulu fakta yang sudah disembunyikan dengan rapi:

Fakta:
“Pria tersebut adalah Soeharto, mantan Presiden RI yang pernah berkuasa selama 32 tahun”

Masihkah reaksi banyak orang sama dengan sebelumnya?πŸ˜‰

 


3. Kalimatnya diambil Out-of-Context!

 

Selain pemotongan macam di atas, ada juga teknik menerjemahkan di luar konteks. Dengan cara ini, Anda bisa disuguhi berita yang bermutu — beritanya benar dan bukan hoax. Meskipun begitu, dengan memanfaatkan perbedaan interpretasi, sebuah berita bisa dimanfaatkan untuk menggiring opini publik.πŸ‘Ώ

Contohnya kira-kira…

Berita:
Seorang pakar mengklaim, “Saya menemukan klip lagu ‘Indonesia Raya’ 3-stanza dengan bantuan server Belanda.”

Cerita selanjutnya, kita tahu sendiri lah. ^^

Apakah sang pakar berbohong? Boleh jadi tidak. Bagaimana kalau faktanya ternyata sepeti berikut ini?

Bisa saja:
Sang pakar menemukan klip lagu tersebut di sebuah situs. Ternyata, setelah dicek data WHOIS-nya, diketahui bahwa server situs itu memang berlokasi di Belanda.

Nah, lho…:mrgreen:

Sang pakar tidak berbohong — bahwa dia mendapatkan lagu tersebut dengan bantuan server Belanda. Lha, hosting situs tempat dia menemukannya saja servernya di Belanda, kok?πŸ˜†

Ada juga contoh lainnya seperti berikut ini.

Berita:
“Semua pesawat terbang di maskapai X baru saja mendapatkan sertifikat kelayakan terbang. Jadi, jangan khawatir untuk terbang bersama mereka.”

Apakah benar mereka punya sertifikat? Betul, mereka punya. Bahkan mereka mampu menunjukkannya. Tapiii… adakah fakta yang tersembunyi?

Fakta:
Ternyata sertifikat itu didapat berdasarkan hasil kongkalikong dengan otoritas Y. Bahkan pesawat yang baru beberapa hari kena grounding pun sudah boleh terbang lagi.

Hohoho!:mrgreen:

Jadi, sekali lagi: hati-hatilah pada informasi di sekitar Anda!!πŸ‘Ώ

***

Mungkin masih ada lagi beberapa teknik pemotongan berita yang belum dibahas di sini. Meskipun begitu, tiga trik itulah yang paling umum dipakai dalam ‘mengolah’ berita.

Bahkan berita yang jujur pun bisa dipelintir seperti di atas. Apalagi berita yang betul-betul hoax — alias murni kebohongan??

Oleh karena itu, waspadalah!!πŸ‘Ώ