oleh Sousakiy I.M.[1]

 

Boleh percaya boleh tidak, Anda para pria yang tinggal di Indonesia ini harusnya bersyukur. Bahwasanya, Anda sekalian ini beruntung tidak terlahir sebagai wanita.

Jadi wanita itu, sesungguhnya, adalah hal yang berat. Saya yakin Anda sebagai pria tak mampu menanggungnya. Harga diri Anda akan jatuh dan hancur berkeping-keping!!๐Ÿ‘ฟ

Tentu saja Anda bakal kerepotan. Bukan saja Anda dicap lemah dan harus dilindungi oleh pria — Anda bahkan akan terus dipersalahkan untuk hal-hal yang sebetulnya bukan murni kesalahan Anda.

Misalnya begini:
 

  1. Jika Anda masih sendirian dan belum menikah sampai umur 35 tahun, orang-orang akan mulai menggunjing Anda sebagai calon perawan tua. Sementara, tak banyak orang hendak menggosip jika bapak ganteng berumur 40 tahun tetap melajang hingga paruh baya.
  2.  

  3. Anda suka mendaki gunung? Hiking? Main bola? Semua kegiatan yang ‘cowok banget’? Sebaiknya jangan. Ibu-ibu dan tante-tante Anda akan menyuruh Anda “bersikap lebih feminin”. Permintaan ini bahkan disertai ancaman maut: “kalau kamu kayak begitu terus, ntar nggak ada cowok yang mau lho”.:mrgreen:
  4.  

  5. Orang dewasa biasa beranggapan bahwa kamar anak cowok itu umumnya berantakan. Tapiii… kalau Anda adalah anak perempuan dan kamar Anda berantakan, Ibu Anda akan langsung menegur Anda dan berkata: “Kok kamarmu nggak rapi, sih? Kamu itu kan cewek!!”๐Ÿ˜†
  6.  

  7. Bahkan, kalau Anda berpakaian terbuka di tempat umum dan Anda kemudian menjadi korban perkosaan, Andalah yang langsung disalahkan. Bukannya si pria brengsek bejat gila seks yang melakukan perkosaan, masyarakat justru menghakimi Anda sebagai pangkal sebab terjadinya perkosaan tersebut. Lha, padahal yang memaksakan nafsunya kan bukan Anda ya?๐Ÿ™„
  8.  

  9. Beberapa orang cowok bahkan menganggap bahwa cewek itu adalah sejenis ‘barang’ yang harus diperebutkan, seperti tercermin dalam dialog di bawah ini[2].

    A:
    “Gw tau lo naksir dia. Tapi yang duluan naksir dia tuh gw. Lo nggak berhak ngeduluin nembak dia.”

    B:
    “Eh, nggak bisa gitu dong? Ini persaingan bebas, men!”

  10.  

  11. Lebih parah lagi kalau radikalisme agama sudah dibawa-bawa[3]. Kaum wanita harus dibungkus rapat-rapat, dipaksa tinggal dalam rumah, dan rela dipoligami[4]. Alasannya, tentu saja karena itulah yang ditentukan oleh Tuhan untuk kebaikan manusia™ di akhirat kelak™. Menolak? Selamat, Anda baru saja memesan tiket ke neraka dunia dan akhirat.๐Ÿ˜†

 

Memang sih, di sisi lain, kalau Anda cukup cantik dan menarik Anda bisa mendapatkan beberapa keuntungan tersendiri dari para cowok[5]. Tapi itu kan seandainya… dan kenyataannya nggak semua cewek itu ‘cantik’ lho.๐Ÿ™‚

***

Jadi, intinya, saya rada bersyukur bahwa saya terlahir sebagai pria ke dunia ini sekitar duapuluh tahun lalu. Menjadi wanita itu adalah hal yang berat, dan membutuhkan banyak kesabaran… terutama di negeri bernama Indonesia ini.

BTW, saya jadi kagum juga. Kok mereka bisa bertahan ya diperlakukan kayak begitu? (o_0)”\

 

 

—–

Catatan:
 

*) Tulisan di atas dibuat berdasarkan pengamatan seorang pria mengenai kehidupan para wanita di sekitarnya, dan semua poinnya didasarkan pada kasus yang benar-benar terjadi.

[1] Udah lama nggak pakai nickname ini.๐Ÿ˜›

[2] Pernah benar-benar terjadi. Nggak bohong lho.

[3] Mengacu pada fundamentalisme Islam kebablasan yang sempat saya singgung di post yang lalu

[4] Sebenarnya sih nggak begitu juga. Ada berbagai ketentuan yang harus dipertimbangkan mengenai hal-hal tersebut, yang — sayangnya — lebih sering diabaikan/terabaikan oleh masyarakat.

I.e. soal persyaratan poligami dan ketertutupan pakaian wanita. Beberapa ulama kontemporer bersikap lebih hati-hati dalam membahas masalah tersebut, termasuk mengenai relevansinya dalam kehidupan di masa kini (AFAIK, CMIIW).

[5] Cowok-cowok tajir tukang drooling yang gak bisa liat cewek cakep… you know what I mean lah.๐Ÿ˜›