oleh sora9n

 

    Catatan awal (ditambahkan 15 Desember 2007)
    Post ini secara garis besar membahas perilaku sebagian umat Islam (radikal) di tataran global. Oleh karena itu, isinya tidak mutlak mencerminkan keadaan umat Islam dunia per se.

 

Tempo hari, ketika sedang mencari data untuk mengerjakan tugas kuliah, saya sempat ‘nyasar’ ke berbagai situs dan blog yang membahas tentang aktivitas Islam radikal di dunia internasional.

OK, OK, Anda mungkin bosan mendengar saya mengoceh lagi dan lagi dan lagi tentang radikalisme agama yang saya menjadi anggotanya ini. Sesungguhnya, ini belum apa-apa — karena, aslinya, tugas makalah yang saya kumpulkan kemarin itu memang sedikit menyinggung propaganda jihad di masa kini. But, for the sake of few things… mari kita kesampingkan hal itu untuk saat ini.:mrgreen:

Nah, kembali ke topik.

Jadi, ketika saya sedang sibuk googling tema-tema yang berkaitan, saya menemukan beberapa blog yang membicarakan hal sejenis. Saya tak akan berpanjang-panjang menulis semua yang mereka bicarakan — sebagai gantinya, saya akan menyampaikan kutipan yang terdapat di salah satu blog tersebut.


Doesn’t it strike folks strange that Muslims are upset at the Pope’s comments about Islam being a violent religion, then they turn around and threaten to hang him and commit jihad across the globe? I guess they don’t see the irony in their actions and words.

 

Kalau Anda seorang muslim, harusnya Anda merasa tertohok oleh tulisan orang yang (kelihatannya) merupakan nonmuslim tersebut. Mengapa?

Saya beri kesempatan untuk berpikir.

Sudah ketemu jawabannya? Kalau belum, biar saya jelaskan dengan berbagai contoh kasus di bawah ini.

 

Pertama:

Agama Anda disatirkan sebagai agama teroris dan tukang bom oleh sebuah harian umum di Denmark. Sudah barang tentu Anda marah besar. Tapi, apa yang terjadi selanjutnya?

Ternyata umat Islam malah berbuat kerusuhan dan marah-marah di seluruh dunia. Bahkan sebuah bom hampir saja meledak dalam gerbong kereta di Jerman sebagai buntutnya. Di sisi lain, sebagian besar umat kemudian mengutuk-ngutuk negeri Denmark sebagai “ancaman besar terhadap Islam”.

Ironis? Jelas iya. Ketika umat Islam dikatakan sebagai pengikut agama yang kejam dan berjiwa teroris, mereka kemudian marah atas stigmatisasi tersebut. Tapi ternyata… kelakuan mereka sebagai respon tak beda jauh dari stigma yang dituduhkan. Kalau Anda adalah seorang muslim. Mau dibawa ke mana muka Anda?๐Ÿ˜Ž

Toh kenyataannya masih ada cara-cara lebih beradab yang bisa dilakukan. Boikot ekonomi dan tindakan diplomatis jauh lebih bermartabat daripada jutaan sumpah-serapah dan pengeboman, bukan?๐Ÿ™„

 

Kedua:

Paus Benedict memberikan pidato yang membuat kaum muslim kecewa berat. Konon, dalam pidatonya tersebut, sang Paus dianggap melecehkan agama Islam sebagai agama penuh kekerasan dan disebarkan dengan pedang.

Apa yang terjadi? Umat Islam rusuh lagi. Dua gereja ortodoks di Tepi Barat dilempar molotov; konon sebagai respon atas ucapan Paus tersebut. Sampai-sampai ada yang minta agar Paus tersebut digantung. Padahal, apa yang terjadi? Konon sebenarnya Paus sedang mengutip dokumen kuno dan tidak terang-terangan menyatakan opini pribadinya (transkrip pidato [di sini]).

Tapi, mari kita singkirkan soal kutipan-atau-bukan itu. Masalahnya cuma satu:

Kalau Anda merasa tersinggung dianggap kejam dan cinta kekerasan, BUKTIKAN SEBALIKNYA!! Bukannya bertindak agresif dan kampungan model begitu!๐Ÿ‘ฟ

Sekali lagi. Mau dikemanakan muka Anda? Tak peduli Anda bilang bahwa agama Anda bukan “penyebar teror”, kenyataan tetap kenyataan. Umat Islam sendiri malah seolah menguatkan pernyataan tersebut — dengan cara seperti yang saya jelaskan di atas.

Kalau Anda tanya saya, kebencian tak akan pernah menyelesaikan masalah. Sekarang, salah siapa kalau orang-orang di Amerika dan Eropa memprasangkai “Islam” sebagai biang kekerasan? Harusnya kita (umat muslim) meng-uswah-i apa yang disampaikan oleh Pak Din Syamsuddin sehubungan dengan kasus di atas itu; sebagaimana yang akan saya kutipkan di bawah ini.๐Ÿ˜


“Kita tidak akan mengirim pernyataan ke Vatikan,tetapi mari kita buktikan Islam sebagai agama kasih, tidak hanya dengan kata-kata tapi dengan tindakan.’

[sumber]

 

Ketiga:

Amerika Serikat (AS) menginvasi Irak dan Afghanistan. Seluruh dunia Islam meradang karenanya. Konon Presiden Bush Jr. melakukan invasi tersebut untuk melawan terorisme, yang (menurut rahasia umum) merupakan kamuflase dalam merujuk umat Islam dunia.

Nah, umat Islam marah besar. Penyebabnya dua hal: Pertama, AS menyerang dua negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam tanpa alasan yang jelas. Kedua, secara implisit umat Islam dikesankan sebagai biang teroris yang harus diperangi.

Sudah tentu umat bereaksi… dengan cara yang sama seperti dua kasus sebelumnya:mrgreen: . Aduh, sial — umat ternyata terbawa nafsu main generalisasi. Bukan saja Pak Bush dan stafnya yang disumpahi masuk neraka dan ditimpa azab; seluruh rakyat Amerika pun terkena bonus ikut dianggap “laknatullah”. Padahal sudah jelas ada sebagian di antara mereka yang menolak kebijakan perang sang Presiden.

Yang lebih payah lagi, pada saat rakyat Amerika merana diterjang badai Katrina dan kebakaran besar California, dua peristiwa itu dianggap AZAB pemberian Allah. Beberapa gelintir kaum muslim bahkan terang-terangan mensyukuri peristiwa “bahagia” ini.

Hei Bung, Amerika bukan cuma orang jahat saja isinya! Memangnya Anda bahagia kalau muslim Amerika sekaliber Pak Jeffrey Lang tewas terkena badai? Anda bahagia kalau sutradara kritis semacam Michael Moore mati diazab Allah?๐Ÿ˜

Anda mungkin masih berani bilang umat Islam itu mengedepankan toleransi. Padahal, kenyatannya, mereka justru bersikap tidak patut. Kalau Anda benci pada pemerintahnya, bukan berarti Anda OTOMATIS harus membenci seluruh warganegaranya!!๐Ÿ‘ฟ

Yang kayak begini inilah citra umat Islam di mata dunia. Pembenci dan kampungan. Seandainya ayah tetangga Anda hobi berantem di klab malam, bukan berarti istri dan anaknya juga layak dibenci. Jika pemerintah Amerika bersikap menyebalkan, bukan berarti seluruh warganegaranya boleh Anda laknat seenaknya.

Kalau meletakkan kebencian saja masih salah tempat, bagaimana bisa Anda mengklaim bahwa umat Anda itu “mengutamakan kasih sayang”?๐Ÿ˜

***

Terkadang, saya berpikir. Mungkin memang umat Islam ini punya kelemahan yang sangat mendasar. Entah kenapa, jika mereka merasa dikritik karena sikap kerasnya, mereka justru membalas kritik tersebut dengan sikap defensif yang sama kerasnya. Ironis.

Terkadang saya juga berpikir, bahwa umat Islam ini sebagian besarnya bukan umat yang siap menerima kritik. Disindir habis-habisan model tulisannya wadehel, mereka marah. Disampaikan model baik-baik dan sopan, yang kontra pun masih ada. Dituduh teroris? Mereka malah semakin keras menyumpah dan melaknat pihak yang menyebut diri mereka teroris.๐Ÿ˜ฆ

Pada akhirnya respon umat hanyalah membuktikan tuduhan yang sudah dilemparkan pada mereka sebelumnya. Menyedihkan sekali.๐Ÿ˜

Religion of Hypocrites, anyone?