oleh Amed

 

Pernah membaca tulisan saya yang ini? Well, artikel ini saya jadikan penjelasannya, karena tulisan tersebut (ternyata) tidak cukup untuk mendeskripsikan separah apa keadaan Kalimantan. Untuk itu, kali ini saya mencoba menulis di sini, dengan harapan semoga lebih banyak yang aware dengan apa yang telah, tengah, dan mungkin akan terjadi di Kalimantan…

 

Selamat Datang di Kalimantan
 

Kalimantan adalah pulau terluas ketiga di dunia, setelah Tanah Hijau dan Papua. Pulau ini dikenal kaya, antara lain akan flora dan fauna, yang bahkan belum semuanya bisa terdata. Selain itu pulau ini juga menyimpan kekayaan khasanah budaya yang luar biasa banyaknya, dari suku-suku Dayak di pedalaman, hingga masyarakat maritim di pesisir, semuanya memiliki kekhasan budaya yang sudah selayaknya dilestarikan.

Akan tetapi, yang paling menggiurkan penting tentunya adalah alamnya yang amat kaya. Ada tambang, ada energi, ada hutan, ada pertanian, ada perikanan, dan lain-lain. Ya, yang ditambang bisa jadi emas, minyak, batubara, bahkan sampai batu gunung.

Populasi Kalimantan sendiri masih sedikit. Banjarmasin, sebagai kota niaga terbesar di Kalimantan, hanya berpenduduk sekitar 640 ribu jiwa. Itu pun sudah jadi yang paling padat! Rata-rata per hektarnya, Kalimantan hanya didiami 2 manusia! Dan dari jumlah yang sedikit itu, hanya sebagian kecil yang mengecap pendidikan yang cukup tinggi. Alam yang kaya membuat masyarakatnya kerap terlena dengan zona nyaman, merasa alam akan memberikan segala yang mereka butuhkan, dan kerap memandang rendah pendidikan.

Ini membuat pulau ini begitu bergantung pada SDM-SDM terdidik dari luar pulau, utamanya dari Pulau Jawa, dan tentunya juga dari luar negeri, a.k.a Ekspatriat.
Sementara alamnya begitu kaya dan siap dikeruk, masyarakatnya cenderung tidak memiliki keahlian yang mumpuni. Sehingga, dengan sangat terpaksa, kebanyakan hanya jadi kuli-kuli rendahan, sesuruhan bos-bos besar yang memegang kuasa.

 

Selamat Datang di Kalimantan, Pulau yang Ironis
 

Sementara itu eksplorasi dan eksploitasi besar-besaran di pulau ini terus terjadi. Kayu [baca: hutan] merupakan komoditas yang pertama disikat, bahkan ia yang sejatinya adalah paru-paru dunia itu justru ikut andil dalam mencetak rekor!

Ada lagi? Well, setelah hutan dibabat, sempat ada proyek besar-besaran yang gagal total, dan cuma jadi obyek korupsi berjamaah. Selain itu perkebunan monokultur skala besar juga sedang gencar-gencarnya dilakukan. Hasilnya? Selain merusak alam, juga berperan dalam ekspor asap ke negara tetangga. Parahnya, yang dikambing hitamkan adalah para petani adat yang sudah sejak dulu menerapkan pola ladang berpindah!

Nah, primadona utama (saat ini) dari Kalimantan adalah batubara. Peduli setan dengan Konvensi di Bali atau kontrak jual beli emisi karbon yang didengungkan di mana-mana. Yang jelas berton-ton bahan penghasil karbon ini toh tetap digaruk dan diangkut keluar pulau. Mau legal atau ilegal, sebenarnya sama saja, yang jelas sama-sama merusak alam, dan tidak memberi sesuatu yang cukup untuk kesejahteraan masyarakat secara luas.

Loh, kan ada Reklamasi? Kan ada CSR?

Ya, saya bukannya ingin bersikap skeptis. Tapi nanti silakan cek lampiran di bawah untuk melihat sendiri hasil reklamasi tersebut. Sedangkan CSR yang dijanjikan kepada penduduk setempat sungguh jauh dari target yang diharapkan, bahkan cenderung lebih sering jadi objek promosi terselubung! Parah!

Yang didapat masyarakat cuma debu, jalan negara yang rusak, kecelakaan, dan hilangnya penopang ekosistem. Sebandingkah itu semua dengan PAD yang didapat pemerintah daerah?

Menurut Berry Nahdian Forqan, Direktur Eksekutif Walhi Kalsel, sekitar 70 persen batubara yang ditambang dari bumi kalimantan diperuntukkan bagi ekspor. Sekitar 27 persen lagi digunakan untuk menerangi pulau Jawa, dan sisanya (hitung sendiri berapa) itulah yang dipakai untuk pembangkit listrik di seantero kalimantan!!! Jadi jangan heran kalau pulau penghasil batubara terbesar di dunia justru kerap dilanda byar pet, sungguh ini bukan sesuatu yang ironis, ini BIASA! Sama “biasa”nya dengan antri BBM di Balikpapan yang dikenal sebagai Kota Minyak!

 

Selamat Datang di Kalimantan… dan Mulai Bekerja (?)
 

Dan setelah semua uneg-uneg ini tertumpah, pertanyaan besarnya, apa yang bisa saya lakukan?

Mulai dari diri sendiri? Mulai dari hal-hal kecil? Mulai dari sekarang?

  1. Menanam sebatang pohon (di depan calon rumah saya) tidak membuat saya dapat menghentikan pembabatan hutan lindung di wilayah Aranio.
  2. Mematikan dua lampu setiap 18-22 tidak membuat saya dapat menghentikan pemadaman listrik bergilir.
  3. Menggunakan bensin bebas timbal tidak membuat saya dapat menghentikan dipermainkannya stok BBM di pulau ini.
  4. Mengurangi pemakaian kantung plastik tidak membuat saya dapat menghentikan penambangan tak kenal ampun.
  5. Buang sampah pada tempat dan waktunya tidak membuat saya dapat menghentikan banjir akibat ladang sawit jutaan hektar.

Jadi apa yang bisa saya lakukan? Hanya mengkritik? Hanya menulis? Hanya mengumpulkan link?

Sebenarnya jauh lebih dalam lagi, ada harapan muluk dari posting saya kali ini. Saya berharap dari sini tercipta semacam multiplier effect. Yang membaca jadi ikut tercerahkan, yang berkomentar bisa memberi saran yang positif, yang kesasar dari search engine bisa menjadikan tulisan ataupun tautan yang ada di posting ini sebagai referensi tulisannya.

Tidak, saya tidak ingin menulis hanya untuk peringatan satu hari, kemudian dilupakan lagi esoknya. Saya menulis untuk kemarin, hari ini, dan esok. Saya menulis, seperti ujar Bangaip, untuk melawan rasa takut; saya menulis untuk melawan lupa.

Jadi setelah membaca tulisan ini sampai habis, apakah Anda masih mau ikut rame-rame menghancurkannya??? Atau Anda akan lebih memilih Kalimantan “dikembalikan” kepada Malaysia?

 

 

[Lampiran]

Foto-foto terkait, just in case anda berpikir tulisan di atas hanyalah hoax. Sengaja hanya saya sediakan link-nya, biar tidak memberatkan loading anda-anda yang fakir benwit.
1. Banjir Kotabaru dilihat dari udara.
2. Banjir Satui dan jembatan putus.
3. Bukan alat transportasi baru.
4. Danau beracun, bukan danau Kelimutu.
5. Danau sisa tambang batubara, bukan danau Toba.
6. Sisa-sisa jarahan manusia.
7. Hutan yang mulai botak.
8. Kiri kanan, lokasinya bersebelahan loh!
9. Ini katanya reboisasi.
10. Reboisasi di luar… Dalamnya?
11. Monster penggaruk bumi.
12. Proses loading batubara di stockpile.
13. Stockpile nan berdebu.
14. Pelsus yang marak narkoba dan prostitusi.
[ Bonus ]
15. Limbah cair pabrik yang ikut ngotori.
16. Limbah padat pabrik yang takkan terurai hingga era cucu kita kelak.
17. Sampah, problema klasik.
18. Ada yang bisa ngasih tahu ini gambar apa?