oleh JoeSatch.

Sebentar lagi libur Tahun Baru Hijriyah. Tentu saja libur itu kusambut dengan suka-cita, karena dari dulu, dari jaman kecil, setiap beli kalender baru, hal pertama yang kulakukan adalah melihat-lihat tanggal merahnya. Tanggal merah berarti ndak usah sekolah. Betapa menyenangkannya. Tidak ada kewajiban malam sebelumnya harus bikin pe-er yang memang tidak begitu kusukai.

Dan sehubungan dengan tahun baru-tahun baruan, kemarin waktu mau masuk pergantian tahun 2007 ke 2008, seorang teman mengirimkan komentar di blogku yang lama. Isi komentarnya sebagai berikut:

Assalaamu’alaikum
Mas, mungkin artikel berikut menarik untuk antum baca..
http://tausyiah275.blogsome.com/2007/01/19/perlukah-merayakan-tahun-baru/

Wassalaam

Aku tertarik. Saat itu juga, sebelum melihat isi tulisan yang diajukan temanku itu, di benakku sudah terbayang akan hal-hal yang kontroversial yang bakal membuat adrenalinku mengamuk untuk kemudian tulisan itu kujadikan bahan tulisan sekehendak otak ngawurku ini. Maka akupun segera cabut ke tempat kejadian perkara, dan kemudian mendapati sebuah tulisan dengan isi mirip seperti yang kuramalkan: hukum menyambut tahun baru dalam bentuk apapun adalah bid’ah!

Lalu kenapa tulisan itu baru kubahas sekarang? Simpel. Sebentar lagi, kan, tanggal merah Tahun Baru Hijriyah. Dan menurut tulisan tersebut, sekalipun merayakan tahun baru secara Islami tetap saja tergolong perbuatan bid’ah. Dan kalo kebanyakan berbuat bid’ah kita bakal masuk neraka. Dan kalo masuk neraka kita bakal dibakar di sana. Dan kalo dibakar di sana tubuh kita bakal gosong. Sumpah!

Maka marilah kita mengkritisi poin-poin tulisan itu satu-persatu:

Beberapa waktu lalu, di awal tahun 2007, aku tiba2 ingin tahu, apa hukumnya menyambut tahun baru dg ibadah….??

Aku cari-cari referensi di buku dan internet, serta bertanya kepada beberapa guruku, hasilnya, RASULULLOH SAW TIDAK MENCONTOHKAN MEMPERINGATI TAHUN BARU…bahkan dengan dzikir, ataupun ibadah apapun. Bahkan, di beberapa referensi, aku temukan bahwa itu adalah BID’AH..!!!

Jelas sekali, sodara-sodara! Jelas sekali kalau setiap pembaharuan itu diartikan sebagai bid’ah, maka hukum menyambut tahun baru dengan ibadah adalah bid’ah. Bagaimana tidak bid’ah, wong Rasulullah tidak pernah mencontohkannya. Yang jadi permasalahan sekarang, apakah yang setiap tidak dicontohkan oleh Rasul itu termasuk kategori bid’ah yang dosanya bakal menyebabkan kita dibakar di neraka?

Untuk lebih jelasnya, berikut uraian singkat tentang apa itu pengertian bid’ah:

In Islam, bid‘ah (Arabic: ????) is any type of innovation. Though innovations in worldly matters are acceptable to an extent, innovation within the religion is seen as a sin in Islam…

Sumber dari Wikipedia

Hei, lantas bagaimana dengan pembukuan Al Qur’an di jaman Khalifah Ustman? Rasul juga tidak pernah mencontohkannya, kan? Apa lantas Khalifah Ustman juga termasuk salah seorang jagowan bid’ah kelas kakap?

Dab, di jaman Rasul bahkan sistem kalender Hijriyah pun belum ada. Kalo lantas para sahabat-sahabat Nabi pada era setelah Nabi wafat mengadakan cara penghitungan waktu dengan bentuk penanggalan Hijriyah untuk mempermudah kehidupan umat, apa itu juga bisa disebut bid’ah?

Lalu, apakah memang setiap perbuatan yang kita lakukan dan merangkaikannya dengan mengingat Tuhan pencipta kita itu adalah bid’ah?

Sekarang coba perhatikan hasil imajinasiku berikut ini: beberapa hari lagi aku bakal menghadapi ujian pendadaran tugas akhir kuliahku. Lalu seminggu sebelumnya aku jadi mati-matian mendekatkan diri dengan Tuhanku, minta supaya saat-saat aku menghadapi dosen-dosen pengujiku nanti segala usahaku dilancarkan. Lihatlah, aku menyambut ujian pendadaran tugas akhirku dengan ibadah, dengan mendekatkan diri pada Tuhanku, dengan memohon kelancaran perkaraku padaNya, apa itu juga disebut bid’ah?

Perhatikan lagi. Aku MENYAMBUT UJIAN PENDADARAN TUGAS AKHIRKU DENGAN IBADAH, apakah itu juga bakal disebut bid’ah? Untuk menambah pengetahuan pembaca sekalian, di jaman Rasul belum ada yang namanya ujian pendadaran, di jaman Rasul belum ada UGM, di jaman Rasul belum ada jurusan Ilmu Komputer. Dan karena Rasul tidak pernah mencontohkan berdoa ketika akan menghadapi ujian pendadaran tugas akhir bidang studi Ilmu Komputer, Universitas Gadjah Mada, apa lantas semua yang bakal kulakukan nanti akan disebut sebagai bid’ah? Hah? Hah? Hah?

Bagaimana kalo setiap berangkat kuliah aku naik motor dan sebelum naik motor aku berdoa supaya selamat di perjalanan? Apa itu juga bid’ah karena aku menyambut proses berlarinya Yamaha Alfa II-R-ku dengan ibadah? Jaman Rasul belum ada motor, John!

Ini bid’ah, itu bid’ah. Sekalian aja semua proses kehidupan kita disebut dengan bid’ah yang bakal mengantarkan kita ke gerbang neraka! Kenapa tidak? Semua proses kehidupan yang sekarang kita jalani, kan, sudah berbeda jauh dengan proses kehidupan di jaman Rasul.

Menurut pengetahuanku, yang pantas disebut bid’ah dan dihitung sebagai dosa itu adalah mengada-adakan tata-cara ibadah baru selain dari apa yang diajarkan Rasul. Kasusnya, sampai sejauh mana urusan dunia dan akhirat itu bisa dibedakan? Semprul banget kalo ada yang ngomong, setiap kegiatan baru yang di dalamnya terkandung unsur ibadah maka itu termasuk perbuatan bid’ah.

Tahun baru itu proses budaya, sama seperti naik motor, ujian pendadaran, dan UGM, kalo menurutku. Bukan proses ibadah. Budaya, selama tidak mengandung unsur-unsur yang esensinya melanggar syariat agama, maka menurutku hal itu bukanlah bid’ah. Budaya itu suatu konsepsi yang berdiri sendiri dan terpisah dengan ibadah. Ibadah juga berdiri sendiri, nggak ada kaitannya dengan budaya. Karena alasan itu juga aku sering menolak Islam yang kearab-araban. Seakan-akan Islam tidak bakal bisa berdiri sebagai sesuatu yang utuh tanpa budaya Arab di dalamnya. Islam ya Islam, Arab ya Arab! Dua hal itu sangat berbeda kedudukannya.

Kembali ke tahun baru-tahun baruan itu. Aku berpendapat, justru alangkah bagusnya kalo ketika kita menjalani suatu proses budaya kita tidak melupakan keberadaan Sang Pencipta kita. Malah bagus kalo ketika kita merayakan tahun baru justru kita isi dengan mendekatkan diri kepada Tuhan. Lagian, apa iya mengingat Tuhan itu dibatasi pada momen-momen tertentu? Apa nggak boleh, tho, ketika kita sedang melakukan perbuatan yang dulu nggak ada di jaman Rasul justru kita isi dengan mengingat Tuhan?

Yang disebut ibadah itu mengingat Tuhan-nya dan yang disebut budaya itu “pesta” tahun barunya. Mengingat Tuhan adalah suatu konsepsi yang berdiri terpisah dengan proses kemeriahan tahun baru, Dab. Kebetulan aja keduanya dirangkaikan dalam 1 kesempatan. Apa itu nggak boleh? Ah, kalo iya, ternyata kita semua sedang membatasi diri untuk beribadah kepada Tuhan. Jangan-jangan, besok-besok, kita malah nggak boleh shalat Tahajjud pas malam tahun baru!

Contoh lain, lihat aja budaya Jawa, misalnya selapanan setelah kelahiran bayi. Ritual selapanan ala Jawa itu proses budaya, Dab. Kalo kemudian diisi dengan ibadah semacam pengajian yang isi pengajiannya mengajak kita untuk selalu ingat dan mensyukuri titipan Tuhan, ya itu bukan bid’ah, ah. Selapanan bukanlah ibadah. Yang ibadah itu pengajiannya, juga kalo kemudian kita bersedekah membagi-bagikan makanan kepada tamu undangan. Kebetulan aja (lagi-lagi) proses ibadah itu dilakukan bersamaan dengan proses budaya, kebetulan aja sikonnya sangat mendukung untuk itu.

Yang bisa disebut bid’ah adalah kalo ketika ritual selapanan itu dijadikan semacam kewajiban dalam rangka menegakkan syariat agama. Itu baru namanya bid’ah! Sama seperti ketika kita mengubah urutan berwudhu mulai dari membasuh kaki baru kemudian diakhiri dengan kumur-kumur, ya yang kayak gitu yang dinamakan mengada-adakan perkara baru dalam konteks ibadah.

Kalo sekarang kita nggak bisa membedakan mana proses budaya dan mana proses ibadah, itu ya salah kita sendiri. Artinya pemahaman kita terhadap tata-cara ibadahlah yang masih sempit. Kita masih nggak bisa menerapkan esensi bahwa mengingat keberadaan Pencipta kita itu nggak terbatas oleh waktu dan peristiwa. Mbok mikir dikit, tho. Dasar gembel!

Masih di artikel yang sama, aku juga mendapati “keburukan-keburukan” dalam merayakan tahun baru. Kukritisi aja satu demi satu.

1. Merupakan salah satu bentuk tasyabbuh (menyerupai) dengan orang-orang kafir yang telah dilarang oleh Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam

Menyerupai? Menyerupai yang bagaimana dulu?

Rasul memang melarang kita menyerupai orang-orang (yang dicap) kafir. Tapi apa yang nggak boleh kita serupai itu? Apa hal-hal yang baik dari mereka juga nggak boleh kita serupai? Menurutku, yang nggak boleh diserupai itu adalah perbuatan-perbuatan yang menimbulkan kerugian, misalnya kebiasaan ngebirnya orang Jerman, kebiasaan mabuknya orang Irlandia, atau malah College Fuck Fest-nya Amrik. Itu yang nggak boleh kita tiru.

Lha kalo semua yang dilakukan oleh orang (yang dianggap) kafir nggak boleh kita tiru, memangnya di jaman sekarang ini ada yang nggak kita tiru dari mereka? Lihat yang deket kita, deh. Perhatikan apa yang menempel di tubuh kita dulu.

Sudah? Apa yang kita lihat? Pakaian? Cara menjahitnya kita menyerupai siapa? Siapa yang menciptakan mesin jahit? Jawab! Dasar bajindal!

Ngetik? Siapa yang menemukan mesin tik? Berikutnya, siapa yang menemukan komputer? Sistem operasi Windows, itu hasil idenya siapa? Bill Gates atau Bilal?

Kita makan apa? Nasi? Masaknya pakai apa? Siapa yang menemukan rice-cooker? Siapa yang punya ide bikin kompor gas? Siapa? Sahabat Rasul yang mana yang punya ide kayak gitu?

Tahun Masehi? Okelah, kita boleh saja mengklaim kenapa kita nggak pake tahun Hijriyah yang “katanya” lebih beridentitas Islam. Tapi kita juga tahu, kan, kalo negara-negara maju di barat sana pada make penanggalan Masehi? Penggunaan sistem penanggalan yang sama dengan barat itu cuma untuk mempermudah urusan keduniaan kita dengan negara barat, John. Kalopun memakai sistem kalender Hijriyah, jangan dipikir negara-negara Timur Tengah yang menggunakannya serta-merta lantas cuek-bebek dengan penanggalan ala barat. Mampus perekonomianmu kalo ngeyel nggak mau berlaku mirip mereka!

Makanya, John, jangan membabi-buta dalam menafsirkan dalil. Tahun baru sekalipun nggak selamanya isinya cuma hal-hal yang negatif tiruan dari orang kafir. Semuanya tergantung bagaimana kita menyiapkan “acara kumpul-kumpul” pas tahun baru itu. Habis ini kukasih contoh kalo malam tahun baruan malah bisa diisi dengan hal-hal yang sangat positif, asal jangan dibilang sebagai bid’ah aja.

2. Melakukan amal ketaatan seperti dzikir, membaca Al Qur’an, dan sebagainya yang dikhususkan menyambut malam tahun baru adalah pebuatan bid’ah yang menyesatkan.

Ups, sudah kubahas di atas. Bedakan yang mana proses budaya yang bersifat keduniaan dan mana yang merupakan proses ibadah serta berorientasi akhirat. Sekali lagi, aku khusus berdoa menyambut pendadaran tugas akhirku supaya prosesnya berjalan lancar, apa itu disebut bid’ah yang menyesatkan?

3. Ikhtilath (campur baur) antara pria dan wanita seperti yang kita lihat pada hampir seluruh perayaan malam tahun baru bahkan sampai terjerumus pada perbuatan zina, Na’udzubillahi min dzaalika…

Wakakakaka… Itu, sih, kasus khusus, Dab. Kasus khusus mana bisa dijadikan acuan untuk menggeneralisir hal secara umum. Salahnya sendiri kalo ngadain tahun baruan dengan bercampur-baur sama lawan jenisnya dan kemudian sampe ngadain sex party.

Makanya, ngadain acara tahun baru yang isinya sesama jenis semua, dong. Kayak tahun baruanku kemarin yang isinya cuma anak-anak cowok semua sebangsa Komeng, Septo, Saber, Arif Hidayat, Sympati, Azis, Kresna, Ucup, Willy, Pepe, dan sejenisnya.

Lagian, dalam perkara campur-baur, batasan-batasannya menurut ulama ini dan ulama itu juga masih berbeda-beda, belum ada yang bener-bener pasti. Minggat sana ke negara yang isinya cuma sesama jenismu aja kalo kepengen nggak terjadi campur baur dengan lawan jenis. Nggak usah hidup di Endonesa kalo nggak kepengen ketemu dengan lawan jenismu. Lama-lama, salahkan Tuhan sekalian kenapa menciptakan manusia dengan 2 jenis kelamin yang berbeda!

Apa gunanya kita dikasih akal kalo akal kita nggak berfungsi untuk mengontrol nafsu kita ketika terjadi campur-baur dengan lawan jenis?

4. Pemborosan harta kaum muslimin, karena uang yang mereka keluarkan untuk merayakannya (membeli makanan, bagi-bagi kado, meniup terompet dan lain sebagainya) adalah sia-sia di sisi Alloh subhanahu wa ta’ala. Serta masih banyak keburukan lainnya baik berupa kemaksiatan bahkan kesyirikan kepada Alloh. Wallahu a’lam…

Lagi-lagi ini kasus khusus. Salahnya sendiri ngapain boros-boros. Makanya, kayak aku, dong. Kemarin aku sama anak-anak malah pada masak tongseng pake daging sisa jatah qurban. Lumayan, kan, daripada mubazir.

Kalaupun ada pengeluaran, ya wajarlah. Namanya juga masak, pastilah butuh bumbu dan segala macamnya. Namanya juga makan, ya pasti aja kita harus beli nasi. Tapi apakah yang disebut makan-makan itu merupakan suatu pemborosan? Apa memenuhi kebutuhan biologis itu termasuk suatu pemborosan? Semuanya kami lakukan sesuai kodrat kami, kok.

Merayakan sesuatu itu nggak harus boros. Ketika ada pemborosan, salahkan dirimu sendiri kenapa tidak bisa mengatur pengeluaran keuanganmu dengan bijaksana. Yang salah dalam hal ini bukan tahun barunya, tapi diri kita sendiri yang nggak bisa mengatur keuangan kita.

Tentang keburukan lainnya, itu cuma masalah kepekaan kita dalam menyikapi manfaat aja. Kalo ada yang nggak bisa mengambil manfaat dari malam tahun baruan, maka sini, ta’kasih tau kalo aku bisa melakukannya!

Tahun baru buatku adalah waktunya ngumpul sama teman-teman. Karena kebetulan besoknya tanggal merah, artinya kita bisa ngumpul-ngumpul tanpa kekhawatiran besok harus kembali menghadapi tugas dan rutinitas kita sehari-hari. Dan ngumpul sama teman-teman menurutku sangat banyak manfaatnya, mulai dari silaturahmi, menjaga network dan koneksi, sampai dengan mendapatkan peluang obyekan. Semuanya bisa kulakukan dengan media tetap menjaga hubungan baikku dengan teman-temanku.

Ada yang tau apa pembicaraan yang menjadi topik kalo anak-anak Ilmu Komputer pada ngumpul? Yang jelas nggak jauh-jauh dari topik teknologi informasi. Dan itulah yang terjadi di malam tahun baruanku yang kemarin. Dari berbagai obrolan ringan kita bisa mendapatkan berbagai macam ilmu baru, kita bisa sharing pengetahuan, kita bisa membagikan apa yang kita tahu kepada teman-teman kita. Hei, artinya kita termasuk membagikan ilmu yang bermanfaat yang bisa menjadi bekal kita di akhirat, kan?

Ente pikir dari mana aku tahu cara mengatasi openSUSE 10.2-ku yang nggak mau mendetect hardware-hardware baruku? Aku dapat pengetahuan itu dari ngobrol-ngobrol sama Saber pas malam tahun baruan kemarin, John! Ente pikir aku berbagi info tentang hostingan dengan siapa? Dengan Arif Hidayat pas malam tahun baruan kemarin juga, Dab! Dan, aplikasi Yahoo! Messenger via hape? Aku melakukannya pas malam tahun baruan kemarin bareng Septo, Komeng, juga Azis.

Seandainya dalam acara ngumpul-ngumpul aku mendapati bahwa aku harus sedikit berkorban finansial, maka aku pikir aku masih bakal tetap berada di pihak yang beruntung, karena dengan pengorbanan finansialku itu aku masih bisa mendapatkan pengetahuan-pengetahuan baru, menjaga network dan koneksi, serta memelihara silaturahmi. Berpikirlah sebagai suatu pemborosan ketika kamu berada di pihak yang merugi.

Jadi, adanya manfaat atau tidak itu tergantung kepekaan kita dalam menyikapi sebuah peristiwa, Bang! Bukan lantas karena kita tidak bisa mengambil manfaat dari suatu kejadian maka kemudian kita berhak mencap peristiwa itu sebagai sesuatu yang zonder hikmah. Bah, bodoh betul!

Kalo ada orang lain yang bisa melakukan sesuatu yang kebetulan tidak bisa kita lakukan, apa layak kalo kita lantas menyalahkan orang lain tersebut atas kebisaan mereka? Apakah kita layak memaksa orang lain yang lebih pintar dari kita itu untuk mengikuti pola pikir kita yang tidak bisa sepintar mereka?

Ente tidak bisa memahami konsep teori relativitas yang dipaparkan oleh Albert Einstein sampai-sampai berkomentar, “Teori apa ini? Bisanya cuma bikin mumet aja!” Apa lalu ketika ada orang lain yang bisa memahaminya maka ente akan memaksa orang lain itu supaya berpendapat sama dengan ente bahwa teori relativitas itu hanyalah sebuah teori yang cuma bisa bikin mumet?

Ada atau tidaknya manfaat dan sejauh mana keburukan itu nampak, sebenarnya semua tergantung bagaimana kepekaan kita dalam menyikapi sebuah kejadian aja. Aku jadi ingat sebuah wawancaranya Noe Letto tentang profesi bapaknya, Cak Nun, sebagai penyanyi lagu-lagu religius di majalah Rolling Stones edisi beberapa bulan lalu. Waktu itu Noe ditanya tentang perbedaan antara lagu-lagu Letto dan Kyai Kanjeng yang lebih kental nilai religiusnya. Apa jawab Noe? Jawabannya kira-kira begini:

“Bapak saya penyanyi lagu religius? Potong leher saya jika bapak saya itu penyanyi lagu religius. Bapak saya itu penyanyi tembang setan, hahaha! Karena jika ada sebuah lagu yang dikategorikan sebagai lagu religius, berarti ada, dong, lagu yang tidak religius? Padahal menurut saya hal apapun di dunia ini pasti ada nilai religiusnya. Mau bicara mulai dari kambing sampai tai sapi, semuanya pasti ada unsur religiusnya.”

Kepekaan, John. Sekali lagi, kepekaan. Maka, selamat Tahun Baru Hijriyah buat semua yang merayakannya!

Tertanda,
Jagowan bid’ah nan tampan.