oleh Soebiawak a.s..

Sore hari, saya ke masjid.
Hendak jogging di sekitar lapangannya.
Naik motor.
Soalnya masjidnya jauh.
Brum, brum.

Lalu.
Tepat di depan saya,
ada motor lain.
Blingsatan.
Dua orang.
Yang satu di depan.
Yang satu di belakang.
Ketawa-ketawa.

Nah,
di tikungan,
ada ibu-ibu.
Bawa bungkusan banyak.
Ada pisang.
Ada sayur.
Dan entah apalah lagi.
Kelihatannya beliau lelah.
Capek berbelanja.
Ingin lekas pulang.

Motor blingsatan tadi,
sekonyong-konyong menambah kecepatan.
Hendak menikung seekor mobil,
yang ada di hadapan.
Padahal.
Jalan yang ada sangat sempit.
Dan,
sang ibu-ibu sedang berjalan di sampingnya.

Jeger.

Sang ibu tertabrak.
Tidak sampai jatuh,
hanya tangan beliau yang tersenggol.
Bungkusan-bungkusannya terlepas.
Dua tandan pisangnya,
terbang.

Belanjaan sang ibu pun
berserakan di atas aspal.
Ia terkejut.
Memandang ke arah motor yang menabraknya,
dengan air muka sedih.

Dua jagoan di atas motor,
menoleh sang ibu.
Empat detik saja.
Kecepatan tidak berkurang.
Dan akhirnya,
pergi tanpa kata.

Semua terjadi begitu cepat.
Lalu lintas tidak berhenti.
Saya pun tiada dapat menepi.

Sepanjang jalan ke masjid,
terngiang di kepala saya,
wajah sedih sang ibu,
tatapan empat detik dua jagoan di atas motor,
dan dua tandan pisang yang tergeletak di aspal.