oleh sora9n

 

Liburan ini, kebetulan daerah tempat tinggal saya sedang mengadakan pemilihan kepala daerah (PILKADA). Tentunya, selayaknya acara pilkada, ada beberapa calon yang tampil ke muka.

Nah, yang hendak saya bahas ini adalah tentang pertarungan menuju kursi daerah tersebut.

Seperti galibnya pemilu daerah, di tempat saya terdapat beberapa pasang calon. Biasanya calon-calon ini terdiri atas dua orang bapak-bapak yang, masing-masingnya, diposisikan sebagai calon bupati dan calon wakil bupati. Meski begitu, kali ini terdapat pengecualian — rupanya ada sepasang calon yang beda sendiri, tak lain karena calon ini terdiri atas seorang bapak dan seorang ibu.

Nah, si ibu (yang diposisikan sebagai wakil bupati) tampaknya disiapkan sebagai vote getter untuk pilkada kali ini. Dengan begitu, kampanye yang dilakukan pasangan ini lebih banyak mengedepankan isu-isu keperempuanan. Tentunya dengan memandang keberadaan si vote getter itu sendiri.

Misalnya,

“Bayangkan kepemimpinan daerah X yang penuh kasih di bawah seorang ibu

Jangan 4L: Lelaki Lagi, Lelaki Lagi”

“Pilih yang ini: Komplit Pasangannya, Komplit Programnya, Komplit Visinya”

 
Kira-kira seperti itulah.

Nah, dari sini kemudian saya berpikir. Sebegitu pentingnyakah tema keperempuanan dalam bidang politik?

***

Uniknya, hal semacam ini ternyata memang sering terjadi. Misalnya dulu, waktu pemilu presiden 2004. Waktu itu kita punya calon presiden wanita yang mengutamakan slogan sebagai berikut.

“Pilih presiden yang cantik!”

Saya rasa Anda juga masih ingat.:mrgreen:

Adapun di luar negeri, tak kurang senator Amerika Serikat Hillary Rodham Clinton turut dilambungkan oleh isu-isu sejenis. Bisa Anda amati dalam perjalanan beliau dalam usaha menuju Gedung Putih. Walaupun tidak seeksplisit para capres/cakada kita dalam menyerukan “pilih karena saya perempuan”, masyarakat Amerika (dan dunia) umumnya memandang beliau sebagai perwujudan emansipasi wanita di bidang politik.

Dan sekarang saya jadi bingung.

Jadi ini bagaimana maksudnya? Apakah kita jadi punya nilai tawar lebih tinggi jika kita perempuan di panggung politik, atau tidak? Sebab sepengetahuan saya (yang pendek ini), biasanya keterlibatan perempuan di pemilihan dan sebagainya, di Indonesia, justru menjadi ajang munculnya kampanye-kampanye payah modal gender tersebut.

Entahlah dengan Hillary di Amerika, saya tak tahu. Tapi kita tampaknya terbiasa mendengar kampanye “pokoknya perempuan” di negeri ini, terutama kalau yang maju adalah perempuan itu sendiri. Adapun soal visi, biasanya justru terdorong ke belakang dan jadi bayang-bayang saja.πŸ˜•

Kenapa ya? (o_0)”\

 

 

—–

Terkait Tentang Perempuan:

OMG! – Jadi Cewek Itu Berat…