Dakwah


oleh Soebiawak a.s..

Image, 241 kb.

oleh JoeSatch.

Sebentar lagi libur Tahun Baru Hijriyah. Tentu saja libur itu kusambut dengan suka-cita, karena dari dulu, dari jaman kecil, setiap beli kalender baru, hal pertama yang kulakukan adalah melihat-lihat tanggal merahnya. Tanggal merah berarti ndak usah sekolah. Betapa menyenangkannya. Tidak ada kewajiban malam sebelumnya harus bikin pe-er yang memang tidak begitu kusukai.

Kepekaan dan Tahun Baru…

Ditulis oleh sora9n

 

Sebentar lagi tanggal 17 Agustus. Tentunya ini terkait dengan ulangtahun negeri kita tercinta, yang sebentar lagi mencapai usianya yang ke-62.

Nah, seperti layaknya orang yang sedang berulangtahun, negeri kita pun perlu diberi ucapan selamat dan dilimpahkan doa. Jadi, kami di blog ini sengaja menerbitkan post khusus menjelang peringatan hari kemerdekaan tersebut.

Isinya? Tentu saja berupa rangkaian doa, agar negeri ini semakin maju di tahun-tahun yang akan datang. :mrgreen:

Apa saja isi doanya?

Ditulis oleh Hiruta

Tulisan ini ada sebagai salah satu bentuk keprihatinan saya dengan fenomena yang terjadi belakangan saat ini, dan saya pikir ini ada hubungannya dengan salah satu konsekuensi bahwa umat muslim di Indonesia terbagi ke dalam beberapa jamaah/pergerakan (atau dikenal juga dengan istilah harakah) yang masing-masing jamaah/pergerakan ini memiliki pengikut setianya sendiri-sendiri. Maka, kita mulai dari sini.

Apa yang membuat seseorang dan beberapa lainnya begitu keukeuh dan ngotot saat mengatakan bahwa ”Pokoknya™, kamilah yang paling benar!”?

Yak, sampai disitu, kita berhenti dulu, mari sebentar kita tilik bahasan berikut.

Suatu Senin, saya mendapat jadwal untuk kuliah Theory of Cross Cultural Communication, di mana kuliah ini menghadirkan pelajarannya dalam bentuk film yang ditonton oleh seisi kelas. Ah ya, jika Anda penasaran lebih lanjut tentang kuliah saya yang satu ini, Anda bisa membaca sedikit tentangnya di sini :mrgreen: . Sebelum film untuk hari itu dimulai, dosen saya membahas sedikit tentang bagaimana peradaban dan kebudayaan di dunia menjadi sedemikian beragamnya – dan, tidak bisa dipungkiri, ada kebudayaan dari bangsa tertentu yang berperan besar dalam mempengaruhi kebudayaan dunia pada umumnya.

Tunggu, lalu apa hubungannya dengan paham Pokoknya™ itu?

Ditulis oleh Sousakiy Ibnu Mishrilliy

 

Catatan:
Post ini terutama ditujukan untuk para aktivis dakwah Islam. Pembaca dari kalangan non-muslim mungkin membutuhkan beberapa informasi latar yang tak dicantumkan di sini.

 

Ada satu logika berpikir yang cukup membuat saya tergelitik, terutama ketika berdiskusi dengan para aktivis dakwah. Tak peduli mereka itu aktivis dakwah tingkat sekolah, kampus, ataupun yang sudah senior, para aktivis ini biasanya terbawa pada pola pikir generalisasi berlebihan — yaitu mengkotak-kotakkan dan memukul rata berbagai istilah yang mereka pergunakan. Padahal, kalau mereka mau teliti, sebenarnya generalisasi mereka itu tak akurat; kalau tak boleh dibilang sebagai salah sama sekali.

Sayangnya, kesalahan macam ini biasanya justru diabaikan — dan kebanyakan malah dipercaya sebagai “kebenaran” di kalangan para aktivis tersebut. Untuk alasan apa, hanya Tuhan (dan mereka) yang tahu. 🙄

Jadi, dalam post ini, saya akan membahas tentang beberapa generalisasi mereka yang salah kaprah tersebut — sekaligus mencoba meluruskannya semampu saya. Harap diingat bahwa tulisan ini bukan ditujukan untuk menjatuhkan kegiatan aktivis dakwah pada umumnya; melainkan sebagai masukan untuk dipertimbangkan.

Anda setuju? Lanjut…

Ditulis oleh Evy

Seorang bule nashoro bertanya “Are you mosleem? Do you know what is Syiah and Sunny? Are they both mosleem? Why they kill each other?” Trus kalo kita ndegerin hal spt itu.. kiro2 sing disebut wong Islam yang mana.. apa semuanya bukan orang Islam.. atau mungkin hanya salah satu aja yg Islam..?

Terus?

Apa Yang Kau Tabur Itu Yang Kau Tuai
dalam pemaknaan keterpurukan Indonesia

Sebagaimana kita ketahui bersama kalo saat ini Indonesia kok sangat susah keluar dari keterpurukan. Tak lain dan tak bukan hal itu disebabkan oleh sikap mental kita yang saat ini sangat hancur sekali. Di mana korupsi dianggap hal lumrah, pelanggaran hukum di anggap kecerdikan, padahal katanya masyarakat kita adalah orang yg beragama. Seharusnya sikap-sikap yang bertentangan dengan nilai agama, seperti korupsi, pelanggaran hukum dll sudah sangat minim (kalo tidak mungkin hilang), tapi nyatanya kok malah makin menjadi,,

Lalu?

Laman Berikutnya »