Propaganda


oleh sora9n

 

Webcomic #4 di blog ini. Selamat membaca. 😉

Klik untuk melanjutkan

oleh Soebiawak a.s..

Image, 241 kb.

oleh JoeSatch.

Sebentar lagi libur Tahun Baru Hijriyah. Tentu saja libur itu kusambut dengan suka-cita, karena dari dulu, dari jaman kecil, setiap beli kalender baru, hal pertama yang kulakukan adalah melihat-lihat tanggal merahnya. Tanggal merah berarti ndak usah sekolah. Betapa menyenangkannya. Tidak ada kewajiban malam sebelumnya harus bikin pe-er yang memang tidak begitu kusukai.

Kepekaan dan Tahun Baru…

Ditulis oleh sora9n

 

Anda pernah membaca koran? Menonton berita? Ataupun lain sebagainya? Kalau iya, WASPADALAH!!

Anda mungkin sudah kena pengaruh mematikan. Pengaruh yang sedemikian berbahaya, sehingga opini Anda dipengaruhi olehnya. Bahkan, Anda bisa saja percaya sedemikian rupa — padahal, belum tentu berita yang Anda dengar itu mewakili keadaan yang sebenarnya.

Bisa saja Anda sudah menjadi korban pemotongan berita! 👿

Apa!? Bagaimana mungkin…?

 Ditulis oleh Hiruta 

Ada yang suka dikritik? Terserah. Mau itu kritik pedas, asal bunyi, memang `niat`, cuma karena sinis dan sebagainya, yang jelas kritik.

Bisa jadi ada orang yang bakal menjawab seperti ini, “ya, saya suka dikritik dengan syarat…”  :
1. Kritiknya tidak asal bunyi

2. Cara menyampaikan kritiknya harus oke (menurut saya lho) dan berkenan di hati saya

3. Latar belakang kritikus itu harus jelas dulu, kapasitas ilmunya, kelakuannya, sikapnya, siapa dia (jangan-jangan malah musuh saya kan?)

4. Maksud dari kritikan itu harus jelas dulu, ingin keadaan ke arah yang lebih baik, sekedar berkoar-koar melepas stress ataukah upaya jahat ingin menjatuhkan saya.

5. kritik itu tidak menganggu kenyamanan saya.

Lanjut baca !

Ditulis oleh Hiruta

Tulisan ini ada sebagai salah satu bentuk keprihatinan saya dengan fenomena yang terjadi belakangan saat ini, dan saya pikir ini ada hubungannya dengan salah satu konsekuensi bahwa umat muslim di Indonesia terbagi ke dalam beberapa jamaah/pergerakan (atau dikenal juga dengan istilah harakah) yang masing-masing jamaah/pergerakan ini memiliki pengikut setianya sendiri-sendiri. Maka, kita mulai dari sini.

Apa yang membuat seseorang dan beberapa lainnya begitu keukeuh dan ngotot saat mengatakan bahwa ”Pokoknya™, kamilah yang paling benar!”?

Yak, sampai disitu, kita berhenti dulu, mari sebentar kita tilik bahasan berikut.

Suatu Senin, saya mendapat jadwal untuk kuliah Theory of Cross Cultural Communication, di mana kuliah ini menghadirkan pelajarannya dalam bentuk film yang ditonton oleh seisi kelas. Ah ya, jika Anda penasaran lebih lanjut tentang kuliah saya yang satu ini, Anda bisa membaca sedikit tentangnya di sini :mrgreen: . Sebelum film untuk hari itu dimulai, dosen saya membahas sedikit tentang bagaimana peradaban dan kebudayaan di dunia menjadi sedemikian beragamnya – dan, tidak bisa dipungkiri, ada kebudayaan dari bangsa tertentu yang berperan besar dalam mempengaruhi kebudayaan dunia pada umumnya.

Tunggu, lalu apa hubungannya dengan paham Pokoknya™ itu?