Puisi


oleh Soebiawak a.s..

Sore hari, saya ke masjid.
Hendak jogging di sekitar lapangannya.
Naik motor.
Soalnya masjidnya jauh.
Brum, brum.

Lalu.
Tepat di depan saya,
ada motor lain.
Blingsatan.
Dua orang.
Yang satu di depan.
Yang satu di belakang.
Ketawa-ketawa.

Nah,
di tikungan,
ada ibu-ibu.
Bawa bungkusan banyak.
Ada pisang.
Ada sayur.
Dan entah apalah lagi.
Kelihatannya beliau lelah.
Capek berbelanja.
Ingin lekas pulang.

Motor blingsatan tadi,
sekonyong-konyong menambah kecepatan.
Hendak menikung seekor mobil,
yang ada di hadapan.
Padahal.
Jalan yang ada sangat sempit.
Dan,
sang ibu-ibu sedang berjalan di sampingnya.

Jeger.

Sang ibu tertabrak.
Tidak sampai jatuh,
hanya tangan beliau yang tersenggol.
Bungkusan-bungkusannya terlepas.
Dua tandan pisangnya,
terbang.

Belanjaan sang ibu pun
berserakan di atas aspal.
Ia terkejut.
Memandang ke arah motor yang menabraknya,
dengan air muka sedih.

Dua jagoan di atas motor,
menoleh sang ibu.
Empat detik saja.
Kecepatan tidak berkurang.
Dan akhirnya,
pergi tanpa kata.

Semua terjadi begitu cepat.
Lalu lintas tidak berhenti.
Saya pun tiada dapat menepi.

Sepanjang jalan ke masjid,
terngiang di kepala saya,
wajah sedih sang ibu,
tatapan empat detik dua jagoan di atas motor,
dan dua tandan pisang yang tergeletak di aspal.

oleh sora9n

 

Di sebelah kamar saya, ada keluarga
Kecil.
Anak mereka yang pertama masih SD
Yang kedua mungkin baru setahun kurang

Lanjutkan membaca…

Diambil dari fatwa Abu Hintai Al-Airaa

kamilah yang paling benar,
menumbuhkan rambut dagu di sepanjang kafir yang terkapar

bongkahan neraka terukir gersang
angkatlah senjata walau telah usang
lawan mereka yang coba menentang
terus kutuk tiada kata patah arang

kepada kau, kawan, di dunia kau bisa berkoar-koar!
teruslah memuja penuh hingar bingar,
tak perlu pedulikan perutmu yang lapar!
dan kepada kau, lawan, di neraka kau akan dibakar!
diamlah dan hentikan tatapan nanar,
wahai kafir-kafir laknat lagi cemar!

mengapa kami bisa berkata lantang?
karena rambut dagu kamilah yang paling panjang,
kemudian kami dijanjikan surga di awal petang!

mengapa kami wajib dikenang?
karena kami mengikuti perintah untuk perang,
melawan kafir-kafir nista serta jalang!

sekali lagi kami yang paling benar!
dua kali lagi kami yang paling benar!
tiga kali lagi kami yang paling benar!
hingga tujuh puluh ribu bidadari menyambut dengan gairah terbakar

untuk para kafir,
hentikan menulis satir
penyeru kebatilan telah berakhir!
apa kau budak zaman mutakhir,
terus berani mempertanyakan kami yang ahli zikir?

untuk para kafir,
janganlah kau terus berpikir,
atau menuduh kami telah memelintir!
sudahlah mengoceh berbau anyir,
tuk pertanyakan seruan kami yang tidak fakir!

“terkutuklah engkau!” kami katakan demikian
“anjing kafir!” lanjut kami penuh kebanggaan
“terpangganglah di neraka!” balas kami atas perlawanan

karena kamilah yang paling benar,
terus bakar sampai ihwal kafir hancur tersebar